Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Kejatuhan Sang Penguasa
Lampu darurat berwarna merah berputar-putar di langit-langit koridor lantai 48, memantulkan bayangan jeruji besi yang seolah siap mengurung mangsanya. Ruang kerja Arsen yang tadinya megah kini hancur berantakan. Air dari sprinkler masih menetes pelan dari langit-langit, membasahi karpet mahal dan melarutkan noda darah yang berceceran di lantai.
Bram Dirgantara berdiri mematung wajah paruh bayanya yang biasa memancarkan keangkuhan politik kini tampak pias, abu-abu seperti debu. Di kedua pergelangan tangannya, sepasang borgol baja telah terpasang dengan bunyi klik yang mematikan.
"Adrian! Kamu keponakan tidak tahu diuntung!" teriak Bram, suaranya bergetar hebat antara amarah dan ketakutan saat dua petugas kepolisian menyeretnya maju. "Kamu menghancurkan keluargamu sendiri demi seorang jalang! Kakekmu tidak akan pernah memaafkan perbuatanmu ini!"
Adrian yang kini berdiri tegak dengan bahu kanan yang dibalut kain kasa darurat oleh tim medis, menatap pamannya dengan pandangan yang luar biasa dingin. Kemeja putihnya basah kuyup dan ternoda darah namun aura kekuasaannya justru semakin mengintimidasi.
"Keluarga?" Adrian mendengus sinis, suara baritonnya menggema di antara kegaduhan ruangan. "Keluarga tidak menyiksa wanita tidak bersalah hingga tewas paman dan keluarga juga tidak merampok uang perusahaan ratusan miliar untuk memuaskan keserakahan pribadi. Aku tidak sedang menghancurkan keluarga Dirgantara... aku sedang membersihkan parasitnya."
Di sudut lain, Arsen meronta-ronta seperti binatang buas yang tertangkap jaring, wajah tampannya kini dipenuhi memar akibat perkelahian tadi dan bajunya yang robek membuatnya kehilangan martabat sebagai Tuan Muda.
"Lepaskan aku, sialan!" jerit Arsen, matanya menatap tajam ke arah Renata yang berdiri di samping Adrian. "Renata! Kamu pikir kamu sudah menang? Tanpa buku catatan itu, kamu tidak punya apa-apa! Polisi tidak akan bisa menahanku lama-sama!"
Renata melangkah maju dari balik perlindungan Adrian. Ia tidak lagi gemetar dengan gerakan perlahan namun penuh kemenangan, ia mengangkat buku agenda kulit hitam milik Arsen yang berhasil ia amankan di dalam tas anti-air milik Adrian.
"Buku ini sudah berada di tangan yang tepat, Arsen," ucap Renata, suaranya terdengar jernih, tajam dan penuh penekanan. "Bukan hanya buku ini, rekaman video pengakuan Rendra, asisten pribadimu saat ini sudah dikirimkan langsung ke meja dewan komisaris dan divisi kejahatan internasional. Malam ini... pelarianmu atas kematian Kak Maya resmi berakhir."
Mendengar nama Rendra disebut, seluruh sisa keberanian Arsen runtuh seketika. Tubuhnya lemas dan petugas polisi dengan mudah menyeretnya keluar dari ruangan menyusul ayahnya.
Pukul empat pagi, lobi utama gedung Dirgantara Group dipenuhi oleh kilatan lampu kamera wartawan. Berita tentang penangkapan dua petinggi raksasa bisnis tersebut atas dugaan korupsi skala besar dan keterlibatan kasus kriminal masa lalu langsung meledak di seluruh stasiun televisi nasional.
Baskara berjalan mendekati Adrian dan Renata yang berada di ruang tunggu VIP lantai dasar. "Tuan Adrian, Nona Renata... proses evakuasi dan penyerahan barang bukti ke markas besar kepolisian sudah selesai. Tuan Besar Albert Dirgantara... Kakek Anda... baru saja menelepon. Beliau meminta Anda menghadap ke kediaman utama jam delapan pagi ini."
Adrian mengangguk pelan. "Terima kasih, Baskara, kamu sudah bekerja keras malam ini. Istirahatlah."
Setelah Baskara pamit, keheningan kembali menyelimuti mereka berdua. Renata duduk di sofa menatap pergelangan tangannya sendiri yang kini telah diobati. Rasa lelah yang teramat sangat tiba-tiba menghantam seluruh tubuhnya. Perjuangan satu tahun penuh dendam dan air mata akhirnya mencapai puncaknya malam ini.
Sebuah kehangatan kembali melingkupi bahunya. Adrian duduk di sebelahnya, menyelimutinya dengan jas bersih yang baru diambil dari mobil.
"Semua sudah selesai, Renata," bisik Adrian lembut matanya menatap leher Renata yang tergores tipis akibat pisau Arsen tadi. Jemari hangat Adrian perlahan menyentuh plester yang menempel di leher gadis itu. "Arsen dan Bram tidak akan pernah bisa menyentuhmu atau melihat matahari bebas lagi selama puluhan tahun."
Renata menoleh menatap wajah lelah sang CEO dingin yang malam ini mempertaruhkan nyawanya demi melindunginya. "Mengapa Anda melakukan ini sejauh itu, Tuan Adrian? Anda bisa saja mengambil dokumen korupsi itu tanpa harus mempedulikan kasus kakak saya, anda bahkan terluka karena melindungi saya."
Adrian terdiam sejenak ia memalingkan pandangannya ke arah jendela besar yang memperlihatkan langit fajar yang perlahan membiru.
"Pada awalnya, ini memang hanya tentang bisnis dan takhta CEO ku," ujar Adrian jujur, suara baritonnya terdengar rendah dan tulus. "Tapi sejak malam pertama aku melihatmu mengenakan topeng Papillon di bar itu... dan sejak aku tahu kamu adalah gadis yang sama yang membaca buku di ruang kerjaku dengan wajah ketakutan... segalanya berubah."
Adrian kembali menatap Renata kali ini dengan binar mata yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun di dunia ini tatapan penuh kepemilikan dan kelembutan yang dalam.
"Aku tidak bisa membiarkan siapa pun menyakiti apa yang sudah menjadi milikku, Renata. Pernikahan kita mungkin dimulai dengan kontrak di atas kertas..." Adrian meraih tangan kanan Renata, menggenggam jemari gadis itu dengan erat. "...tapi mulai hari ini, kontrak itu sudah hangus. Aku tidak menginginkan istri kontrak lagi. Aku menginginkanmu Renata. Di siang hari sebagai asisten jeniusku dan di malam hari sebagai ratu di rumahku. Apakah kamu bersedia tinggal di sisiku... bukan lagi karena dendam, melainkan karena aku?"
Jantung Renata berdegup kencang, jauh lebih kencang daripada saat ia dikepung oleh preman-preman Arsen tadi. Di bawah sinar fajar yang mulai menyinari kota Jakarta, sang dewi malam bertopeng akhirnya menemukan tempatnya untuk mendarat—di pelukan sang CEO yang telah menyerahkan seluruh dunianya demi dirinya.
Visual Tokoh Utama ada di Instagram aku ya
serasilente._