bukan transmigrasi dan juga bukan romansa berlebihan karena cp mungkin akan datang pada chapter 80 keatas, bisa disesuaikan jika pembaca ingin didatangkan lebih cepat.
sinopsis :
bagaimana jika seorang ratu mafia memiliki seseorang kembaran namun memiliki nasib yang berbeda? dia menggunakan identitas kembaran nya itu untuk menyembunyikan identitasnya dan juga mencari musuh tanpa diketahui.
namun, tidak semudah itu untuk seorang valeria Alessandra yang merupakan pengguna bintang tingkat 10 yang menjadi incaran dunia. bagaimana selanjutnya?
novel ini menciptakan negara sendiri dan juga bertema sedikit fantasi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dituduh Membully Saskia?
Dua hari berlalu sejak ulangan harian. Suasana di kelas XII MIPA 1 perlahan kembali normal setidaknya itulah yang tampak di permukaan. Fiona masih memasang wajah masam setiap kali melihat Alessandra, tapi tidak lagi berani menantang secara terbuka. Gengnya mengikuti, menjaga jarak aman.
Alessandra menikmati ketenangan itu.
Tapi ketenangan tidak pernah bertahan lama di dunianya.
Hari ketiga, jam pelajaran kedua. Bahasa Indonesia dengan Bu Rina.
Belum semak bel masuk berbunyi, pintu kelas terbuka lebar.
Bu Dewi wali kelas masuk dengan wajah serius. Di belakangnya, Saskia berdiri dengan mata sembab, pipi basah, dan hidung memerah. Wajahnya pucat, bibirnya gemetar. Rambutnya yang biasanya diikat rapi pita putih kini terlihat sedikit acak-acakan.
Semua kepala menoleh.
“Maaf mengganggu pelajaran, Bu Rina,” ucap Bu Dewi. “Saya perlu berbicara dengan Valeria Allegra.”
Bisik-bisik langsung merebak.
“Valeria Allegra? Ada apa?”
“Lihat Saskia nangis. Pasti ada masalah.”
“Jangan-jangan...”
Bu Rina mengangguk, meskipun wajahnya terlihat tidak nyaman. “Allegra, ikut Bu Dewi.”
Alessandra berdiri pelan. Wajahnya datar. Tidak ada rasa bersalah, tidak ada rasa takut. Dia melirik Saskia sekilas cukup untuk melihat kilatan kemenangan di balik mata sembab gadis itu.
Ada apa lagi? pikirnya dingin. Pertunjukan apa yang akan dia mainkan hari ini?
Dia mengikuti Bu Dewi keluar kelas. Saskia berjalan di belakangnya, sesekali terisak pelan cukup keras untuk didengar semua orang di koridor.
Ruang guru terletak di lantai dasar, dekat kantin. Ruangan itu luas, dengan meja-meja kayu yang tersusun rapi, papan pengumuman di dinding, dan papan tulis kecil untuk rapat.
Saat Alessandra masuk, sudah ada tiga guru di dalam.
Bu Dewi duduk di kursi utama. Di sampingnya, Pak Budi (guru Matematika) dan Pak Wibowo (guru Sejarah Ateris) ikut hadir. Wajah mereka serius, seperti sedang menghadapi kasus berat.
“Silakan duduk, Allegra,” ucap Bu Dewi.
Alessandra duduk di kursi yang disediakan. Saskia duduk di kursi lain, agak jauh, masih terisak-isak.
Bu Dewi menghela napas. “Allegra, hari ini Siska melapor kepada saya. Dia mengatakan bahwa kamu... menindasnya.”
Bisik-bisik di luar ruangan beberapa siswa yang penasaran mulai mengintip lewat jendela.
Alessandra tidak berkedip. “Menindas?”
“Iya. Siska bilang kamu sudah beberapa kali membentaknya, merendahkannya di depan orang lain, dan kemarin... dia bilang kamu mendorongnya di toilet.”
Suasana ruang guru mendadak tegang.
Pak Budi menatap Alessandra dengan mata tajam. “Allegra, ini tuduhan serius. Bullying di sekolah ini tidak ditoleransi. Kamu bisa dikeluarkan jika terbukti.”
Pak Wibowo, yang biasanya tenang, ikut bersuara. “Kami akan mendengarkan semua sisi terlebih dahulu. Allegra, beri kami penjelasanmu.”
Alessandra menatap Saskia.
Gadis kecil dengan tinggi 158 cm itu terus menunduk, bahunya bergetar, air mata menetes ke pangkuannya. Pita putihnya miring, membuatnya tampak seperti anak anjing basah yang membutuhkan perlindungan.
Pertunjukan kelas satu, pikir Alessandra. Air mata yang keluar atas perintah. Getaran bahu yang diatur ritmenya. Jika ada Oscar untuk penipuan, gadis ini pantas menang.
“Saskia,” ucap Alessandra dengan suara datar, tanpa emosi. “Kamu menuduh saya mendorongmu di toilet? Jam berapa? Hari apa?”
Saskia tidak langsung menjawab. Dia terisak lebih keras, seolah sedang berusaha mengumpulkan keberanian.
“K—kemarin... jam istirahat... Kakak Vale mendorong saya di depan wastafel... saya hampir jatuh...”
“Ada saksi?”
“T—tidak... tidak ada yang lihat...”
“Tidak ada saksi,” ulang Alessandra. Lalu dia menoleh ke Bu Dewi. “Bu, saya ingin mengajukan beberapa pertanyaan.”
Bu Dewi mengangguk. “Silakan.”
Alessandra kembali menatap Saskia. “Jam istirahat kemarin, saya berada di perpustakaan dari jam 10.00 sampai jam 10.45. Saya meminjam buku tentang sejarah Ateris. Itu bisa dilacak dari sistem peminjaman perpustakaan.”
Pak Wibowo mengerutkan kening. Dia mengambil ponselnya, menghubungi pustakawan. Beberapa saat kemudian, dia mengangguk.
“Benar. Valeria Allegra meminjam buku Sejarah Perang Bintang Pertama pada jam 10.07 kemarin.”
Saskia sedikit tersentak. Tapi dia cepat menutupnya dengan isakan.
“m—mungkin kakak... selesai dari perpustakaan... lalu ke toilet... dan—”
“Toilet mana?”
“Toilet... lantai dua... dekat laboratorium.”
“Saya tidak pernah ke toilet lantai dua,” potong Alessandra dingin. “Saya selalu menggunakan toilet lantai tiga dekat perpustakaan. Itu kebiasaan saya karena lebih sepi. Petugas kebersihan di sana kenal saya. Dia bisa menjadi saksi.”
Bu Dewi mengirim pesan singkat. Beberapa menit kemudian, seorang petugas kebersihan perempuan masuk ke ruang guru.
“Bu Siti,” sapa Bu Dewi. “Apakaha Anda ingat melihat Valeria Allegra kemarin?”
Bu Siti mengangguk. “Iya, Bu. Saya ingat. Anak pindahan yang pakai kacamata rantai emas, kan? Dia ke toilet lantai tiga sekitar jam makan siang. Saya lagi bersih-bersih di sana. Dia cuma sebentar, lalu pergi ke perpustakaan lagi. Saya ingat karena dia sopan, pamit dulu sebelum keluar.”
Keheningan.
Bu Dewi menatap Saskia. Wajahnya berubah dari serius menjadi sedikit... curiga.
“Siska, kamu yakin yang mendorong kamu adalah Allegra?”
Saskia tidak menjawab. Tangisnya mulai terdengar pura-pura. Dia menggigit bibir, mencari celah.
“m—mungkin... saya salah lihat... soalnya banyak siswa pake kacamata...”
“Tidak ada siswa lain yang memakai kacamata dengan rantai emas, Siska,” ucap Pak Budi tegas. “Hanya Allegra. Itu ciri khasnya.”
“Saya... saya...”
Alessandra berdiri. Tidak terburu-buru. Gerakannya pelan, anggun, dan membuat semua mata tertuju padanya.
“Bu Dewi, Bapak-Bapak guru,” ucapnya dengan suara tenang. “Saya bisa memahami kekhawatiran tentang bullying. Ini masalah serius. Tapi menuduh tanpa bukti dan tanpa saksi juga sama seriusnya. Saya tidak pernah menyentuh Siska, apalagi mendorongnya. Saya tidak punya motif. Saya bahkan tidak menganggapnya ada dalam keseharian saya di sekolah.”
Tidak menganggapnya ada. Itu lebih menyakitkan dari tuduhan bullying.
Saskia mendongak, matanya melebar. Untuk sesaat, topeng polosnya tergeser. Ada kilatan amarah di sana, marah karena skenarionya gagal.
Tapi dia cepat menunduk lagi.
“Maaf... maafkan saya... saya mungkin terlalu sensitif...”
Bu Dewi menghela napas panjang. “Siska, lain kali jika ada masalah, laporkan dengan bukti yang jelas. Jangan menuduh tanpa dasar. Ini bisa merusak nama baik Allegra.”
“I—iya, Bu...”
“Allegra, kamu kembali ke kelas. Siska tetap di sini, saya ingin bicara lebih lanjut.”
Alessandra mengangguk kecil. Dia berjalan ke pintu, membukanya, dan melangkah keluar tanpa menoleh.
Di koridor, beberapa siswa yang mengintip langsung berpura-pura sibuk. Tapi Alessandra tahu mereka mendengar semuanya. Mulut-mulut mereka akan bekerja. Dalam waktu satu jam, seluruh sekolah akan tahu bahwa Siska menuduh Valeria Allegra bullying, tapi tuduhan itu terbukti palsu.
Biarkan, pikirnya. Biarkan mereka tahu siapa sebenarnya S**askia.
Dia berjalan menuju kelas.
Tangannya merapikan kacamata.
Usaha yang bagus, rubah kecil. Tapi kau lupa satu hal.
Aku bukan Allegra asli yang bisa kau injak-injak.
Aku Valeria Alessandra.
Dan aku sudah melihat tipu muslihat macam ini ribuan kali.
Di dalam kelas, saat Alessandra masuk, semua mata tertuju padanya.
“Vale! Lo kenapa?” Laras berdiri, wajahnya panik.
“Duduk, Laras. Tidak ada apa-apa.”
“Tapi Siska tadi nangis-nangis, trus lo dipanggil Bu Dewi...”
“Hanya kesalahpahaman. Sudah selesai.”
Alessandra duduk di bangkunya. Mutiara menatapnya khawatir.
“Vale, lo gak kenapa-napa?”
“Tidak.” Alessandra membuka buku catatan hitamnya. “Tapi Siska mungkin akan lebih hati-hati lain kali.”
Dia menulis satu kalimat di halaman baru:
Saskia mencoba jebakan bullying. Gagal. Tapi akan coba lagi. Waspada.
Jari telunjuknya menyentuh kacamata.
Di sudut matanya, dia melihat sosok pemuda di barisan belakang pengintip dari taman sedang mengamatinya dengan mata menyipit.
Dia terus mengawasi. Ada apa dengan dia?
Alessandra menutup buku catatannya.
Hari masih panjang.
Dan rubah cilik itu belum akan menyerang lagi. Tapi Alessandra sudah siap.
Kapanpun dia menyerang, dia akan menyesal.