NovelToon NovelToon
Bayu Dan Aplikasi Toko Ajaib

Bayu Dan Aplikasi Toko Ajaib

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:22.9k
Nilai: 5
Nama Author: ex

Bayu Alexander adalah seorang karyawan rendahan yang sedang berada di titik terendah hidupnya setelah difitnah dan gajinya dipotong semena-mena oleh atasannya. Nasib miskinnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika ia memindai sebuah barcode misterius di halte bus yang diam-diam menginstal Aplikasi Toko Ajaib di ponselnya.

Berbekal sisa saldo lima puluh ribu rupiah, Bayu memanfaatkan fitur diskon kilat aplikasi tersebut untuk membeli kacamata ajaib penilai barang antik, yang menjadi batu loncatan pertamanya meraup ratusan juta rupiah dari pasar loak.

Dari seorang budak korporat yang diinjak-injak, Bayu perlahan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, menggunakan item-item tak masuk akal dari sistem untuk menghancurkan karir musuh-musuhnya, mendominasi pasar saham, hingga menumpas mafia kejam yang mencoba mengusiknya, semuanya ia lakukan dalam diam sebagai miliarder baru Jakarta yang rahasianya tidak akan pernah terbongkar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Halaman depan Rumah Sakit Medika di Jakarta Selatan tampak seperti lautan manusia. Puluhan mobil van dari berbagai stasiun televisi nasional terparkir sembarangan hingga memakan separuh jalan raya. Tiang-tiang antena pemancar siaran langsung dinaikkan menembus langit sore yang mendung.

Kabar tentang keracunan massal di kedai kopi paling viral se-Jakarta telah menjadi santapan utama media massa. Isu ini terlalu seksi untuk dilewatkan. Sebuah bisnis fenomenal yang dituduh menggunakan bahan kimia adiktif ilegal demi keuntungan cepat.

Sebuah taksi hitam premium berhenti perlahan di dekat pintu masuk lobi utama. Sebelum mesin taksi itu benar-benar mati, kerumunan wartawan yang sudah mengenali nomor polisinya dari bocoran informan langsung menyerbu, mengerumuni mobil tersebut bagaikan laron kelaparan yang melihat cahaya.

Pintu penumpang belakang terbuka. Bayu Alexander melangkah keluar dengan tenang. Ia masih mengenakan setelan jas abu-abu arang yang sama saat ia berhadapan dengan Victoria Lin, tanpa sehelai benang pun yang kusut. Wajahnya sedingin bongkahan es di kutub utara.

Jepret. Jepret. Jepret.

Ratusan kilatan lampu kamera menyilaukan mata, diiringi rentetan pertanyaan tajam yang diteriakkan saling bersahutan dari para jurnalis yang berdesakan.

"Tuan Alexander! Apakah benar PT Mandiri Alexander Investama mendanai peracikan kopi menggunakan narkotika sintetis?"

"Berapa banyak korban jiwa yang Anda sembunyikan demi laba perusahaan?"

"Apakah penangkapan manajer Anda, Pak Slamet, adalah bukti bahwa Anda akan lepas tangan dari tanggung jawab hukum ini?"

Dua orang petugas keamanan rumah sakit bersusah payah membuka jalan bagi Bayu. Namun, alih-alih berlari masuk menghindari wartawan seperti yang biasa dilakukan oleh pengusaha yang tertangkap skandal, Bayu justru berhenti melangkah.

Ia berdiri di anak tangga tertinggi di depan lobi, berbalik menghadap puluhan kamera yang menyorotnya secara langsung ke jutaan pasang mata di seluruh negeri.

"Harap tenang," ucap Bayu. Suaranya tidak berteriak, namun memiliki resonansi otoritas yang aneh sehingga membuat keributan di sekitarnya perlahan mereda. Semua wartawan mengarahkan mikrofon mereka ke depan wajahnya.

"Saya berada di sini bukan untuk menghindar, apalagi lari dari tanggung jawab. Sebagai pemilik tunggal dari jaringan Kafein Nusantara, saya datang untuk melihat langsung kondisi para korban. Karena saya yakin, di negara hukum ini, kebenaran tidak bisa dipelintir hanya oleh rekayasa murahan dari kompetitor pengecut yang bersembunyi dari balik bayangan," kata Bayu dengan tatapan tajam langsung ke arah lensa kamera utama.

Pernyataan berani itu memicu gumaman terkejut dari para reporter.

"Kalau Anda merasa ini rekayasa, apakah Anda berani mengonfrontasi para korban secara langsung di hadapan kami sekarang juga?" tantang seorang jurnalis senior dari stasiun televisi berita nomor satu.

"Tentu saja. Silakan ikuti saya. Kita siarkan semuanya secara langsung tanpa di potong-potong," jawab Bayu santai. Ia berbalik dan melangkah masuk ke dalam rumah sakit, diikuti oleh gelombang wartawan yang diizinkan masuk oleh pihak keamanan karena permintaan Bayu sendiri.

Di dalam Bangsal Gawat Darurat, puluhan ranjang rumah sakit berjejer rapi. Orang-orang yang mengenakan seragam karyawan kantor tampak terbaring lemah. Beberapa dari mereka mengerang kesakitan, memegangi perut sambil memejamkan mata. Selang infus menancap di lengan mereka.

Di sudut bangsal, seorang perwira polisi berpangkat komisaris sedang berdiri mendata nama-nama korban. Melihat rombongan media dan Bayu masuk, perwira itu segera mendekat dengan wajah tegas.

"Berhenti di situ. Apakah anda Bayu Alexander? Anda tidak berhak masuk ke area perawatan korban karena anda adalah pihak terlapor," tegur perwira polisi itu sambil mengangkat tangannya.

"Selamat sore, Pak Komisaris," sapa Bayu sopan tanpa menghentikan langkahnya secara penuh. "Saya memiliki hak hukum untuk menawarkan kompensasi medis dan mengetahui kondisi langsung dari orang-orang yang menuduh bisnis saya meracuni mereka. Saya berani menjamin, tidak ada satu pun racun di dalam produk kami."

Sebelum perwira itu bisa membantah, seorang pria paruh baya di atas ranjang terdekat yang sedang disorot oleh tiga kamera televisi sekaligus tiba-tiba mengerang sangat keras.

"Aduh! Perut saya sakit sekali! Dokter! Tolong saya, rasanya usus saya meleleh!" teriak pria bernama Hasan itu, berguling-guling di atas kasurnya. Pria ini adalah korban pertama yang viral di media sosial pagi tadi karena muntah darah di depan pintu kafe.

Bayu menatap Hasan. Insting militernya langsung bekerja. Erangan pria itu terlalu berirama, keringat di dahinya terlalu sedikit untuk seseorang yang sedang mengalami kerusakan organ dalam, dan warna muntahan darah di bajunya memiliki kekentalan yang lebih mirip sirup pewarna makanan daripada darah sungguhan.

"Ini bukan keracunan. Ini adalah sandiwara kelas rendahan," batin Bayu.

Bayu berjalan mendekati ranjang Hasan. Wartawan langsung merangsek maju, membentuk lingkaran ketat di sekitar mereka. Siaran langsung dari berbagai stasiun televisi kini terpusat pada satu adegan ini. Jutaan rakyat Indonesia di rumah masing-masing menahan napas.

"Anda pemilik kafe mematikan itu?!" jerit Hasan sambil menunjuk wajah Bayu dengan telunjuk yang gemetar dibuat-buat. "Anda mau membunuh kami semua demi uang?! Hukum dia, Pak Polisi!"

Bayu merogoh saku dalam jasnya. Di sana, ia telah membuka tutup botol Tetes Mata Kejujuran Absolut.

"Saya turut prihatin dengan kondisi Anda, Pak Hasan," ucap Bayu pelan. Ia berpura-pura menghela napas lelah, mengangkat tangan kanannya untuk mengusap kedua matanya seolah sedang memijat pangkal hidung yang pusing.

Tes. Tes.

Cairan magis itu masuk sempurna ke kornea Bayu. Tidak ada yang menyadari gerakannya karena tertutup oleh jemarinya sendiri.

Saat Bayu kembali membuka matanya dan menurunkannya tangannya, sesuatu yang tidak masuk akal terjadi. Di dalam bola mata hitam Bayu, berputar sebuah cahaya perak yang sangat terang. Cahaya itu memancar lurus, menembus kekacauan ruangan, dan mengunci pandangan Hasan yang sedang berteriak-teriak.

Seketika, teriakan Hasan terhenti di tengah jalan. Mulutnya tetap terbuka, namun suaranya lenyap. Tubuhnya yang tadi berguling-guling pura-pura kesakitan kini kaku membeku di atas kasur. Pupil mata Hasan membesar maksimal. Pikirannya telah diculik dan ditundukkan secara mutlak oleh hukum sistem yang lebih tinggi dari realitas bumi.

Di mata para wartawan dan polisi, Bayu hanya terlihat menatap Hasan dengan sangat tajam. Namun bagi Hasan, Bayu adalah dewa yang mengendalikan seluruh saraf lidahnya.

"Tatap mata saya, Pak Hasan," perintah Bayu dengan suara bariton yang menggema pelan namun sangat jelas masuk ke setiap mikrofon yang menyala.

Hasan menatap Bayu tanpa berkedip.

"Ceritakan kepada seluruh rakyat Indonesia yang sedang menonton siaran langsung ini. Apa yang sebenarnya Anda minum sebelum Anda muntah di depan kafe saya pagi ini?" tanya Bayu, merangkai pertanyaannya dengan sangat spesifik agar tidak bisa dihindari.

Keringat dingin mengucur deras dari pelipis Hasan. Urat lehernya menonjol, mencoba melawan dorongan dari dalam otaknya untuk berbohong. Namun Tetes Mata Kejujuran Absolut tidak bisa dilawan oleh manusia biasa.

"Saya... saya tidak minum kopinya," suara Hasan keluar dengan nada monoton yang sangat jernih, terdengar seperti rekaman kaset yang diputar.

Gumaman kebingungan langsung meledak di antara para jurnalis. Perwira polisi yang berdiri di belakang Bayu mengerutkan kening.

"Lalu apa yang Anda minum?" kejar Bayu tanpa melepaskan kontak matanya.

"Saya minum pil penimbul mual dosis tinggi dan mengulum kapsul pewarna makanan merah di mulut saya sepuluh menit sebelum saya sampai di depan Kafein Nusantara. Semua orang di bangsal ini melakukan hal yang sama," jawab Hasan datar tanpa ekspresi.

1
ラマSkuy
wah apakah bukan hanya Bayu yang punya sistem jadi selain MC ada lagi yang punya sistem. tapi unik juga ya biasanya sistemnya itu menyatu dengan jiwa MC tapi ini dihpnya MC
ラマSkuy
nice 👍
Ironside
Bagus Kak /Smile/, btw mana Insectnya /Curse//Curse//Curse/
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
👻🤣👻
Mamat Stone
🤣👻🤣
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
/Drool/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
ラマSkuy
waw/Sly/
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
terserah anda Thor /Ok//Good/
Mamat Stone
pasti salah kaprah 🤣👻
Mamat Stone
😍
Mamat Stone
🤩
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!