Zinnia, putri cantik yang manja dari keluarga kaya cavendish. Yang jadi kesayangan semua orang, selalu mendapat apa yang ia mau. Di kenal tak suka di kekang dan sudah banyak menolak banyak lamaran lelaki muda kaya raya. Suatu ketika dia mengincar perhiasan dari batu langka di sebuah pelelangan, namun dua perhiasan yang ia incar justru jatuh ke tangan dua pengusaha muda yang langsung membuatnya kesal. Ternyata pertemuan singkat mereka kala itu adalah cerita pembuka untuk cinta segitiga di antara mereka di masa depan. Kecantikannya yang luar biasa memikat kedua pengusaha kaya itu, tanpa ia sadari. Dan perlahan kedua cowok tersebut dapat meruntuhkan tembok pertahanan yang selama ini ia buat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakorang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Antara rasa kecewa dan Lega.
Sesuai dengan janji sebelumnya, Rion akhirnya mengantar Zinnia pulang ke rumah gadis itu. Perjalanan menuju kediaman keluarga Cavendish berjalan dalam suasana yang hening. Kalung Ruby yang selama ini Zinnia incar sudah tergenggam rapi di dalam kotak beludru di tangannya, diberikan begitu saja oleh Rion yang dengan tegas menolak semua tawaran bayaran, berapapun jumlahnya.
Sepanjang jalan, sebelah tangan besar Rion tak pernah melepaskan genggamannya di tangan Zinnia. Jemarinya saling mengait erat, seolah kalau dia melepaskan sedikit saja, gadis di sampingnya itu akan lenyap ditelan bumi. Dia tak bercerita apa-apa soal apa yang membuatnya marah tadi, tapi genggamannya makin erat seiring makin dekat sampai tujuan, jelas sekali dia tak rela berpisah dan mengakhiri waktu bersama Zinnia terlalu cepat.
Sedangkan Zinnia yang tak suka terlalu lama larut dalam keheningan itu, tiba-tiba angkat bicara mencairkan suasana.
" Rion.. " Panggil Zinnia lembut.
" Kenapa? " Balas Rion tanpa menengok dan tetap fokus ke jalan raya yang mereka lalui.
" Bukankah kalung itu akan kamu berikan pada ibumu sebagai hadiah ulang tahun ya.. Lalu kenapa kamu malah memberikannya pada ku? " Tanya Zinnia penasaran.
Rion menghelas napas sejenak, sebelum akhirnya berbicara.
" Aku berbohong soal itu sebelumnya. "
" Berbohong? Tapi kenapa? " Zinnia makin kaget dan heran dengan jawaban yang di buat Rion.
" Sudah jelas karnamu. Aku membeli kalung itu.. Semuanya karna aku tertarik padamu. Zinnia.. Itu hanya umpan untukmu agar kamu mendekatiku tanpa perlu aku berusah, itu semua kulakukan hanya agar menarik perhatianmu... "
Deg..
Mendengar penjelasan itu, jantung Zinnia berdebar sangat kencang dan semakin kencang. Ia tak menyangka, Rion sudah mempersiapkan hal itu untuk menarik perhatian darinya. Dia tak lagi bicara.
Sampai akhirnya mobil melambat dan berhenti tepat di depan gerbang besar rumahnya. Zinnia menarik napas panjang, masih duduk di kursi depan mobil, kemudian memberanikan diri menoleh menatap wajah lelaki di sampingnya itu, suaranya keluar pelan tapi jelas.
" Rion.. setelah ini bagaimana? Soal hubungan kita.. Bagaimana? "
Pertanyaan sederhana itu membuat Rion terdiam. Dia menatap mata indah di hadapannya, lalu perlahan memalingkan wajah, kemudian dia menjawab dengan nada bicara yang terdengar datar seolah tak ada beban, padahal hatinya sedang tercabik-cabik.
" Anggap semua yang kulakukan sebelumnya tak pernah terjadi.. itu hanya kesalahanku.. maaf. Dan kalung Ruby yang kuberikan padamu adalah sebagai tanda permintaan maafku. "
DEG!
Seperti ada batu besar yang jatuh menghantam dada Zinnia, seolah pisau tajam langsung menyayat hatinya sampai terasa perih dan sakit. Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin dia bilang begitu? Semua ciuman, semua sentuhan panas, semua kata-kata manis dan penuh hasrat tadi... semuanya dianggap tak pernah terjadi? Bahkan bekas merah yang masih terlihat jelas di lehernya pun masih ada, bukti nyata apa yang mereka lakukan, tapi sekarang dia bilang lupakan saja?
Seketika api kemarahan menyala di dada Zinnia. Dia menarik tangannya dari genggaman Rion, matanya membelalak menatap tajam, wajahnya memerah bukan lagi karena malu tapi karena marah besar.
" Lupakan? Kamu pikir aku bisa amnesia hanya dalam satu hari? Dan semua yang kamu lakukan padaku tadi, tidak berarti apa-apa bagimu? Apa semua itu hanya permainanmu belaka? Padahal sebelumnya, kamu bilang padaku jika Kamu membeli kalung itu hanya untuk menarik perhatianku agar aku mendekatimu, lalu.. Setelah aku mendekatimu.. Kamu bilang lupakan.. Apa yang sudah kamu lakukan bahkan meninggalkan jejak yang akan sulit hilang, bahkan tak bisa hilang hanya dalam satu hari. Dan dengan entengnya tiba-tiba kamu bilang lupakan.. Waw.. Hebat sekali semua permainan mu itu.. Sungguh Menyebalkan !! "
Zinnia lalu menarik napas kasar, air matanya hampir keluar karena campuran sakit hati dan marah.
" Atau kamu memang sengaja melakukan semua ini, untuk mempermainkan ku saja? Baik, kamu menang. Puas kamu dengan semuanya? "
Rion langsung tertegun kaku. Dia tak menyangka kata-katanya yang dia ucapkan karena ingin melindungi gadis itu justru berbalik menyakitinya sehebat ini. Dia melihat kilatan sakit di mata Zinnia, melihat bibirnya gemetar menahan tangis, dan seketika semua pertimbangan dan keputusan yang dia buat runtuh begitu saja.
Perlahan kedua tangannya terangkat, menarik pinggang ramping gadis itu mendekat sampai tubuh mereka kembali menempel erat. Dia menundukkan kepalanya, lalu mencium bahu putih Zinnia dengan lembut dan penuh rasa bersalah.
" Jangan marah.. aku hanya ingin kamu tetap bebas seperti yang kamu inginkan.. jadi aku tak berani meminta lebih.. Zinnia.. pada kenyataannya aku.. terlalu terpikat denganmu.. Tapi aku tahu, kamu tak ingin di kekang. jadi.. aku bicara demikian.. kupikir itulah yang kamu inginkan.. " Ucap Rion lirih, suaranya terdengar rapuh tak seperti biasanya.
Seketika api kemarahan di dada Zinnia padam seketika, digantikan rasa hangat dan bingung yang memenuhi seluruh hatinya. Oh... jadi begini alasannya. Dia berpikir kalau dengan meminta apa-apa atau menjalin hubungan, dia akan menghilangkan kebebasan yang sangat dijaga Zinnia, jadi dia memilih mundur dan berpura-pura semuanya tak ada, padahal perasaannya sudah terjebak sedalam ini.
Selama ini Zinnia hidup dengan prinsip tegas. Tak mau menikah, tak mau punya pasangan, tak mau terikat dengan siapa pun karena takut kebebasannya direnggut, takut diatur dan kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.
Tapi setelah bertemu Rion, setelah semua yang terjadi... rasanya berbeda. Ada sesuatu yang berubah di dalam dirinya, sesuatu yang dia sendiri tak kenali. Dia masih ingin bebas, masih tak mau diatur, tapi... dia juga ingin memiliki lelaki di hadapannya ini. Dan itu bertentangan dengan segala yang dia percayai selama ini.
" Apa kamu akan melepasku begitu saja? " tanya Zinnia pelan, matanya menatap lurus ke dalam mata Rion, mencari jawaban jujur dari sana.
Rion mengangkat kepalanya, tatapannya dalam dan penuh tekad, tak ada lagi keraguan atau ketakutan yang dia sembunyikan.
" Tentu tidak.. kamu seperti racun yang sudah masuk kedalam pembuluh darahku.. perlahan mulai melemahkan ku.. Jadi, aku ingin dirimu lebih dari ini... Zinnia.. "
" Ini memang agak aneh, semua berjalan begitu saja dengan cepat dan tanpa rencana, aku bahkan tak menyangka semua ini akan terjadi. Aku memang menyukai kebebasan, Tapi.. Bertemu denganmu rasanya meruntuhkan semua tekadku sebelumnya. " Ungkap Zinnia jujur apa adanya.
Rion tak menjawab apa-apa, dia hanya menarik Zinnia kedalam pelukan hangatnya. Merasa sedikit lega dengan kata-kata yang terungkap dari bibir Zinnia tadi. Setidaknya, dia tidak merasa tertarik sendirian.
Begitu cepat semuanya terjadi. Dari pertemuan pertama di ruang lelang, persaingan memperebutkan barang, sampai sekarang di mana mereka saling mengungkapkan perasaan yang sama sekali tak direncanakan. Dan yang paling membuatnya bingung, bagaimana bisa dia, sang putri yang terkenal keras kepala, yang menolak semua orang dan menjaga hatinya rapat-rapat, bisa luluh dan terjatuh semudah ini hanya karena satu lelaki bernama Riondra?
Dia tak tahu jawabannya, yang dia tahu sekarang hatinya sudah terbagi dua, antara kebebasan yang selalu dia cintai, dan lelaki di hadapannya yang sudah mulai diinginkannya lebih dari apapun.
***