Di tengah gemerlap Jakarta yang kontras, Nara Indira (25) menjalani kehidupan ganda yang berbahaya. Di bawah cahaya aula megah, ia adalah penari tradisional yang agung, namun di kegelapan Club Black Rose, ia bertransformasi menjadi penari erotis demi membiayai pengobatan kanker darah ibunya. Nara adalah wanita yang dingin, efisien, dan sangat menjaga harga dirinya di tengah profesi yang dianggap nista oleh dunia.
Takdir mempertemukannya dengan Bagaskara, CEO muda dari Prawijaya Group yang baru saja melangsungkan pertunangan bisnis dengan Sinta Mahadewi. Pertemuan tak sengaja di klub malam memicu obsesi gelap dalam diri Bagaskara. Terpesona oleh misteri dan ketegasan Nara, Bagaskara menawarkan harta demi satu malam bersama, sebuah tawaran yang ditolak mentah-mentah oleh Nara meski ia sedang terhimpit kebutuhan medis yang mendesak.
Konflik memuncak saat rahasia Nara mulai terancam dan Sinta menyadari perhatian tunangannya terbagi. Di antara perbedaan status sosial yang jurang dan tekanan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lemari Kertas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jerat di Balik Pintu Terkunci
Lampu jalanan yang temaram menyambut langkah gontai Nara saat ia turun dari taksi. Tubuhnya terasa remuk, bukan hanya karena gerakan provokatif yang ia lakukan di Club Amor, tapi karena beban mental yang seolah menghimpit dadanya hingga sesak. Aroma alkohol dan asap rokok seolah masih menempel di pori-pori kulitnya, membuat mual itu kembali naik ke kerongkongan.
Dengan tangan gemetar, Nara membuka pintu rumahnya yang sederhana. Keadaan sunyi senyap. Ia segera mengunci pintu dari dalam dan menyandarkan punggungnya di sana.
"Hanya sebentar lagi, Ibu. Aku akan membawa kita keluar dari sini," bisiknya lirih, seolah menyemangati diri sendiri di tengah keputusasaan.
Tanpa menyalakan lampu ruang tamu, Nara menyelinap ke kamar mandi. Ia butuh air dingin untuk membasuh semua noda semu yang ditinggalkan tatapan pria-pria di klub tadi. Di bawah kucuran pancuran, Nara mendengus pelan lalu menarik nafas panjang. Bayangan tamu VIP yang memotretnya terus menghantuinya. Bagaimana jika foto itu menyebar? Bagaimana jika identitasnya sebagai penari tradisional hancur?
Setelah merasa cukup bersih, Nara melilitkan handuk putih di tubuhnya. Ia keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang menjuntai, menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Namun, saat tangannya meraih saklar lampu kamar, jantungnya seolah berhenti berdetak.
Di atas kursi kayu di sudut kamarnya, sesosok pria duduk dengan kaki menyilang, menatapnya dengan seringai yang membuat darah Nara membeku.
"Romi?" suara Nara tercekat di tenggorokan.
Pria itu berdiri, pelan dan penuh ancaman.
"Lama sekali mandinya, Ra. Aku sudah menunggu hampir satu jam. Kamu harum sekali malam ini."
"Keluar! Bagaimana kamu bisa masuk?!" Nara mundur selangkah, namun Romi dengan cepat melompat dan mengunci pintu kamar dari dalam. Klik. Bunyi kunci itu terdengar seperti vonis mati.
"Jangan berteriak, Sayang. Tidak akan ada yang menolongmu jam begini," Romi mendekat, matanya menyapu tubuh Nara yang hanya tertutup handuk. "Aku masuk lewat jendela belakang. Grendelnya sudah lama rusak, kan? Harusnya kamu lebih hati-hati kalau tinggal sendirian."
"Pergi dari sini, Romi! Atau aku akan berteriak!" Nara mencoba bicara tegas meski kakinya lemas.
Romi tertawa, suara tawa yang kering dan menjijikkan. "Berteriaklah. Biar semua tetangga tahu kalau tetangga mereka yang tampak 'alim' ini membawa pria masuk ke kamarnya tengah malam. Kamu mau itu terjadi?"
"Apa maumu?"
"Aku sudah bilang, Nara. Jadi istri keduaku. Aku akan menganggap lunas hutangmu yang seratus juta itu. Kamu pikir dari mana kamu bisa dapat uang sebanyak itu dalam tiga hari? Kamu itu cuma penari kampung, Ra! Jangan bermimpi bisa melunasinya kalau bukan aku yang merelakannya untuk dianggap lunas!"
"Hutang itu akan kubayar! Aku janji!"
"Pakai apa? Pakai tubuhmu?" Romi melangkah maju, memangkas jarak. "Tinggal beberapa hari lagi tenggat waktunya. Kalau kamu tidak bisa bayar, aku tidak akan segan-segan menyeretmu ke jalur hukum, atau lebih buruk lagi, aku sita rumah ini dan kubiarkan ibumu yang sakit-sakitan itu terlunta-lunta di jalanan."
"Kamu memang gila, Romi!"
"Aku hanya menagih hakku!" Romi mendesis, kemarahannya tersulut. Ia mencengkeram pergelangan tangan Nara dan menghempaskannya ke tempat tidur. "Jangan berlagak suci. Kamu butuh aku untuk selamat!"
Romi tidak peduli lagi. Nafsu dan ego lelakinya sudah di puncak. Ia menindih tubuh Nara, tangannya mulai gerilya dengan kasar, merobek pertahanan Nara.
"Diamlah! Nikmati saja, setelah ini hidupmu akan terjamin!"
Di tengah pergulatan yang brutal itu, tangan Nara meraba-raba nakas di samping tempat tidur. Ujung jarinya menyentuh benda pipih. Ponselnya. Dengan gerakan refleks yang dipicu adrenalin, ia menekan tombol speed dial nomor Bagaskara.
Di sisi lain kota, Bagaskara sedang berdiri di balkon kamarnya, menatap langit malam dengan perasaan tidak tenang. Ponsel di sakunya bergetar. Ia segera mengangkatnya tanpa melihat nama pemanggil.
"Nara?"
Hening sesaat, lalu suara jeritan yang menyayat hati terdengar dari seberang telepon.
"Lepaskan! Romi, jangan! Tolong! Tolong aku!"
Suara gedebuk dan napas terengah-engah Romi yang sudah dikuasai nafsu dan terus berusaha meruntuhkan pertahanan Nara terdengar jelas lewat sambungan telepon yang masih aktif. Darah Bagas mendidih seketika. Matanya menyala karena amarah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tanpa pikir panjang, ia berlari keluar kamar.
Di ruang tengah, langkahnya sempat terhenti saat melihat seseorang keluar dari arah dapur, ibunya. Namun, Bagas tidak memedulikan sapaan itu. Ia terus berlari menuju pintu depan, menyambar kunci mobil, dan memacu kendaraannya keluar dari gerbang dengan kecepatan gila.
Sementara itu, di sebuah apartemen mewah, Sinta Mahadewi menatap layar ponselnya yang menampilkan foto kiriman Vanya. Alisnya bertaut. "Penari klub malam? Kenapa Vanya mengirimkan foto-foto murahan seperti ini? Wajah penari hampir telanjang ini saja tidak jelas," gumamnya kesal. Lalu ia melupakan foto yang ia kira dikirim iseng oleh temannya itu, berusaha tak memperdulikannya lagi. Ia mencoba menghubungi Bagas berkali-kali, namun panggilannya selalu dialihkan.
Sinta berjalan mondar-mandir di kamarnya. Firasatnya memburuk. Mengapa Bagas belakangan ini sulit dihubungi? Dan mengapa ia merasa Bagas sedang menyembunyikan sesuatu yang sangat besar darinya?
Kembali ke rumah Nara, sebuah motor berhenti dengan kasar di ujung jalan. Sarah, istri Romi, turun dengan wajah yang merah padam. Ia sudah memantau suaminya sejak sore. Ia melihat beberapa warga yang sedang berjaga di pos kamling dan segera menghampiri mereka sambil berteriak histeris.
"Pak! Tolong saya! Suami saya... saya melihatnya masuk ke rumah Nara! Saya takut mereka sedang melakukan perbuatan zina!"
Para warga yang memang sudah lama menaruh curiga pada Nara dan Romi yang sering datang akhir-akhir ini, segera terpancing emosinya.
"Ayo! Kita gerebek saja! Jangan biarkan kampung kita dikotori!" seru salah satu warga.
Rombongan itu bergerak cepat. Mereka menyerbu masuk ke rumah Nara yang pintunya sudah dicongkel Romi sebelumnya.
BRAAAKKK!
Pintu kamar Nara hancur didobrak paksa.
Pemandangan di dalam sana membuat warga berteriak geram. Romi sedang berada di atas tubuh Nara yang hanya terlilit handuk yang sudah melorot. Tangan Romi masih mencengkeram bahu Nara, sementara Nara sedang berteriak berusaha melepaskan diri aga Romi tidak berhasil menembus kesuciannya.
"ASTAGFIRULLAH! Benar-benar biadab!" teriak warga.
Sarah berteriak histeris, "Mas Romi! Tega sekali kamu!" Ia menerjang maju dan menjambak rambut Nara yang masih terbaring lemas. "Dasar pelakor! Perempuan murahan! Kamu sengaja menggoda suamiku di rumah ini!"
"Tidak! Tidak seperti itu! Dia memaksa masuk dan memaksaku untuk melayaninya!" Nara merintih keras, mencoba menutupi tubuhnya dengan kain seadanya.
Namun Romi, dengan liciknya, segera berdiri dan merapikan pakaiannya. Ia memasang wajah menyesal namun penuh kemenangan.
"Maafkan saya, warga. Kami, kami memang khilaf. Tapi saya mencintai Nara, saya bersedia bertanggung jawab dan menikahinya."
"Sudah, jangan banyak alasan!" Pak RT membentak. "Sudah tertangkap basah begini masih mau mengelak? Bawa mereka ke depan!"
Warga mulai menarik paksa Nara dari tempat tidur. Mereka menyeretnya keluar menuju teras, mengabaikan tangisannya. Nara merasa dunianya runtuh. Di tengah caci maki warga dan senyum licik Romi yang merasa yakin akan segera mendapatkan Nara secara sah, sebuah cahaya lampu mobil yang sangat terang menyilaukan mata semua orang.
Sebuah mobil sport hitam berhenti dengan derit ban yang memekakkan telinga tepat di depan halaman. Pintu mobil terbuka dengan bantingan keras.
"LEPASKAN DIA!"
Suara Bagaskara menggelegar, menghentikan keributan warga seketika. Ia melangkah maju dengan aura yang sangat mengintimidasi, matanya tertuju lurus pada Romi yang masih memegang lengan Nara.
"Siapa kamu? Jangan ikut campur urusan kampung kami!" tantang salah satu warga.
Bagas tidak membalas ucapan warga itu. Ia terus melangkah mendekat, lalu meraih tangan Romi dan memelintirnya dengan gerakan cepat hingga pria itu mengaduh kesakitan. Dia geram Romi masih berusaha menjahati Nara. Lalu dengan kesal dihantamnya wajah Romi tanpa sempat lelaki itu mengelak.
"Sekali lagi kalian menyentuhnya, aku pastikan tangan kalian tidak akan pernah bisa digunakan lagi," desis Bagas dingin.
Nara menatap Bagas dengan pandangan kabur oleh airmata yang hampir tumpah, seolah melihat penyelamat di tengah neraka. Namun, Bagas justru menatap semua warga dengan sorot mata yang sulit diartikan, lalu ia mengeluarkan sesuatu dari balik saku jasnya.
"Kalian ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana?" tanya Bagas sambil mengangkat ponselnya yang masih terhubung dengan sambungan telepon Nara, yang secara otomatis merekam seluruh kejadian sejak awal.
Suasana mendadak hening, suara rekaman diputar dan terdengarlah jeritan Nara yang meminta tolong juga suara Romi yang memaksa menggagahinya. Namun, Sarah yang sudah kadung cemburu berteriak keras ke arah semua orang.
"Jangan percaya dia! Dia ini juga pasti simpanan pengusaha ini! Lihat saja mobilnya! Pasti dia juga lelaki kaya beristri yang menyimpan pelacur ini!"
Di tengah ketegangan itu, Nara melihat Bagas mengepalkan tangannya kuat-kuat. Bagas tahu, jika ia membongkar kebenaran sekarang, reputasi Nara mungkin selamat dari fitnah zina, tapi rahasia tentang hutang seratus juta itu akan menjadi konsumsi publik.
"Pilihannya cuma dua," Bagas berbisik cukup keras hingga didengar warga. "Kalian lepaskan dia sekarang, atau aku akan membawa masalah ini ke jalur hukum! Termasuk kamu yang sudah memfitnah Nara!" tunjuknya pada Sarah.
Semua orang terdiam dan jadi bertanya-tanya. Siapakah sebenarnya Bagaskara? Mengapa dia begitu berani menantang massa demi seorang gadis yang baru ia kenal?
Cerita nya gak terlalu ngawang, khas Dan gak mudah ditebak next chapter nya. meskipun genre sama tapi aku selalu menemukan yg berbeda Dan itu bikin aku selalu nunggu Update nya.
semangattt, aku selalu nunggu...
Jatuh hati sama Nara, stay strong and be yourself♥️😊