Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.
Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 19
Pintu kaca geser tertutup rapat dengan satu dorongan kaki Dylan, meredam suara debur ombak dan angin laut, menyisakan keheningan yang tebal dan memabukkan di dalam Master Suite.
Dylan tidak menurunkan Yvone. Pria itu terus melangkah, membawa istrinya melintasi ruangan yang perlahan digelapkan oleh bayangan senja, menuju ranjang king-size di tengah kamar.
Setiap langkah yang diambil Dylan terasa seperti detak jarum jam yang menghitung mundur sisa kewarasan mereka. Yvone masih melingkarkan lengannya di leher suaminya, menatap wajah pria itu dari jarak yang begitu dekat. Mata kelam Dylan tak lagi sedingin samudra beku; mata itu kini menyala oleh api yang selama ini ia kurung rapat-rapat.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati seolah Yvone terbuat dari porselen tipis yang rapuh Dylan membaringkan wanita itu di atas seprai sutra.
Pria itu tidak langsung menindihnya. Ia berdiri di sisi ranjang, dadanya naik turun di balik kemeja linennya yang sedikit kusut. Matanya menyapu sosok Yvone yang terbaring di bawahnya. Gaun maxi Yvone sedikit tersingkap, rambut hitamnya membingkai wajahnya yang merona, dan bibirnya sedikit bengkak karena ciuman brutal mereka barusan.
Bagi Dylan, Yvone Larasati adalah pemandangan paling indah sekaligus paling menghancurkan yang pernah ia lihat seumur hidupnya.
"Apakah kau yakin?" Suara Dylan terdengar sangat parau, bergetar menahan hasrat yang siap meledak. Ia memberikan Yvone satu kesempatan terakhir untuk mundur. "Jika aku menyentuhmu malam ini, Yvone... tidak akan ada jalan kembali. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, bahkan jika seluruh dunia memintanya."
Yvone menatap pria yang berdiri menjulang itu. Pria yang rela mempertaruhkan kerajaannya demi dirinya. Pria es yang kini menundukkan egonya di kaki Yvone.
Alih-alih menjawab dengan kata-kata, Yvone mengulurkan kedua tangannya. Ia meraih kerah kemeja Dylan dan menarik pria itu ke bawah.
"Aku sudah membuang kuncinya, Dylan," bisik Yvone tepat di depan bibir pria itu. "Tidakkah kau tahu? Aku ingin kau mengurungku."
Erangan rendah yang sangat maskulin lolos dari tenggorokan Dylan. Sisa pertahanan terakhirnya hancur berkeping-keping. Pria itu menindihkan separuh tubuhnya di atas Yvone, menumpukan berat badannya pada kedua lengannya agar tidak menyakiti wanita itu, lalu meraup bibir Yvone dengan kelaparan yang absolut.
Ciuman itu memabukkan, basah, dan penuh dengan kepemilikan. Tangan Yvone menyusup ke rambut hitam Dylan, menariknya mendekat, sementara sebelah tangan Dylan bergerak menyusuri lekuk tubuh Yvone dari pinggang hingga ke paha, mengirimkan sengatan listrik yang membuat tubuh wanita itu melengkung refleks mencari kehangatan lebih.
Jari-jari panjang Dylan dengan cekatan menemukan ritsleting di punggung gaun Yvone. Dalam satu gerakan mulus, gaun tipis itu terlepas, menyisakan pakaian dalam berenda yang membingkai kulit putih pucat Yvone.
Napas Dylan tersengal saat ia menarik diri sedikit untuk menatap kulit istrinya yang kini terekspos di bawah temaram lampu tidur yang kuning redup. Pria itu menelan ludah, menatap Yvone dengan pemujaan yang hampir religius.
"Kau sangat cantik," gumam Dylan, suaranya dipenuhi ketakjuban yang murni.
Bibir pria itu turun, mengecup rahang Yvone, menyusuri lehernya, dan berhenti tepat di ceruk nadinya yang berdenyut cepat. Gigi Dylan menggigit pelan kulit lembut di sana, membuat Yvone terkesiap dan melengkungkan punggungnya.
"Dylan..." desah Yvone, tangannya tanpa sadar membuka kancing kemeja linen pria itu dengan gerakan gemetar namun tak sabar.
Merasakan sentuhan tangan Yvone di dadanya, Dylan membantu melepaskan kemejanya sendiri dan melemparnya sembarangan ke lantai. Tubuh atletisnya yang dipenuhi otot tegas kini bersentuhan langsung dengan kulit hangat Yvone.
Saat kulit mereka bertemu, ledakan gairah itu tak lagi bisa dibendung. Dylan mencium Yvone dari leher turun ke belahan dadanya, meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang akan menjadi tanda kepemilikannya. Setiap sentuhan, setiap ciuman, diwarnai oleh emosi yang pekat sebuah pelampiasan dari rasa rindu yang bahkan tak pernah mereka sadari sebelumnya.
Yvone memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi yang diberikan suaminya. Ketika tangan Dylan menjelajah lebih jauh, menanggalkan sisa kain yang menutupi tubuh Yvone, wanita itu hanya bisa mengerang pelan, sepenuhnya menyerahkan dirinya pada badai yang diciptakan sang miliarder.
"Tatap aku," perintah Dylan lembut, menahan diri di ambang batas kendalinya. Pria itu memosisikan dirinya di atas Yvone, otot-otot di lengannya menegang keras menahan dorongan instingnya.
Yvone membuka matanya yang sayu oleh gairah. Ia menatap mata kelam suaminya.
"Malam ini, kontrak itu mati," bisik Dylan tepat sebelum ia menyatukan tubuh mereka. "Kau adalah Nyonya Alexander Hartono. Tubuhmu, hatimu, jiwamu... semuanya milikku. Dan aku milikmu."
Rasa sakit sesaat yang dirasakan Yvone dengan cepat tergantikan oleh gelombang kenikmatan yang luar biasa saat Dylan mulai bergerak dengan ritme yang lambat dan penuh kelembutan, memastikan istrinya terbiasa dengan kehadirannya. Air mata keharuan lolos dari sudut mata Yvone, bukan karena sedih, melainkan karena rasa cinta yang begitu besar hingga terasa menyesakkan dada.
Malam itu, di bawah perlindungan tebing Uluwatu, tidak ada lagi batas yang tersisa. Hanya ada penyatuan dua jiwa yang sama-sama terluka, menemukan penyembuhan dalam pelukan satu sama lain, hingga teriakan pelepasan mengudara dan mereka jatuh dalam kelelahan yang memuaskan.
Keesokan Paginya. Pukul 09.00 WIB, Jakarta.
Di saat Bali diselimuti kedamaian sehabis badai cinta, sebuah badai politik yang sesungguhnya baru saja memporak-porandakan sebuah penthouse mewah di kawasan Mega Kuningan, Jakarta.
PRANG!
Sebuah vas kristal Baccarat senilai puluhan juta rupiah hancur berkeping-keping menghantam dinding pualam.
Nadia Pramudya berdiri di tengah ruang tamu apartemennya dengan napas terengah-engah. Wajah cantiknya terdistorsi oleh amarah yang mengerikan. Di tangannya, sebuah iPad menampilkan halaman depan majalah Arsitektur & Desain Asia dengan foto Yvone yang tampak anggun, cerdas, dan percaya diri.
"Jalang kecil itu berani mempermalukanku!" teriak Nadia, melempar iPad itu ke atas sofa. "Bagaimana mungkin dia bisa merancang desain berskala triliunan?! Ini pasti rekayasa Dylan! Dylan pasti membayar desainer bayangan untuk memakai nama gadis itu!"
Sinta Wijaya, yang sedang duduk di sofa seberang sambil menyesap wine merahnya dengan elegan, hanya tersenyum miring melihat luapan amarah sahabat politiknya itu.
"Aku sudah bilang padamu, Nadia. Dylan tidak akan diam saja melihat barang miliknya disentuh," ucap Sinta santai. "Langkahmu menggunakan Kevin itu terlalu gegabah. Mantan pacar yang miskin dan cemburu? Itu narasi kelas dua. Dylan dan Yvone memutarbalikkan narasimu dengan sangat indah. Publik kini melihat Yvone sebagai wanita mandiri yang cerdas, dan Kevin sebagai pecundang yang pansos."
Nadia menoleh menatap Sinta dengan tajam. "Jangan menguruiku, Sinta. Setidaknya aku melakukan sesuatu! Kau sendiri apa yang kau lakukan selain minum di pagi hari dan menyesali keputusanmu membuang Dylan lima tahun lalu?!"
Wajah Sinta sedikit menegang, kilat permusuhan melintas di matanya. Namun wanita itu kembali menetralkan ekspresinya. "Aku tidak menyesal. Kekuasaan suamiku nyata, bukan sekadar janji-janji proyek bisnis."
"Oh ya?" Nadia mendecak sinis. "Kekuasaan suamimu berada di bawah kendali Pak Hadi. Dan Pak Hadi baru saja menelepon ayahku pagi ini, marah besar karena Bu Rina akhirnya menandatangani izin AMDAL untuk Alexander Group akibat wawancara sialan itu. Proyek Uluwatu resmi berjalan, dan kita kehilangan tuas penekan terbesar kita."
Nadia berjalan mondar-mandir, menggigit kuku jarinya yang dihias nail-art mahal. "Gadis Larasati itu bukan sekadar boneka yang pasrah. Dia ternyata memiliki otak. Selama dia memiliki nilai sosial dan profesional di mata publik, Hadi tidak akan bisa menyentuhnya secara terang-terangan tanpa memancing kemarahan media."
"Lalu, apa rencanamu sekarang, Ratu Politik?" tanya Sinta, meletakkan gelas wine-nya.
Nadia berhenti melangkah. Tatapan matanya berubah gelap dan mematikan. Sebuah ide licik baru saja terbentuk di kepalanya yang ambisius.
"Dia membangun reputasinya di atas proyek Uluwatu dan kolaborasinya dengan arsitek Rangga Susilo," gumam Nadia pelan, bibirnya melengkung membentuk seringai jahat. "Sesuatu yang naik terlalu cepat, akan sangat mudah dihancurkan."
Nadia mengambil kembali iPad-nya, mencari profil biro arsitektur milik Rangga Susilo.
"Kita tidak akan menyerang Yvone dari luar," ucap Nadia, matanya berkilat penuh kemenangan yang antisipatif. "Kita akan menghancurkannya dari dalam. Jika desainnya yang brilian itu tiba-tiba terbukti sebagai hasil plagiarisme... atau jika terjadi sabotase struktural mematikan pada proyek butik hotelnya di Senopati yang menyebabkan kecelakaan kerja..."
Sinta menaikkan sebelah alisnya. "Itu ranah pidana, Nadia. Kau bisa terseret."
"Aku adalah putri Menteri Dalam Negeri. Aku tidak memiliki sidik jari di tempat kejadian perkara," balas Nadia arogan. Ia menatap Sinta. "Gunakan koneksimu. Cari siapa kepala kontraktor lapangan di proyek Senopati itu. Beli dia dengan harga berapa pun yang dia minta. Aku ingin fondasi gedung itu bermasalah."
"Dan bagaimana dengan Rangga Susilo?" tanya Sinta. "Dia keponakan elit perbankan."
"Rangga akan kubereskan secara pribadi," seringai Nadia melebar. "Pria muda yang ambisius selalu memiliki kelemahan. Entah itu uang, wanita, atau ego. Aku akan memastikan Rangga Susilo menjadi orang yang menendang Yvone dari posisinya, mempermalukannya di depan publik, dan membuat Dylan sadar bahwa istri mungilnya itu tidak lebih dari pembawa sial."
Di Jakarta, para ular berbisa tengah meracik bisa baru mereka, tidak menyadari bahwa Yvone yang sekarang bukanlah Yvone yang bisa ditakut-takuti lagi.
Bali, Siang Hari.
Sinar matahari masuk dengan hangat ke dalam Master Suite. Yvone mengerjap pelan saat merasakan usapan lembut di bahunya.
Ia membuka mata dan mendapati Dylan sudah sepenuhnya berpakaian, mengenakan kaus polo hitam kasual, sedang duduk di tepi ranjang. Pria itu membawa sebuah nampan berisi roti panggang, telur, dan secangkir teh hangat.
"Aku membiarkanmu tidur lebih lama. Kau... kelelahan," ucap Dylan dengan senyum tipis yang sarat akan makna menggoda, membuat memori panas semalam berkelebat di benak Yvone.
Yvone menarik selimut menutupi dadanya, wajahnya merona merah. "Jam berapa ini?"
"Jam sebelas," jawab Dylan, meletakkan nampan di pangkuan Yvone. Pria itu kemudian mengecup kening Yvone dengan dalam. "Makanlah. Kau butuh tenaga. Nanti siang tim teknis dari Jakarta akan mengirimkan maket fisik proyek Uluwatu kemari. Kita harus memeriksanya bersama."
Yvone tersenyum, menyentuh pipi suaminya. "Terima kasih."
Dylan menatap mata istrinya, kelembutannya memudar perlahan, digantikan oleh keseriusan seorang pemimpin. Ia mengambil tangan Yvone dan menggenggamnya.
"Wawancara kemarin telah mengubah permainan, Yvone," ucap Dylan pelan. "Kau telah membuktikan nilai dirimu. Publik menyukaimu, Bu Rina berada di pihak kita. Tapi itu artinya, Nadia dan Hadi akan melihatmu sebagai ancaman yang sesungguhnya. Mereka tidak akan lagi menggunakan gosip murahan. Serangan mereka selanjutnya akan bersifat teknis, hukum, atau bahkan fisik."
Yvone menelan makanannya, selera makannya sedikit terganggu oleh bayangan ancaman itu. "Lalu apa yang harus kita lakukan?"
"Mulai hari ini," Dylan menatapnya tajam, "aku tidak hanya akan melindungimu. Aku akan melatihmu. Aku akan mengajarimu cara membaca laporan keuangan, cara melihat celah hukum dalam kontrak vendor, dan cara mengidentifikasi mata-mata di dalam proyekmu sendiri."
Yvone tertegun. Pria ini tidak sekadar ingin ia bersembunyi di balik punggungnya. Dylan ingin ia berdiri di sampingnya, memegang pedang yang sama.
"Kau akan menjadi Nyonya Alexander Group bukan hanya di atas kertas," janji Dylan, sebuah sumpah kesetiaan dari sang miliarder es. "Kau akan menjadi ratuku. Dan di papan catur ini, Ratu adalah bidak yang paling mematikan."