NovelToon NovelToon
Mereka Adalah Suamiku

Mereka Adalah Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Wisa

⚠️ ***+ | Kisah Cinta segitiga

Valencia kehormatannya direnggut, hatinya terbelah.
Valencia hancur saat kehormatannya direnggut oleh Ansel—pria yang hadir diantara cinta Valencia dan Zyro,. Namun Zyro, kekasihnya yang sangat mencintainya, tetap ingin menerima apa adanya dan ingin menikahinya.

Keduanya mengaku mencintainya, keduanya tak ada mau mengalah. Perkelahian sengit pun terjadi, hingga di batas keputusasaan, Valentina harus melukai dirinya sendiri hanya agar mereka mau berhenti...

Melihat wanita yang mereka cintai terbaring penuh darah, akhirnya kedua pria itu mengambil keputusan berat: mereka berdua akan menikahi Valen dan berjanji menjaganya bersama-sama.

Dua pria, satu wanita.

Akankah cinta bisa menyatukan mereka, atau malah membawa pada kehancuran yang lebih dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Wisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Istana Mahardika

"Baiklah, Tuan Darma. Sejauh ini hanya itu yang ingin kami sampaikan," ujar Ansel dengan nada tenang dan sopan. "Untuk urusan selanjutnya serta pembahasan menentukan tanggal pernikahan nanti, kami akan datang kembali lagi bersama anggota keluarga kami untuk berdiskusi secara lengkap dan resmi."

Ansel berhenti sejenak, menatap wajah Pak Darma dengan pandangan yang tulus dan penuh harapan, lalu melanjutkan ucapannya.

"Kami ingin langsung mengadakan upacara pernikahan tanpa melalui masa pertunangan terlebih dahulu, Tuan. Kami berharap sekiranya Bapak bersedia dan berlapang dada menerima keputusan kami serta keberadaan kami di sisi Valencia."

Setelah menyampaikan maksudnya hingga tuntas, Ansel sedikit membungkukkan badannya tanda hormat. "Kalau begitu, kami permisi undur diri dulu, Tuan."

Zyro pun ikut membungkuk hormat di sampingnya, mengulangi ucapan pamit itu. "Kami pamit, Tuan Darma."

Selanjutnya, Valencia maju selangkah mendekati ayahnya. Ia menatap wajah Pak Darma yang masih tampak lekat dengan rasa penyesalan dan haru itu dengan senyum lembutnya.

"Papa, aku pamit dulu ya," ucapnya pelan namun jelas. "Semoga Papa selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan."

Pak Darma hanya bisa mengangguk perlahan, menahan isak tangisnya agar tidak kembali pecah. Ia hanya diam terpaku melihat kepergian putrinya, kali ini dengan perasaan yang jauh berbeda dari sebelumnya—rasa ikhlas, rasa hormat, dan rasa percaya bahwa Valencia kini berada di tangan yang tepat.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, Ansel dan Zyro masing-masing menggenggam tangan Valencia dengan erat dan lembut, seolah ingin menyampaikan ketenangan dan rasa aman lewat genggaman itu. Mereka berjalan bersama menuju mobil yang terparkir di halaman, melangkah pergi dari kediaman itu dengan perasaan lega dan bahagia karena akhirnya restu dari ayah Valencia sudah mereka dapatkan.

Mereka tidak langsung pulang. Tujuan perjalanan mereka kali ini adalah kediaman kakek Zyro, Tuan Mahardika—seorang tokoh terpandang dan dihormati, yang pasti akan sangat bahagia mendengar kabar bahwa cucu kesayangannya akhirnya menemukan wanita yang tepat untuk mendampingi hidupnya, sekaligus rencana besar yang telah mereka persiapkan bersama.

Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju kediaman keluarga Mahardika yang letaknya masih berada dalam satu kota. Tidak memakan waktu terlalu lama, akhirnya mobil yang mereka tumpangi melambat dan berhenti tepat di depan gerbang besar yang menjulang tinggi, tampak megah dan kokoh seolah pintu gerbang sebuah istana kerajaan. Di balik gerbang itu, tampak jelas bangunan mewah nan indah yang merupakan kediaman utama keluarga Mahardika, tempat tinggal orang-orang paling berpengaruh dan disegani di negeri ini.

Melihat pemandangan itu, ingatan Zyro perlahan melayang kembali ke masa lalu, mengenang masa-masa kecilnya yang manis namun penuh keterbatasan. Dulu, jauh sebelum kejadian buruk menimpa keluarganya dan kekecewaan besar zyro , Zyro sering kali dibawa diam-diam ke tempat ini oleh Neneknya—sang Nyonya Besar. Saat ayahnya sedang sibuk bekerja atau pergi ke luar kota, Neneknya sering menyempatkan diri datang diam-diam menjenguknya, atau membawanya ke sini untuk bermain dan beristirahat. Hubungan antara Neneknya dengan ayah dan ibunya memang tidak sekeras dan setegang hubungan mereka dengan Kakeknya, Tuan Mahardika. Bagaimanapun, bagi seorang ibu, kasih sayang kepada anak kandungnya tidak akan pernah putus atau hilang, seberat apa pun masalah yang ada di antara mereka. Apalagi ayah Zyro adalah anak satu-satunya, harapan dan kesayangannya. Begitu juga dengan sang Kakek. Meskipun selama ini terlihat keras, tegas, namun di lubuk hatinya yang paling dalam, ia sangat menyayangi Zyro. Bagaimanapun juga, Zyro adalah satu-satunya cucu laki-laki yang ia miliki, pewaris tunggal nama besar dan kekayaan keluarga Mahardika.

Zyro perlahan menurunkan sedikit kaca jendela mobilnya, membiarkan angin segar masuk dan menyapa wajahnya, sekaligus agar petugas keamanan di depan sana bisa melihat wajahnya dengan jelas. Saat salah satu petugas keamanan melangkah mendekat untuk menanyakan keperluan tamu yang datang, matanya tidak sengaja menatap wajah pria di balik jendela mobil itu. Seketika matanya terbelalak lebar, wajahnya memucat karena kaget dan tak percaya.

"Tuan Muda Zyro?!" seru petugas itu dengan suara tertahan, seolah tidak menyangka sosok yang selama ini sangat dirindukan oleh seluruh penghuni rumah itu kini ada tepat di hadapannya.

Tanpa membuang waktu sedikitpun, kedua petugas itu segera bertindak sigap. Salah satu langsung berlari ke sisi gerbang untuk segera membukanya lebar-lebar, sementara yang lain buru-buru mengambil alat komunikasinya dan langsung menghubungi bagian dalam kediaman untuk menyampaikan kabar yang sangat mendebarkan itu.

Di dalam kediaman, suasana seketika menjadi riuh dan heboh begitu kepala pelayan menerima panggilan dari pos penjagaan di depan. Mendengar kabar bahwa Tuan Muda Zyro telah tiba dan berada di depan gerbang, seluruh pelayan dan staf rumah tangga menjadi sangat sibuk dan bersemangat. Kepala pelayan dengan sigap segera memberikan instruksi kepada seluruh bawahannya untuk bersiap menyambut kedatangan tuan muda yang sangat dinanti-nantikan itu dengan sebaik-baiknya. Setelah memastikan semuanya berjalan lancar, kepala pelayan itu segera berlari tergopoh-gopoh menuju ke bagian belakang rumah, tepatnya ke arah gazebo yang asri dan sejuk di tepi kolam taman, tempat di mana saat ini Tuan Besar dan Nyonya Besar sedang duduk santai menikmati waktu bersama.

Sesampainya di sana, napasnya terengah-engah namun wajahnya berseri-seri penuh kegembiraan. Ia membungkuk hormat kepada kedua orang tua itu, lalu menyampaikan kabar gembira itu dengan suara yang bergetar karena antusias.

"Tuan, Nyonya Besar... Tuan Muda Zyro datang! Beliau ada di sini, sekarang!" serunya lantang namun sopan.

Berita itu seolah menjadi aliran listrik yang menyengat tubuh kedua orang tua lanjut usia itu. Mereka saling berpandangan dengan mata terbelalak penuh keterkejutan dan kebahagiaan yang tak terkira. Tanpa menunggu lama, mereka segera bersiap menyambut kedatangan cucu kesayangan mereka.

Sementara itu, di bagian depan kediaman, seluruh pelayan dan staf rumah tangga sudah berjejer rapi di sepanjang jalan menuju pintu utama, berdiri tegak dengan sikap hormat dan wajah berseri-seri. Begitu mobil Zyro berhenti tepat di depan tangga masuk, dan saat pintu mobil terbuka lalu Zyro turun diikuti oleh Valencia dan Ansel, serentak seluruh orang yang berbaris di sana menundukkan kepalanya tanda penghormatan yang setinggi-tingginya.

"Selamat datang, Tuan Muda Zyro!" sapa mereka serentak dengan suara yang lantang dan jelas, menggema memenuhi halaman depan yang luas itu.

Zyro mengangguk singkat sebagai tanda balasan salam, wajahnya tenang namun matanya memancarkan kerinduan yang mendalam. Ia melangkah masuk melewati pintu utama yang menjulang tinggi dan megah itu, diapit oleh Valencia di satu sisi dan Ansel di sisi lainnya. Sesampainya di ruang tengah yang luas dan mewah, Zyro langsung bertanya kepada kepala pelayan yang mengikutinya dari belakang.

"Di mana Oma?" tanyanya singkat namun tegas, suara beratnya terdengar jelas di ruangan yang hening itu.

"Maaf, Tuan Muda... Nyonya Besar sedang berada di bagian belakang mansion, di gazebo taman bersama Tuan Besar," jawab kepala pelayan dengan sopan dan hormat.

Tanpa ragu sedikitpun, Zyro langsung melangkah dengan cepat menuju bagian belakang rumah, tangan kanannya erat menggenggam tangan Valencia seolah tidak ingin melepaskan wanita itu sedikitpun. Di belakang mereka, Ansel mengikuti langkah mereka dengan tenang, sedikit menjaga jarak namun tetap berada di dekat mereka, seolah menjadi bayangan yang setia dan pelindung bagi keduanya.

1
Ichka Francisca
ceritanya menarik
Pena Wisa: bantu dukungannya ya kak ini novel perdananku
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!