Empat hati terjebak dalam satu takdir yang kejam.
Satyaka dan Damira harus merelakan orang yang mereka cintai, Azzura dan Nayaka, terikat dalam pernikahan perjodohan. Sebagai pelipur lara, tercipta “Janji Satu Bulan”—sebuah kesepakatan untuk berpisah setelah satu bulan dan kembali pada cinta masing-masing.
Namun di balik pernikahan itu, luka justru semakin dalam. Nayaka yang dipenuhi rasa bersalah berubah dingin dan menyakiti Azzura, sementara Azzura diam-diam menghadapi kondisi aneh dalam tubuhnya. Tanpa mereka ketahui, keluarga mereka telah merancang rencana licik yang mengikat mereka lebih jauh dari sekadar janji.
Ketika rahasia mulai terungkap dan sebuah kehidupan baru tumbuh di antara kebohongan, “Janji Satu Bulan” tak lagi sesederhana yang mereka bayangkan.
Akankah mereka kembali pada cinta awal, atau justru terjebak selamanya dalam takdir yang dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HARKAT DIUJUNG PENANTIAN
Nayaka memperhatikan Damira dari balik kaca spion. Gadis itu baru saja menutup pintu mobil, tapi atmosfer di dalam kabin langsung berubah drastis. Biasanya, Damira akan langsung bercerita tentang hal-hal kecil di kantornya, namun sore ini, dia hanya diam menatap jalanan yang mulai macet.
"Kenapa? Kamu nggak seceria biasanya," tanya Nayaka sambil mulai menjalankan mobil. "Ada yang ganggu pikiran kamu?"
Damira tidak langsung menjawab. Ia hanya memainkan ujung kemejanya, sebuah kebiasaan saat dia sedang menahan emosi yang meluap.
"Nay," panggilnya lirih, namun terdengar sangat serius.
"Ya?"
"Mau sampai kapan kita main belakang gini?"
Pertanyaan itu membuat kaki Nayaka refleks menginjak rem sedikit lebih dalam, beruntung mobil di depannya masih berjarak cukup jauh. Ia menoleh sekilas, mencoba mencari celah di mata Damira, namun yang ia temukan hanyalah kelelahan yang luar biasa.
"Mir, kita kan sudah sepakat. Aku cuma cari waktu yang tepat buat ngomong ke Papa. Kamu tahu sendiri gimana kerasnya beliau kalau soal... standar keluarga."
Damira tertawa hambar, matanya mulai berkaca-kaca. "Waktu yang tepat itu nggak akan pernah datang, Nay. Selama ini kita cuma sembunyi di balik kata 'nanti'. Kamu jemput aku di tempat sepi, kita makan di restoran yang nggak mungkin didatangi teman-teman orang tuamu, dan kita pura-pura nggak kenal kalau nggak sengaja berpapasan di mal."
"Aku cuma mau melindungi kamu dari mulut mereka, Mir" potong Nayaka dengan nada memohon.
"Bukan, Nay," Damira menggeleng cepat, satu tetes air mata jatuh ke pipinya. "Kamu bukan melindungi aku. Kamu cuma takut kehilangan kenyamanan kamu sebagai anak kebanggaan mereka. Aku capek jadi rahasia yang sengaja kamu simpan rapat-rapat."
Nayaka terdiam seribu bahasa. Ia ingin membantah, tapi setiap kata yang keluar dari bibir Damira adalah kebenaran yang selama ini ia coba sangkal. Di depan mereka, lampu merah menyala—sama seperti status hubungan mereka yang kini menemui jalan buntu.
"Besok kita ke rumahku lagi," ucap Nayaka, mencoba memberikan harapan yang selama ini ia tawarkan sebagai penawar rasa sakit Damira.
Damira tertawa pelan, sebuah tawa yang sarat akan keputusasaan. Ia menarik tangannya dari jangkauan Nayaka. "Jawabannya bakal tetap sama kayak lima kali aku ke sana, Nay. Orang tua aku mungkin menganggap kamu pria yang baik, mereka menyambutmu dengan tangan terbuka di rumahku..."
Damira menoleh, menatap Nayaka dengan mata yang mulai basah. "Tapi di rumahmu? Orang tuamu lihat aku sebagai penyusup. Aku cuma orang asing yang nggak sengaja masuk ke lingkaran kalian dan dianggap merusak masa depan yang sudah mereka susun buat kamu."
Nayaka terdiam, rahangnya mengeras. Ia tahu Damira benar, namun ia belum siap menghadapi kenyataan itu sekarang. Ia hanya ingin egois sebentar saja—ingin merasakan kedamaian semu sebelum badai benar-benar datang.
"Aku bakal berjuang beneran kali ini, Mir. Aku janji," ucap Nayaka dengan nada yang lebih dalam. "Tolong, jangan buat suasana jadi buruk sekarang. Aku pengen kita tenang, aku cuma pengen kita makan malam bareng."
Damira memalingkan wajah, menyandarkan kepalanya pada kaca mobil yang dingin. Kalimat "jangan buat suasana jadi buruk" selalu menjadi senjata Nayaka untuk membungkam kejujuran yang menyakitkan.
Bagi Nayaka, makan malam adalah pelarian. Bagi Damira, itu hanyalah penundaan dari sebuah akhir yang sudah bisa ia tebak.
Restoran itu remang-remang, dengan alunan musik instrumen yang seharusnya menenangkan. Namun, bagi Mira, setiap denting piano terasa seperti hitungan mundur menuju sesuatu yang menyakitkan. Di hadapan mereka, hidangan premium yang dipesan Nayaka tampak tidak tersentuh.
Nayaka meletakkan sendok dan garpunya. Ia merasa terganggu dengan kesunyian yang dibangun oleh wanita di depannya. Ia berharap makan malam ini bisa mencairkan ketegangan, tapi kenyataannya justru sebaliknya.
"Kamu kok diam, Mir?" tanya Nayaka akhirnya, mencoba memecah kekosongan.
Mira mendongak pelan. Ia menatap Nayaka dengan tatapan datar, namun sangat menusuk. Ia lalu menyuapkan potongan kecil makanan ke mulutnya, mengunyahnya pelan, lalu menjawab dengan nada yang terlampau tenang.
"Aku lagi buat suasana nggak buruk," ucapnya singkat.
Kalimat itu telak menghantam Nayaka. Ia tersentak, menyadari bahwa kepatuhan Mira untuk diam adalah bentuk protes yang paling keras. Mira sedang melakukan persis apa yang diminta Nayaka di mobil tadi—menjaga suasana—tapi dengan cara yang paling menyakitkan.
"Mir, bukan gitu maksud aku..." Nayaka mencoba meraih tangan Mira di atas meja, namun Mira dengan halus menarik tangannya untuk mengambil gelas air putih, menghindari sentuhan itu.
"Tadi kamu minta aku jangan buat suasana jadi buruk, kan? Ini aku lagi berusaha, Nay," lanjut Mira, kali ini ada getaran getir dalam suaranya. "Aku diam supaya kita bisa makan dengan tenang. Aku diam supaya aku nggak nanya lagi kapan kamu bakal jujur ke orang tuamu. Aku diam supaya kamu tetap bisa merasa kalau hubungan kita ini baik-baik saja."
Nayaka kehilangan kata-kata. Ia menyadari bahwa dengan meminta Mira diam, ia justru sedang membunuh perlahan apa yang tersisa dari hubungan mereka. Di tengah keheningan itu, ponsel Nayaka di atas meja bergetar, menampilkan sebuah nama yang membuat suasana semakin mencekam.
Mira meletakkan sendoknya dengan bunyi denting yang tajam. Ia tidak lagi peduli pada privasi restoran ini. Tatapannya kini terkunci pada mata Nayaka, menuntut pertanggungjawaban yang sudah sepuluh tahun tertunda.
"Kalau jawaban mereka besok tetap sama, aku nggak bisa nunggu lagi, Nay," ucap Mira, suaranya bergetar namun penuh penekanan. "Aku mau masa depan yang jelas. Orang tuaku sudah tua, mereka ingin melihatku tenang."
Mira menghela napas panjang, mencoba menahan tangis yang menyesakkan dada. "Apalagi aku anak perempuan satu-satunya, Nay. Empat kakak laki-lakiku sudah menikah semua. Kamu tahu gimana posisi aku di keluarga? Mereka semua nungguin aku, mereka semua tanya kapan aku menyusul. Aku nggak bisa terus-menerus bertahan sama laki-laki yang nggak punya pendirian."
Nayaka hendak menyela, namun Mira menggeleng cepat.
"Kamu kira sepuluh tahun itu sebentar? Sepuluh tahun aku menjaga diri dan perasaanku cuma buat kamu. Tapi kamu? Kamu bahkan nggak berani pasang badan waktu orang tuamu memandang rendah aku."
Mira menghapus air matanya dengan kasar. "Jangan minta aku buat nggak merusak suasana lagi. Karena suasana di antara kita memang sudah rusak sejak kamu lebih milih jadi 'anak baik' daripada jadi laki-laki yang punya harga diri buat perjuangkan wanitanya."
Mira berdiri, mengambil tasnya tanpa menunggu jawaban dari Nayaka. "Sepuluh tahun itu waktu yang cukup untuk sebuah penantian, Nay. Besok adalah kesempatan terakhirmu. Kalau kamu tetap diam... maka aku yang akan selesai."
Tentu, mari kita masukkan unsur religius yang hangat dalam interaksi keluarga Mira untuk memperkuat suasana rumahnya.
Bab 1: Luka yang Tak Lagi Tersembunyi
Mira membuka pintu depan dengan gerakan pelan, berusaha tidak menimbulkan suara. Namun, langkahnya terhenti saat melihat lampu ruang tengah masih menyala terang.
"Assalamu’alaikum," ucap Mira lirih, suaranya terdengar serak.
"Wa’alaikumussalam," jawab Danang—kakak keduanya—yang rupanya sudah menunggu di sofa. Ia melirik jam dinding yang hampir menunjukkan pukul sepuluh malam. "Baru pulang, Mir?"
"Iya, Mas. Makan dulu tadi sama Nayaka," jawab Mira sambil berusaha memberikan senyum tipis yang dipaksakan. Ia ingin segera naik ke lantai atas, menghindari interogasi yang ia tahu pasti akan datang.
"Kasih tahu Nayaka," suara Danang memberat, membuat Mira terpaku di anak tangga pertama. "Kalau dia nggak bisa perjuangin kamu secara jantan di depan orang tuanya, mending dia mundur sekarang daripada Mas yang usir dia dari rumah ini."
Mira menunduk, meremas pegangan tangga.
"Keluarganya sudah terang-terangan bikin malu kamu, Mir. Mereka meremehkan kamu, tapi laki-laki itu cuma diam saja? Sepuluh tahun itu bukan waktu buat main-main. Keluarga kita nggak pernah ngajarin kamu buat jadi pengemis restu di rumah orang lain," lanjut Danang dengan nada pedas.
"Mas, sudah... kasihan Mira, dia capek."
Ayah muncul dari arah ruang makan, mengenakan sarung dan baju koko, tampaknya baru saja selesai mengaji. Beliau menatap putri bungsu dan satu-satunya itu dengan tatapan teduh namun penuh keprihatinan. Beliau tahu persis beban yang dipikul Mira sebagai satu-satunya perempuan di antara empat kakak laki-laki yang semuanya sudah mapan dan berkeluarga.
"Mira masuk kamar ya, Nak. Istirahat. Cuci muka, jangan lupa salat Isya kalau belum," ucap Ayah lembut, mencoba meredam ketegangan.
"Iya, Yah. Mira masuk dulu," bisik Mira.
Ia bergegas masuk ke kamar dan mengunci pintu. Di balik kayu jati itu, Mira luruh. Ucapan Mas Danang benar—keluarga Nayaka memang sudah keterlaluan. Namun yang paling menghancurkan hatinya adalah kenyataan bahwa setelah sepuluh tahun, Nayaka masih membiarkan Mira berdiri sendirian menghadapi penghinaan itu.