Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.
Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Kembali
Sudah sebulan penuh berlalu. Tiga puluh hari terasa begitu lama dan berat bagi Langit.
Hingga saat ini, Gadis belum juga dikembalikan oleh Anin. Tidak ada kabar, tidak ada telepon, dan tidak ada tanda-tanda kapan wanita itu akan kembali ke sisinya.
Langit merasa bingung dan gelisah. Entah sihir apa yang sebenarnya dilakukan oleh Anin, hingga membuat kekasih hatinya itu seolah betah dan tidak mau pulang menemuinya. Apakah Gadis lupa padanya? Atau ada alasan lain yang membuatnya ditahan?
Pikiran-pikiran itu terus menghantui benak Langit setiap detiknya.
Rumah besar yang dulu terasa hangat karena kehadiran Gadis, kini terasa begitu dingin dan sepi. Setiap sudut ruangan seolah memantulkan bayang-bayang wajah wanita itu, membuat Langit semakin sesak napas jika berada di sana.
Karena malas menghadapi kesepian dan bayang-bayang kenangan itu, Langit pun enggan untuk pulang ke rumah. Ia memilih untuk menetap di perusahaannya.
Kamar pribadi yang ada di ruang kerjanya kini menjadi tempat tinggal barunya. Di sana, ia mencoba membiarkan dirinya tenggelam dalam tumpukan pekerjaan, berharap kesibukan bisa sedikit membius rasa rindu yang menyiksa dadanya.
Namun, sekeras apa pun ia berusaha sibuk, saat malam tiba dan ia terbaring sendirian di kasur yang asing itu, nama Gadis tetaplah satu-satunya yang terngiang di dalam kepalanya.
****
Pagi itu suasana di lobi Mahesa Group terlihat seperti biasa, sibuk dan profesional. Namun, semua mata para pegawai dan tamu yang berada di sana seketika teralihkan oleh kedatangan seorang wanita.
Wanita itu sangat cantik, manis, bertubuh mungil namun memancarkan aura yang sangat dewasa, elegan, dan berkelas. Siapa lagi kalau bukan Gadis!
Ia berjalan dengan percaya diri mendekati meja resepsionis.
"Maaf, apakah Tuan Langit sudah datang ke kantor?" tanya Gadis lembut namun tegas.
Resepsionis wanita itu menatapnya sejenak, lalu menjawab dengan sopan,
"Bapak Langit ada di ruangan, Bu. Tapi... mohon maaf, jika Anda belum membuat janji temu sebelumnya, kami tidak bisa mengantar Anda masuk ke ruangan beliau."
Gadis tersenyum tipis, ia tidak memaksa atau marah. Ia memilih duduk manis di sofa ruang tunggu, lalu mengeluarkan ponselnya dari tas.
Jari lentik itu mengetik nomor yang sangat ia hafal.
Tuuut... Tuuut...
"Halo?"
Suara berat dan serak Langit terdengar dari seberang sana, terdengar sedikit lemas.
"Ya sayang?" panggil Langit pelan.
"Aku di lobi..." jawab Gadis pelan. "Aku tidak bisa masuk menemui kamu, katanya harus ada janji dulu."
DEGH!!
Jantung Langit seakan berhenti berdetak. Ia pikir ini mimpi! Apakah telinganya salah dengar?
Tanpa sadar tangan besar itu langsung menampar pipinya sendiri keras-keras.
"PLAK!"
"Aduh!"
'Sakit! Ternyata ini nyata! Dia ada di sini!'
"Iya sayang, tunggu sebentar! Aku akan turun sekarang! Aku jemput kamu!" teriak Langit antusias, langsung memutuskan sambungan dan berlari keluar.
Di belakangnya, Charlie yang melihat kelakuan aneh tuannya itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil bergumam,
"Astagaa... ini bos sudah gila kali ya karena nahan kangen setengah mati..."
Langit berjalan dengan langkah lebar dan sangat cepat. Ia bahkan tidak peduli mematikan komputer atau merapikan berkasnya. Dari lantai 35, ia langsung menekan tombol lift menuju lantai dasar.
Saat pintu lift terbuka dan Langit berjalan keluar dengan wajah yang penuh semangat, seluruh orang di lobi terpana!
Mereka tidak menyangka sang CEO mau turun tangan sendiri ke lobi hanya untuk menjemput seseorang!
Mata semua orang tertuju pada sosok Gadis yang duduk manis, lalu melihat bagaimana Langit langsung menghampirinya dengan senyum lebar yang jarang sekali dilihat orang lain.
Namun, di antara decak kagum dan terpesona itu, terselip juga bisik-bisik jahat dari para karyawan yang belum tahu kebenaran.
'Eh itu siapa ya? Cantik banget...'
'Pasti itu simpanan baru Pak Langit lah...'
'Iya kan, soalnya kan Pak Langit istrinya kan Bella Safira Wijaya, jadi cewek ini pasti cuma pelarian...'
Rasa iri dan dengki mulai bermunculan, mengira Gadis hanyalah wanita simpanan semata. Mereka tidak tahu bahwa wanita inilah yang paling berhak dan paling dicintai oleh sang CEO!
Langit benar-benar terpaku diam.
Ia takjub melihat penampilan kekasihnya hari ini. Gadis terlihat begitu berbeda namun tetap cantik luar biasa. Wanitanya itu kini memancarkan aura yang jauh lebih dewasa, tenang, dan elegan.
Meski terlihat matang, Gadis tetaplah Gadis. Ia tidak berdandan menor atau berlebihan seperti wanita lain, dan ia juga tidak memakai pakaian yang terbuka atau seksi.
Outfit yang dikenakannya sangat simpel namun mahal harganya kemeja putih yang rapi dipadukan dengan celana panjang warna hitam. Terlihat sangat sopan, rapi, dan memancarkan kesan wanita berkelas.
"Hah..." gumam Langit pelan tak sadar, matanya tak berkedip menatap wanita itu dari ujung kaki sampai ke ujung kepala.
Melihat Langit yang cengo dan diam saja seperti patung, Gadis pun tersenyum malu. Ia melambaikan tangan kecilnya tepat di depan wajah pria itu.
"Hai... Sayang?" panggilnya lembut.
Langit tersentak sadar. Rasa rindu yang sudah menumpuk sebulan penuh meledak seketika. Tanpa pikir panjang ia langsung merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, ingin langsung menerkam dan memeluk tubuh mungil itu erat-erat di tempat juga.
Namun...
"NO!"
Dengan cepat Gadis menyilangkan kedua tangannya di dada, menahan tubuh Langit agar tidak mendekat.
"Jangan!" cicit Gadis sambil melihat sekeliling dengan wajah memerah. "Sekarang kan di kantor, banyak orang yang lihat kita! Kamu nggak malu?"
Langit menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mukanya terlihat kecewa tapi pasrah. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, dan benar saja... mata seluruh karyawan di lobi itu sedang menatap mereka seperti menonton film bioskop!
Melihat tingkah lucu kekasihnya, Gadis pun terkikik geli. Akhirnya ia mendekat, lalu dengan manis menggandeng lengan kokoh Langit.
Mereka berdua pun berjalan beriringan menuju lift, menuju ruangan presdir utama di lantai 35.
Namun di belakang mereka, bisik-bisik jahat itu tidak berhenti. Justru semakin menjadi-jadi.
Para karyawan yang iri dan tidak tahu menahu soal hubungan mereka, mulai membicarakan hal buruk.
'Lihat tuh, sok sopan padahal cuma mau manfaatin bos doang.'
'Iya lah, namanya juga sugar baby. Pasti dia cuma ngincer harta dan uang keluarga Mahesa doang.'
'Mana berani bawa ke kantor segala, emang dia siapa sih sebenernya?'
Kata-kata tajam itu melayang di udara, menyakitkan jika didengar, namun Gadis dan Langit seolah tuli dan tidak peduli, karena mereka tahu siapa diri mereka sebenarnya.
Sesampainya di ruangan presdir yang luas dan mewah itu, suasana kembali hening.
Charlie yang sejak tadi duduk di meja sampingnya sedang asyik mengetik-ngetik laporan di laptop, tiba-tiba mendongak mendengar suara langkah kaki.
Matanya langsung tertuju pada sosok wanita yang masuk bersama bosnya.
"Hah?!"
Charlie ternganga lebar. Ia kenal betul wajah itu, itu jelas-jelas Gadis! Tapi penampilannya hari ini benar-benar beda jauh! Lebih elegan, lebih dewasa, dan cantiknya beda level!
Saking kaget dan tak menyangkanya, asisten setia itu pun terbengong-bengong. Mulutnya terbuka lebar mangap, seolah melihat hantu atau alien baru!
Melihat kelakuan aneh asistennya yang melamun sambil mulut terbuka lebar, Langit langsung mengambil tindakan.
Tak!
Satu pulpen meluncur cepat tepat mengenai kepala Charlie dengan akurat.
"ADUH!" pekik Charlie memegang kepalanya.
"Tutup mulutmu, Charlie! Nanti kantor kita banjir kena air liur kamu!" ejek Langit sinis dan jahil.
Dengan sigap dan panik, Charlie langsung mengusap dagu dan lehernya dengan tangan. Ia benar-benar mengira air liurnya sudah menetes sampai banjir karena terlalu kaget!
"Hah? Hah?" gumam Charlie bingung. Ia mengelap-elap mulutnya, tapi... kosong! Tidak ada setetes pun air liur di sana!
Baru sadar kalau dia di prank sama bosnya!
Gadis di samping Langit pun hanya bisa menutup mulutnya menahan tawa melihat interaksi lucu bos dan asistennya itu!