"Satu tahun aku dihina sebagai supir sampah. Satu tahun aku diam saat istriku dijajah keluarganya sendiri. Tapi hari ini, kesabaranku habis."
Arka Pratama bukan sekadar supir. Dia adalah pewaris tunggal Klan Naga Utara, penguasa ekonomi dunia yang memilih hidup melarat demi sebuah janji suci. Menikah dengan Nadia Atmaja lewat wasiat misterius, Arka harus menahan diri dari serangan politik kotor, sihir hitam, hingga pengkhianatan keluarga.
Namun, saat Kakek Wijaya dan Reno mencoba merampas harga diri Nadia di depan publik, sang Naga tidak lagi bisa diam.
"Kalian ingin melihat kekuasaan? Aku akan memulainya dengan membeli hotel ini, lalu menghapus nama kalian dari kota ini."
Saat identitas aslinya terungkap, apakah Nadia akan tetap mencintai supirnya, atau justru ketakutan pada sosok Naga yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husein. R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kaos Oblong dan Tahta yang Kembali
Begitu Rolls-Royce kami berhenti di depan halte, Bu Lastri langsung lari dan buka pintu belakang kayak orang dikejar setan. Dia masuk sambil ngos-ngosan, kipas-kipas pake tangan, dan mukanya udah kayak kepiting rebus kena matahari.
"ARKA! Lu bener-bener ya! Tega lu ninggalin gua?! Tadi si Siska nyaris ngelempar gua pake sepatu hak tingginya tahu nggak!" Bu Lastri ngoceh tanpa henti sambil banting tasnya ke jok.
Begitu pantatnya nempel di jok, dia diem sedetik. Dia raba-raba kulit joknya. "Loh, ini mobil siapa? Kok empuk banget? Arka, ini mobil kantor Nadia yang baru ya? Kok supirnya bukan lu? Terus ini siapa?" Dia nunjuk Pak Maman pake jari yang penuh cincin.
Gue cuma senyum tipis di kursi depan. Pak Maman tetep fokus ke depan dengan muka poker face paling legendaris sejagat raya.
"Ini Pak Maman, Bu. Temen saya," jawab gue singkat.
"Temen? Dih, gaya bener lu punya temen supir mobil mewah begini!" Bu Lastri mulai lagi nyinyirnya. "Nadia, kamu kok diem aja? Ini mobil kantor kan? Kok nggak bilang-bilang? Wah, Global Dragon beneran royal ya sama kamu, sampe dikasih fasilitas begini cuma gara-gara tadi Arka akting jadi bos!"
Nadia cuma lirik gue, dia nahan tawa sampe bahunya geter. "Iya, Bu... fasilitas kantor."
Suasana mendadak hening sebentar, cuma ada suara hembusan AC yang dinginnya sejuk banget. Tiba-tiba Pak Maman buka suara dengan nada yang sopan tapi berwibawa.
"Maaf mengganggu, Tuan Muda. Jadi kita tetap ke tempat tadi? Mi instannya sudah saya siapkan di titik jemput cadangan," ucap Pak Maman.
Gue sandaran, pura-pura mikir. "Aduh, Pak Maman... Kayaknya aku udah nggak mood buat ke tempat tadi. Perut aku mendadak pengen sesuatu yang lebih... proper. Kita ke resto aku aja yang di pusat kota."
Bu Lastri langsung melotot. "Resto lu?! Sejak kapan lu punya warteg, Ka? Palingan juga kedai kopi dipinggir kali!"
Gue nggak jawab. Pak Maman cuma manggut. "Baik, Tuan Muda. The Celestial Grill?"
"Yup. Gas ke sana, Pak," jawab gue santai.
Bu Lastri masih ngoceh di belakang, bilang kalau gue cuma halu dan kebanyakan dengerin lagu Pop Melayu yang puitis sampe jadi gila. "Celestial Grill itu resto paling mahal di Jakarta, Arka! Orang mau masuk sana aja harus reservasi tiga bulan! Lu mau ke sana pake kaos oblong begini? Malu-maluin keluarga Atmaja aja!"
Di dalam Rolls-Royce yang melaju tenang menuju pusat kota, Nadia tiba-tiba ngerutin dahi sambil merhatiin penampilan gue. Dia baru sadar ada yang aneh.
"Loh, Arka? Kamu sejak kapan ganti baju?" Nadia megang lengan kaos oblong hitam gue yang bahannya adem banget tapi kelihatan santai banget. "Tadi kan di hotel kamu pake tuksedo mahal yang aku beliin? Kok sekarang malah pake kaos begini?"
Gue ketawa tipis sambil benerin posisi duduk. "Oh, ini? Tadi pas aku pamit ke toilet bentar sebelum kita cabut dari hotel, aku ngerasa gerah banget, Nad. Rasanya kayak pake baju zirah buat perang. Pas banget di tas ransel yang dititipin Baron ke Pak Maman ada kaos oblong cadangan ini. Langsung aja aku ganti. Lagian, aku lebih nyaman jadi 'Arka sang supir' daripada 'Arka sang pangeran' kalau cuma mau makan."
Bu Lastri yang duduk di belakang langsung nyeletuk sinis, "Tuh kan! Emang dasarnya mental babu! Dikasih jas mahal malah milih kaos oblong pasar malam. Malu-maluin!"
Gue nggak bales omongan Bu Lastri. Gue cuma senyum ke Nadia. Bagi gue, identitas itu bukan dari kain yang nempel di badan, tapi dari siapa yang berdiri di belakang kita.
Begitu mobil berhenti tepat di depan lobby utama The Celestial Grill, suasana mendadak heboh. Tapi bukan heboh karena ada Rolls-Royce, melainkan karena siapa yang turun dari sana.
Di area parkir depan resto, banyak abang ojol lagi pada mangkal nunggu orderan. Begitu gue turun dengan kaos oblong dan celana kain santai, salah satu ojol senior teriak kenceng banget.
"Woy! Liat tuh! Tuan Muda Arka balik!"
"Demi apa?! Tuan Muda sudah kembali!"
Dalam sekejap, sekumpulan abang ojol langsung lari nyamperin gue. Mereka nggak takut, mereka malah ngerangkul gue kayak kawan lama. Ada yang minta salaman, ada yang cuma nepuk bahu gue bangga.
"Tuan Muda, ke mana aja setahun ini? Kangen kita ngopi bareng di depan!" ucap salah satu ojol sambil ketawa lebar.
Gue ketawa balik, beneran lepas tanpa beban. "Lagi magang jadi rakyat jelata beneran, Bang! Tenang, entar saya pesenin kopi sama camilan buat semuanya di depan ya!"
Nadia dan Bu Lastri cuma bisa melongo di pintu mobil. Mereka liat pemandangan yang mustahil: seorang pemilik resto termewah di Jakarta, diserbu abang ojol dengan penuh rasa hormat yang tulus, bukan rasa takut.
Baron muncul dari arah lobby, diikuti oleh Manajer Restoran yang wajahnya udah tegang penuh hormat. Di layar LED raksasa di atas pintu masuk resto, mendadak muncul tulisan emas yang berkilauan:
"SELAMAT DATANG KEMBALI, TUAN MUDA ARKA PRATAMA."
Si Manajer langsung membungkuk dalam, nggak peduli kalau bosnya cuma pake kaos oblong yang tadi dihina Bu Lastri. "Tuan Muda, semua sudah siap. Maaf atas keterlambatan penyambutan kami."
Gue nepuk bahu manajer itu. "Santai, Pak. Tolong urus temen-temen saya di depan ya, kasih menu terbaik buat mereka. Bilang aja, ini dari supir yang baru dapet bonus."
Gue balik badan, liat Bu Lastri yang mukanya udah pucat kayak orang kurang darah. "Ayo masuk, Bu. Kaos oblong saya mungkin murah, tapi resto ini cukup layak lah buat tempat Ibu makan malam."
Kami jalan masuk ke area privat. Nadia ngerangkul lengan gue erat, dia bisikin sesuatu di kuping gue. "Aku baru tau, ternyata sisi kamu yang paling keren itu bukan pas pake jas, tapi pas kamu bisa ketawa bareng orang-orang itu, Ka."
Gue cuma senyum. Di balik kemewahan ini, gue tau tantangan sebenernya baru dimulai. Begitu gue duduk di meja utama, Baron ngasih kode mata. Seseorang dari masa lalu gue baru aja terlihat masuk ke area VIP bawah.
"Naga Selatan nggak mau nunggu sampe besok, Tuan Muda," bisik Baron pelan saat menuangkan air ke gelas gue.
Gue narik napas panjang. "Bagus. Biar mereka tau, naga yang tidur sudah bangun... dan dia lagi laper."