NovelToon NovelToon
Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Pangeran
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Neon Pena

Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26

Delapan tahun telah berlalu sejak hari itu.

Gerbang Utara Kerajaan Geedapa kini menjulang di depan mataku, terbuat dari batu hitam yang dipahat dengan simbol-simbol kuno. Aku bukan lagi bocah sembilan tahun yang kurus kering. Di usiaku yang kini tujuh belas tahun, postur tubuhku tegap, tinggi, dan memiliki otot yang padat namun lentur. Jubah abu-abuku berkibar pelan tertiup angin senja, menyembunyikan aura kekuatanku yang kini berada di ambang batas manusia.

"Kau terlihat seperti bangsawan yang tersesat, bukan lagi bocah gunung," gumam Ki Kusumo yang berjalan di sampingku, menyamar sebagai pedagang keliling tua.

Aku tidak menjawab. Fokusku terbelah. Di satu sisi, aku memperhatikan keramaian orang-orang yang mengantre masuk ke gerbang. Di sisi lain, aku merasakan sesuatu yang ganjil di balik hutan jati yang berbatasan langsung dengan tembok kota.

Sssss...

Suara gesekan sisik di atas dedaunan kering. Itu bukan suara binatang buas biasa. Itu adalah Ular Naga Tanah, monster tingkat tinggi yang seharusnya tidak berkeliaran di dekat pemukiman manusia.

"Ada yang tidak beres," bisikku pelan.

"Lakukan bagianmu. Aku akan mengurus administrasi di gerbang," balas Ki Kusumo tanpa menoleh, seolah dia sudah tahu ada ancaman yang mendekat.

Aku melangkah menjauh dari kerumunan, berpura-pura ingin buang air di balik rimbunnya hutan. Saat aku masuk ke dalam bayangan pohon, aku berhenti. Tubuhku terasa sangat ringan, seolah gravitasi tidak lagi menarik kakiku ke bumi. Aku melangkah dengan teknik Langkah Kaki Dewa—setiap pijakanku di atas tanah tidak meninggalkan jejak, bahkan rumput pun tidak bergoyang.

Wush!

Sebuah bayangan hitam besar melesat dari atas pohon. Ular itu memiliki taring yang meneteskan cairan korosif, mampu melelehkan besi dalam sekejap. Ia mengincar leherku dengan kecepatan yang membuat mata manusia biasa tidak akan mampu melihatnya.

Aku tidak menghindar secara kasar. Aku hanya memiringkan tubuhku sedikit, membiarkan tubuh ular itu melesat lewat di samping telingaku.

Saat tubuh ular itu berada tepat di depanku, aku melangkah. Bukan lari, bukan lompat, tapi melangkah di udara. Tubuhku terasa seringan kapas, bergerak mengikuti arus angin. Dalam satu gerakan halus, aku menepuk bagian bawah kepala ular itu dengan telapak tanganku.

Brak!

Ular itu menghantam batang pohon di belakangku dengan kekuatan yang seharusnya bisa mematahkan tulangnya sendiri. Namun, ia tidak mati. Ular itu justru berbalik, mencoba menyemburkan api hijau dari mulutnya.

Aku tidak lagi menggunakan Qi petir yang meledak-ledak. Aku menggunakan Keseimbangan Sempurna. Aku mengalirkan energi ke sekeliling tubuhku, menciptakan medan vakum yang menahan semburan api itu agar tidak menyebar. Api itu terjebak dalam lingkaran kecil di depanku, lalu padam begitu saja saat aku menjentikkan jariku.

Ular itu terdiam. Ia merasakan sesuatu yang aneh. Aku tidak menatapnya dengan niat membunuh, melainkan dengan tatapan tenang yang meruntuhkan keinginan bertarungnya. Binatang ini sadar bahwa di depannya bukan lagi seorang manusia, melainkan sesuatu yang jauh lebih tinggi tingkatannya.

Ular Naga Tanah itu menurunkan kepalanya ke tanah, mendesis pelan, lalu meluncur kembali ke dalam hutan, menghilang ke kegelapan.

Aku kembali melangkah keluar dari hutan, tepat saat Ki Kusumo selesai mengurus dokumen masuk.

"Ular Naga Tanah?" tanyanya sambil melirik ke arah hutan.

"Hanya pengganggu kecil," jawabku singkat.

"Keseimbanganmu semakin baik. Kau menggerakkan udara untuk menghentikan api, dan kau menggerakkan tanah untuk menghentikan langkahmu sendiri. Itu teknik yang sulit dikuasai dalam waktu singkat," puji Ki Kusumo.

Aku mengangguk, merasakan aliran energi di dalam diriku yang kini sudah sangat stabil. Tinggal selangkah lagi. Hanya satu langkah lagi menuju Setengah Dewa.

Gerbang kota itu terbuka lebar, menelan kami ke dalam hiruk-pikuk kehidupan kerajaan. Kerajaan Geedapa. Kota yang penuh dengan intrik, kekuasaan, dan rahasia yang terkubur selama tujuh belas tahun. Aku berjalan di antara kerumunan manusia, menutupi auraku dengan rapat.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik jubah abu-abu ini, berdiri seorang pemuda yang mampu meruntuhkan tembok kota hanya dengan satu kedipan mata.

"Ingat, Qinar," bisik Ki Kusumo saat kami melewati pusat keramaian. "Di sini, musuh tidak memakai topeng binatang. Mereka memakai senyum yang paling manis."

1
Sport One
salah fokus🤣 sama kalimat ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!