NovelToon NovelToon
Menikah Karena Tekanan Keluarga

Menikah Karena Tekanan Keluarga

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / CEO
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Cut Asmaul Husna

Anya Clarissa, seorang Arsitek Lanskap yang terbiasa menata keteraturan dari kekacauan tanaman, menemukan hidupnya sendiri berantakan. Ibunya, Mama Clarissa, terjerat hutang miliaran setelah ditipu oleh rekan bisnis butiknya. Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran datang dari Keluarga Arkatama, penguasa industri logistik laut yang legendaris.Devan Arkatama, CEO muda yang dingin, angkuh, dan efisien, sedang dalam posisi terhimpit. Sang ayah, Papa Arkatama, mengancam akan mencopot jabatannya dan mengalihkan warisan kepada sepupunya jika Devan tidak segera menikah dan memperbaiki citranya yang dikenal sebagai "Playboy Tak Berperasaan."Pertemuan pertama mereka di sebuah acara peresmian taman kota berakhir dengan bencana. Anya menganggap Devan adalah pria sombong yang tidak menghargai seni, sementara Devan menganggap Anya adalah wanita kelas menengah yang mencoba mencari perhatian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut Asmaul Husna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 6 : JANJI DI ATAS KERTAS, SAKRAL DI DEPAN MATA

Pagi itu, Jakarta seolah sedang memamerkan kemurungannya. Langit abu-abu menggantung rendah, dan rintik hujan tipis mulai membasahi kaca jendela hotel bintang lima tempat Anya Clarissa dipersiapkan. Di dalam Royal Suite, suasana sangat kontras dengan cuaca di luar. Aroma bunga melati yang segar dan semprotan parfum mahal memenuhi ruangan. Tim penata rias profesional sibuk bekerja, mengubah Anya menjadi sosok yang bahkan sulit ia kenali di cermin.

Anya duduk mematung. Ia mengenakan gaun putih yang dipilihkan di butik kemarin. Sutra Italia itu kini melekat sempurna di tubuhnya, memberikan kesan anggun sekaligus rapuh. Di atas kepalanya, sebuah veil transparan berbahan tile halus menjuntai hingga ke lantai.

"Anya, Sayang... lihat Mama," suara lembut Mama Clarissa memecah lamunannya.

Anya menoleh. Mamanya tampak begitu cantik dengan kebaya modern berwarna sampanye. Namun, di balik senyum itu, Anya bisa melihat gurat kelegaan yang luar biasa. Hutang dua belas miliar itu akan lunas hari ini. Harga diri keluarga mereka terselamatkan, namun harga diri Anya baru saja digadaikan.

"Mama sangat berterima kasih padamu, Nak. Maafkan Mama jika harus menempatkanmu dalam posisi ini," bisik Mama Clarissa sambil mengusap air mata di sudut matanya agar tidak merusak riasan.

Anya menggenggam tangan mamanya yang gemetar. "Sudahlah, Ma. Ini pilihan Anya juga. Semuanya akan baik-baik saja." Semoga saja, tambahnya dalam hati.

Sementara itu, di sayap gedung yang berbeda, Devan Arkatama sedang berdiri di depan cermin besar, merapikan dasi putihnya. Jas pengantinnya—yang kancingnya sudah diperbaiki dan diperkuat—melekat gagah di bahunya yang lebar. Papa Arkatama masuk ke ruangan dengan langkah yang sedikit diseret karena faktor usia dan kesehatannya yang menurun.

"Devan," panggil sang Papa.

Devan berbalik, wajahnya yang kaku melunak sedikit melihat ayahnya. "Iya, Pa?"

"Mulai hari ini, tanggung jawabmu bukan lagi hanya tentang angka di bursa saham atau kapal-kapal di samudera. Tanggung jawabmu adalah wanita yang akan berdiri di sampingmu nanti. Anya adalah wanita baik. Jangan perlakukan pernikahan ini seperti kontrak bisnis yang dingin. Berikan dia ruang di hatimu," ucap Papa Arkatama dengan nada penuh wibawa namun tersirat permohonan.

Devan terdiam. Ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa ini memang hanya transaksi untuk menyelamatkan jabatan CEO-nya. Namun, melihat wajah penuh harap ayahnya, Devan hanya bisa mengangguk pelan. "Aku akan menjaganya, Pa."

Pukul sepuluh tepat. Musik Canon in D mulai mengalun megah dari pemain harpa di sudut aula besar. Pintu ganda berbahan kayu jati berukir itu terbuka perlahan. Seluruh tamu undangan—para menteri, pengusaha sukses, hingga rekan-rekan arsitek Anya—berdiri serentak.

Anya melangkah masuk. Ia berjalan perlahan di atas karpet merah yang ditaburi kelopak mawar putih. Di ujung sana, Devan berdiri tegak. Untuk pertama kalinya, Anya melihat Devan tanpa tatapan meremehkan. Pria itu menatapnya dengan intensitas yang membuat lutut Anya terasa lemas.

Setiap langkah Anya terasa seperti beban satu ton. Ia melewati deretan kursi, melihat wajah-wajah yang tersenyum padanya, tanpa tahu bahwa di balik gaun indah ini ada sebuah surat perjanjian bermaterai yang menyatakan bahwa pernikahan ini hanyalah pura-pura.

Saat tangan Anya diserahkan oleh pamannya kepada Devan, sebuah sengatan listrik seolah menjalar saat telapak tangan mereka bersentuhan. Devan menggenggam tangan Anya dengan sangat erat, seolah takut wanita itu akan berbalik dan lari.

"Kamu terlihat... luar biasa," bisik Devan sangat rendah saat mereka berdiri berhadapan di depan penghulu.

Anya tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap mata hitam Devan yang hari ini tampak lebih gelap dan penuh misteri.

Prosesi ijab kabul berlangsung dengan sangat khidmat. Suara Devan yang berat dan tegas menggema di seluruh ruangan saat ia mengucapkan janji suci itu dalam satu tarikan napas.

"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA ANYA CLARISSA BINTI PRAMUDYA DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT DIBAYAR TUNAI!"

"SAH!" seru para saksi serentak.

Dunia seolah berhenti berputar bagi Anya. Dalam hitungan detik, statusnya berubah. Ia bukan lagi gadis mandiri yang bebas menentukan arah hidupnya. Ia kini adalah istri sah dari Devan Arkatama. Seseorang yang secara hukum memiliki hak atas hidupnya selama dua tahun ke depan.

"Silakan mempelai pria mencium mempelai wanita," ujar sang pembawa acara.

Suasana menjadi riuh rendah dengan sorakan menggoda. Devan perlahan mengangkat veil yang menutupi wajah Anya. Ia mendekat, menyentuh dagu Anya dengan lembut. Anya memejamkan mata, menunggu ciuman di dahi yang biasanya dilakukan di depan umum.

Namun, Devan punya rencana lain. Mungkin ia ingin membuat sandiwara ini terlihat sangat meyakinkan, atau mungkin ada dorongan lain di dalam dirinya. Devan justru mendaratkan ciumannya di sudut bibir Anya—sangat dekat hingga napas mereka bercampur. Ciuman itu hangat, sedikit menuntut, dan berlangsung lebih lama dari yang seharusnya untuk sebuah "akting".

Anya tersentak, jantungnya berdebar liar hingga ia bisa mendengarnya di telinganya sendiri. Saat Devan menjauh, ia melihat kilat kemenangan di mata pria itu, namun juga ada sesuatu yang lembut di sana yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Resepsi pernikahan berlangsung sangat megah. Mereka harus menyalami ribuan tamu. Anya harus berpura-pura tersenyum, memanggil orang tua Devan dengan sebutan "Mama" dan "Papa" di depan tamu-tamu terhormat.

"Terima kasih sudah datang, Mama," ucap Anya saat Mama Arkatama memeluknya di pelaminan.

"Sama-sama, Sayang. Malam ini kalian langsung ke rumah baru, ya? Papa sudah menyiapkan kejutan di sana," bisik Mama Arkatama dengan kerlingan mata nakal.

Anya menelan ludah. Rumah baru. Hanya berdua dengan Devan. Tanpa ada orang tua yang mengawasi, tanpa ada kamera paparazzi. Hanya mereka berdua dan kontrak yang mengikat mereka.

Malam semakin larut saat mereka akhirnya diizinkan meninggalkan gedung. Devan membimbing Anya menuju mobil pengantin. Di dalam mobil yang sunyi, semua kepura-puraan itu runtuh. Devan melepaskan dasinya dengan kasar dan menyandarkan punggungnya di kursi.

"Capek?" tanya Devan tanpa menoleh.

"Sangat," jawab Anya singkat. Ia mulai melepas sepatu hak tingginya yang menyiksa. "Jadi, kapan bukti pelunasan hutang itu diberikan?"

Devan meliriknya sekilas. "Pengacaraku sudah mengirimnya ke email mamamu satu jam yang lalu. Aku tidak pernah ingkar janji, Anya."

Anya menghela napas lega. Setidaknya, satu beban telah terangkat. "Terima kasih."

"Jangan berterima kasih dulu," Devan mendekat, aroma wiski tipis tercium dari napasnya. "Mulai malam ini, kamu berada di bawah atapku. Ada aturan-aturan baru yang harus kamu patuhi."

Anya membalas tatapan Devan dengan berani. "Aturanmu tidak berlaku untuk harga diriku, Devan. Aku istrimu di atas kertas, bukan pelayanmu."

Mobil berhenti di depan sebuah mansion mewah yang bergaya modern minimalis dengan taman luas yang—ironisnya—tampak sangat rapi karena sentuhan jasa arsitek lanskap ternama. Ini adalah rumah mereka. Penjara emas bagi Anya, dan medan perang baru bagi Devan.

"Selamat datang di rumah, Istriku," ucap Devan dengan nada yang sulit diartikan.

Anya melangkah masuk ke dalam rumah yang dingin dan sunyi itu, menyadari bahwa mulai malam ini, ia harus berbagi ruang, oksigen, dan mungkin rahasia dengan pria yang paling ia benci. Dan yang paling menakutkan adalah, ia mulai bertanya-tanya: apakah ia benar-benar masih membencinya?

1
Emily
ada ada aja orang jahat
Emily
😂😂😂jus pare satu ember ...ada aja mama sarah
Emily
Valerie otak kriminal
Emily
memang kampret si valerie
Emily
Valerie Mak lampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!