Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.
Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.
Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.
Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
"Mama, Idan ndak sengaja lempal bola itu," ucap Zidan dengan nada tak bersalah.
Inara yang tadi sempat meradang akhirnya sedikit melunak saat mendengar suara cadel Zidan. Meskipun sebenarnya ia ingin mengeluarkan kata-kata tak pantas, tentu kata-kata itu bukan untuk Zidan, melainkan untuk Zoya yang kini berdiri di samping anak itu dengan sikap pongah.
"Inara, Zidan hanya anak kecil, jadi jangan dipermasalahkan, ya," kata Zoya.
Inara tahu ini hanya akal-akalan Zoya agar dirinya terlihat buruk di mata Zidan. Bukan ingin berburuk sangka, tetapi ini sudah kesekian kalinya terjadi, dan yang paling di luar dugaan, selalu saja di detik terakhir Reno muncul lalu membela Zoya.
"Tentu saja tidak, Zidan hanya anak kecil. Tapi sebagai orang dewasa, kita harus mengajari anak. Jika berbuat salah, setidaknya minta maaf," ucap Inara dengan nada lembut.
"Kamu!" Zoya meradang. Perkataan Inara secara tidak langsung menyinggungnya, tetapi ia berusaha meredam amarah dan tetap menampilkan sosok ibu yang lembut di depan Zidan.
"Zidan, Mama Ara benar. Kalau berbuat salah harus minta maaf. Ayo, sayang, segera minta maaf," ujar Zoya.
"Ndak mau, Idan gak salah. Mama saja kenapa duduk di sana," sahut Zidan.
Zoya menarik sudut bibirnya lalu menatap Inara. "Inara, selama ini kamu yang mendidik Zidan, kan? Lihatlah sikapnya. Jadi kalau dia sedikit keras kepala, jangan dimarahi. Bagaimanapun ini hasil didikan kamu."
Kalimat itu menggantung, tipis tetapi cukup tajam untuk meninggalkan bekas. Inara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Zidan sejenak yang masih berdiri dengan wajah cemberut, lalu beralih pada Zoya yang tampak tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Ia tahu betul, ini bukan sekadar sindiran, melainkan cara halus untuk menjatuhkannya di depan anak itu.
Inara menarik napas pelan sambil menahan gejolak di dadanya, lalu berkata dengan suara tetap lembut, “Kalau begitu, aku juga tidak salah mengingatkan. Karena selama ini aku yang mendidiknya, aku juga tahu bagaimana mengarahkannya tanpa membuat dia merasa selalu benar.”
Senyum di wajah Zoya sedikit berubah, meski hanya sepersekian detik. Namun sebelum ia sempat membalas, langkah kaki terdengar dari dalam rumah. Reno muncul, pandangannya langsung menyapu ketiganya sebelum berhenti pada Zidan.
“Ada apa ini?” tanyanya singkat.
Zoya bergerak cepat, suaranya berubah lembut dengan sentuhan yang nyaris terdengar rapuh. Ia menjelaskan seolah tidak terjadi apa-apa, hanya kejadian kecil yang tidak perlu dibesar-besarkan. Reno mengangguk pelan, lalu menatap Inara dengan ekspresi yang sudah terlalu sering ia lihat, yaitu netral, tetapi cukup untuk membuatnya merasa tidak dipihakkan.
“Ara, dia cuma anak kecil,” ucap Reno.
Inara mengangguk pelan, tetapi kali ini ia tidak membiarkan kalimat itu berhenti begitu saja. “Aku tahu. Justru karena dia anak kecil, dia perlu diajarkan, bukan dibenarkan,” jawabnya, masih dengan nada yang terjaga meski hatinya perlahan terasa berat.
Zoya kembali menyela, kali ini lebih hati-hati. Ia mencoba meredakan suasana dengan mengatakan bahwa ini hanya hal kecil yang tidak perlu diperpanjang. Namun kata “hal kecil” itu justru membuat sesuatu dalam diri Inara merasa kesal setengah mati.
“Buat kalian mungkin kecil,” ucapnya pelan sambil menatap mereka satu per satu, “tapi cara kalian memperlakukanku di depan dia, itu bukan hal kecil bagiku.”
Ucapan itu membuat suasana berubah tanpa perlu nada tinggi. Bahkan Zidan yang sejak tadi diam mulai menatap Inara dengan bingung.
“Mama Ara malah sama Idan?” tanyanya lirih.
Seketika ekspresi Inara melunak. Ia menggeleng, lalu berjongkok di depan anak itu, suaranya kembali hangat. Ia mencoba menjelaskan dengan sederhana bahwa ini bukan soal marah, melainkan belajar untuk menghargai.
Namun alih-alih mengerti, wajah Zidan justru berubah. Bibir kecilnya mengerucut, matanya mulai berkaca-kaca, seolah menahan sesuatu yang tidak ia pahami sepenuhnya.
“Mama jahat… Mama tidak seperti Bunda Oya. Idan benci Mama.”
Deg.
Seolah ada sesuatu yang runtuh begitu saja di dalam diri Inara. Jantungnya seperti berhenti berdetak sesaat. Ia menatap Zidan lekat-lekat, berusaha memastikan bahwa ia tidak salah dengar, bahwa kalimat itu benar-benar keluar dari anak yang selama ini ia rawat dengan sepenuh hati.
Ia tahu, sejak awal tidak ada hubungan darah di antara mereka. Namun selama dua tahun pertama, ia yang memberi kehidupan lewat ASI. Dua tahun berikutnya, ia yang memastikan setiap napas kecil itu tetap sehat dan hangat dalam jangkauannya.
Empat tahun.
Empat tahun yang ia jalani bukan sekadar kewajiban. Namun ternyata, semua itu tetap tidak cukup. Di hadapan satu kata, yaitu ibu kandung, ia tetap kalah.
"Zidan benar benci Mama?" tanya Inara pada akhirnya.
Bukan menjawab, Zidan langsung bersembunyi di belakang Zoya dan Reno. Tentu saja hal itu membuat Reno semakin kesal.
"Ara, aku tidak tahu kenapa kamu banyak berubah sekarang. Bahkan Zidan sampai takut padamu," ujar Reno.
Inara langsung berdiri dan menarik napas dalam-dalam. "Aku tidak berubah. Aku masih Inara yang dulu. Hanya saja, mata kamu dan Zidan sepertinya sudah tertutup."
"Ara, kamu memutarbalikkan fakta dan justru menuduh kami? Aku tidak percaya kamu sampai seperti ini. Ingat, Inara, pernikahan kita tinggal menghitung minggu. Kalau kamu terus seperti ini, aku jadi ragu."
Zoya tersenyum mendengar kalimat itu. Ia pun segera memegang lengan Reno sambil berkata, "Sudah, Mas. Jangan karena masalah kecil seperti ini membuat kalian bertengkar dan mempertaruhkan kebahagiaan yang sudah kalian rencanakan."
Melihat Reno terdiam, ia langsung maju satu langkah dan berkata pada Inara, "Inara, kamu juga harus paham. Zidan dan Reno hanya ingin kamu lebih pengertian. Jadi jangan bersikap seperti ini. Kalau begini, aku merasa bersalah."
"Sudahlah, Zo. Kamu jangan terus membela Ara. Lagi pula kamu hadir di sini juga karena ingin menebus kesalahan, jadi tidak perlu merasa bersalah. Semua ini terjadi karena Ara yang belum bisa menerima kehadiranmu yang tiba-tiba," ucap Reno menenangkan.
Inara hampir tak percaya dengan kalimat Reno. Entah obat apa yang diberikan Zoya hingga Reno melupakan semua perbuatannya di masa lalu, bahkan saat itu Zoya sempat membuatnya terpuruk.
Ia menatap mereka bergantian, mulai dari Reno, Zoya, lalu Zidan yang kini bersembunyi di balik tubuh wanita itu. Pemandangan itu terasa seperti jawaban paling kejam yang tidak pernah ia minta. Perlahan, Inara mengangguk satu kali, seolah sesuatu dalam dirinya akhirnya menyerah.
“Baik,” ucapnya pelan, tetapi cukup jelas untuk terdengar oleh mereka semua. “Kalau memang itu yang kalian mau…”
Reno mengernyit karena merasa ada yang berbeda dari nada suara itu. Namun sebelum ia sempat bertanya, Inara melangkah mundur dan menjaga jarak dari mereka.
“Mulai sekarang,” lanjutnya dengan tatapan yang tidak lagi goyah, “aku tidak akan ikut campur lagi soal Zidan.”
Kalimat itu membuat Zoya terdiam sesaat, sementara Reno langsung bereaksi.
“Ara, jangan berlebihan—”
“Bukankah itu yang kalian inginkan?” potong Inara dengan tenang. “Aku terlalu ikut campur, terlalu protektif, dan terlalu banyak salah di mata kalian.”
Ia tersenyum tipis, tetapi tidak ada kehangatan di sana.
“Jadi sekarang, aku berhenti.”
Setelah mengatakan kalimat itu, Inara berbalik dan ingin meninggalkan tempat menyakitkan ini. Namun, baru satu langkah ia melangkah, terdengar suara keras.
Brukkk.