NovelToon NovelToon
High School Love On

High School Love On

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Idola sekolah / Romansa Fantasi
Popularitas:828
Nilai: 5
Nama Author: Rustina Mulyawati

Masa-masa sekolah memang paling indah dan mendebarkan. Banyak drama dan kisah cinta yang begitu manis. Ini hanya kisah tentang anak-anak remaja yang duduk di SMA. Tentang, persahabatan, cinta, pendidikan, dan keluarga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rustina Mulyawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 15 Hanya Khawatir

Setelah Aksa kembali tenang. Mereka berdua duduk di kursi tunggu yang ada diluar bangsal. Sejenak Aksa merasa malu karena sudah menangis tersedu di depan Devina. Sesekali Devina melirik ke arah Aksa yang masih terdiam cukup lama.

"Jadi, gue bisa bantu loh? " tanya Devina kemudian suaranya sedikit tertahan karena takut menyinggung Aksa lagi dan salah bicara.

Aksa menoleh sambil menatap Devina nanar juga heran. "Apa? " sahut Aksa bertanya-tanya bantuan apa yang Devina maksud.

"Soal biaya rumah sakit. Gue mungkin bisa bantu loh buat lunasi. Jadi, loh gak perlu khawatir lagi soal biaya rumah sakit, dan bisa fokus belajar sekolah dengan benar. Tapi Gue gak bermaksud merendahkan loh, kok. Jangan salah paham yah? Gue cuma... "

"Gue tahu! Loh mau bilang, kalau loh cuma khawatir sama gue kan? Gak papah. Tapi, loh gak perlu ikut campur soal biaya rumah sakit. Gue akan mengurusnya sendiri. Jadi, loh gak perlu khawatir sola itu. Gue akan mencari cara sendiri dan berusaha untuk mendapatkan uang." Aksa dengan cepat memotong perkataan Devina. Menatapnya dengan sangat dalam.

Devina pun tersenyum kecil dan mengangguk mengerti. Ia tahu tidak boleh memaksa saat ingin membantu orang lain. Jika Aksa bilang ia tidak perlu maka saat itu juga, Devina harus berhenti. Bukan karena tidak peduli tapi karena ia ingin menjaga perasaannya,ingin mencoba untuk mengerti dirinya.

"Baiklah. Tapi, jika loh nanti kesulitan atau butuh bantuan, jangan sungkan sama gue. Jangan malu buat menemui gue, " balas Devina lagi.

"Iyah."

Untuk sesaat lamanya pandangan mereka saling bertemu untuk waktu yang cukup lama dan mereka saling bertatapan. Ada banyak luka yang tersirat dari tatapan Aksa. Dan ada banyak ruang sunyi terpancar dari tatapan Devina. Keduanya menata rapih ruangan sedih mereka satu sama lain dengan cara mereka sendiri. Masa-masa emas yang seharusnya terasa menyenangkan dan indah diusia remaja mereka, namun mereka lebih banyak terluka karena banyak hal yang terlewatkan. Sampai akhirnya Aksa sadar lalu segera memalingkan wajahnya sambil beranjak berdiri. Devina mendongak masih menatap wajah Aksa.

"Ehem! Sudah waktunya loh pulang. Lagi pula gue harus berangkat bekerja, " ucap Aksa terlihat sedikit gugup karena sempat merasakan debaran yang cepat di dadanya. Sebisa mungkin ia mencoba untuk tetap tenang dan kalem walau sebenarnya ia salting karena kedua mata mereka saling bertemu untuk sesaat lamanya.

Devina tersenyum lebar. "Loh mau anterin gue pulang? " tanyanya manja dengan antusias.

Aksa berbalik dan menyipitkan tatapannya sejenak. Tanpa pernah Devina sadari sebuah jari menyentil pelan dahi Devina seperti biasanya. "Lupakan saja. Arah kita berlawanan. Gue bisa telat kalau nganterin loh pulang dulu, " tolak Aksa.

Bibir Devina merungut kecil merasa sedikit kecewa. Ia merajuk seperti anak kecil yang tidak diberi permen. Namun, ia juga sadar Aksa tidak bermaksud demikian. Anehnya, entah kenapa sikap Devina selalu membuat Aksa tersenyum lucu dan gemas. Tingkah Devina itu memang selalu membuatnya merasa terhibur.

"Makasih yah? Karena loh sudah menemukan gue disini. Sebenarnya untuk sesaat gue terjebak dalam pikiran kalut yang sudah buntu dan gelap. Dan jujur saja gue senang loh datang, disaat gue paling membutuhkan bahu untuk bersandar. Terima kasih juga atas tawaran bantuannya. Makasih udah khawatir sama gue. Berkat loh, gue merasa lebih baik sekarang, " ungkap Aksa sambil mengacak lembut rambut panjangnya.

Devina tertegun tidak percaya pada telinganya sendiri. Mendengar ungkapan Aksa yang terdengar begitu hangat dan manis membuat jantungnya berdebar sangat cepat. Devina meraba dadanya yang terasa memanas saat ini. Namun senyuman yang merekah sempurna terbentuk diwajahnya dengan sangat gembira.

Sementara itu, Aksa melengos pergi setelah mengatakannya meninggalkan Devina yang masih tertegun diam berdiri di tempatnya tanpa bergeming sedikit pun. Sadar dirinya ditinggalkan, Devina bergegas berlari kecil menyusul langkah Aksa yang sudah cukup jauh. Nampak begitu jelas sikap Devina yang menjadi salah tingkah saat mereka berjalan berdampingan menyeimbangkan ritme langkahnya menuju pintu keluar rumah sakit.

Devina menelpon sopir untuk menjemputnya disana. Karena sudah sore, sulit untuk mendapatkan taksi. Lagi pula, Devina juga tidak pernah naik angkutan umum, jadi ia tidak tahu cara kerjanya seperti apa. Tatkala Aksa masih menemani Devina disana sampai jemputannya sampai. Namun sayang seribu sayang, tiba-tiba saja awan berubah menjadi sangat gelap. Awan mendung datang tanpa peringatan.

Aksa merasa sedikit gelisah karena ia tidak bisa pergi bekerja jika hujan turun sekarang. Namun, ia juga merasa tidak enak jika harus pergi lebih dulu meninggalkan Devina menunggu sendirian disana. Aksa menengadah melihat dan memeriksa awan yang berada jauh diatas kepalanya kini mulai menurunkan butiran-butiran kecil yang semakin lama semakin kerap. Sepertinya, jika ia pergi sekarang pun ia tetap akan kehujanan.

"Loh bareng gue aja nanti. Gue anterin sampai ke tempat kerja loh, " ujar Devina saat melihat kegelisahan Aksa saat ini.

Namun Aksa hanya membalas dengan senyuman kecil yang mengisyaratkan bahwa Devina tidak perlu mengkhawatirkan dirinya.

Tidak lama kemudian sopir Devina sudah tiba dan berhenti di depan mereka. Pak sopir turun untuk membukakan pintu mobil belakang seperti yang biasa ia lakukan selama ini.

"Ayo naik! Gue anterin, daripada telat nunggu hujan reda, " ajak Devina menatap Aksa dengan penuh harapan kalau Aksa tidak akan menolak ajakan darinya.

Sejenak Aksa terlihat bingung dan ragu. Tapi melihat hujan yang begitu deras ia pun tidak punya pilihan selain menerima ajakan Devina. Apalagi ia sudah sangat telat saat ini. Lagian Aksa merasa tidak enak kepada Paman Suryadi jika datang terlambat. Lantas, Aksa hanya bisa menerima ajakan Devina tersebut.

"Baiklah, makasih. "

Senyum di wajah Devina mengembang dengan sangat lebar. Ia merasa sangat senang karena hari ini, ia banyak menghabiskan waktu bersama Aksa dan bisa berlama-lama berada di samping Aksa. Lantas, Devina segera naik dan disusul oleh Aksa kemudian. Sopir pribadi Devina pun segera melaju pergi sesuai dengan arahan yang Devina berikan.

"Gue boleh bertanya soal ayah loh gak? " tanya Devina ingin tahu lebih banyak soal keluarga Aksa.

"Tentang apa? " jawab Aksa.

"Gue cuma penasaran, seperti apa Ayah loh dulu? "

Aksa kembali memutar memori tentang Ayahnya sebelum terbaring koma. "Bagi gue, Ayah itu adalah orang yang penuh tanggung jawab, penuh perhatian dan sosok penjaga keluarga yang baik. Dia selalu berusaha menjaga senyum gue sama Ibu, meskipun dirinya sendiri sedang terluka. Yah, begitulah... "

Devina tersenyum mendengarkan cerita hangat Aksa tentang ayahnya. "Lalu, bagaimana ayah loh bisa sampai koma? " tanyanya lagi karena penasaran.

Aksa terdiam untuk sejenak menatap rintikan hujan keluar jendela mobil dengan tatapan sedih. Lalu sesaat kemudian Aksa menoleh ke arah Devina, tatapannya sayu begitu syahdu, namun bibirnya tetap menampakan senyum kecil yang berat.

"Ayah gue mengalami kecelakaan mobil. Gue gak tahu pasti apa penyebabnya. Yang gue tahu, saksi mata mengatakan kalau seorang anak kecil tiba-tiba melintas ke tengah jalan waktu itu. Ayah yang terkejut memilih untuk membanting setir dan akhirnya menabrak pagar jembatan hingga ia terlempar bersama mobilnya jatuh ke sungai. Untungnya Ayah masih bisa diselamatkan. Tapi sayang, Ayah terluka sangat parah hingga mengalami koma. "

Untuk pertama kalinya Aksa diri dan perasaannya kepada Devina. Walau ia bercerita dengan wajah tersenyum dan terdengar sangat santai. Tapi Devina bisa melihat kedua matanya berkaca-kaca seakan ia menahan bendungan air matanya. Devina mendengarkan dengan seksama. Entah kenapa tiba-tiba saja dadanya terasa begitu sesak. Ingin rasanya Devina memeluk erat tubuh Aksa saat ini. Menenangkannya dan menghibur dirinya. Namun, ia ragu karena takut Aksa akan merasa tidak nyaman jika ia melakukan itu secara tiba-tiba.

"Ayah kamu hebat. Pasti saat dia masih sehat, ia adalah Ayah terbaik yang pernah ada. Dia melakukan hal yang begitu hebat kepada orang lain, apalagi terhadap keluarganya sendiri. Loh pasti sangat bangga punya Ayah seperti dia, " balas Devina mencoba untuk menghibur Aksa walau sebenarnya tersirat perasaan iri dihatinya kepada Aksa.

Aksa menatap Devina sesaat lamanya. Ia seolah mengerti maksud yang tersirat dari perkataannya. Aksa mengelus rambut Devina dengan lembut, membuat Devina membulatkan kedua matanya menatap Aksa terharu.

"Terima kasih, gue tahu loh berniat menghibur gue. Loh jauh lebih hebat, karena sudah tumbuh begitu baik walaupun tanpa peran kedua orang tua loh. Gue sangat bangga sama loh, " ucap Aksa membuat air mata Devina tiba-tiba saja mengalirkan air mata.

Aksa merasa tidak enak saat mendapati air mata itu jatuh di pipi Devina. "Ada apa? Kenapa tiba-tiba loh nangis? " tambahnya bertanya karena khawatir.

Devina kini tanpa ragu memeluk Aksa dan membenamkan wajahnya di dada bidang Aksa. Semua terjadi begitu cepat. Aksa yang terkejut mendapatkan pelukan secara mendadak tidak bergeming sedikit pun. Namun anehnya ia merasa sangat tenang karena Devina memilih dirinya untuk bersandar. Aksa perlahan membalas pelukan Devina dan menepuk pelan punggungnya.

"Maafin gue, tadinya gue gak mau nangis. Gue bermaksud ingin menghibur loh, tapi entah kenapa malah jadi sebaliknya. Jujur gue gak bisa menahannya, dada gue terasa terlalu sesak untuk gue simpan sendirian. Tolong biarkan gue seperti ini sebentar saja, " ucap Devina terisak.

Aksa mengelus pelas punggung Devina sambil tersenyum kecil mendengarkan ocehannya yang tidak jelas tersebut karena terpotong-potong oleh isakan tangisnya. Entah kenapa sikap Devina yang seperti ini sangat-sangat menggemaskan bagi Aksa.

1
SANG
Semangat terus pantang mundur👍💪👍💪
SANG
Like iklan plus komen👍💪👍💪👍💪
Rustina Mulyawati: Terima kasih Kakak..
total 1 replies
SANG
Aku kasih suka ya👍💪
SANG
Keren banget💪👍💪
SANG
Ceritanya seru
T28J
lanjutkan kak 👍
T28J
anjay nganter doang 3 juta 🤣👍
T28J
hadiir kakak 🙏
Rustina Mulyawati: Terima kasih udah mampir👍 Moga suka sama jalan ceritanya. ☺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!