NovelToon NovelToon
God Killer

God Killer

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:521
Nilai: 5
Nama Author: Franzzz

Para dewa tidak membawa kedamaian-mereka membawa penindasan.

Di bawah kekuasaan Vasilias, langit menginjak manusia tanpa ampun. Ketika Dewa Matahari sejati dijatuhkan dan seorang wanita manusia dibunuh demi menjaga "kemurnian", seorang anak lahir dari pengkhianatan.

Setengah dewa. Setengah manusia.
Dan penuh dendam.

Dengan api matahari dalam darahnya, ia bangkit untuk memburu para dewa-termasuk pewaris palsu langit, Filius.

Namun semakin dekat pada balas dendam, ia mulai menyadari:

Tidak semua dewa layak dibunuh.
Dan tidak semua manusia layak diselamatkan.

Ketika langit mulai retak, satu pertanyaan tersisa-

Apakah ia akan menghancurkan para dewa...
atau menjadi yang paling kejam di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Franzzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 4

Hari-hari di hutan berjalan tanpa tergesa.

Tidak ada kalender. Tidak ada hitungan waktu yang pasti. Hanya matahari yang terbit dan tenggelam, menjadi penanda sederhana bagi kehidupan kecil di tengah alam itu.

Bagi Grachius, dunia tidak lebih luas dari hutan, sungai, dan gubuk kecil tempat ia tinggal.

Dan itu… sudah lebih dari cukup.

Pagi hari dimulai dengan suara burung.

Grachius berlari keluar gubuk tanpa alas kaki, rambutnya masih berantakan, wajahnya penuh semangat.

“Aku duluan!” teriaknya, meski tidak ada yang berlomba dengannya.

Ia berlari ke arah sungai.

Melompat di atas batu-batu kecil.

Hampir terpeleset—

tapi berhasil menjaga keseimbangan.

“Hah! Hampir aja!”

Ia tertawa sendiri.

Di tepi sungai, ia berhenti.

Menatap air yang mengalir.

Kali ini… ia tidak langsung masuk.

Ia duduk.

Menarik napas.

Menutup mata.

Beberapa detik.

Cukup untuk merasakan.

Dingin air.

Gerakan arus.

Dan sesuatu yang lebih halus di balik semua itu.

Grachius membuka mata.

Tersenyum kecil.

Lalu—

Byur!

Ia melompat masuk tanpa ragu.

Siang hari, ia kembali ke gubuk.

Di depan sana, Purus sudah berdiri, memotong kayu dengan tenang.

Grachius mendekat.

“Aku bantu!”

Tanpa menunggu jawaban, ia langsung mengambil potongan kayu kecil.

Mengangkatnya—

sedikit goyah—

lalu menjatuhkannya ke tumpukan.

“Lumayan, kan?” katanya bangga.

Purus hanya melirik sekilas.

“Jangan menjatuhkan lebih banyak daripada yang kau bawa.”

Grachius langsung menatap ke belakang.

Beberapa potongan kayu memang tercecer di tanah.

“…itu bonus.”

Purus tidak menjawab.

Namun sudut bibirnya nyaris bergerak—hampir seperti senyum.

Hampir.

Sore hari adalah waktu latihan.

Grachius duduk di tempat biasa.

Bersila.

Mata tertutup.

Napas perlahan.

Tidak seperti hari pertama.

Tidak lagi penuh keluhan.

Ia mulai terbiasa.

Ia mulai memahami ritmenya.

Energi hangat itu muncul lebih cepat sekarang.

Lebih stabil.

Meski kadang masih goyah.

Namun ia tidak panik.

Ia hanya… mengulang.

“Fatum bukan sesuatu yang bisa kau lihat.”

Suara Purus terdengar dari belakang.

Grachius tidak membuka mata.

“Tapi bisa dirasakan…” jawabnya pelan.

“Bagaimana?”

Grachius terdiam sejenak.

Mencari kata.

“…seperti… aku tahu harus ke mana. Tapi tidak tahu kenapa.”

Sunyi sejenak.

“Cukup.”

Jawaban singkat.

Namun kali ini—

Grachius tersenyum.

Setelah latihan, hari kembali menjadi sederhana.

Kadang ia mengejar kupu-kupu.

Kadang ia memanjat pohon, meski sering dimarahi karena hampir jatuh.

Kadang ia hanya berbaring di tanah, menatap langit yang terlihat di sela dedaunan.

“Langit itu luas ya…” gumamnya suatu hari.

Purus duduk tidak jauh darinya.

“Ya.”

“Ada apa di atas sana?”

“Banyak hal.”

Grachius menoleh.

“Seperti apa?”

Purus menatap langit.

Untuk beberapa saat… ia tidak menjawab.

“…hal-hal yang tidak perlu kau tahu sekarang.”

Grachius mendesah.

“Itu lagi…”

Malam hari adalah yang paling tenang.

Api kecil menyala di depan gubuk.

Grachius duduk sambil memakan makanan sederhana.

Kadang ia bercerita.

Tentang apa saja.

Tentang ikan yang hampir ia tangkap.

Tentang burung yang ia lihat.

Tentang hal-hal kecil yang terasa besar baginya.

Purus mendengarkan.

Lebih sering diam daripada bicara.

Tapi ia mendengarkan.

Suatu malam, Grachius bertanya:

“Purus.”

“Ya.”

“Kenapa aku tinggal di sini?”

Pertanyaan itu sederhana.

Namun udara seakan berubah.

Api kecil itu berkerlap-kerlip pelan.

Purus menatap nyala api.

Beberapa detik berlalu.

“Karena ini tempat yang aman.”

Grachius mengangguk pelan.

Tidak bertanya lebih jauh.

Seolah jawaban itu sudah cukup.

Atau mungkin… ia belum tahu harus bertanya apa.

Malam semakin dalam.

Grachius tertidur di dalam gubuk.

Napasnya tenang.

Wajahnya damai.

Seperti anak kecil pada umumnya.

Di luar, Purus berdiri sendiri.

Matanya menatap langit.

Bukan langit yang dilihat Grachius.

Tapi sesuatu yang lebih jauh.

Lebih tinggi.

Lebih berbahaya.

“Aman…” gumamnya pelan.

Angin berhembus.

Namun tidak membawa ketenangan.

Hanya keheningan.

Yang terasa… sementara.

Di tengah hari-hari yang sederhana—

sesuatu terus bergerak.

Pelan.

Tak terlihat.

Menuju masa depan…

yang tidak akan setenang ini selamanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!