Aditya Pratama, pemuda yatim piatu yang dihina keluarga angkatnya, bekerja sebagai cleaning service di perusahaan konglomerat Pradipa Group. Hidupnya jungkir balik ketika secara tak sengaja menemukan liontin kuno di ruang rahasia sang pemilik perusahaan—yang ternyata adalah pusaka terakhir dari era dewa-dewa. Liontin itu mengaktifkan "Sistem Dewa Matahari", memberinya kemampuan melampaui nalar manusia. Dengan sistem ini, Aditya bertekad membalaskan dendam keluarganya, menaklukkan panggung dunia, dan menyingkap misteri di balik hilangnya para dewa 10.000 tahun yang lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Tujuh Prajurit
Prajurit Matahari pertama bergerak tanpa suara. Kakinya yang terbuat dari cahaya melesat di atas lantai batu, tangannya membentuk cakar yang menyambar ke arah dada Aditya.
Basic Combat Mastery langsung terpicu.
Serangan lurus, mengandalkan kecepatan. Hindari ke kiri, balas ke arah rusuk.
Aditya mengaktifkan Silent Step. Tubuhnya bergeser ke kiri—tepat saat cakar emas itu melewati bahunya. Pedang kayu diayunkan ke arah rusuk sang prajurit, bilahnya menyala jingga.
Duk!
Prajurit itu terhuyung. Cahaya di tubuhnya berkedip—seperti lilin yang nyaris padam—lalu stabil kembali. Tidak ada darah, tidak ada jeritan. Hanya getaran energi yang terasa di udara.
"Bagus," suara Kakek Seno bergema. "Tapi dia belum kalah."
Prajurit itu menyerang lagi. Kali ini kombinasi: cakar kiri, cakar kanan, lalu tendangan rendah. Aditya menangkis dua cakaran dengan pedangnya, tapi tendangan rendah mengenai betisnya.
Stamina: 85%.
Sakit. Tapi masih bisa bergerak.
Aditya memutar tubuhnya, memanfaatkan momentum tendangan lawan untuk berputar dan mengayunkan pedang ke arah leher.
Ssst!
Bilah kayu yang menyala menembus leher cahaya itu. Kali ini, Prajurit Pertama benar-benar padam—tubuhnya meleleh menjadi butiran cahaya yang terserap kembali ke tiang batu pertama.
Prajurit #1 dikalahkan. +150 Koin.
Level Kultivasi meningkat: 1 → 2.
Kekuatan: 15 → 18. Kecepatan: 14 → 17. Stamina: 20 → 25.
Aditya terengah. "Baru satu."
"Baru yang termudah," Kakek Seno muncul di sudut gua, duduk di atas batu sambil mengunyah sesuatu—biji-bijian dari kantong kain. "Masih ada enam lagi. Mau lanjut atau istirahat?"
Aditya menatap tiang batu kedua. Prajurit baru sudah mulai terbentuk—lebih besar, dengan lengan lebih panjang dan kuda-kuda lebih lebar.
Prajurit Matahari #2. Level: 4. Kekuatan: 42. Kecepatan: 28.
"Istirahat," kata Aditya, menjatuhkan diri ke lantai. "Lima menit."
"Pilihan bijak."
Aditya meneguk air dari botolnya. Udara di dalam gua terasa berbeda—lebih kaya, lebih penuh. Mungkin karena energi spiritual yang dikandungnya.
"Kakek Seno," panggilnya. "Kakek tadi bilang darah Pradipa mengalir di tubuhku. Bagaimana Kakek tahu?"
Kakek Seno menelan biji-bijiannya. "Karena aku sudah lama hidup, Nak. Dan karena mataku masih berfungsi." Ia menunjuk liontin Aditya. "Liontin Surya hanya merespons darah Pradipa. Itu aturan yang ditetapkan oleh leluhurmu sendiri—Dewa Matahari."
"Dewa Matahari adalah leluhur keluarga Pradipa?"
"Konon, dialah yang menurunkan tujuh kesatria pertama. Tujuh manusia yang diberi sebagian kecil kekuatannya. Mereka menjadi pendiri tujuh keluarga pemegang pusaka." Kakek Seno menatap langit-langit gua. "Tapi itu sudah ribuan tahun lalu. Sekarang, yang tersisa hanya keturunannya—termasuk kau."
Aditya menyentuh liontinnya. "Kenapa liontin ini memilihku?"
"Mungkin karena kau bersedia. Mungkin karena kau dibutuhkan." Kakek Seno melempar biji-bijian ke mulutnya lagi. "Atau mungkin nasibmu memang sudah tertulis. Terserah kau mau percaya yang mana."
"Kakek sendiri percaya apa?"
"Aku? Aku percaya bahwa kau menghabiskan waktu istirahatmu dengan banyak tanya." Kakek Seno menunjuk tiang kedua. "Prajuritmu sudah menunggu."
---
Prajurit kedua lebih lambat tapi lebih kuat. Aditya membutuhkan waktu hampir dua kali lebih lama untuk mengalahkannya. Satu pukulan telak mengenai bahunya dan membuat lengan kirinya mati rasa selama beberapa menit.
Tapi ia menang.
Prajurit #2 dikalahkan. +300 Koin.
Level Kultivasi: 2 → 3.
Kekuatan: 18 → 22. Kecepatan: 17 → 20. Stamina: 25 → 30.
Skill Silent Step naik ke Level 2: Peredaman suara 85%. Durasi 20 detik.
Prajurit ketiga datang dengan senjata—sebilah pedang cahaya. Aditya harus belajar menghindar sebelum menyerang, menggunakan Silent Step untuk mengelabui lawan yang levelnya lebih tinggi.
Prajurit #3 dikalahkan. +450 Koin.
Level Kultivasi: 3 → 4.
Kekuatan: 22 → 27. Kecepatan: 20 → 24. Stamina: 30 → 35.
Prajurit keempat menggunakan tendangan dan kuncian. Aditya nyaris patah tulang rusuk saat mencoba menangkis tendangan melingkar.
Prajurit #4 dikalahkan. +600 Koin.
Prajurit kelima—level 7—hampir mengalahkannya. Aditya terjatuh empat kali, bangkit empat kali. Jurus Surya yang baru dipelajarinya menyerap energi dari tiang-tiang batu, mempercepat pemulihan.
Prajurit #5 dikalahkan. +800 Koin.
Level Kultivasi: 4 → 6.
Skill Baru Dipelajari: Jurus Surya Level 3—memungkinkan penyerapan energi saat bertarung.
Sampai akhirnya, Prajurit keenam dan ketujuh maju bersamaan.
"Hei!" Aditya memprotes. "Katanya bertahap!"
"Aku bohong," jawab Kakek Seno dari pojokannya, masih mengunyah biji-bijian. "Dua terakhir selalu maju bersamaan. Itu tradisi."
---
Di luar gua, di kaki Gunung Gede, Maya berdiri di samping mobilnya. Sudah tiga hari sejak Aditya mendaki. Tidak ada kabar. Pelacak yang ia berikan menunjukkan titik diam di ketinggian 1800 meter—tidak bergerak sejak kemarin.
"Masih hidup atau sudah mati, Pratama?" bisiknya.
Ponselnya berdering. Alesha.
"Ada kabar?" suara Alesha tanpa basa-basi.
"Belum. Titiknya masih di tempat yang sama."
Hening sejenak.
"Besok genap seminggu," suara Alesha lebih pelan. "Kalau dia tidak turun juga, kau naik."
"Aku sudah siapkan tim. Tapi Nyonya—"
"Maya, kita sudah bertarung bersama. Panggil aku Alesha."
Maya tersenyum tipis. "Baik, Alesha. Besok aku naik."