NovelToon NovelToon
Love In Chaos

Love In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
​Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-bayang Masa Lalu (Kembalinya Sang Mantan)

Pagi di kantor pusat Alfarezel Group biasanya dimulai dengan ritme yang teratur: denting lift yang halus, aroma kopi arabika yang mahal, dan deru pelan mesin pendingin ruangan. Namun bagi Zeva, pagi ini terasa berbeda. Ada firasat aneh yang menggelitik tengkuknya, sebuah perasaan yang biasa ia rasakan tepat sebelum badai besar menghantam bengkel tuanya dulu.

​Zeva sedang berada di ruang kerjanya yang baru—sebuah ruangan transparan dengan sekat kaca yang menghadap langsung ke arah ruangan Adrian. Ia sedang sibuk menyusun laporan audit untuk Pasar Tanah Merah saat pintu lift privat berdenting.

​Seorang wanita melangkah keluar.

​Wanita itu tidak berjalan, ia seolah-olah meluncur di atas lantai marmer dengan keanggunan yang diatur sempurna. Ia mengenakan setelan blazer putih tulang yang pas di badan, rambut hitamnya disanggul rapi dengan beberapa helai jatuh secara artistik di sisi wajahnya. Ia tidak membawa tas besar, hanya sebuah clutch Hermes mungil yang harganya mungkin setara dengan sepuluh motor sport baru.

​Langkah kakinya yang menggunakan stiletto Louboutin merah menghasilkan bunyi klak-klak yang ritmis dan mengintimidasi. Zeva terpaku di kursinya. Wanita itu adalah definisi dari "sempurna" yang selama ini Zeva lihat di majalah-majalah kelas atas.

​"Adrian ada di dalam?" suara wanita itu terdengar lembut, namun memiliki nada perintah yang alami.

​Siska, yang biasanya tidak tergoyahkan, tampak sedikit gugup. "Eh, selamat pagi, Mbak Maya. Pak Adrian sedang ada pertemuan internal, tapi saya rasa beliau bisa segera menemui Anda."

​Maya. Nama itu berputar di kepala Zeva. Nama yang pernah ia dengar dari bisik-bisik para pelayan di rumah Kakek Wijaya. Nama wanita yang pernah menjadi pusat dunia Adrian sebelum akhirnya pergi meninggalkan luka yang membekas.

​Maya menoleh ke arah ruangan Zeva. Mata mereka bertemu. Maya memberikan senyum tipis—senyum yang tidak mencapai matanya, melainkan hanya sebuah bentuk kesopanan yang tajam. Tanpa menunggu izin, Maya melangkah menuju ruang kerja Adrian dan membukanya.

Di dalam ruangan, Adrian sedang berdiri di dekat jendela. Begitu mendengar pintu terbuka, ia berbalik dengan wajah ketat, siap memarahi siapa pun yang berani mengganggu privasinya. Namun, ekspresinya membeku saat melihat siapa yang berdiri di sana.

​"Maya?" suara Adrian terdengar goyah, sesuatu yang belum pernah Zeva dengar sebelumnya.

​"Halo, Adrian. Sudah lama ya," sahut Maya. Ia berjalan mendekati meja Adrian, meletakkan clutch-nya, lalu menatap Adrian dengan tatapan yang penuh kerinduan yang dibuat-buat. "Aku dengar kau sudah sukses besar. Alfarezel berada di puncak sekarang. Dan aku dengar... kau juga sudah menemukan penggantiku?"

​Zeva, yang berpura-pura sibuk dengan laporannya namun telinganya terpasang tajam ke arah dinding kaca yang tidak sepenuhnya kedap suara itu, merasa jantungnya berdenyut kencang.

​"Kenapa kau ke sini, Maya? Bukankah kau menetap di Singapura?" tanya Adrian dingin. Ia mencoba mengembalikan wibawanya, namun Zeva bisa melihat tangan Adrian yang terkepal di balik punggungnya.

​"Aku sudah bercerai, Adrian," jawab Maya lirih. Ia menundukkan kepala, menunjukkan sisi rapuhnya. "Kehidupan di sana... itu bukan aku. Aku menyadari bahwa melarikan diri darimu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku datang untuk meminta maaf. Dan mungkin... untuk memperbaiki apa yang hancur."

​Adrian tertawa hambar. "Memperbaiki? Kau pergi saat aku paling membutuhkanmu, Maya. Kau memilih kenyamanan finansial di atas segalanya. Dan sekarang, saat aku sudah memiliki segalanya, kau datang bicara soal memperbaiki?"

​"Aku tahu aku salah!" Maya memotong dengan emosional. Ia melangkah maju, meraih tangan Adrian. "Tapi apakah kau benar-benar bahagia dengan gadis itu? Siapa namanya? Zeva? Adrian, jangan bohongi dirimu sendiri. Kita berasal dari dunia yang sama. Kita bicara bahasa yang sama. Gadis itu... dia hanya pelarian karena kau ingin membalas dendam padaku, bukan?"

Zeva tidak tahan lagi. Ia berdiri, merapikan kemeja batiknya, dan melangkah keluar dari ruangannya. Ia tidak tahu apa yang ia lakukan, namun naluri "gadis jalanan"-nya berkata bahwa wilayahnya sedang diinvasi.

​Ia mengetuk pintu ruangan Adrian dua kali, lalu masuk tanpa menunggu jawaban.

​"Adrian, laporan auditnya sudah..." Zeva menggantung kalimatnya, pura-pura baru menyadari kehadiran Maya. "Oh, maaf. Gue nggak tahu lu lagi ada tamu."

​Maya berbalik. Ia memindai Zeva dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapannya penuh dengan penilaian dingin yang membuat Zeva merasa seolah-olah ia sedang ditelanjangi di bawah lampu neon.

​"Jadi, ini dia?" tanya Maya pada Adrian, suaranya mengandung nada meremehkan yang halus. "Manis sekali. Dia mengingatkanku pada pelayan di vila keluargaku di Bali. Sangat... natural."

​Zeva merasakan darahnya mendidih. "Pelayan, ya? Yah, seenggaknya pelayan itu kerja buat dapet uang, bukan dapet uang dari hasil cerai."

​Mata Maya menyipit. "Bicaranya tajam juga. Adrian, aku tidak tahu kau sekarang suka dengan tipe yang kasar seperti ini. Apakah ini hobi barumu? Mengadopsi orang jalanan dan mencoba menjadikannya putri?"

​Adrian melangkah di antara mereka. "Maya, cukup. Zevanya adalah tunanganku. Dia bukan projek, dan dia jelas bukan pelayan."

​"Tunangan? Benarkah?" Maya tertawa kecil. Ia berjalan mengelilingi Zeva, seolah-olah sedang memeriksa barang dagangan. "Berapa lama dia bisa bertahan di dunia kita, Adrian? Sampai gala minggu depan? Atau sampai dia sadar bahwa dia tidak tahu cara memegang gelas anggur dengan benar di depan menteri? Jangan biarkan dia dipermalukan lebih jauh."

​Maya menoleh pada Zeva. "Saran saya, Nona Zeva, kembalilah ke tempat asalmu sebelum kau benar-benar hancur di sini. Dunia ini punya taring yang tidak akan bisa kau lawan dengan kata-kata kasar."

​Setelah memberikan "nasihat" beracun itu, Maya mengambil tasnya. "Aku akan menunggumu di acara gala yayasan seni minggu depan, Adrian. Aku sudah menyumbangkan beberapa lukisan untuk dilelang. Kita lihat saja, siapa yang lebih pantas berada di sampingmu saat lampu sorot menyala."

​Maya keluar dengan langkah anggun yang sama, meninggalkan keheningan yang menyesakkan di ruangan itu.

Zeva berdiri mematung. Kata-kata Maya barusan bukan hanya serangan, tapi sebuah kebenaran pahit yang selama ini ia coba kubur. Ia menoleh pada Adrian, yang masih menatap pintu yang tertutup itu.

​"Adrian," panggil Zeva pelan.

​Adrian menoleh, ekspresinya sulit dibaca. "Zeva, jangan dengarkan dia. Dia hanya ingin memancingmu."

​"Tapi dia bener, kan?" suara Zeva bergetar. "Lu liat dia tadi. Dia kelihatan begitu... pas di sini. Ruangan ini, gedung ini, baju-baju mahal ini. Semuanya kayak emang diciptain buat dia. Sedangkan gue? Gue kayak tempelan yang dipaksa nempel tapi lemnya udah kering."

​"Zeva, berhenti," tegas Adrian.

​"Lu masih cinta sama dia?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Zeva.

​Adrian terdiam cukup lama. Detik-detik keheningan itu terasa seperti pisau bagi Zeva.

​"Dia adalah masa laluku, Zeva. Seseorang yang pernah menjadi sangat penting. Tapi itu tidak berarti aku ingin kembali ke sana," jawab Adrian dengan nada yang terdengar seperti sedang meyakinkan dirinya sendiri.

​"Tapi lu nggak bilang 'nggak', Adrian," sahut Zeva lirih. Ia meletakkan laporan audit di meja Adrian. "Gue mau balik ke bengkel sebentar. Ada motor pelanggan yang harus gue cek sendiri. Di sana, seenggaknya gue tahu mana yang asli dan mana yang palsu."

​"Zeva, tunggu!"

​Namun Zeva sudah keluar. Ia tidak tahan melihat keraguan di mata Adrian. Bagi Zeva, keraguan adalah musuh yang lebih besar daripada kebencian.

Zeva memacu motor bebeknya dengan kecepatan tinggi menuju bengkel lamanya di pinggiran Jakarta. Begitu sampai, ia langsung mengambil kunci pas dan mulai membongkar mesin sebuah motor tua yang teronggok di sudut.

​Aroma oli, bensin, dan debu menyambutnya. Inilah dunianya. Di sini, tidak ada yang peduli apakah dia tahu cara memegang gelas anggur. Di sini, yang penting adalah apakah dia bisa membuat mesin yang mati kembali menyala.

​"Woy, Zev! Bukannya lu udah jadi nyonya besar? Ngapain masih kotor-kotoran di sini?" teriak Ujang, asisten bengkelnya yang setia.

​"Berisik lu, Jang! Gue lagi pusing," sahut Zeva sambil mengusap keringat di dahinya dengan tangan yang penuh oli.

​"Pusing kenapa? Berantem sama si Mas Ganteng itu? Halah, Zev, lu itu ibarat busi. Kecil, tapi kalau nggak ada lu, mesin semahal apa pun nggak bakal jalan. Jangan minder cuma gara-gara ada cewek cantik yang dateng," ujar Ujang sambil nyengir.

​Zeva berhenti bekerja. Ia menatap tangannya yang hitam karena oli. Busi. Ia tersenyum tipis. Ujang benar. Tapi busi juga bisa diganti dengan yang baru dan lebih mengkilap, bukan?

​Hingga malam tiba, Zeva tetap di bengkel. Ia sengaja mematikan ponselnya. Ia tidak ingin mendengar suara Adrian. Ia butuh waktu untuk berpikir, apakah ia benar-benar sanggup menjalani sandiwara ini saat bayang-bayang masa lalu Adrian mulai menuntut ruang kembali.

Sementara itu, di sebuah hotel mewah di pusat kota, Maya sedang menyesap teh chamomile-nya sambil menatap foto Zeva di layar tabletnya. Di sampingnya duduk seorang pria paruh baya yang tampak licin—dia adalah salah satu direktur Alfarezel yang tidak menyukai kebijakan baru Adrian.

​"Gadis itu lemah, Maya," ujar sang direktur. "Dia punya nyali, tapi dia tidak punya 'perisai' sosial. Jika kita menyerangnya di depan publik pada acara gala nanti, Adrian akan dipaksa untuk memilih antara citra perusahaan atau gadis itu."

​Maya tersenyum licik. "Adrian itu pria yang logis. Dia mungkin merasa tertantang oleh kegaduhan yang dibawa gadis itu sekarang. Tapi saat semua itu mulai merugikan bisnisnya, dia akan kembali pada apa yang dia kenal. Dan itu adalah aku."

​Maya mengusap layar tabletnya, tepat di wajah Zeva. "Nikmatilah waktumu, Zevanya. Karena di acara gala nanti, aku akan menunjukkan padamu bahwa berlian asli tidak akan pernah bisa disandingkan dengan kaca jalanan."

Kembali ke apartemen pada tengah malam, Zeva menemukan Adrian sedang duduk di balkon, menunggu dengan sebotol air mineral dan wajah yang sangat lelah. Zeva masuk dengan pakaian yang kotor dan bau oli, kontras dengan kemewahan interior apartemen itu.

​"Kau kembali," ujar Adrian lega. Ia berdiri, namun berhenti beberapa langkah dari Zeva, seolah takut mengganggu ruang geraknya.

​"Gue perlu napas, Adrian. Di kantor tadi... oksigennya rasanya beda pas ada Maya," jawab Zeva datar.

​"Zeva, soal Maya... aku akan mengurusnya. Dia tidak akan mengganggumu lagi."

​Zeva menatap Adrian lekat-lekat. "Bukan dia yang harus lu urus, Adrian. Tapi diri lu sendiri. Kalau lu emang masih punya perasaan sama dia, bilang sekarang. Jangan bikin gue kelihatan kayak orang bodoh yang lu bayar buat jadi tameng dari masa lalu lu."

​Adrian mendekat, kali ini ia tidak peduli dengan bau oli atau noda di baju Zeva. Ia memegang bahu Zeva dengan mantap. "Aku tidak pernah membayarmu untuk menjadi tameng, Zeva. Aku membawamu ke sini karena aku ingin kau ada di sini. Maya adalah masa lalu yang pahit, tapi kau... kau adalah kenyataan yang ingin kujalani."

​Zeva ingin percaya. Ia benar-benar ingin percaya. Namun, saat ia melihat undangan emas untuk acara gala yayasan seni di atas meja, ia tahu bahwa ujian yang sesungguhnya baru saja dimulai. Di sana, di depan semua orang, ia harus membuktikan bahwa ia bukan sekadar pelarian.

​"Gue bakal dateng ke gala itu," ujar Zeva mantap. "Bukan sebagai boneka lu, tapi sebagai Zevanya. Dan kalau si Maya itu mau main-main, dia bakal tahu kalau 'orang jalanan' punya cara sendiri buat menangin balapan."

​Adrian tersenyum, kali ini dengan rasa bangga yang tulus. "Itu gadisku."

​Namun di dalam hati, Adrian tahu bahwa Maya tidak bekerja sendirian. Ada kekuatan besar yang mulai bergerak di kegelapan, menggunakan Maya sebagai pion untuk menghancurkan apa yang sedang ia bangun bersama Zeva.

1
Desy Bengkulu
hooo begitu rupanya
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
Desy Bengkulu
ceritanya bagus , awalnya kek membosankan tapi pas mulai masuk rasa penasaran semakin merota🤣🤣
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣

semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!