Di papan catur Leone, Nora hanyalah sebuah bidak yang dipahat untuk menahan badai, sementara Stella adalah permata yang disembunyikan di balik sutra. Selama lima tahun, Nora berdiri sebagai tameng, meredam peluru dengan detak jantungnya sendiri demi pria yang tak pernah benar-benar melihatnya kecuali sebagai pelindung bagi cintanya yang sejati.
Namun, setiap baja memiliki titik retak.
Ketika takdir menyajikan dua cawan beracun di atas meja jati, Nora memilih untuk meminum rahasia yang paling kelam. Dia menukar tahta di pesisir California dengan mahkota berduri di ranjang hantu New York. Di kota yang tak pernah tidur, dia tidak datang untuk menjadi perawat bagi jiwa yang koma, melainkan untuk membangun kekaisaran dari sisa-sisa pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Garis di Ambang Kehancuran
Pagi buta di mansion Thorne biasanya hanya diisi oleh suara deburan ombak yang menghantam tebing di kejauhan dan langkah kaki para penjaga yang melakukan pergantian giliran di koridor luar. Namun, bagi Martha, pagi ini adalah sebuah misi rahasia yang jauh lebih berbahaya daripada menghadapi faksi musuh. Dengan syal yang melilit leher dan tudung kepala yang ditarik rendah, ia menyelinap keluar menggunakan mobil utilitas dapur yang biasa ia pakai untuk mengambil pesanan bahan makanan segar di pasar pagi.
Ia tidak pergi ke pasar. Tujuannya adalah sebuah apotek kecil di pinggiran kota yang jauh dari jangkauan mata-mata keluarga Thorne maupun Leone. Martha tidak hanya membeli satu, melainkan lima jenis testpack dari merk yang berbeda. Ia ingin kepastian yang absolut. Baginya, Nora bukan sekadar majikan; Nora adalah jiwa yang terluka yang sedang berusaha bertahan hidup di sarang serigala.
Kembali ke mansion, Martha langsung menuju kamar utama tanpa suara. Ia menemukan Nora sudah duduk di tepi tempat tidur, wajahnya masih pucat namun matanya menunjukkan kewaspadaan yang tajam. Demamnya telah turun, meninggalkan tubuh yang terasa ringan namun batin yang terasa berat oleh kecemasan.
"Ini, Nona," bisik Martha sambil menyerahkan sebuah kantong kertas cokelat yang disembunyikan di balik nampan berisi teh hangat dan roti panggang.
Tangan Nora bergetar saat menerima kantong itu. "Terima kasih, Martha. Tolong... jaga pintu. Jangan biarkan siapa pun masuk, meski itu Theo sekalipun."
"Tentu, Nona. Saya akan di luar."
Nora melangkah menuju kamar mandi marmer yang luas. Ruangan yang kemarin menjadi saksi keintiman yang ia kira adalah cinta, kini terasa seperti ruang eksekusi. Ia mengunci pintu dengan tangan yang dingin. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia bisa merasakannya di pangkal tenggorokannya.
Ia mengikuti instruksi pada kemasan dengan sangat teliti. Proses itu terasa seperti selamanya. Sambil menunggu urine meresap ke dalam serat sensor alat tersebut, segala macam pemikiran berkecamuk di kepala Nora. Ia teringat kembali pada malam-malam di mana ia membiarkan Adrian menutup matanya. Ia teringat pada foto Stella di ponsel pria itu. Ia teringat pada percakapan tentang "tameng" dan "hutang budi."
Jika aku hamil, apa yang akan kau lakukan, Adrian? batinnya pedih. Apakah anak ini akan menjadi alasanmu untuk mencintaiku, atau justru menjadi beban baru dalam rencanamu untuk Stella?
Nora menutup matanya rapat-rapat, tidak berani melihat ke arah wadah plastik kecil di atas wastafel. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan badai di dadanya. Setelah tiga menit yang terasa seperti tiga abad, ia akhirnya memberanikan diri untuk membuka mata.
Dua garis merah.
Nora berkedip berkali-kali, berharap itu hanyalah halusinasi akibat sisa demamnya. Namun, garis itu tetap di sana. Tegas. Nyata. Tanpa keraguan sedikit pun. Ia mengambil alat kedua, lalu yang ketiga. Hasilnya sama. Dua garis merah yang seolah berteriak padanya tentang sebuah kenyataan baru yang tak terelakkan.
Lutut Nora terasa lemas. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding toilet yang dingin, membiarkan permukaan marmer yang keras itu menopang berat bebannya. Air mata yang ia pikir sudah habis semalam, kini kembali mengalir perlahan. Bukan air mata bahagia, melainkan air mata yang penuh dengan ketakutan dan kesedihan yang mendalam.
"Kenapa sekarang?" bisiknya pada keheningan. "Kenapa saat aku tahu aku tidak pernah diinginkan?"
Pikiran Nora terbang pada posisi Adrian saat ini. Pria itu sedang pergi untuk mengurus bisnis, yang ia tahu kemungkinan besar berkaitan dengan masa depan Stella. Jika Adrian tahu tentang kehamilan ini, apakah ia akan tetap membuang Nora ke New York? Ataukah ia akan memaksa Nora tinggal hanya sebagai inkubator bagi ahli waris Thorne, sementara hatinya tetap milik Stella?
Nora bangkit dengan perlahan. Ia tidak boleh hancur sekarang. Ia harus tetap tenang. Ia mengambil sebuah kotak kayu berukir kecil yang diletakkan di sudut lemari riasnya—satu-satunya harta peninggalan ibunya yang selalu ia bawa ke mana pun ia pergi. Kotak itu berisi kenangan tentang seorang ibu yang juga menderita dalam diam demi cinta yang salah.
Dengan gerakan yang penuh simbolisme yang pahit, Nora mengambil kain sutra hitam yang semalam dilemparkannya ke arah Adrian. Kain yang telah menjadi simbol kebutaan dan pengkhianatan itu kini ia hamparkan di dasar kotak kayu. Di atas kain sutra hitam itu, ia meletakkan testpack yang baru saja ia pakai.
Kontrasnya begitu menyakitkan: garis merah kehidupan di atas kain hitam yang melambangkan kebohongan cinta mereka.
Nora menatap benda itu dengan sendu yang tertahan. Ada bagian dari dirinya yang ingin berteriak memberi tahu Adrian, menagih tanggung jawab, dan meminta pria itu memilihnya di atas segala-galanya. Namun, bagian lain dari dirinya—bagian yang baru saja "patah"—memperingatkannya bahwa di dunia Thorne, kebenaran sering kali dihancurkan oleh ambisi.
Ia menutup kotak kayu itu perlahan, mendengar bunyi klik yang menandakan rahasia itu kini terkunci rapat.
"Aku perlu memastikan lagi besok pagi," gumamnya pada dirinya sendiri, mencoba mencari celah untuk menyangkal takdir. "Hanya untuk benar-benar yakin."
Nora membersihkan wastafel, menghapus semua jejak aktivitasnya pagi itu. Saat ia keluar dari kamar mandi, Martha segera mendekat dengan tatapan penuh tanya. Nora hanya menggeleng lemah, sebuah isyarat bahwa ia belum siap untuk membicarakannya, meskipun wajahnya yang pucat dan matanya yang merah sudah menceritakan segalanya.
Adrian belum pulang. Mansion itu terasa lebih luas dan lebih kosong dari biasanya. Mawar-mawar di taman mungkin masih mekar di luar sana, namun di dalam kamar utama, musim gugur telah tiba lebih awal bagi Nora Leone. Ia duduk di dekat jendela, mendekap kotak kayu ibunya, menanti kepastian kedua di esok hari sambil bertanya-tanya: Sampai kapan mawar ini harus bertahan dalam dinginnya pengkhianatan?