"Nyaris Jadi Kita" mengisahkan transformasi emosional dan profesional Arelia dari seorang wanita yang hanya dianggap sebagai "tempat pulang" bagi masa lalunya, menjadi "Arsitek Takdir" yang menyelamatkan dinasti korporat Adhitama Group di tengah kiamat finansial global. Melalui perjalanan penuh intrik dari Jakarta hingga London, Arelia berhasil menepis bayang-bayang pengkhianatan dan manipulasi pasar untuk membangun kedaulatan energinya sendiri, hingga akhirnya ia menyadari bahwa tujuan hidup yang paling agung bukanlah untuk bersandar pada pria mana pun, melainkan untuk menjadi muara bagi kebahagiaan dan harga dirinya yang mandiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Terang
Selasa pagi di kawasan SCBD selalu terasa seperti panggung pertunjukan yang riuh. Ribuan manusia berlarian mengejar waktu, berdesakan di dalam lift yang berdenting setiap beberapa detik, membawa mereka menuju mimpi atau beban yang sama beratnya. Namun, saat aku melangkah keluar dari lift di lantai lima belas, aku tidak lagi merasa seperti salah satu dari mereka yang berlari dalam ketakutan.
Aku melangkah dengan ritme yang tenang. Hak sepatuku mengetuk lantai marmer dengan suara yang mantap, menciptakan irama otoritas yang baru bagiku. Hari ini aku mengenakan setelan jas berwarna midnight blue dengan potongan yang tajam, sangat kontras dengan Arelia minggu lalu yang lebih sering memilih warna-warna aman agar tidak mencolok di samping Kaivan.
Begitu aku melewati meja divisi riset, suasana seketika menjadi sunyi. Bisik-bisik yang tadinya memenuhi ruangan menguap begitu saja. Aku melihat Maya memberikan jempol kecil dari balik monitornya, sementara rekan-rekan yang lain menatapku dengan binar mata yang kini dipenuhi rasa hormat—atau mungkin rasa ngeri. Mereka melihat transisi seorang wanita yang selama tujuh tahun dianggap hanya sebagai 'pelayan' Kaivan, kini menjadi pemegang kendali utama proyek paling bergengsi tahun ini.
Aku meletakkan tas di meja kerjaku. Mejaku kini terlihat sangat bersih, hanya ada laptop dan satu vas bunga kecil berisi mawar putih yang dikirim oleh asisten Bastian pagi tadi sebagai tanda apresiasi atas laporan audit kemarin. Tidak ada lagi tumpukan berkas milik Kaivan yang biasanya memenuhi sudut mejaku.
"Pagi, Rel."
Suara itu datang dari sebelah kiri. Kaivan sedang duduk di kursinya, namun ia tidak sedang menatap layar. Ia sedang menatapku. Rambutnya yang biasanya klimis kini terlihat sedikit berantakan. Kemejanya tidak disetrika sesempurna saat aku masih sering melakukannya untuknya diam-diam.
"Pagi, Kaivan," jawabku singkat tanpa menoleh. Aku mulai menyalakan laptop.
"Rel, soal pembagian tugas audit vendor C semalam... aku rasa ada yang salah," Kaivan memutar kursinya, mencoba masuk ke ruang pribadiku seperti yang biasa ia lakukan. "Kamu menaruh namaku di bagian korespondensi teknis? Itu kan tugas junior. Aku seharusnya yang memimpin negosiasi harga di lapangan."
Aku berhenti mengetik. Perlahan, aku memutar kursi menghadapnya. Aku menatapnya tepat di mata, mencari sisa-sisa pria yang dulu kupuja, namun hanya menemukan seorang pria yang terluka egonya karena tidak lagi menjadi pusat gravitasi.
"Tidak ada yang salah, Van. Itu adalah keputusan yang sudah disetujui Pak Dimas," kataku dengan nada yang sangat jernih. "Negosiasi harga membutuhkan akurasi data fiskal yang sangat tinggi. Mengingat kesalahan fatalmu saat presentasi kemarin, aku tidak bisa memberikan tanggung jawab itu padamu. Setidaknya untuk saat ini. Aku butuh orang yang fokusnya seratus persen pada data, bukan pada urusan asuransi orang lain."
"Tapi Rel, klien-klien di sektor C itu kenalanku semua! Kalau mereka tahu aku hanya jadi petugas korespondensi, harga diriku mau ditaruh di mana?" Kaivan menekan suaranya, berusaha agar tidak terdengar oleh staf junior di sekitar kami yang mulai memasang telinga.
"Harga diri adalah hasil dari kerja keras yang benar, Kaivan. Bukan dari jabatan yang diberikan karena rasa kasihan atau kebiasaan lama," balasku dingin. "Jika kamu keberatan dengan penugasan ini, silakan ajukan protes resmi ke Pak Dimas. Tapi untuk saat ini, kerjakan apa yang menjadi bagianmu. Aku butuh draf korespondensinya jam satu siang nanti."
Kaivan terperangah. Ia menatapku seolah-olah aku baru saja berubah menjadi orang asing yang paling mengerikan. "Kamu benar-benar sudah berubah ya, Rel. Kamu bicara seolah-olah aku ini anak magang."
"Aku bicara seolah-olah aku adalah pemimpin proyek ini. Dan kamu adalah salah satu pelaksananya. Pahami bedanya, agar kerja kita tetap profesional," aku kembali berputar menghadap monitor, mengabaikan gerutuan kasar yang keluar dari mulutnya.
Pukul sebelas siang, sebuah mobil sedan mewah hitam sudah menunggu di lobi. Bastian memintaku untuk meninjau lokasi gudang vendor C secara langsung. Ia ingin aku melihat sendiri bagaimana operasional di lapangan sebelum kami menandatangani kontrak akhir yang bernilai miliaran itu.
Di dalam mobil, Bastian tampak sedang sibuk dengan tabletnya. Namun, begitu aku masuk, ia langsung mematikan perangkatnya dan memberikan perhatian penuh padaku.
"Kamu terlihat luar biasa hari ini, Arelia. Warna biru itu sangat cocok denganmu. Memancarkan kepercayaan diri yang tajam," pujinya. Tidak ada nada menggoda yang murahan. Hanya sebuah observasi dari seorang pria yang menghargai intelektual dan presentasi diri.
"Terima kasih, Bastian. Saya hanya ingin memastikan bahwa setiap aspek dari kunjungan ini terlihat seprofesional mungkin."
"Kamu tidak perlu berusaha untuk terlihat profesional. Kamu adalah definisi profesional itu sendiri," Bastian menyandarkan punggungnya. "Tadi pagi Pak Dimas menelepon saya. Dia bilang suasana di kantor riset sedang sedikit... panas? Saya harap itu tidak memengaruhimu."
Aku tersenyum kecut, menatap jendela yang menampilkan gedung-gedung Jakarta yang menjulang. "Perubahan memang selalu membawa gesekan, Bastian. Terutama bagi mereka yang sudah terlalu nyaman berada di atas panggung tanpa mau bersusah payah membangun fondasinya sendiri."
"Laki-laki seperti Kaivan tidak akan pernah paham arti dari sebuah kehilangan sampai dia benar-benar berdiri di tengah kehampaan," gumam Bastian. "Dia menganggapmu sebagai kepastian. Dan ketika kepastian itu mulai menuntut haknya, dia panik. Jangan biarkan kepanikannya menjadi bebanmu lagi. Kamu sudah cukup lama menjadi penopang bagi orang yang bahkan tidak tahu caranya berterima kasih."
Kunjungan lapangan itu berjalan lancar. Aku mencatat setiap detail, menemukan tiga poin inefisiensi pada sistem distribusi yang bahkan dilewatkan oleh tim logistik Adhitama sebelumnya. Bastian mendengarkan setiap penjelasanku dengan seksama. Ia memperlakukanku sebagai mitra yang setara, seseorang yang kata-katanya memiliki bobot.
Sore harinya, saat aku kembali ke kantor, hujan deras mulai mengguyur Jakarta. Dari jendela besar di samping mejaku, langit SCBD tampak abu-abu gelap, persis seperti suasana pada foto yang baru saja kulihat di meja kerja Kaivan—foto lama kami saat masih kuliah yang ia letakkan kembali di atas mejanya, mungkin sebagai upaya memancing nostalgiku.
Aku mengabaikannya. Aku duduk dan mulai mengetik laporan hasil kunjungan lapangan.
"Rel," panggil Kaivan lagi. Kali ini suaranya lebih lembut, terdengar memelas. "Nadine... dia masuk rumah sakit lagi. Kali ini lambungnya kena karena stres. Aku harus ke sana sekarang."
Aku tidak berhenti mengetik. "Silakan. Kenapa harus lapor padaku? Bukankah kamu sudah biasa pergi di jam kerja untuk urusannya?"
"Aku... aku belum selesaikan draf korespondensi yang kamu minta tadi. Bisakah kamu handle sebentar? Cuma tiga halaman. Aku janji besok akan aku ganti," ucapnya dengan wajah yang ia buat sesedih mungkin.
Aku berhenti mengetik. Aku menoleh perlahan, menatapnya dengan tatapan yang sangat datar. "Tidak, Kaivan. Kamu pilih untuk pergi, maka kamu pilih untuk meninggalkan tanggung jawabmu. Jika laporannya tidak ada jam satu tadi, aku sudah melaporkannya sebagai 'belum selesai' di sistem koordinasi tim. Jika kamu pergi sekarang, itu akan tercatat sebagai izin tidak profesional untuk yang ketiga kalinya minggu ini."
"Arelia! Kamu kok tega banget sih? Ini soal nyawa orang!"
"Nyawa Nadine adalah urusan dokter dan keluarganya, Kaivan. Pekerjaan ini adalah urusanmu dengan perusahaan," balasku. "Tujuh tahun aku yang membereskan laporannmu saat kamu asyik bermain-main dengan perasaanmu. Sekarang, aku sudah berhenti. Cari orang lain untuk kamu jadikan budak."
"Kamu jahat, Rel. Aku nggak nyangka kamu sejahat ini cuma karena Bastian," desisnya.
"Aku tidak jahat, Kaivan. Aku hanya mulai menghargai diriku sendiri," kataku. "Sekarang silakan pergi. Pintu lift ada di sebelah sana. Jangan lupa bawa kotak makanmu yang masih tertinggal di mejaku. Aku tidak ingin ada jejakmu lagi di sini."
Kaivan menyambar tasnya dengan kasar dan pergi dengan langkah terhentak. Aku melihat punggungnya menjauh, dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa ingin mengejarnya. Tidak ada rasa ingin tahu apakah dia sudah makan atau belum. Tidak ada rasa cemas apakah dia akan kehujanan atau tidak.
Aku meraih mug kopiku, menyesapnya perlahan sambil menatap hujan yang membilas kaca jendela. Di luar sana, Jakarta tampak gelap, namun di dalam sini, di dalam hatiku, semuanya terasa sangat terang.
Nyaris jadi kita? Tidak. Kali ini, ceritanya adalah tentang aku yang berani melangkah keluar dari bayang-bayang. Dan di bawah cahaya ini, aku merasa jauh lebih hidup daripada sebelumnya.
Aku adalah Arelia. Dan aku bukan lagi tempat pulang yang bisa kamu datangi sesuka hati.
tarik nafas dulu Thor,terkadang kita harus lebih gila untuk menghadapi kegilaan org lain