NovelToon NovelToon
Satu Atap Dua Rahasia

Satu Atap Dua Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.

​Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."

​Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 Cinta?

Selena membuang muka, mencoba menyembunyikan rona merah yang kini menjalar hingga ke lehernya. Ia berjalan menuju balkon, membiarkan angin laut Uluwatu yang kencang menerpa wajahnya. Ia harus mendinginkan suhu tubuhnya yang mendadak naik.

"Bagus kalau begitu," balas Biru pendek. Ia melonggarkan satu kancing kemejanya, sebuah gerakan sederhana yang entah mengapa membuat Selena refleks menelan ludah. "Aku akan mandi duluan. Kau bisa membongkar koper atau... apa pun yang kau lakukan untuk merasa tidak canggung."

Suara pintu kamar mandi yang tertutup meninggalkan Selena dalam kesunyian yang justru lebih menakutkan. Ia menatap ranjang dengan taburan mawar itu seolah-olah benda itu adalah medan perang.

"Tenang, Selena. Fokus. Ingat bab 24 novelmu, 'The Contract Marriage'," gumamnya pada diri sendiri sembari membuka laptop.

"Tokoh utamanya tidak pernah goyah. Dia profesional. Dia hanya perlu berpura-pura."

Namun, suara gemericik air dari kamar mandi membuat imajinasi Selena liar melampaui naskah mana pun yang pernah ia tulis. Ia mencoba mengetik, tetapi jemarinya kaku. Pikirannya justru tertuju pada botol obat tanpa label yang sempat ia lihat di laci meja kerja Biru sebelum mereka berangkat. Pria itu tampak sehat, berwibawa, dan sangat kuat, tapi mengapa ada aroma obat yang selalu mengikutinya?

Tiga puluh menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka.

Selena membeku. Biru keluar hanya dengan mengenakan celana kain panjang dan kaus putih tipis yang agak lembap. Rambutnya yang basah jatuh berantakan di keningnya, menghilangkan kesan CEO kaku yang biasanya ia kenakan seperti baju zirah.

"Giliranmu," ujar Biru datar. Ia berjalan menuju meja kecil, menuangkan air mineral dengan tangan yang sedikit gemetar—gerakan yang terlalu halus untuk disadari Selena.

Selena segera menyambar tas perlengkapan mandinya dan praktis berlari masuk ke kamar mandi. Di dalam, ia bersandar di balik pintu, jantungnya berdegup hingga ke kerongkongan. "Sial, dia benar-benar berbahaya bagi kesehatan mental dan integritas kontrak ini," umpatnya pelan.

Malam itu, suasana menjadi semakin mencekam saat lampu kamar diredupkan. Biru benar-benar meletakkan dua bantal guling besar di tengah ranjang sebagai pembatas.

"Aturan tambahan," suara Biru memecah keheningan malam saat mereka berdua sudah berbaring dengan punggung saling membelakangi. "Jangan melewati garis guling ini. Apa pun yang terjadi."

"Siapa juga yang mau lewat?" sahut Selena ketus, meski ia sedang memeluk selimutnya erat-alih. "Pastikan saja kau tidak mendengkur. Aku butuh ketenangan untuk memikirkan plot."

Keheningan kembali merayap. Di balik punggung Selena, Biru mencengkeram dadanya secara sembunyi-sembunyi. Rasa sesak itu datang lagi, dipicu oleh kedekatan fisik yang tidak bisa dihindari ini. Jantungnya berontak, seolah ingin mendobrak tulang rusuknya setiap kali ia menghirup aroma vanila dari rambut Selena yang tertinggal di bantal.

Tahan, Biru. Jangan sampai dia tahu kalau jantungmu bisa berhenti berdetak hanya karena mencium aromanya, batin Biru pedas.

Tepat saat Selena mulai terbuai mimpi, sebuah erangan tertahan dari sisi sebelah membuatnya terjaga. Ia merasakan ranjang bergoyang pelan. Selena berbalik dan melihat punggung Biru yang menegang, napas pria itu terdengar pendek dan berat.

"Mas? Mas Biru? Kau tidak apa-apa?" Selena mendekat, tangannya refleks ingin menyentuh bahu Biru, namun ia teringat garis pembatas guling itu.

Biru tidak menjawab. Ia sedang berjuang mengendalikan denyut nadinya yang melonjak drastis. Intensitas kehadirannya bersama Selena di satu ranjang ternyata jauh lebih mematikan daripada rapat pemegang saham mana pun.

"Jangan... mendekat," desis Biru serak, tanpa menoleh. "Tetap di garis milikmu, Selena."

Selena tertegun. Rasa khawatir dan rasa tersinggung berperang di dadanya.

Apakah ia semenjijikkan itu hingga Biru menolaknya dengan nada sekeras itu? Selena kembali berbalik dengan perasaan kesal, tidak menyadari bahwa beberapa senti di belakangnya, Biru sedang bertaruh nyawa untuk menjaga rahasia detak jantungnya tetap aman.

*

Pagi pun tiba. Pintu kayu besar itu baru saja terbuka sedikit ketika Cakra sudah berdiri tegak di sana, seperti prajurit yang tak pernah tidur. Wajahnya yang kaku tampak sedikit lebih kuyu dari biasanya, namun tangannya memegang sebuah cangkir keramik yang mengepulkan aroma tajam dan hangat—perpaduan antara jahe, kunyit, dan sedikit aroma manis madu.

"Tuan," sapanya rendah, matanya langsung memindai wajah Biru, mencari tanda-tanda kelelahan atau bibir yang membiru.

Biru keluar dengan langkah yang sedikit gontai, ia segera menutup pintu di belakangnya agar Selena yang masih bergelung di balik selimut tidak mendengar percakapan mereka. "Cakra. Kau sudah di sini sepagi ini?"

"Saya tidak bisa tidur tenang mengetahui Anda berbagi oksigen yang sama dengan 'gangguan' itu semalaman," jawab Cakra jujur, nadanya dingin namun penuh pengabdian. Ia menyodorkan cangkir itu.

"Minumlah. Ini ramuan rimpang. Semalam saya berkonsultasi dengan seorang terapis lokal di sini. Dia menjamin ini bisa membantu memperkuat dinding jantung dan melancarkan sirkulasi yang terhambat karena... tekanan emosional."

Biru menerima cangkir itu, merasakan panasnya merambat ke telapak tangannya. "Rimpang? Kau mulai percaya pada pengobatan alternatif?"

"Saya percaya pada apa pun yang bisa membuat Anda tetap bernapas, Tuan," sahut Cakra tanpa ekspresi. "Terapis itu bilang, jantung yang terus dipaksa berpacu karena gairah atau stres butuh penyeimbang dari alam. Anggap saja ini pelumas untuk mesin Anda yang mulai panas."

Biru menyesap minuman itu. Rasa hangat yang menjalar di tenggorokannya perlahan meredakan sesak di dadanya yang tersisa dari pergulatan semalam. Ia melirik ke arah pintu kamar yang tertutup. Di dalam sana, ada wanita yang hampir saja membuatnya menyerah pada takdir, sementara di depannya, ada pria yang rela melakukan apa saja—bahkan mengobrol dengan terapis asing di tengah malam—hanya untuk memastikan ia tidak mati muda.

"Terima kasih, Cakra. Kau selalu selangkah lebih depan dari nyawaku sendiri," gumam Biru.

"Memang itu tugas saya. Sekarang, habiskan minumannya. Saya sudah menyiapkan jadwal hari ini: dua jam relaksasi total, tanpa Nyonya Selena. Jantung Anda butuh jeda dari kehadirannya," perintah Cakra mutlak.

Biru hanya bisa mengangguk pasrah. Di satu sisi ia merasa terjebak dalam perhatian Cakra yang menyesakkan, namun di sisi lain, ia tahu bahwa tanpa minuman pahit ini dan ketegasan Cakra, ia mungkin tidak akan punya cukup detak jantung untuk melihat senyum Selena di meja makan nanti siang.

"Kalau anda merasa detak jantung anda sedikit terganggu karena berbagi ranjang dengan nyonya, mungkin saya bisa sediakan ranjang cadangan tuan?"

"Ranjang cadangan? Jangan menghinaku Cakra."

Biru terkekeh kecil. Ia sangat paham akan perhatian Cakra, dan ia juga tahu kalau semalaman ia mati-matian untuk tidak menyentuh Selena yang benar-benar sangat menggangu tidurnya.

Biru menyesap minuman rimpang itu hingga tandas, merasakan hangatnya menjalar ke seluruh rongga dadanya. Pertanyaan Cakra barusan membuatnya terkekeh kecil, sebuah tawa getir yang dipaksakan.

​"Ranjang cadangan tidak akan membantu jika aromanya masih tertinggal di setiap sudut ruangan ini, Cakra," gumam Biru sambil menatap kosong ke arah kolam renang infinity.

"Tuan, sepertinya anda benar-benar telah jatuh cinta pada Nyonya." ucap Cakra dengan wajah yang tiba-tiba sangat khawatir.

"Cinta? Jangan bercanda!"

***

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh.... lemah sekali ea
Rahmah Salam
semangat semangat,,😄
Rahmah Salam
thor lnjut lg dong...
Rahmah Salam
ikut terharu..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
kasihan biru..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
akankah dia tau..???/Sweat/
Rahmah Salam
waduhhh....jangan died dl thor....😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
kalau jin gimna....???
jin ouch jin sentuh itu selena...
Rahmah Salam
kontrak batal😎...misi sang mertua sukses...😄😄
Bhebz: wkwkwk
total 1 replies
Rahmah Salam
asin dong klau msh ada sisa air laut yg nempel😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ikuti alur nya seperti air yang menuju muara lalu bertemu lautan
Rahmah Salam
setidakx merasskan rasa happy di akhir hidupx.....😆
Rahmah Salam
dehhh....deg degan😆
Rahmah Salam
kira2 senakal apa sih biru dulu????😎
Rahmah Salam
jenis penyakit langka😎
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
penuh lika liku naik turun jurang dan tebing... hihihi....
Titin Riani
nunggu update lagi dong 😍
Titin Riani
jangan 😄
Titin Riani
keren nih thor
Titin Riani
harus jujur
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!