Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Siham melangkah masuk ke ruang tamu dengan sisa tenaga yang ia miliki. Wajahnya yang biasanya ia poles dengan riasan tipis kini terlihat sangat polos, memamerkan pucat pasi yang tak bisa lagi disembunyikan. Matanya sayu, dikelilingi lingkaran hitam yang samar tanda bahwa sel-sel di dalam tubuhnya sedang menguras habis energinya.
Di sofa ruang tengah, Dewangga duduk dengan laptop di pangkuannya. Ia mendongak saat mendengar suara pintu ditutup. Matanya sempat tertuju pada wajah Siham selama beberapa detik. Ia menyadari perubahan itu; bibir istrinya yang biasanya merah muda kini tampak kering dan memutih. Ada kilatan kekhawatiran yang sempat melintas di benak Dewangga, namun dengan cepat ia menepisnya.
Paling-paling dia hanya cari perhatian karena kejadian asbak kemarin, pikir Dewangga ketus. Ia tidak ingin menurunkan harga dirinya dengan menanyakan kondisi kesehatan Siham. Baginya, menanyakan "Kamu sakit?" adalah sebuah kekalahan telak setelah amukan hebatnya semalam.
Siham bahkan tidak menoleh ke arah Dewangga. Ia terus berjalan menuju tangga.
"Non Siham! Sudah pulang, Non?" Bibik muncul dari arah ruang makan dengan wajah penuh harap. "Bibik sudah masak sup ayam jahe kesukaan Non. Makan dulu ya, Non? Wajah Non pucat sekali, Bibik khawatir."
Siham memaksakan senyum tipis, tangan kanannya mencengkeram pegangan tangga dengan kuat agar tubuhnya tidak limbung. "Enggak usah, Bik. Makasih banyak ya. Makan malamnya buat Mas Dewangga saja. Saya mau istirahat lebih cepat, badan saya rasanya butuh tidur."
"Tapi sedikit saja, Non..."
"Saya duluan ya, Bik," potong Siham lembut namun tak terbantahkan.
Dewangga yang mendengar percakapan itu dari kejauhan merasa dadanya sedikit sesak. Ada sesuatu yang janggal. Biasanya, sesakit atau semarah apa pun Siham, dia akan tetap duduk di meja makan, memastikan Dewangga makan dengan benar, meski mereka tidak bicara. Namun kali ini, Siham seolah-olah sedang melepaskan semua perannya sekaligus.
Dewangga mencoba kembali fokus pada laporan keuangan di layarnya, namun barisan angka itu mendadak menjadi kabur. Ia merasa penasaran, sangat penasaran. "Kenapa dia tidak membalas amukanku semalam? Kenapa dia begitu tenang?." Batin Dewangga akan tetapi Gengsi Dewangga yang setinggi langit menahannya untuk mengejar Siham ke atas.
Satu jam kemudian, Dewangga duduk sendirian di meja makan panjang yang mampu menampung sepuluh orang itu. Bibik menata makanan dengan suara piring yang pelan, seolah takut mengganggu kesunyian yang sedang bertahta.
"Mana Siham?" tanya Dewangga akhirnya, suaranya terdengar kaku dan pura-pura tidak mendengar obrolan Bibik dan Siham tadi.
"Non Siham sudah tidur, Tuan. Tadi Bibik intip ke kamar, Non sudah selimutan rapat sekali. Sepertinya Non memang kurang enak badan," jawab Bibik sembari menunduk.
Dewangga mengambil sendoknya. Ia menyuap nasi dan sup ke dalam mulutnya, namun rasanya hambar. Suasana rumah besar ini mendadak terasa begitu luas dan kosong. Suara detak jam dinding di ruang tengah terdengar seperti dentuman keras di telinganya.
Untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Dewangga benar-benar menyadari betapa sepinya hidupnya. Ia menatap kursi kosong di hadapannya kursi yang biasanya diisi oleh Siham yang sabar mendengarkan keluh kesahnya tentang pekerjaan.
Selama lima tahun ini, mereka berbagi atap yang sama, menghirup udara yang sama, bahkan tidur di ranjang yang sama. Namun, Dewangga menyadari sebuah kenyataan pahit yaitu mereka tidak pernah benar-benar menjadi suami istri. Tidak ada sentuhan kasih sayang, tidak ada keintiman fisik yang menyatukan jiwa. Mereka hanya dua orang asing yang terjebak dalam kontrak balas budi dan janji masa lalu.
Dewangga selalu membentengi dirinya dengan bayang-bayang Agata. Ia menggunakan kenangan Agata sebagai alasan untuk tidak menyentuh Siham, untuk tetap menjaga jarak, dan untuk tetap menjadi pria yang dingin. Ia berpikir bahwa dengan bersikap kejam pada Siham, ia sedang setia pada cintanya yang lama.
Namun malam ini, di tengah kesunyian meja makan, Dewangga merasa ada yang salah. Siham yang pucat tadi sore, Siham yang tidak menuntut apa-apa, dan Siham yang tiba-tiba menyerah pada perannya... itu semua membuatnya gelisah.
Ia teringat kata-kata Siham di tangga semalam: "Pria yang suka menghancurkan barang sebenarnya pria yang sedang ketakutan."
"Apa aku takut?." batin Dewangga sembari meletakkan sendoknya. "Apa aku takut jika wanita yang kuanggap sampah ini benar-benar pergi dan tidak lagi mengisi kursi kosong di depanku?."
Dewangga bangkit, meninggalkan makanannya yang baru termakan setengah. Ia berjalan perlahan menaiki tangga. Langkahnya terhenti di depan pintu kamar mereka. Ia ingin masuk, ingin memastikan apakah Siham benar-benar tidur atau sedang menangis. Tangannya sudah menyentuh knop pintu, namun gengsinya kembali berbisik: "Jangan lemah, Dewangga. Dia hanya sedang memainkan trik drama penulisnya."
Dewangga menarik kembali tangannya. Ia berbalik dan memilih masuk ke perpustakaan pribadinya tempat pelariannya yang abadi. Namun, saat ia duduk di kursi kerjanya dan melihat kotak bludru merah marun itu, hatinya tidak lagi merasakan getaran yang sama. Inisial D & A itu kini tampak kusam di matanya.
Ia justru teringat bagaimana pergelangan tangan Siham berdarah terkena asbaknya semalam. Ia teringat betapa pucatnya wajah Siham tadi sore.
Malam itu, di dua ruangan yang berbeda, ada dua orang yang sedang berjuang dengan cara masing-masing. Siham berjuang melawan maut yang sedang menggerogotinya di dalam kegelapan kamar, sementara Dewangga berjuang melawan nuraninya yang mulai terbangun di tengah kesombongan yang perlahan runtuh.
Dewangga tidak tahu, bahwa setiap detik kesunyian yang ia biarkan malam ini, adalah satu langkah lebih dekat bagi Siham untuk benar-benar pergi meninggalkannya dalam penyesalan yang abadi.
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
kenapa di buat semenderita itu thor