Selama tiga tahun, Nayra mendedikasikan hidup untuk suaminya, Lettu Ardana Prajakelana. Seorang pria abdi negara yang merangkap profesi sebagai psikolog kesatuan. Semua terjadi karena perjodohan.
Namun, menjelang usia pernikahan yang ke ketiga, sebuah nama lain justru sering digaungkan Ardana. Mantan kekasihnya kembali, mengemis harap dan memohon Ardana menceraikan Nayra. Lalu apa yang akan terjadi dengan pernikahan Ardana dan Nayra setelah mantan kekasih Ardana kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10 Menyebut Nama Tiana Berulang Kali
Seorang wanita usia sekitar 27 tahun berwajah cantik dengan tinggi badan 165 senti meter itu, terlihat kecewa saat menatap Hpnya. "Kemana Mas Arda, bukannya malam ini dia mau temani aku untuk cek?"
"Mbak Tia, kenapa masih di sini? Mana Terapis yang Mbak bilang itu, dia nggak jadi jemput dan antar cek? Kalau gitu, biar aku saja yang antar."
"Nggak usah, aku bisa sendiri, Nepa," tolak Tia sambil melambaikan tangannya ke atas. Wajah Tiana nampak kesal dan kecewa menantikan pria yang ternyata Ardana. Mendadak ponsel Ardana mati, padahal tadi saat dihubungi masih aktif.
"Kurang ajar Mas Arda. Dia ingkar janji atau Hpnya memang mati karena lowbatt?" gumamnya kesal.
"Ayolah, Mbak. Biar aku saja yang antar. Mama tadi sudah bilang kalau aku harus antar. Ini sudah malam, lho. Bukankah Mbak pernah bilang kalau Mbak sering kambuh kalau malam-malam," desak Nepa pada Tiana yang dianggapnya keras kepala.
"Kamu diamlah dulu, Nepa. Asal kamu tahu, Terapis yang akan datang ini adalah mantan kekasih aku yang dulu ninggalin aku nikah," ungkap Tiana, terlihat wajahnya geram.
"Siapa, mantan kekasih Mbak yang Pilot itu? Bagus, memang dia yang patut bertanggung jawab atas keadaan Mbak saat ini. Kenapa juga Mbak mesti tergoda pria itu? Bukankah Mbak bilang sebetulnya Mbak punya kekasih lain sebelum Mbak jatuh ke tangan Pilot itu, dan Pilot itu ternyata pria beristri," decih Nepa kesal dengan kelakukan Tiana yang justru tergoda pria lain disaat Tiana justru mengaku memiliki kekasih lain saat tergoda sang Pilot.
Tiana menggeleng pelan. Sontak ia terkenang kembali masa-masa indah sekaligus pahit bersama sang Pilot. Tiana belain berselingkuh dari kekasihnya demi bisa mendapatkan cinta sang Pilot.
Flash back Tiana
Pilot itu lebih tampan dan mapan, bahkan jika dibandingkan secara finansial pun, Ardana kalah jauh. Jam terbang sang Pilot sudah tinggi. Cinta Tiana berbalas, sampai ia rela memutus kontak dengan kekasihnya Ardana.
Awalnya hubungan Tiana dengan sang Pilot mulus, akan tetapi setelah dua tahun berjalan, hubungan mereka terendus istri sah sang Pilot. Tiana dilabrak di kosan-nya, pada saat Tiana sedang bersantai.
"Siapa Mbak, datang-datang tiba-tiba melabrak saya?" kaget Tiana saat itu sambil memegangi perutnya yang sudah mengandung janin dua bulan.
"Aku istri sah Kapten Penerbang Sutikno. Apa kamu tidak punya malu telah menjalin hubungan dengan suami orang? Wajah cantik masih muda, tapi kelakuannya busuk," hardik perempuan berusia 35 tahun itu tanpa ampun.
Tiana dipermalukan di depan teman-teman kosnya. Dia shock berat, terlebih saat itu dia sedang hamil karena terlanjur berhubungan jauh dengan kekasihnya yang ternyata sudah memiliki istri.
Tiana stres berat, apalagi sang Pilot menghilang tanpa jejak sejak Tiana dilabrak istri sahnya. Tidak ada yang bisa Tiana lakukan selain meratapi dirinya yang malang. Bahkan Tiana beberapa kali berusaha menghubungi Sang Pilot, namun sia-sia. Tiana juga mengalami ancaman hebat dari segelintir orang-orang yang diduga suruhan istri sah sang Pilot. Sehingga Tiana tidak bisa mengadukan perbuatan sang Pilot pada maskapai penerbangan tempat sang Pilot bernaung.
Satu minggu sejak dilabrak istri sah, Tiana keguguran. Setelah itu, Tiana menjauh dari hingar bingar maskapai penerbangan, dia mengundurkan diri sebelum pihak maskapai mengetahui skandal yang dilakukan dirinya dengan sang Pilot.
Tiana menyembunyikan diri sekaligus aibnya di suatu tempat. Dendam dan sakit hatinya terhadap sang Pilot masih menyala, tapi ia begitu sulit untuk membalasnya, karena keterbatasan dan ancaman.
"Lalu siapa kalau bukan? Bukannya Pilot itu yang menyebabkan Mbak menyedihkan seperti ini. Kadang waras kadang stres," sergah Nepa tanpa tedeng aling-aling. Nepa pun sangat kesal dengan Tiana yang begitu gampangnya dikadalin Pilot itu.
"Bukan Nepa. Tapi, kekasihku yang dulu yang meninggalkan aku menikah? Dia kini jadi Terapisku di RSAU," ungkapnya.
"Mantan kekasih Mbak yang meninggalkan Mbak menikah? Apakah mantan kekasih ini adalah kekasih Mbak yang tega Mbak khianati karena Mbak lebih tergoda dengan Pilot beristri itu?" tebak Nepa penuh tekanan, sungguh Nepa sangat berani dan tidak ada rasa takut terhadap Tiana sang kakak.
"Betul. Aku akan jebak dia dan menjerat dia kembali masuk ke dalam kehidupanku."
Nepa terbelalak, dia paham maksud sang Kakak. "Mbak Tia mau melimpahkan kesalahan pada mantan kekasih Kakak yang tidak bersalah ini?"
"Tepat sekali. Kamu pandai Nepa. Selain ceplas-ceplos dan kasar, kamu memang adik yang cerdas, Nepa," puji Tiana sinis.
Nepa menggelengkan kepalanya, dia seakan tidak setuju dengan sikap yang akan diambil Tiana.
"Bahkan saking niatnya aku menjerat, aku sudah meminta kepada dokter Arka, bahwa aku hanya ingin diterapi oleh mantan kekasihku ini," ungkapnya lagi jujur.
"Lalu, dia ke mana? Kata Mbak dia akan menjemput." Nepa mengedarkan mata ke segala arah, mencari pria yang Tiana bilang sebagai mantan kekasihnya dulu yang sudah meninggalkannya menikah.
"Aku tidak setuju Mbak. Itu artinya Mbak akan menjerat dia agar dia merasa bersalah atas apa yang Mbak rasakan ini? Mbak jahat, dia sudah menikah. Tolong hentikan aksi Mbak, sebelum Mbak benar-benar gila. Mbak bilang Mbak ingin sembuh, tapi kenapa jadi begini?" Nepa heran setengah mati dengan sang kakak, yang kini berniat menjerat atau menjebak mantan kekasih pertamanya yang dulu meninggalkannya menikah.
***
Sementara itu, di dalam sebuah kamar di kediaman Ardana, Ardana yang sudah memasuki kamar, sangat gelisah. Ia memikirkan Tiana yang ditakutkan akan stres karena telponnya dimatikan olehnya.
"Semoga kamu baik-baik saja Tiana," gumamnya. Gumaman itu terdengar jelas oleh Nayra.
Nayra menatap Ardana yang masih berdiri gelisah di depan pintu lemari. Ponsel di tangannya tidak luput dari tatapan matanya.
"Maafkan aku Tiana," gumamnya lagi.
Nayra bangkit dari tepi ranjang, ia menghampiri pintu kamar dan bermaksud membukanya.
Ardana terperanjat, ia buru-buru mengejar Nayra lalu menarik lengannya menjauh dari kamar. "Mau kemana, di luar masih ada Mama dan Papa? Kamu marah gara-gara aku menyebut nama Tiana? Berpikirlah sedikit dewasa Nayra, sudah kubilang Tiana adalah pasien terapi yang aku tangani."
"Jangan tahan tangan, Nay, Mas. Biarkan Nay keluar dari kamar ini," mohonnya seraya menepis tangan Ardana yang menahannya.
"Jangan keras kepala, ya. Aku saat ini sedang bingung. Kamu bisanya hanya merengek persis anak kecil, bukannya diam dan berusaha memahami aku. Beginilah jika menikahi anak kecil, masih labil. Bisanya hanya menangis, tidak dewasa sama sekali," ujar Ardana balas kesal.
Nayra semakin kecewa dan sedih dengan sikap Ardana yang justru memarahinya. Padahal jelas-jelas dia sudah beberapa kali menyebut nama Tiana tanpa merasa bersalah sedikitpun.
Dan Ardana kamu tuh bodoh , mau aja dibohongin sama Tiana 😡😡😡
Udah deh ini mah fix kamu harus harus pergi Nayra daripada tersiksa batin kamu , kamu berhak bahagia Nayra 🫢🫢🫢
mantau dikit lagi nih...