Di dunia kultivasi yang luas, Xiao Chen adalah anomali—diturunkan dari langit dengan ketampanan dan kekuatan absolut tanpa batas. Dibesarkan di Hutan Sunyi oleh Qing Yan, ia tumbuh tanpa memahami asal-usulnya. Saat berusia 15 tahun, ia memulai perjalanan menjelajahi dunia, mengungkap misteri dirinya, menghadapi berbagai faksi, serta membangun hubungan dengan wanita dan kekuatan yang mengguncang tiga alam.
bonus langsung 10 episode pertama
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Naik ke Babak Berikutnya
Pagi kedua turnamen dimulai dengan langit yang sedikit mendung. Awan-awan kelabu menggantung rendah di atas puncak Sekte Pedang Langit, tapi tidak ada hujan—hanya angin dingin yang membawa aroma tanah basah dari lembah di bawah.
Di tribun, jumlah penonton justru bertambah. Kabar tentang pertarungan-pertarungan babak penyisihan telah menyebar ke kota-kota terdekat, mengundang lebih banyak kultivator independen dan pedagang. Arena sekarang dipenuhi lebih dari tiga ribu orang, suara percakapan mereka menciptakan dengung konstan yang terasa di udara.
Di area Sekte Awan Kelabu, Wei Ling duduk dengan punggung tegak. Matanya fokus ke panggung, di mana dua kultivator dari sekte kecil lain sedang bertarung. Pedang Bulan Sabit—Artefak Fana tingkat Tinggi pemberian Xiao Chen—terbaring di pangkuannya, sudah diasah dan siap.
"Aku sudah memeriksa daftar lawan," kata Feng Mo di sampingnya. "Lawanmu berikutnya adalah Luo Yin dari Sekte Angin Hitam. Dia di Tahap Pendirian Fondasi tingkat 1."
Wei Ling menelan ludah. "Pendirian Fondasi. Satu tingkat penuh di atasku."
"Tapi kau mengalahkan Hao Ming kemarin. Dia juga di atasmu secara fisik."
"Itu berbeda. Hao Ming masih di Pemurnian Qi. Begitu seseorang mencapai Pendirian Fondasi, fondasi Qi-nya sudah dipadatkan. Kecepatannya, kekuatannya, ketahanannya—semuanya naik drastis."
Feng Mo tidak bisa membantah. Dia sendiri baru mencapai Pendirian Fondasi, dan dia tahu persis betapa besarnya perbedaan itu.
"Dengarkan." Xiao Chen, yang selama ini diam, akhirnya bersuara. Dia duduk di sebelah Wei Ling, satu kakinya ditekuk di atas bangku, sikapnya santai seperti biasa. "Kau tidak perlu mengalahkannya dengan kekuatan. Kalahkan dia dengan kecepatan dan presisi."
"Itu yang kau ajarkan. Tapi bagaimana kalau itu tidak cukup?"
"Kalau tidak cukup..." Xiao Chen mencondongkan tubuhnya, dan sebelum Wei Ling bisa menghindar, dia sudah mengecup lembut ujung hidungnya. "...aku akan tetap bangga padamu. Tapi kau harus berjanji untuk tidak menyerah sebelum benar-benar kalah."
Wei Ling memerah, tapi kali ini dia tidak mendorongnya. "Berhenti menciumku di depan umum."
"Tidak."
"Xiao Chen—"
"Aku suka melihat wajahmu memerah. Itu lucu."
Feng Mo berdeham keras. "Aku masih di sini."
"Aku tahu," jawab Xiao Chen tanpa menoleh.
Zhang Yuan, yang duduk di belakang, terkikik pelan. Wei Zhen hanya menghela napas—ekspresi seorang ayah yang sudah menyerah untuk memahami.
—
Ketika nama Wei Ling dipanggil, seluruh tribun tamu dari Sekte Awan Kelabu menahan napas.
"Wei Ling dari Sekte Awan Kelabu melawan Luo Yin dari Sekte Angin Hitam!"
Luo Yin adalah perempuan muda berusia sekitar dua puluh tahun. Rambutnya hitam pendek, matanya tajam, dan jubah hitamnya ketat di bagian lengan dengan motif angin berputar. Di pinggangnya tergantung sepasang belati—keduanya Artefak Fana tingkat Menengah, dari kilaunya. Dia melangkah ke panggung dengan seringai tipis.
"Pemurnian Qi tingkat 9," katanya saat Wei Ling naik. "Dan kau mengalahkan seseorang kemarin? Lawanmu pasti sangat lemah."
Wei Ling tidak terpancing. "Kita lihat saja."
"Pertarungan... MULAI!"
Luo Yin bergerak seperti angin—nama sektenya bukan sekadar hiasan. Dia menggunakan Teknik Langkah Angin Fana tingkat Menengah, gerakannya ringan dan cepat. Dua belatinya berputar di tangannya, menciptakan pusaran kecil yang berdengung.
Wei Ling menghindar ke kiri, tapi Luo Yin sudah mengantisipasi. Satu belati melesat ke arah bahunya. Wei Ling memblokir dengan Pedang Bulan Sabit, dan benturan logam menggema di arena. Lengan Wei Ling bergetar—kekuatan di balik serangan itu jauh lebih besar dari Hao Ming.
"Dasar kultivator Pendirian Fondasi," gumamnya.
Dia mundur, menciptakan jarak. Luo Yin tidak mengejar—dia malah berputar di tempat, dan kedua belatinya mulai mengeluarkan asap hitam.
"Itu bukan asap biasa," bisik Feng Mo dari tribun. "Itu Qi beracun."
Xiao Chen memperhatikan dengan mata menyipit. "Dia mengalirkan racun ke belatinya. Teknik yang menarik."
Di panggung, Wei Ling menyadari bahayanya. Dia tidak bisa mendekat tanpa risiko menghirup racun. Tapi dia juga tidak bisa terus menghindar—cepat atau lambat, Luo Yin akan menutup seluruh panggung dengan asapnya.
Pikir, katanya pada diri sendiri. Apa yang akan Xiao Chen katakan?
"Qi adalah perpanjangan dirimu. Gunakan untuk merasakan. Untuk bergerak."
Wei Ling menarik napas dalam. Dia menutup matanya.
Luo Yin mengangkat alis. "Menutup mata? Kau sudah menyerah?"
Tapi Wei Ling tidak mendengarkan. Dia fokus pada aliran Qi di sekitarnya—Qi miliknya sendiri, Qi di udara, dan Qi beracun yang menyebar dari belati Luo Yin. Dia bisa merasakannya. Seperti kabut hitam yang merayap di antara bersihnya udara pagi.
Lalu dia bergerak.
Dia tidak berlari ke arah Luo Yin. Dia berlari ke samping, ke area di mana asap racun masih tipis. Pedang Bulan Sabit di tangannya berputar, menciptakan hembusan angin kecil—bukan untuk menyerang, tapi untuk mendorong asap itu menjauh.
"Kau pikir itu bisa menghentikanku?" Luo Yin melesat ke arahnya, kedua belatinya siap menikam.
Tapi Wei Ling sudah menghilang.
Teknik Bayangan Kilat yang sudah dilatihnya selama enam bulan—sekarang lebih cepat, lebih tajam. Dia muncul di belakang Luo Yin, pedangnya mengarah ke punggung lawan.
Luo Yin berbalik tepat waktu untuk memblokir, tapi Wei Ling tidak berhenti. Dia menusuk lagi, dan lagi, dan lagi—setiap serangan lebih cepat dari sebelumnya, setiap gerakan lebih presisi. Dia tidak memberikan Luo Yin waktu untuk menggunakan racunnya.
Para penonton terpaku. Seorang kultivator Pemurnian Qi tingkat 9 mendesak mundur kultivator Pendirian Fondasi? Itu hampir tidak pernah terjadi.
"Menyerahlah," kata Wei Ling, pedangnya sekarang berada di depan dada Luo Yin.
Luo Yin menatapnya, napasnya terengah-engah. Lalu dia terkekeh. "Kau... kau bertarung seperti orang gila."
"Aku belajar dari yang terbaik."
Luo Yin meletakkan belatinya. "Aku menyerah."
"Pemenang: Wei Ling dari Sekte Awan Kelabu!"
Tepuk tangan bergemuruh, kali ini lebih keras dari kemarin. Wei Ling berdiri di panggung, dadanya naik-turun, keringat mengucur di pelipisnya. Tapi dia menang. Dia benar-benar menang.
Saat dia kembali ke tribun, Wei Zhen memeluknya—sesuatu yang jarang dilakukannya. "Kau membuatku bangga, Nak."
Zhang Yuan hampir menangis. Bahkan Feng Mo tersenyum lebar.
Dan Xiao Chen... Xiao Chen berdiri, menunggunya dengan senyum nakal yang sudah sangat dikenalnya.
"Jangan," kata Wei Ling.
"Aku belum bilang apa-apa."
"Jangan cium aku lagi. Ayahku baru saja memelukku. Ini momen keluarga."
"Baiklah." Xiao Chen mengangguk serius. "Aku akan menundanya sampai nanti malam."
"XIAO CHEN!"
—
Pertandingan berikutnya: Lin Yao melawan Feng Mo.
"Kenapa aku harus melawannya?" keluh Feng Mo saat mendengar pengumuman.
"Kau tidak beruntung," jawab Xiao Chen. "Tapi setidaknya kau bisa mengukur kekuatanmu."
Feng Mo melangkah ke panggung dengan pedangnya—sebuah Artefak Fana tingkat Menengah yang sudah ditempanya sendiri. Di seberangnya, Lin Yao berdiri dengan tangan kosong. Dia bahkan tidak mengeluarkan pedang.
"Kau tidak akan menggunakan senjata?" tanya Feng Mo.
"Aku tidak perlu," jawab Lin Yao datar.
Pertarungan dimulai. Dan dalam waktu dua puluh detik, Feng Mo sudah tergeletak di luar panggung.
"...Oke," katanya dari tanah, menatap langit. "Itu memalukan."
Lin Yao membantunya bangkit dengan satu tangan. "Kau sebenarnya tidak buruk. Tapi kau terlalu kaku. Gerakanmu bisa dibaca."
"Terima kasih... kurasa?"
Lin Yao berjalan kembali ke tempat duduknya. Saat melewati area Sekte Awan Kelabu, dia berhenti sejenak di depan Xiao Chen. "Dua orangmu sudah kukalahkan. Kapan giliranmu?"
"Kau masih ingat taruhan kita?"
"Tentu saja."
"Kalau begitu, kapan pun kau siap."
Lin Yao menatap matanya—hijau zamrud bertemu ungu keemasan. "Besok. Di babak ketiga. Jika kita bertemu."
Dia berbalik dan pergi.
Wei Ling memperhatikan interaksi itu dengan alis berkerut. "Apa taruhannya?"
"Dia ingin menyentuhku," jawab Xiao Chen santai.
"Apa?!"
"Dalam pertarungan. Jika dia bisa menyentuhku, aku akan menjawab satu pertanyaan apa pun darinya."
Wei Ling menatapnya tidak percaya. "Dan kau setuju?"
"Tentu saja. Ini menyenangkan."
"Kau..." Wei Ling menggeleng. "Kau benar-benar tidak waras."
"Tapi kau tetap menyukaiku."
Wei Ling membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Karena dia tidak bisa menyangkalnya.
—
Malam harinya, setelah jamuan makan malam kedua, Xiao Chen berjalan-jalan di taman paviliun tamu. Bulan hampir purnama sekarang, cahayanya begitu terang hingga menciptakan bayangan tajam di antara pepohonan.
Dia mendengar langkah kaki di belakangnya.
"Aku tahu kau akan datang," katanya tanpa menoleh.
Lin Yao muncul dari balik pohon. Jubah hijaunya berkibar, rambut hitamnya tergerai—dia melepaskan ikatannya. Dengan rambut tergerai, dia terlihat berbeda. Lebih lembut, tapi matanya masih setajam biasanya.
"Kau terus menghindar dariku di jamuan makan malam," katanya.
"Aku tidak menghindar. Aku hanya sibuk."
"Sibuk mencium murid Wei Zhen di depan semua orang?"
Xiao Chen tersenyum. "Kau memperhatikan."
"Semua orang memperhatikan." Lin Yao berjalan mendekat. "Kau tidak punya rasa malu?"
"Aku punya. Aku hanya memilih untuk mengabaikannya." Xiao Chen menoleh, menatapnya. "Kau cemburu?"
Wajah Lin Yao memerah—terlihat jelas bahkan di bawah cahaya bulan. "Tidak. Aku hanya... penasaran."
"Penasaran tentang apa?"
"Tentang..." Dia ragu. "Tentang bagaimana rasanya."
Xiao Chen tidak menjawab dengan kata-kata. Dia melangkah mendekat, gerakannya lambat, memberikan Lin Yao waktu untuk mundur jika dia mau. Tapi Lin Yao tidak mundur. Dia berdiri di tempatnya, matanya yang hijau terpaku pada Xiao Chen.
"Kau mau mencoba?" tanya Xiao Chen, suaranya rendah.
Lin Yao menelan ludah. "Kau... kau tidak akan memberitahu siapa pun?"
"Aku tidak akan memberitahu."
"Dan kau tidak akan menganggapku lemah?"
"Aku tidak pernah menganggapmu lemah."
Lin Yao menatapnya beberapa detik lagi. Lalu dia menutup matanya.
Xiao Chen menciumnya.
Lembut pada awalnya—hanya bibir yang bertemu. Tapi kemudian Lin Yao, yang selalu kompetitif bahkan dalam hal ini, membalas dengan intensitas yang mengejutkan. Tangannya naik ke bahu Xiao Chen, mencengkeram jubahnya. Ciuman itu semakin dalam, lidah mereka bertemu, dan untuk beberapa saat, tidak ada suara apa pun kecuali napas mereka berdua.
Ketika akhirnya mereka berpisah, Lin Yao mundur selangkah. Wajahnya merah, napasnya tidak teratur, tapi dia menatap Xiao Chen langsung.
"Itu..." Dia menyentuh bibirnya sendiri. "...lebih baik dari yang kubayangkan."
"Kau sering membayangkannya?"
"Jangan mendorong keberuntunganmu."
Xiao Chen tertawa kecil. "Kau luar biasa, Lin Yao."
"Aku tahu." Dia berbalik dan berjalan pergi. Tapi di ujung taman, dia berhenti. "Besok. Jika kita bertemu di babak ketiga. Aku akan menyentuhmu."
"Aku menantikannya."
Lin Yao menghilang ke dalam kegelapan.
Xiao Chen berdiri di taman, bulan di atas kepalanya, dan dia tersenyum pada dirinya sendiri. "Dunia ini benar-benar menarik."