NovelToon NovelToon
Aku Berhak Bahagia

Aku Berhak Bahagia

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Rumah Tangga / Janda
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mami Al

"Aku berhak bahagia dan aku bisa hidup tanpamu!"

Mila Rahma akhirnya memilih jalan hidupnya sendiri meskipun orang-orang disekitarnya menolak keputusan yang diambilnya. Mereka sangat kecewa dengan Mila karena berani menggugat cerai. Mila melakukan itu bukan tanpa sebab, selama menikah dirinya selalu mendapatkan penyiksaan dan penghinaan.

Mampukah Mila bertahan hidup dengan menjauh dari orang-orang yang sangat dicintai dan disayanginya?

Apakah Mila menemukan pria yang sangat mencintai dan menghormatinya?

Ikuti ceritanya dan mohon dibaca perlahan setiap episodenya. Terima kasih banyak karena sudah membaca tanpa meloncat episode🙏🏼

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku Berhak Bahagia - episode 15

Mila sejenak terdiam, otaknya sedang bekerja keras mencari jawaban yang tepat dan pas dari pertanyaan Hasbi.

"Mil... kenapa diam?" Hasbi hanya memastikan kalau pertanyaannya tadi tak menyinggung perasaan wanita dihadapannya.

"Hmm...ya, aku merantau karena ingin coba-coba aja. Di kampungku sulit mendapatkan pekerjaan yang gajinya sesuai," jawab Mila berbohong.

"Oh, gitu."

"Ya, begitulah!" Mila coba mencairkan ketegangan hatinya, meraih botol air mineral dan meneguknya.

"Apa kamu sudah punya calon suami?"

Mila yang sedang minum lantas terbatuk-batuk mendengar pertanyaan Hasbi lagi.

"Mil, pelan-pelan dong. Gak ada juga yang minta, kok!!" Hasbi yang tangannya panjang cukup sampai ke pundak Mila yang ada dihadapannya lalu menepuknya lembut.

Mila yang merasa tak nyaman tangan Hasbi menyentuh tubuhnya menepisnya dengan perlahan.

"Maaf!" Hasbi menarik tangannya.

Mila hanya menampilkan senyum singkat dan tipis.

"Kamu gak perlu jawab, kok!" Hasbi lagi-lagi merasa bersalah. Ia yakin jika Mila tak begitu nyaman dengan pertanyaan yang menyinggung masalah pribadi.

"Mas Hasbi apa sudah punya calon istri juga?" Mila balik bertanya.

"Sudah," jawab Hasbi. "Tapi, itu dulu beberapa bulan lalu. Kami sempat bertunangan terus putus. Dia berselingkuh."

"Mas Hasbi atau dia yang berselingkuh?" Mila tak percaya 100 persen. Sejak bercerai, dirinya sangat waspada, takut masuk ke lubang yang sama. Bisa saja pria dihadapannya sedang berbohong untuk mencoba menarik perhatiannya.

Hasbi tertawa kecil lalu bertanya, "Apa wajahku seperti tampang orang yang sedang berbohong?"

"Kita belum kenal terlalu lama. Mas Hasbi pun belum mengenal aku dengan baik. Jadi, gak semudah itu langsung menilai orang itu baik dan benar," jawab Mila dengan senyuman datar.

"Dari cara kamu menjelaskan, sepertinya kamu pernah mengalami patah hati?" tebak Hasbi menatap Mila yang terlihat salah tingkah.

Mila tertawa getir.

"Sepertinya obrolan kita selesai sampai di sini," kata Hasbi yang menurutnya pembicaraan mereka sudah tak nyaman lagi.

"Bagaimana dengan bubur ayamnya? Aku belum selesai makan," Mila memperhatikan mangkoknya. Sisa setengah lagi.

"Habiskan, aku menunggumu di luar!" Hasbi beranjak dari tempat duduknya, membayar makanannya dan melangkah ke luar warung.

Mila menghabiskan bubur ayam secara perlahan. Ia berpikir kalau ucapannya ada yang membuat Hasbi salah paham.

Setelah selesai, Mila menghampiri Hasbi di parkiran warung. Melihat kemunculan Mila, pria itu bergegas memasukkan ponselnya di saku celananya.

"Ayo pulang!" kata Hasbi.

Sepanjang perjalanan pulang menuju kos-kosan, Hasbi memilih diam. Suasana pun menjadi canggung.

Begitu sampai, Mila mengucapkan terima kasih kepada Hasbi yang telah mentraktirnya. Hasbi membalas ucapannya dengan anggukan pelan dan senyum tipis.

Tepat jam 9 pagi, Mila telah sampai di kedai. Ia kembali bertemu Alan. Pria yang kemarin sengaja dihindarinya.

Pak Bagas memanggil Mila lalu berkata, "Alan sementara bekerja di sini. Tolong, ajarkan dia pekerjaan apa saja yang harus dilakukannya!"

"Baik, Pak."

Mila mengajak Alan ke dapur, dia mulai memberitahu kerjaan yang harus dilakukan pria itu. Ketiga karyawan Pak Bagas yang lainnya cuma senyum-senyum melihat Mila mengajari Alan. Mereka paham dengan tujuan Pak Bagas menyuruh Alan bekerja di warungnya padahal Alan sebenarnya bukan pengangguran.

"Mil, kerja di sini 'kan capek. Kenapa kamu mau?" tanya Alan sambil mengupas bawang putih.

"Tak ada pekerjaan lain. Lagian saya cuma mampu bekerja di sini. Saya hanya lulusan SMA," jawab Mila tersenyum tipis.

"Kenapa gak jadi SPG?" tanya Alan.

"Saya kurang tinggi. Apapun pekerjaannya yang penting halal," jawab Mila.

"Benar juga, sih!" kata Alan setuju.

"Mas Alan, kenapa mau kerja di sini? Saya dengar Mas Alan pernah bekerja di perusahaan properti."

"Itu dulu. Sekarang aku sudah tinggal di kota ini. Mau coba mulai perjalanan baru," Alan beralasan.

"Oh."

"Kapan kamu mau menikah lagi?" tanya Alan menatap Mila yang sepertinya syok mendengarnya.

Mila terdiam.

"Kalau ada seorang pria yang serius mau melamar dan menikahimu. Apa kamu mau menerimanya?" tanya Alan lagi.

Mila yang mendengarnya malah tertawa. Ia lalu menjawab, "Saya pastinya akan berpikir matang-matang mungkin kalau bisa sampai busuk."

Alan ikutan tertawa, "Udah kayak buah aja, ya!"

"Takut salah pilih dan melangkah lagi, Mas Alan. Saya cuma mau nikah sekali seumur hidup. Bagi saya yang kemarin adalah pelajaran."

"Memang benar pengalaman adalah guru berharga. Lalu bagaimana dengan aku? Belum pernah menikah, berarti aku juga belum punya pengalaman seperti kamu, dong!" kata Alan tertawa kecil.

"Mencari pengalaman bukan harus merasakannya terlebih dahulu, apalagi menikah adalah ibadah terpanjang. Kalau mencari pekerjaan mungkin kita bisa coba mendaftar dan mulai bekerja. Tapi, kalau pernikahan bukan ajang main-main."

"Sepertinya kita harus mengobrol lebih banyak lagi. Apa kamu mau kita ke kafe atau ke mall?" Alan terus berusaha mendekatinya.

"Saya gak pernah ke sana, Mas." Mila berkata berbohong, padahal dirinya pernah ke tempat itu bersama Della saat bekerja dengan Bu Hanny itupun pasca kabur dari Hardi. Di kota ini, Indah yang mengajaknya keliling kota.

"Masa, sih?" Alan tak percaya.

"Kalau mau mengobrol kenapa harus ke tempat itu? Mengapa gak di sini aja?" tanya Mila.

Alan yang duduk mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan lalu menjawab, "Di sini mereka mendengarkan obrolan kita!"

Mila mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, benar saja Pak Bagas dan lainnya diam-diam memperhatikan mereka.

"Aku bisa meminta pamanku memberikan izin libur kerja sehari untukmu!" kata Alan berjanji.

"Sepertinya gak perlu, deh, Mas. Lagian mengobrol 'kan cuma sejam aja. Jadi buat apa harus libur?"

"Memangnya kamu mau memberikan waktu satu jam itu buatku?"

Glek...

Mila salah bicara lagi. Dia akhirnya pusing mencari cara menolak Alan.

"Malam minggu besok aku akan menjemputmu di kos-kosan. Temanku punya usaha kafe, kita ke sana. Aku mohon, jangan tolak permintaanku!" pinta Alan penuh harap.

"Duuh.... bagaimana ini?" batin Mila kebingungan.

"Terima aja, Mil!" seru Ratih yang melintas di dekat mereka.

"Apa saya boleh berpikir dulu?" Mila tersenyum nyengir.

"Hmm.. boleh-boleh tapi jangan lama-lama, ya!" kata Alan.

Saat jarak Alan dan Mila jauh, Wina dan Ratih mendekati Mila yang sedang menggiling bawang merah dan cabai dengan alat blender.

"Mil, terima aja ajakan Mas Alan!" bisik Wina.

"Iya, Mil. Mas Alan itu orangnya sangat baik, cuma kendalanya pada ibunya aja!" sahut Ratih di sisi kanan Mila.

"Selama Mas Alan berada di pihakmu, dunia akan baik-baik saja!" timpal Wina.

"Kami dukung, kau dengan Mas Alan!" sahut Ratih semangat.

Sore harinya sepulang kerja, Mila pun membiarkan Alan mengantarkannya pulang ke kos-kosannya. Begitu sampai, mereka berpapasan dengan Hasbi yang juga baru pulang kerja.

Hasbi membuka helmnya dan melemparkan senyumnya kepada keduanya. Mila membalasnya dengan senyuman kaku. Tanpa bicara, Hasbi melewatinya dan masuk ke halaman kos-kosan.

"Mas Alan, terima kasih udah mengantarkan saya!" kata Mila seraya melirik Hasbi yang ada diparkiran.

"Ya, sama-sama," ucap Alan. "Besok pagi aku jemput, ya!" lanjut menawarkan diri.

"Gak usah, Mas. Gak usah repot-repot, saya naik angkot aja!" tolak Mila sopan.

"Hmm...ya sudahlah!" Alan sedikit kecewa mendapatkan penolakan, namun hari ini ia cukup senang karena Mila bersedia menunjukkan tempat tinggalnya.

Alan pun pamit pulang.

Setelah motor yang dikendarai Alan berlalu. Mila masuk dan melihat Hasbi telah berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Ada perasaan bersalah, sebab ia beberapa kali menolak ajakan Hasbi tetapi malah membiarkan orang lain memboncengnya.

Dua jam kemudian, Mila yang kebetulan selesai berbelanja di warung sebelah kos-kosan berpapasan dengan Hasbi yang baru pulang dari masjid.

"Mas Hasbi tadi itu teman kerja, dia keponakannya bos aku!" Mila menjelaskan sosok Alan kepada pria yang ada disampingnya berjalan meskipun tanpa diminta.

"Oh," ucap Hasbi singkat dan raut wajah datar.

"Kebetulan dia ingin tau alamat tempat kos aku!" kata Mila lagi dengan nada terbata.

"Mil, aku duluan, ya. Ada kerjaan kantor yang harus diselesaikan!" Hasbi memotong ucapan Mila kemudian melangkah cepat meninggalkannya.

1
Murni Zain
siapapun jodoh untuk mila yg penting bs menerima dia sebagai menantu, semua masalalu mila. 🤗🥰
Dew666
Hasbi nikah sm sepupu mila kali, mila jodoh Aldo aja
Murni Zain
Gass,,, otw halal🤭
Dew666
👑👑👑
Dew666
🍎🍎🍎
Murni Zain
akhirnya bs mengungkapkan kata suka'🥰
Mami AL: walaupun baru cuma dalam hati 🤭
total 1 replies
Murni Zain
Hasbi,, pernah sama² tersakiti. 🤭🤭
seperti saya sm suami... d selingkuh in sm pasangan. 😄😍
Murni Zain
🤗🤗🤗Alhamdulillah msh d ketemu kn sama orang baik ya mbak Mila.
Murni Zain
ehh kenapa Mas Hasbi 🤔🤔🤔 cemburu apa ada trauma???
Dew666
Aldo
Murni Zain
2 laki-laki memcoba dekat sm Mila🤭
Mami AL: kita buat Mila bingung memilih 😅🤭
total 1 replies
Mami AL
kebetulan yang tepat sekali, ya, Kak😄🤭
Murni Zain
ohhh so sweet banget🥰🥰🥰

jd teringat saat bertemu sm suami dl. 🤗
Murni Zain
Hasbi kan🤔🤔🤔

atw sang mantan. 🤔🤔🤔
Murni Zain
semoga jodoh Mila.... Hasbi🤗
Murni Zain
mungkin kn jodoh mila..🤔
Mami AL: kita lihat nanti, ya, Kak🤭
total 1 replies
Murni Zain
Semoga ada kebahagiaan d t4 baru ya mbak.. 🥰😍🤗💪🏼💪🏼💪🏼
Murni Zain
Semangat mbak Mila.. 🥰🤗
Murni Zain
baik bgt nih ibu mertua... klo aku dl sebaliknya😄 tp tu masa lalu q.. yg sekarang sdh terbayar dgn suami yg setia, baik bertanggung jawab sm keluarga. 🤗🥰
Mami AL: Alhamdulillah, Kak.. Bahagia selalu 😊
total 1 replies
Murni Zain
Ternyata mertuanya baik ya.. klo aku dl... seperti enggak d Terima krn aku ank kampung. 🥺
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!