NovelToon NovelToon
Catur Mithra

Catur Mithra

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:414
Nilai: 5
Nama Author: Paduka Zenku

Bahagia. Apa itu bahagia? Bagaimana rasanya bahagia? Kenapa orang bisa berbahagia? Itulah yang dipikirkan oleh keempat remaja SMAN Cempaka 1. Hidup mereka selalu susah, entah secara ekonomi, fisik, mental, keluarga, dan lain lain. Mereka selalu memikirkan bagaimana caranya hidup bahagia. Akankah mereka bisa hidup bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Paduka Zenku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 15: Kenapa Tiba-Tiba Mendung?

^^^Senin, 3 September^^^

Upacara pagi itu berbeda.

Biasanya, Azril berdiri di barisan dengan perasaan biasa saja—atau dulu, dengan keinginan untuk tidak terlihat. Tapi pagi ini, ketika Pak Kevin menyebut namanya di depan seluruh sekolah, memberikan selamat atas kemenangan di lomba pidato, Azril merasakan sesuatu yang asing: bangga.

"Tepuk tangan untuk Azril Erlangga dan Aini Nur Khanza!" suara Pak Kevin bergema di lapangan.

Tepuk tangan bergemuruh. Azril menunduk, pipinya memanas. Bima yang berdiri di sampingnya menyenggol lengannya dengan semangat. Faris tersenyum kecil. Bahkan Elang mengangguk pelan dari barisan belakang. Aini, yang berdiri di barisan kelas sebelah, melirik ke arah Azril dan tersenyum singkat sebelum kembali menegakkan posturnya.

Upacara selesai. Siswa-siswi mulai membubarkan diri, kembali ke kelas masing-masing.

"Zril! Lo disebut di depan seluruh sekolah! Gila!" Bima langsung merangkul bahu Azril begitu barisan bubar.

"Cuma juara 3, Bim."

"JUARA 3 ITU HEBAT! Gue aja belom pernah juara apa-apa!"

Faris berjalan di samping mereka, tersenyum kecil. Elang mengikuti di belakang dengan langkah tenang. Aini tidak bersama mereka—sebagai Ketua OSIS, ia masih harus membereskan perlengkapan upacara bersama anggota yang lain.

Mereka berempat berjalan menyusuri koridor menuju kelas. Langkah mereka ringan. Bima terus mengoceh tentang betapa bangganya ia menjadi "manajer" Azril.

"Lo harus ikut lomba lagi tahun depan. Kali ini juara 1!"

"Tahun depan kita udah lulus, Bim."

"Oh iya. Ya udah, lo ikut lomba pas kuliah nanti."

Azril tersenyum. "Lo yang ngatur aja."

Mereka hampir sampai di depan kelas ketika suara itu memanggil.

"Azril."

Mereka semua berhenti.

Pak Kevin berdiri di depan ruang guru, tangannya dimasukkan ke kantong celana, membuat Pak Kevin terlihat cool. Posturnya tegak seperti biasa, wajahnya tenang.

"Bisa saya bicara sebentar?"

Azril menoleh ke teman-temannya.

"Kayaknya lo mau dipuji lagi. Nanti nyusul ya," Bima menepuk bahunya.

"Kita duluan," Elang menambahkan singkat.

Mereka bertiga melanjutkan langkah. Azril berbalik dan berjalan menuju Pak Kevin.

"Selamat pagi, Pak."

"Selamat pagi, Azril." Pak Kevin tersenyum. "Selamat atas kemenanganmu. Juara 3 tingkat kabupaten. Itu prestasi yang membanggakan."

"Terima kasih, Pak. Aini juga juara 1."

"Ya, ya. Kalian berdua mengharumkan nama sekolah." Pak Kevin menatapnya hangat. "Bagaimana kabar keluargamu? Ibumu baik-baik saja?"

Azril sedikit terkejut. Tidak biasanya kepala sekolah menanyakan kabar keluarga. Tapi ia menjawab dengan sopan. "Baik, Pak. Ibu juga baik."

"Adikmu? Namanya Dinda, bukan?"

Azril mengangguk, tapi kali ini ada sesuatu yang bergerak di perutnya. "Dinda sehat, Pak."

"Bagus. Bagus." Pak Kevin tersenyum. "Keluarga adalah segalanya, bukan? Kita akan melakukan apapun untuk melindungi mereka."

Azril tidak menjawab. Ada sesuatu dalam cara Pak Kevin mengatakan "apapun" yang membuatnya tidak nyaman.

"Saya tidak akan menahanmu lebih lama. Masuklah ke kelas. Selamat belajar."

"Terima kasih, Pak."

Azril berbalik dan berjalan menuju kelas. Langkahnya lebih cepat dari biasanya. Ia tidak tahu kenapa. Percakapan itu terasa normal. Pak Kevin hanya mengucapkan selamat dan menanyakan kabar keluarga. Tidak ada yang aneh.

Tapi kenapa aku merasa ada yang aneh?

...~•~•~•~...

Bel istirahat berbunyi.

Bima langsung berdiri dari bangkunya, meregangkan tubuh. "Akhirnya! Gue laper banget. Yuk ke kantin!"

Elang membereskan bukunya. "Gue sama Aini ada urusan sebentar. Nanti kita nyusul."

"Urusan apa?"

"Urusan pribadi. Cepet kok." Elang sudah berdiri. "Lo bertiga duluan aja."

Bima mengangkat bahu. "Ya udah. Jangan lama-lama!"

Elang mengangguk dan keluar kelas. Bima, Azril, dan Faris berjalan menuju kantin.

Kantin siang itu ramai seperti biasa. Mereka bertiga duduk di bangku pojok yang sama—bangku bersejarah itu. Bima memesan nasi campur ekstra kerupuk. Azril memesan nasi uduk. Faris membuka bekalnya sendiri.

"Tadi Pak Kevin ngomong apa?" Bima bertanya sambil membuka bungkus nasinya.

"Biasa. Ngasih selamat. Terus nanyain kabar keluarga." Azril mengaduk nasinya.

"Nanyain keluarga? Tumben."

Azril mengangkat bahu. "Iya. Gue juga agak heran."

Faris menulis sesuatu di notebook-nya, lalu menunjukkannya:

[Dia tau nama adikmu?]

Azril membaca, lalu mengangguk pelan. "Iya. Dia nyebutin nama Dinda."

Bima berhenti mengunyah. "Dia tau nama adik lo? Darimana?"

"Gue... gue gak tau. Mungkin dari berkas pendaftaran, kan pas daftar ke sini gue ngasih kartu keluarga gitu ke sekolah, mungkin dia tahu dari situ."

Mereka bertiga terdiam. Tapi sebelum ada yang bisa berkata apa-apa, bayangan seseorang jatuh di atas meja mereka.

Seorang murid laki-laki berdiri di samping bangku. Wajahnya tidak dikenal—mungkin kelas dua jika dilihat dari badge-nya. Seragamnya rapi, tapi tangannya sedikit gemetar.

"Ini... ini buat Kak Bima," katanya pelan, menyodorkan sebuah amplop putih.

Bima menerimanya dengan alis terangkat. "Buat gue? Dari siapa—"

Tapi murid itu sudah berbalik dan berjalan cepat, hampir berlari, lalu menghilang di antara kerumunan.

"Siapa sih?" Bima menatap amplop di tangannya. Tidak ada nama pengirim. Hanya "Bima" tertulis di bagian depan dengan huruf kapital.

"Buka aja," Azril berkata.

"Nanti aja. Gue laper." Bima meletakkan amplop itu di samping nasi campurnya dan melanjutkan makan seperti biasa.

Azril dan Faris saling pandang, tapi tidak memaksa.

Beberapa menit kemudian, Elang dan Aini muncul. Masing-masing membawa semangkuk bakso. Aini duduk di samping Faris, Elang di ujung bangku dekat dinding.

"Tumben pada mesen bakso," Bima berkomentar.

"Abis rapat mini. Laper." Aini menyeruput kuah baksonya.

"Rapat apa?"

"Ada lah... biasa."

Mereka berlima menghabiskan sisa waktu istirahat dengan berbincang ringan. Bima bercerita tentang rencananya menjadi pemain bola—cerita yang sudah sering mereka dengar, tapi tidak ada yang bosan. Aini sesekali menyela dengan statistik aneh dari internet. Faris menulis komentar lucu di notebooknya. Elang diam seperti biasa, tapi sudut bibirnya terangkat. Azril duduk di antara mereka, menikmati semuanya.

Amplop putih itu masih tergeletak di samping nasi Bima. Tidak terbuka. Tidak dipikirkan.

...~•~•~•~...

Bel pulang berbunyi.

Siswa-siswi mulai berhamburan keluar kelas. Azril, Bima, Faris, dan Elang masih duduk di bangku mereka.

"Ah, capek banget hari ini." Bima meregangkan tubuhnya, lalu tiba-tiba berhenti. Matanya tertuju pada amplop putih yang masih tergeletak di sudut mejanya. "Eh, suratnya kelupaan."

"Bukain sekarang," Elang berkata.

Bima mengambil amplop itu. Ia merobek ujungnya dengan jari, mengeluarkan selembar kertas yang dilipat dua. Ia membukanya.

Dan membeku.

"Bim?" Azril memanggil. "Apa isinya?"

Bima tidak menjawab. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar.

Elang berdiri, berjalan ke samping Bima, dan mengambil kertas itu dari tangannya. Ia membacanya. Rahangnya mengeras.

"Lang, isinya apa?" Kini Azril ikut berdiri.

Elang meletakkan kertas itu di atas meja.

Tiga kata. Ditulis dengan huruf kapital besar menggunakan tinta merah.

SEHARUSNYA KALIAN MATI!!!

Azril merasakan seluruh tubuhnya membeku. Faris menatap kertas itu dengan mata membesar, notebook-nya terlepas dari tangannya.

Tidak ada yang berbicara.

Di luar, langit yang sejak tadi mendung akhirnya menurunkan hujan. Rintik-rintik membentur jendela kelas, menciptakan suara yang anehnya terasa seperti detak jantung.

Azril menatap tulisan itu. Tiga kata yang ditulis dengan tinta merah.

Dan ia ingat kata-kata Pak Kevin pagi tadi.

Kita akan melakukan apapun untuk melindungi mereka.

TBC

1
T28J
bunga untukmu /Rose/
T28J
sampai sini dulu ya kak, besok saya lanjut lagi👍
T28J: kalau bagus sih relatif sih kak, tapi menurutku sih ok, jadi keinget masa masa STM dulu 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!