Di sebuah kabupaten kecil di provinsi Jawa Barat, di Negara Nusantara, Arkan Wijaya baru saja lulus SMA, namun saat pulang dia mendapati rumahnya kosong, kedua orang tuanya tidak ada, dia mencari kesana kemari namun tidak ada kabar tentang mereka, hanya menemukan secarik kertas bertuliskan "Arkan kamu sudah dewasa, carilah jalanmu sendiri, kami tidak bisa terus menjagamu, dan ada kewajiban yang harus kami lakukan, suatu saat nanti mungkin kamu akan mengerti, maafkan kami Arkan." Dan di samping kertas itu ada cincin emas berbentuk kepala dan permata kecil berkilau di kedua matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suryadharma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Ujian Petir Emas
Arkan duduk bersila di atas batu datar di lereng pegunungan. Malam semakin gelap. Awan hitam berputar di atas kepalanya seperti pusaran naga marah. Sela berdiri beberapa meter darinya, wajahnya tegang tapi penuh kepercayaan. Juanda Hartono dan tim keamanannya menjaga jarak jauh, memblokir akses ke area tambang.
“Ini Tribulation pertamamu?” tanya Sela pelan.
Arkan mengangguk tanpa membuka mata. “Ya. Kalau lolos, aku masuk Qi Condensation Tingkat 3. Kalau gagal… kita lihat saja.”
Langit menggelegar. Petir pertama berwarna biru menyambar langsung ke tubuh Arkan.
*BZZZT!*
Tubuh kekarnya tersentak keras. Rasa sakit luar biasa menjalar ke setiap meridian. Tapi Teknik Tubuh Naga bekerja otomatis. Sisik emas tipis muncul di kulitnya, menyerap sebagian besar energi petir. Arkan menggertakkan gigi, mengubah petir itu menjadi Naga Qi murni di dalam dantiannya.
Petir kedua dan ketiga datang beruntun. Lebih kuat. Arkan memuntahkan darah, tapi matanya semakin tajam. Ia bangkit berdiri, mengepalkan tinju, dan meraung. Aura Naga Emas meledak keluar, membentuk bayangan naga emas kecil di punggungnya.
*KRAAAK!*
Petir keempat menghantam tepat di dada. Arkan jatuh berlutut, tapi tidak roboh. Dantiannya berputar ganas, menyimpan energi petir itu. Luka di tubuhnya sembuh dengan cepat berkat Teknik Penyembuhan Naga.
Setelah petir kelima yang paling ringan, langit kembali tenang. Arkan membuka mata. Kekuatannya naik tajam. Sekarang ia setara Qi Condensation Tingkat 3. Tubuhnya lebih ringan, penglihatannya lebih tajam, dan Sword Qi-nya semakin padat.
Sela langsung berlari mendekat dan memeluknya. “Kamu berhasil!”
Arkan membalas pelukan itu, mencium kening gadisnya sekilas. “Kita baru mulai.”
Keesokan paginya, mereka kembali ke Cikampek. Juanda Hartono sudah melihat sendiri kekuatan Arkan. Di dalam mobil mewah, ia bicara langsung.
“Arkan, kamu bukan manusia biasa. Aku akan dukung sepenuhnya. Tapi lindungi putriku. Black Viper semakin berani.”
“Om tidak perlu khawatir,” jawab Arkan tegas. “Saya akan hancurkan mereka. Tapi saya butuh informasi. Di mana markas mereka?”
Juanda menggeleng. “Mereka seperti bayangan. Tapi aku dengar ada kota tersembunyi di Gunung Salak yang jadi pusat dunia bawah tanah kultivator.”
Arkan mencatat nama itu. Dunia baru terbuka lebar di depannya.
Sesampainya di rumah Sela yang mewah di pinggir kota, Arkan langsung mulai merencanakan. Ia tidak mau bertele-tele. Malam itu juga ia membuat pil pertama menggunakan bahan herbal yang dibeli Sela di pasar malam.
Di dapur besar, Arkan menyalakan api Naga dari telapak tangannya. Api emas kecil membakar ramuan dalam mangkuk tanah liat. Setelah 30 menit, ia berhasil membuat 12 butir **Pil Penyegar Qi** tingkat rendah. Pil ini bisa mempercepat pemulihan energi dan sedikit meningkatkan kultivasi.
“Ini untukmu,” kata Arkan sambil memberikan tiga butir ke Sela. “Makan satu setiap malam. Kamu akan kuat lebih cepat.”
Sela menelan satu pil di depan Arkan. Wajahnya merona saat energi hangat menyebar di tubuhnya. “Rasanya… enak. Terima kasih.”
Arkan tersenyum. Ia menarik Sela ke pelukannya. “Kamu bukan beban. Kamu adalah milikku sekarang.”
Sela yang biasanya tegas, kali ini menurut saja. Ia menyandarkan kepala di dada kekar Arkan. “Aku suka… cara kamu bicara seperti itu.”
Tiga hari berikutnya berlalu cepat.
Arkan berlatih setiap malam di basement rumah Sela yang luas. Ia menguasai **Naga Step** — gerakan lincah seperti naga meluncur. Sela belajar dengan cepat. Gadis itu sudah bisa mengeluarkan energi pelindung sederhana.
Pada hari keempat, kabar buruk datang.
Seorang kurir misterius meninggalkan kotak hitam di gerbang rumah. Di dalamnya ada jari manusia dan surat pendek:
*Orang tuamu masih hidup, Pewaris. Serahkan Cincin Naga Emas dan gadis Juanda kalau ingin mereka selamat. Satu minggu. — Naga Hitam*
Arkan menghancurkan kotak itu dengan satu tinju. Matanya penuh amarah dingin.
“Waktunya bergerak,” katanya.
Ia memutuskan untuk tidak menunggu. Bersama Sela dan dukungan dana dari Juanda, Arkan menyiapkan perjalanan ke Gunung Salak. Mereka berdua saja dulu — lebih cepat dan tidak mencolok.
Malam sebelum berangkat, Arkan dan Sela berdiri di balkon kamar gadis itu. Bulan purnama menerangi wajah mereka.
“Sela, kamu yakin ikut? Bahayanya besar,” tanya Arkan.
Gadis itu menatapnya tegas. “Aku penurut padamu, tapi aku juga bukan boneka. Aku ikut.”
Arkan menariknya dan mencium bibir Sela untuk pertama kali. Ciuman itu kuat, dominan, penuh kepemilikan. Sela meleleh di pelukannya, tangannya memegang lengan kekar Arkan.
“Mulai sekarang, kita tidak terpisah,” bisik Arkan setelah ciuman itu berakhir.
Keesokan paginya, dua motor sport meluncur meninggalkan Cikampek menuju Gunung Salak. Arkan di depan, Sela memeluk pinggangnya dari belakang. Angin menerpa wajah mereka.
Di dalam hati Arkan, naga emas meraung haus darah.
Ini baru permulaan perjalanan panjang. Black Viper hanyalah anak tangga pertama. Masih ada ratusan musuh, rahasia orang tuanya, warisan naga yang lebih dalam, dan kerajaan kultivasi tersembunyi di Nusantara yang menanti.
Pewaris Naga Emas telah bangkit.
Dan ia akan menguasai semuanya.