Pernikahan tanpa cinta adalah impian Alya, atau setidaknya itu yang dia pikirkan. Namun, apa yang akan terjadi jika suaminya menyimpan rahasia tentang dirinya sejak awal? Alya tidak terduga bahwa suaminya, Raka Pratama, adalah seorang yang dingin, berkuasa, dan tidak terlalu terbuka. Mereka menikah dengan kontrak, tapi dengan satu syarat yang tidak biasa: jangan pernah jatuh cinta. Apakah Alya dapat memenuhi syarat itu, ataukah cinta akan menghancurkan kontrak pernikahan mereka?
Ketika kebohongan berlangsung terus-menerus, batas antara apa yang palsu dan apa yang nyata mulai kabur. Alya harus menghadapi keputusan sulit: mempertahankan kebohongan yang telah ia jalankan atau meninggalkan pria yang telah berhasil memenangkan hatinya. Pernikahan ini tampaknya telah terjadwal dengan baik, tetapi ada satu hal yang tidak termasuk dalam kontrak: perasaan yang sebenarnya. Sekarang, Alya harus memilih antara kebenaran dan kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 – Ciuman Pertama
Pagi hari itu, Alya terbangun dengan senyum tipis yang bahkan ia sendiri tidak mampu menyembunyikannya.
Dan hal itu terasa memalukan sekali.
Pasalnya, alasan di balik suasana hatinya yang ceria hanya karena sebuah pesan singkat dari Raka tadi malam.
*Besok jangan terlalu dekat dengan Dimas.*
Pria itu benar-benar seorang pencemburu.
Dan semakin Alya mengingat pesan itu—
Semakin sulit ia menahan senyumnya.
“Aku benar-benar sudah gila…”
Ia menutupi wajahnya dengan bantal berulang kali sebelum akhirnya bangkit.
Namun, begitu membuka pintu kamar—
Alya langsung terhenti.
Raka sudah berdiri di lorong sambil membaca tabletnya, seakan-akan pria itu memang sengaja menunggunya di sana.
Tatapan mereka saling beradu, dan suasana pun seketika berubah.
Karena kini—
Tidak ada lagi alasan untuk berpura-pura tidak menyadari perasaan mereka masing-masing.
“Pagi,” sapa Alya pelan.
Tatapan Raka sejenak turun ke wajah Alya sebelum sudut bibirnya melengkung tipis.
“Pagi.”
Jantung Alya langsung berdebar lebih cepat.
Ia benar-benar tidak akan pernah terbiasa dengan senyum tipis pria itu.
“Kamu mau ke kantor?” tanya Alya, berusaha terdengar biasa saja.
“Ya.”
“Aku ke rumah sakit setelah sarapan.”
Raka mengangguk kecil, lalu tanpa diduga berkata—
“Dan Anda akan menjaga jarak dari Dimas.”
Alya langsung menatapnya penuh ketidakpercayaan.
“Kamu serius masih membahas itu pagi begini?”
“Saya serius.”
Nada suaranya terlalu tenang untuk seseorang yang sedang cemburu, dan hal itu justru membuat Alya ingin tertawa.
“Kamu lucu kalau cemburu.”
Tatapan Raka langsung berubah sedikit.
“Saya tidak lucu.”
“Sedikit.”
Pria itu menatapnya selama beberapa detik, lalu perlahan berjalan mendekat.
Dan seperti biasa—
Semakin dekat Raka, jantung Alya semakin berdebar kacau.
“Kamu menikmati ini, ya?” tanya pria itu dengan suara rendah.
“Apa?”
“Melihat saya cemburu.”
Alya menggigit bibir bawahnya, menahan senyum.
“Mungkin.”
Tatapan Raka langsung menggelap.
Namun, sebelum suasana kembali berbahaya, suara Mira terdengar dari bawah, memanggil mereka untuk sarapan.
Alya langsung mundur dengan cepat.
“Ayo makan.”
Lalu buru-buru berjalan mendahului, meninggalkan lorong.
Namun, sedetik kemudian—
Sebuah tangan hangat tiba-tiba menggenggam tangannya.
Alya langsung menoleh.
Raka menggenggam tangannya dengan begitu alami, seolah sudah terbiasa melakukannya.
Padahal, hal itu belum pernah terjadi sebelumnya.
Dan kesederhanaan sentuhan itu saja sudah cukup membuat dada Alya terasa hangat.
“Kamu—”
“Jalan terlalu cepat,” jawab Raka santai.
Pembohong.
Namun Alya tidak melepaskan tangannya.
---
Pagi hari itu, suasana rumah sakit cukup ramai.
Alya baru saja keluar dari kamar ibunya setelah membantu ibunya sarapan, ketika seseorang tiba-tiba memanggilnya.
“Alya.”
Ia menoleh, dan ekspresinya langsung sedikit mengeras.
Vanessa.
Wanita itu berdiri tidak jauh darinya, mengenakan gaun putih yang elegan, dan mengulas senyum tipis yang sempurna.
Cantik. Berkelas. Dan hal itu langsung membuat Alya merasa inferior tanpa alasan yang jelas.
“Aku akhirnya bertemu denganmu,” kata Vanessa lembut sambil mendekat.
Alya berusaha tersenyum sopan.
“Halo.”
“Aku Vanessa.”
“Aku tahu.”
Tentu saja Alya tahu. Nama itu sudah terlalu sering muncul akhir-akhir ini.
Tatapan Vanessa meneliti Alya selama beberapa detik. Tidak kasar, namun cukup tajam untuk membuat Alya merasa tidak nyaman.
“Kamu lebih sederhana dari yang kubayangkan.”
Oke. Itu jelas bukan sebuah pujian.
Alya tersenyum tipis.
“Terima kasih… mungkin?”
Vanessa tertawa kecil. Yang menariknya, wanita itu tidak terlihat seperti tipe antagonis yang murahan. Justru terlalu tenang, dan hal itu justru lebih berbahaya.
“Aku dan Raka sudah saling kenal lama,” katanya santai.
Jantung Alya langsung sedikit menegang.
“Oh.”
“Kami hampir menikah.”
“Aku juga tahu.”
Tatapan Vanessa berubah menjadi sedikit tertarik.
“Jadi, dia cerita tentangku?”
“Sedikit.”
Hening sesaat, lalu wanita itu tersenyum tipis lagi.
“Kamu menyukainya, ya?”
Pertanyaan itu terlalu tiba-tiba diajukan, dan Alya langsung kehilangan ketenangan.
“Apa?”
“Wajahmu mudah dibaca.”
Aduh. Kenapa semua orang sekarang berkata begitu?
Namun, sebelum Alya sempat menjawab, Vanessa kembali berbicara pelan—
“Hati-hati.”
Tatapan wanita itu kini jauh lebih serius.
“Raka bukan pria yang mudah mencintai seseorang.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam dari yang ingin Alya akui.
“Dan kalau dia benar-benar mulai jatuh cinta…” Vanessa tersenyum tipis samar, “…dia bisa menjadi sangat posesif.”
Napas Alya sedikit tertahan, karena jujur saja, ia sudah mulai melihat sisi itu dari Raka.
“Tapi kamu tampaknya sudah menyadarinya.”
Suara langkah kaki tiba-tiba terdengar mendekat, dan begitu Alya menoleh, Raka muncul di ujung lorong itu.
Tatapannya langsung jatuh pada Vanessa, lalu langsung mengeras.
“Apa yang kamu lakukan di sini?”
Nada suaranya sangat dingin. Vanessa justru tersenyum santai.
“Kenapa selalu bereaksi seolah aku penjahat?”
“Karena kamu suka membuat masalah.”
Tatapan Raka lalu beralih cepat kepada Alya.
“Apa dia mengatakan sesuatu?”
Pertanyaan itu terdengar terlalu protektif, dan Vanessa langsung tertawa kecil melihat reaksi Raka.
“Wow.” Wanita itu menggeleng pelan. “Kamu benar-benar berubah.”
Raka tidak menjawab, namun tatapannya jelas menyiratkan bahwa ia ingin Vanessa pergi sekarang juga.
“Aku hanya ingin menyapa,” kata Vanessa santai sebelum kembali melirik Alya. “Sampai jumpa.”
Lalu wanita itu pergi begitu saja, meninggalkan suasana canggung di lorong rumah sakit.
Raka langsung berjalan mendekat ke arah Alya.
“Apa dia mengganggumu?”
“Aku baik-baik saja.”
Tatapan pria itu masih penuh kewaspadaan.
“Apa yang dia katakan?”
Alya ragu selama beberapa detik, lalu akhirnya menjawab jujur—
“Dia bilang kamu bisa menjadi sangat posesif kalau jatuh cinta.”
Hening.
Dan untuk pertama kalinya—
Raka terlihat sedikit gelisah.
“Itu masa lalu.”
“Tapi benar?”
Tatapan pria itu turun lurus ke mata Alya.
Lama.
Dalam.
Lalu perlahan—
“Kalau menyangkut Anda…” ujar Raka dengan suara rendah, “…mungkin iya.”
Jantung Alya langsung kembali berdetak keras.
Astaga.
Pria ini benar-benar tidak memberinya kesempatan untuk tetap waras.
“Aku rasa…” Alya berusaha menenangkan diri, “kamu harus berhenti berbicara seperti itu di tempat umum.”
“Kenapa?”
“Karena aku jadi gugup.”
Sudut bibir Raka melengkung tipis.
Dan sebelum Alya sempat menyadari niatnya—
Raka tiba-tiba menariknya perlahan ke sudut lorong yang lebih sepi.
“Apa yang—”
Kalimat Alya terputus saat tubuhnya tertahan di antara dinding dan tubuh Raka.
Jantungnya langsung berdebar kacau.
Tatapan pria itu sekarang terlalu dekat, terlalu fokus.
“Alya.”
Napas Alya langsung terasa goyah.
“Hm?”
“Kemarin kita terganggu.”
Oh tidak.
Tatapan Raka turun perlahan ke bibir Alya.
Dan kali ini—
Tidak ada Mira.
Tidak ada telepon.
Tidak ada siapa pun.
“Aku rasa ini bukan tempat yang tepat—”
Kalimat Alya menghilang begitu saja ketika tangan Raka menyentuh pipinya lembut.
Tatapan pria itu tidak memberinya ruang untuk berpikir lagi.
Dan perlahan—
Raka menunduk.
Lalu akhirnya mencium Alya.
Lembut.
Hangat.
Dan cukup untuk membuat seluruh dunia Alya terasa berhenti selama beberapa detik.