NovelToon NovelToon
Bos Baruku Ternyata Mantanku

Bos Baruku Ternyata Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.

Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.

Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 15

Di sebuah kamar rumah sakit yang sunyi, suara detak mesin monitor terdengar pelan, seolah menjadi saksi bisu atas pertarungan hidup dan mati yang baru saja dilalui Aira. Cahaya matahari sore menembus tirai tipis, jatuh lembut di wajah pucatnya.

Perlahan, kelopak mata Aira bergerak. Dunia yang sempat gelap kini mulai kembali, meski terasa berat dan kabur. Napasnya tersengal pelan, tubuhnya terasa lemah, seolah seluruh energinya terkuras habis.

"Aira...?"

Suara itu bergetar. Lembut, tapi penuh kecemasan yang tak tertahankan.

Aira menggerakkan bola matanya, mencoba mencari sumber suara itu. Di samping ranjangnya, duduk seorang wanita dengan wajah lelah, matanya sembab, namun penuh kasih. Bibinya.

"Bibi..."

Suara Aira nyaris tak terdengar, serak dan rapuh.

Namun bagi bibinya, itu sudah lebih dari cukup.

Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh. Ia langsung bangkit, mendekat, lalu memeluk Aira dengan hati-hati, seolah takut menyakitinya.

"Kamu sudah sadar... kamu sudah sadar, Nak..."

Tangisnya pecah. Tubuhnya bergetar saat memeluk keponakannya erat.

Aira sedikit terkejut, namun perlahan membalas pelukan itu, meski lemah. Hangat. Nyata. Ia masih hidup.

"Maaf..." bisiknya lirih.

Bibinya menggeleng cepat, namun Aira melanjutkan.

"Maaf sudah bikin Bibi khawatir..."

Bibinya justru semakin erat memeluknya.

"Tidak... tidak, Aira... seharusnya Bibi yang minta maaf... Bibi tidak bisa menjagamu... Bibi tidak tahu kamu sampai sesakit ini..."

Aira memejamkan mata. Kata-kata itu menusuk, bukan karena menyakitkan, tetapi karena begitu tulus.

"Aku yang salah..." katanya pelan. "Aku bikin masalah... aku bikin semua jadi berantakan..."

Bibinya menarik sedikit tubuhnya, lalu menatap Aira dengan tegas, meski air mata masih mengalir.

"Dengar Bibi baik-baik," katanya pelan tapi kuat. "Yang salah itu bukan kamu. Yang jahat itu orang yang menindas kamu. Kamu korban, bukan pelaku."

Aira terdiam.

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi entah mengapa terasa begitu berat untuk diterima.

"Tapi..." Aira menggigit bibirnya. "Aku malah merepotkan... aku tidak mandiri..."

"Berhenti bicara seperti itu," potong bibinya lembut. "Kamu tidak sedang merepotkan siapa pun. Kamu sedang butuh pertolongan. Dan itu tidak salah."

Aira menatap bibinya, matanya kembali berkaca-kaca.

Untuk pertama kalinya, ia merasa ada seseorang yang benar-benar melihatnya, bukan menilainya.

Beberapa saat mereka hanya saling menatap, membiarkan emosi yang selama ini terpendam perlahan mengalir keluar.

Setelah suasana sedikit tenang, bibinya mengusap rambut Aira dengan lembut.

"Ibumu akan datang sore ini," katanya.

Aira terdiam.

Ekspresi wajahnya berubah. Ada sesuatu yang berat di sana.

"Ibu..." ulangnya pelan.

Rasa bersalah kembali menyusup.

"Aku gagal jadi anak yang baik..." bisiknya.

Bibinya langsung menggeleng.

"Jangan berpikir seperti itu. Ibumu sangat menyayangimu. Dia bahkan buru-buru menyelesaikan pekerjaannya supaya bisa ke sini."

Aira tidak langsung menjawab.

Ia tahu ibunya menyayanginya. Tapi bayangan ayahnya jauh lebih menakutkan.

"Ayah... tahu?" tanyanya ragu.

Bibinya tampak terdiam sejenak.

Wajahnya berubah, seolah menimbang kata-kata apa yang harus diucapkan.

"Ayahmu... sudah diberi tahu," katanya akhirnya.

"Lalu?"

Bibinya mengalihkan pandangan.

"Dia... sedang sibuk," jawabnya singkat.

Namun Aira tidak bodoh.

Ada sesuatu yang disembunyikan.

Hatinya mencelos, tapi ia tidak bertanya lebih jauh. Ia sudah cukup mengenal ayahnya.

Diam yang panjang itu terasa lebih menyakitkan dari kata-kata kasar.

Waktu berlalu perlahan.

Sore hari datang bersama langkah tergesa di lorong rumah sakit.

Pintu kamar terbuka dengan cepat.

"Aira!"

Seorang wanita berlari masuk, napasnya terengah, matanya langsung tertuju pada sosok lemah di atas ranjang.

"Ibu..."

Belum sempat Aira berkata lebih jauh, ibunya sudah memeluknya erat.

Pelukan itu hangat, namun penuh getaran kesedihan.

"Kenapa kamu lakukan ini, Nak...?" suaranya pecah. "Apa yang terjadi sampai kamu... sampai kamu berpikir seperti itu?"

Aira terdiam sejenak.

Lalu perlahan, ia mulai bercerita.

Tentang tekanan di kantor. Tentang atasannya yang jahat. Tentang ancaman yang membuatnya takut.

"Dia bilang aku bisa dipenjara..." suara Aira bergetar. "Aku takut... kalau itu terjadi, Ayah pasti akan sangat marah..."

Ibunya terdiam.

Wajahnya menegang.

Bukan karena marah pada Aira, tetapi karena kenyataan yang begitu pahit.

Ia tahu.

Ia tahu betul bagaimana suaminya.

Keras. Dingin. Tidak pernah benar-benar mendengarkan.

Dan tanpa sadar, ketakutan itu telah membentuk anak-anaknya.

"Ayahmu..." ibunya mulai bicara, namun suaranya melemah.

Ia menarik napas panjang, lalu mencoba tersenyum.

"Ayahmu pasti akan mengerti," katanya lembut. "Dia tidak akan marah seperti yang kamu bayangkan."

Aira menatap ibunya.

Ia tahu itu mungkin hanya penghiburan.

Namun untuk saat ini, ia memilih untuk mempercayainya.

Ia tersenyum kecil.

Melihat itu, ibunya segera menghapus air mata yang masih tersisa.

"Sudah, jangan pikirkan itu dulu," katanya, berusaha terdengar lebih ringan. "Kamu harus makan."

Ia membuka tas yang dibawanya, mengeluarkan beberapa kotak makanan.

Aroma santan dan rempah langsung memenuhi ruangan.

Mata Aira sedikit berbinar.

"Nasi Padang...?"

Ibunya tersenyum.

"Makanan favoritmu."

Aira mengangguk pelan.

"Aku lapar..."

Itu mungkin kalimat paling jujur yang ia ucapkan hari itu.

Sudah dua hari ia tidak makan.

Ibunya membantu Aira duduk sedikit lebih tegak, lalu mulai menyuapinya dengan hati-hati.

Setiap suapan terasa begitu berarti.

Hangat. Nyaman.

Seolah mengisi kembali bagian dirinya yang kosong.

Sesekali, ibunya mengusap mulut Aira yang terkena kuah santan.

Gerakan kecil yang penuh kasih.

"Pelan-pelan, nanti tersedak," ujar ibunya lembut.

Aira hanya mengangguk, fokus pada makanan di depannya.

Untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa benar-benar ingin hidup.

Setelah makan selesai, suasana menjadi lebih ringan.

Mereka mulai berbicara tentang hal-hal lain.

"Bagaimana kabar kakak-kakak dan adik?" tanya Aira.

Ibunya tersenyum.

"Andi sekarang sedang dinas di Kalimantan," katanya. "Dia baik-baik saja."

Aira mengangguk.

"Kalau Kak Sarah?"

"Sebentar lagi menikah," jawab ibunya. "Dia sibuk sekali sekarang."

Aira tersenyum kecil.

"Dan Rista?"

"Sedang persiapan masuk perguruan tinggi. Dia sering menanyakanmu."

Aira terdiam sejenak.

Ada rasa hangat di dadanya.

Keluarganya... masih ada untuknya.

Waktu berlalu tanpa terasa.

Hingga akhirnya, pintu kamar diketuk pelan.

Seorang perawat masuk dengan senyum sopan.

"Maaf, waktu menjenguk sudah habis," katanya.

Ibunya langsung terlihat sedih.

"Sebentar lagi ya..." bisiknya pada Aira.

Ia kembali memeluk putrinya, lebih lama kali ini.

"Ibu akan datang lagi besok," katanya. "Kamu istirahat yang baik."

Aira mengangguk.

"Iya, Bu."

Ibunya mengusap kepala Aira untuk terakhir kalinya sebelum beranjak pergi.

Pintu kamar tertutup perlahan.

Sunyi kembali menyelimuti ruangan.

Aira berbaring, menatap langit-langit.

Pikirannya melayang.

Ia mengingat semua yang telah terjadi.

Keputusan bodoh yang hampir merenggut hidupnya.

Rasa takut.

Rasa putus asa.

Namun juga...

Pelukan bibinya. Pelukan ibunya. Kata-kata yang menenangkan.

Air mata mengalir lagi, tapi kali ini berbeda.

Bukan karena putus asa.

Melainkan karena rasa syukur.

"Aku masih hidup..." bisiknya pelan.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kalimat itu terasa seperti sebuah kesempatan, bukan beban.

Ia menutup matanya perlahan.

Di dalam hatinya, ada satu harapan kecil yang mulai tumbuh.

Bahwa mungkin... semuanya belum terlambat.

 

Aira terbangun lagi di tengah malam.

Kali ini bukan karena suara mesin atau langkah perawat, melainkan karena pikirannya sendiri yang tidak mau diam.

Langit-langit kamar rumah sakit tampak dingin dan asing. Lampu redup membuat bayangan di sudut ruangan terlihat lebih gelap dari seharusnya.

Ia menelan ludah pelan.

Untuk sesaat, rasa takut itu kembali.

Takut yang sama seperti sebelum ia mengambil keputusan bodohnya.

"Kalau aku mati..." bisiknya pelan.

Kalimat itu menggantung.

Ia memejamkan mata, tapi justru bayangan ibunya muncul.

Wajah yang menangis.

Pelukan yang hangat.

Tangan yang dengan sabar menyuapinya makan.

Napas Aira sedikit tercekat.

"Ibu pasti hancur..."

Lalu bayangan bibinya.

Suara tangis yang pecah saat ia sadar.

Permintaan maaf yang tulus.

Aira menggigit bibirnya.

Dadanya terasa sesak.

"Kenapa aku sampai tidak memikirkan itu..."

Air mata kembali mengalir, membasahi pelipisnya.

Ia tidak menyadari betapa besar rasa putus asa yang telah menguasainya saat itu.

Sampai ia hampir kehilangan segalanya.

Perlahan, Aira mengangkat tangannya yang masih dibalut perban.

Ia menatapnya lama.

Ada rasa nyeri.

Tapi rasa itu justru mengingatkannya bahwa ia masih hidup.

Masih punya kesempatan.

Masih bisa memperbaiki semuanya.

"Aku tidak boleh seperti itu lagi..." katanya lirih.

Suara itu pelan, tapi ada ketegasan di dalamnya.

Ia menarik napas dalam-dalam.

Untuk pertama kalinya, ia mencoba menghadapi rasa takutnya, bukan lari darinya.

Ia tahu itu tidak akan mudah.

Atasannya masih ada. Ancaman itu masih nyata. Ayahnya masih sama.

Tidak ada yang benar-benar berubah.

Kecuali dirinya.

Dan mungkin itu sudah cukup untuk memulai sesuatu yang berbeda.

Aira memejamkan mata lagi.

Kali ini, bukan untuk lari.

Melainkan untuk beristirahat.

Karena besok...

Ia harus mulai hidup lagi.

Dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sendirian.

1
Wayan Sucani
Lanjut thor...
Black Rascall: siap kak jangan lupa dukungannya
total 1 replies
Nurjana Bakir
lanjut thoor
Black Rascall: siap👍👍👍 jangan lupa likenya kak
total 1 replies
Cucu Rodiah
udah kalou begini terus tidak baca lagi
Black Rascall: makasih udah mampir kak semoga nanti mau mampir lagi
total 1 replies
Cucu Rodiah
komentar apalagi udah dua kali komentar
Black Rascall: tenang aja kak nanti kalau view nyentuh 5K saya update 10 bab sehari buat ngasih bonus ke pembaca yang sudah mendukung
total 1 replies
Cucu Rodiah
teruskan kan jangan di potong potong
Black Rascall: sabar ya kak udah saya siapkan bab terjadwal sampai bab 44 kok update setiap hari
total 1 replies
Cucu Rodiah
maki seru bagus
Black Rascall: makasih dukungannya bab berikutnya mungkin lebih parah ributnya
total 1 replies
Nana umi
bagus
Black Rascall: makasih kak bantu likenya
total 1 replies
Lempongsari Samsung
makasih crazy up nya thor❤❤❤
Black Rascall: yang penting likenya yang rajin kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!