NovelToon NovelToon
Shan Luo

Shan Luo

Status: tamat
Genre:Action / Balas Dendam / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: Agen one

“Demi ibu, apa pun akan kulakukan!”

Dianggap sampah oleh ayahnya sendiri karena tak memiliki bakat kultivasi, Shan Luo hidup dalam hinaan. Demi melindungi ibunya, ia memilih pergi meninggalkan segalanya.

Takdirnya berubah saat ia menemukan sebuah gua misterius yang menyimpan warisan terlarang: Sabit Jiwa Kegelapan.

Dengan kekuatan itu, Shan Luo bersumpah
“Aku akan membalas semua yang menghina aku dan ibuku!”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Kota Linyi

​Matahari mulai condong ke barat, membiaskan warna jingga kemerahan di atas tembok tinggi Kota Linyi.

Kota ini jauh lebih hidup dibandingkan wilayah terpencil Klan Shan, aroma rempah, riuh rendah pedagang, dan derap kaki kuda memenuhi udara.

​Di tengah keramaian itu, seorang pemuda dengan beberapa helaian rambut putih yang mencolok berjalan dengan langkah berat namun stabil. Di punggungnya, seorang wanita kurus bersandar dengan tenang.

​“Shan’er ...”

​Suara lemah itu membuat langkah Shan Luo terhenti seketika. Ia sedikit menoleh, memastikan beban di punggungnya tetap nyaman. “Ya, Ibu? Ada apa? Apa ada bagian tubuh Ibu yang sakit? Atau Ibu merasa haus?”

​Xue Ling tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gemerincing lonceng yang retak, lemah namun masih membawa kehangatan. Jemarinya yang pucat mengusap lembut pipi Shan Luo yang mulai menirus.

​“Anak Ibu sudah besar sekali ya ...” bisiknya haru. “Padahal rasanya baru kemarin Ibu yang menggendongmu, menyanyikan lagu pengantar tidur saat kau menangis karena terjatuh. Sekarang, justru Ibu yang berada di punggungmu.”

​Shan Luo tersenyum tipis, sebuah ekspresi langka yang hanya ia tujukan untuk wanita ini. “Tidak apa-apa, Bu. Selama nyawaku masih berembus, aku akan berusaha mati-matian untuk membahagiakanmu. Menggendong Ibu sejauh ini tidak ada apa-apanya dibanding penderitaan yang Ibu tanggung selama bertahun-tahun.”

​Xue Ling memeluk leher putranya lebih erat. Ada rasa bangga yang menyeruak di dadanya, namun terselip kesedihan mendalam saat melihat rambut putih di kepala anaknya—sebuah tanda pengorbanan yang tidak pernah Shan Luo ceritakan secara jujur padanya.

​“Terima kasih, Nak ... terima kasih sudah tidak menyerah pada Ibu.”

​Saat mereka melintasi alun-alun kota menuju pinggiran untuk mencari tempat beristirahat, langkah Shan Luo tertahan di depan sebuah papan pengumuman besar yang dikerumuni banyak orang.

​[TURNAMEN TAHUNAN KOTA LINYI – 60 HARI LAGI]

Hadiah Utama: 100 Tael Emas & Satu Artefak Kelas Bumi.

​Mata Shan Luo menyipit. Seratus tael emas? Angka itu terus berputar di kepalanya.

Dengan uang sebanyak itu, ia bisa membeli obat-obatan kualitas tinggi dari balai alkimia untuk memulihkan meridian ibunya yang rusak.

Ia bahkan bisa membeli rumah kecil yang layak dan hidup tenang tanpa harus terus-menerus lari.

​“Ada apa, Shan’er? Apa yang kau lihat?” tanya Xue Ling penasaran.

​Shan Luo segera memalingkan wajah, menyembunyikan kilatan ambisi di matanya. Ia tidak ingin ibunya khawatir tentang ia yang harus bertarung lagi.

​“Tidak ada apa-apa, Bu. Aku hanya baru saja melihat seekor burung yang warnanya sangat indah ... seindah Ibu,” ucapnya berbohong dengan nada jahil.

​Xue Ling tersipu, wajah pucatnya sedikit merona. “Bisa saja kau ini. Sudah, ayo jalan lagi. Ibu tidak ingin kau kelelahan.”

​Setelah berkeliling cukup lama, Shan Luo akhirnya menemukan sebuah penginapan kecil di pinggiran kota, dekat dengan perbatasan hutan. Tempatnya cukup sunyi, jauh dari kebisingan pasar, dan yang terpenting: murah.

​Ia menyewa sebuah kamar dengan paviliun kecil yang memiliki halaman belakang yang nyaman.

Untungnya, selama lima tahun ini ia sempat mengumpulkan beberapa keping emas dan perak dari hasil berburu hewan liar secara sembunyi-sembunyi di Klan Shan.

​Shan Luo merebahkan ibunya di atas kasur yang, meski keras, jauh lebih layak daripada lantai gubuk mereka yang lama.

​“Ibu istirahat saja dulu. Aku akan memasak sesuatu untuk Ibu,” ucap Shan Luo sambil menyelimuti ibunya.

​Xue Ling menatap langit-langit kamar dengan pandangan bersalah. “Maafkan Ibu, Shan’er ... Ibu pasti sangat merepotkanmu.”

​Shan Luo menghentikan gerakannya. Ia menatap mata ibunya dengan serius. “Ibu adalah tanggung jawabku. Ibu adalah duniaku. Jangan pernah mengatakan kata 'merepotkan' lagi.”

​Setelah memastikan ibunya tertidur, Shan Luo keluar menuju dapur umum penginapan. Pikirannya melayang jauh. Ia tahu bahwa Shan Feng, pria iblis itu, pasti akan mengirim pengejar.

"​Bajingan itu pasti takut jika berita tentang keberadaan Ibu sampai ke telinga Klan Es di Benua Binghuo," batin Shan Luo geram.

​Ia belum pernah ke Benua Binghuo, namun dari cerita ibunya, itu adalah tempat di mana para Pendekar api dan es menguasai segalanya.

Jika mereka tahu salah satu mantan anggota mereka diperlakukan seperti sampah, Klan Shan mungkin akan lenyap dari peta dalam semalam.

​Shan Luo segera pergi ke pasar terdekat untuk membeli bahan makanan. Ia membeli beras terbaik, sayur-sayuran segar, dan beberapa potong daging yang masih segar.

"​Ibu harus cepat sehat. Nutrisi adalah kunci utama selain obat-obatan," pikirnya penuh semangat.

​Namun, semangatnya langsung berbenturan dengan realita saat ia berdiri di depan tungku tanah liat di dapur penginapan.

Selama ini, ibunya yang selalu memasak. Shan Luo hanya tahu cara menghancurkan sesuatu, bukan mengolahnya.

​Ia memasukkan kayu bakar ke dalam lubang tungku. Ia mencoba menyalakan api menggunakan batu pemantik.

​Tik! Tik! Tik!

​Percikan api muncul, namun kayu itu tidak kunjung terbakar. Asap mulai mengepul, namun api tak kunjung membesar.

​“Kenapa sulit sekali?” gerutunya.

​Shan Luo berlutut di depan tungku, wajahnya sangat dekat dengan lubang api. Ia mengambil sebuah bambu kecil untuk meniup bara api di dalamnya.

​Fuuuuh! Fuuuuuh!

​Bukannya api yang menyala, angin yang ditiupnya justru menerbangkan abu sisa pembakaran yang halus.

​Puff!

​Sekejap, kepulan asap hitam dan debu jelaga menghantam wajahnya telak. Shan Luo terbatuk-batuk hebat, matanya perih dan berair.

Ia mengusap wajahnya dengan tangan yang juga sudah kotor terkena arang, membuat noda hitam itu semakin merata di seluruh wajahnya.

​Ia tidak menyerah. Ia mencoba lagi. Masalahnya, kayu yang ia gunakan ternyata agak lembap. Setiap kali ia meniup, asap hitam semakin pekat menyelimuti dapur.

​Setengah jam berlalu. Suasana dapur sudah seperti medan perang.

​Shan Luo akhirnya berhasil menyalakan api, namun penampilannya sudah tidak keruan.

Rambut putih dan hitamnya tertutup abu kelabu, sementara wajahnya benar-benar gosong kehitaman, menyisakan hanya bagian matanya yang jernih dan gigi putihnya saat ia menghela napas lega.

​“Akhirnya ...” gumamnya sambil melihat panci bubur yang mulai mendidih.

​Tiba-tiba, ia merasakan kehadiran seseorang di pintu dapur.

​Xue Ling berdiri di sana, bersandar pada kusen pintu sambil menutup mulutnya. Matanya membelalak, lalu perlahan tawanya pecah. Tawa yang paling lepas yang pernah Shan Luo dengar dalam lima tahun terakhir.

​“Shan’er ... kau ... kau sedang memasak atau sedang berperang dengan arang?” tanya Xue Ling di sela tawanya yang geli.

​Shan Luo mengerjap, lalu melihat pantulan wajahnya di permukaan air di dalam tempayan. Ia mematung.

Wajahnya benar-benar hitam pekat seperti pantat kuali, kontras dengan helaian rambut putihnya yang kotor.

​“I-ibu ... ini demi nutrisi!” bantah Shan Luo malu, mencoba mengusap wajahnya namun justru membuat noda hitam itu meluas ke lehernya.

​Xue Ling mendekat, mengambil kain basah, dan mulai menyeka wajah putranya dengan penuh kasih sayang. “Anak bodoh ... lain kali, biarkan Ibu yang mengajarimu. Kau boleh menjadi pembunuh monster yang hebat, tapi untuk urusan tungku, kau masih bayi.”

​Di bawah cahaya temaram dapur dan aroma bubur daging yang mulai harum, Shan Luo merasakan kebahagiaan sederhana yang selama ini dirampas darinya.

Meski wajahnya gosong dan jiwanya cacat, setidaknya untuk saat ini, ia bisa mendengar ibunya tertawa lagi.

​Namun, di dalam hatinya, ia berjanji: "Dua bulan lagi, di turnamen itu, aku akan membuktikan bahwa tanganku ini bisa melakukan lebih dari sekadar meniup tungku. Aku akan menggenggam takdirku sendiri."

1
Ajipengestu
lanjut thor👍
Iwa Kakap
ribet amat thor
Beni: itu cuma penjelasan naik ranah sama kesulitannya aja. gak perlu di pikirin hehe. /Pray/
total 1 replies
angin kelana
ayooooo jdi juara💪💪💪
Beni
oke... 😐
Beni
😛
Beni
/Hunger//Sweat/
Beni
😐
Beni
oke... 😐
angin kelana
semangat bertarung💪💪💪
angin kelana
anak baik👍
angin kelana
semangaaat menjadi kuat..
angin kelana
ayo buktikan kekuatanmu💪💪💪
angin kelana
ayoooo lebih kuat lg
angin kelana
lanjuuuttt...
angin kelana
kalo untuk pengenalan bole lah pake english tpi ke depannya gak usah ajah ini kan fantasi timur bukan barat..lanjut👍
Beni: nanti di revisi ya, terima kasih/Pray/
total 1 replies
angin kelana
lanjuuuttt..
angin kelana
dunia yg kejam.😬
Beni
😐
Jade Meamoure
bagus 🤣🤣🤣
Jade Meamoure
Yan Bingchen bukankah itu patriarki sekte es ya
Beni: Pendekar es dan api
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!