NovelToon NovelToon
Driven By You

Driven By You

Status: tamat
Genre:Bad Boy / Tamat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.

Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.

Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.

Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.

Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.

Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?

Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?

🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#13

Keheningan malam di kamar asrama 302 terasa begitu mencekam bagi Audrey. Sejak satu jam yang lalu, jemarinya tidak berhenti menekan tombol panggil pada kontak bernama "Sander". Suara nada sambung yang monoton itu seolah mengejek kekhawatirannya.

"Ayolah, San... angkat," gumam Audrey gelisah. Ia berjalan mondar-mandir di ruang sempit itu. Pikirannya melayang pada perjalanan pulang Sander.

Apakah dia mengantuk? Apakah dia sampai dengan selamat? Ataukah dia masih marah karena perdebatan mereka di parkiran sore tadi?

Pertanyaan Sander tentang "melakukan itu" terus terngiang di telinga Audrey seperti dengung lebah yang mengganggu. Ia merasa bersalah karena menolak, namun ia juga merasa benar karena menjaga prinsipnya.

Tiba-tiba, ponsel di genggamannya bergetar hebat. Bukan panggilan balik yang ia harapkan, melainkan sebuah notifikasi pesan dari nomor yang tidak dikenal.

Audrey membuka pesan itu dengan dahi berkerut. Detik berikutnya, jantungnya seolah berhenti berdetak. Dunia di sekitarnya mendadak sunyi, hanya menyisakan suara detak jantungnya sendiri yang memukul dada dengan kasar.

Di layar ponselnya, terpampang sebuah foto. Sander sedang duduk di sebuah sofa yang sangat ia kenali—sofa di rumah lama Sander—dan di pangkuannya duduk seorang gadis berambut pirang pendek. Itu adalah Mia, teman sekelas Sander yang selalu Audrey curigai sejak dulu. Namun, yang menghancurkan seluruh pertahanan Audrey adalah video yang dikirim tepat di bawah foto itu.

Sebuah video berdurasi tiga puluh detik. Video yang dipenuhi napas memburu dan gerakan yang menjijikkan antara Sander dan Mia di dalam kamar yang seharusnya menjadi tempat suci bagi kenangan mereka.

Sander terlihat begitu bersemangat, sangat jauh dari sosok "kekasih setia" yang selama ini ia agungkan di depan Kensington.

Sebuah pesan teks menyusul di bawah video itu:

"Hanya aku yang bisa mengerti perasaan Sander. Selama ini dia hanya menjadikanmu pelarian dan jangan terlalu bangga dengan penolakanmu yang sok suci. Jangan cari dia lagi, kami sudah kembali bersama."

Deg.

Ponsel itu jatuh dari tangan Audrey, menghantam lantai keramik dengan bunyi yang memilukan. Air mata Audrey tidak langsung jatuh; ia justru merasa paru-parunya mengecil, membuatnya sulit bernapas. Amarah yang begitu panas mulai membakar dari ulu hatinya.

"Brengsek..." desis Audrey, suaranya parau.

Ia teringat kembali pada ucapan Sander di parkiran tadi: "Apa kamu takut hamil? Kita bisa pakai pengaman." Ternyata itu bukan sebuah permintaan karena rindu, melainkan sebuah perbandingan. Sander sedang membandingkan "servis" yang ia dapatkan dari Mia dengan ketegasan prinsip Audrey.

Audrey tertawa sinis di tengah tangisnya yang mulai pecah. Ia merasa sangat bodoh. Ia memacari Sander karena rasa hutang budi. Mereka pernah bertetangga sebelum perceraian orang tua Audrey menghancurkan segalanya.

Ia pikir Sander adalah satu-satunya jembatan menuju masa lalunya yang bahagia. Ternyata, jembatan itu sudah rapuh dan penuh rayap sejak lama.

"Bisa-bisanya aku dibohongi selama ini!" teriak Audrey frustrasi. Ia menyambar bantal dan melemparnya ke arah dinding.

Vivian, yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di rambutnya, tersentak kaget. Ia menatap Audrey yang tampak hancur di tepi ranjang.

"Hey, ada apa, Drey? Kau terlihat seperti baru saja melihat hantu," tanya Vivian santai, meski nada suaranya menyiratkan kepedulian.

"Brengsek, Vivian! Sander ternyata mengkhianatiku! Dia tidur dengan gadis lain hanya beberapa jam setelah dia menciumku di parkiran!" Audrey menunjuk ponselnya yang tergeletak di lantai.

Vivian memungut ponsel itu, melihat sekilas video yang masih berputar, lalu melemparnya kembali ke ranjang. Bukannya bersimpati, Vivian justru meledak dalam tawa yang kencang.

"Bocah memang selalu menyakiti, Audrey! Sudah kubilang, kan? Anak SMA itu cuma punya hormon, bukan otak," ucap Vivian sambil menggelengkan kepala. "Tapi lihat sisi baiknya: setidaknya kau tahu sekarang sebelum kau memberikan 'mahkota' mu pada sampah seperti dia."

Audrey menenggelamkan wajah di telapak tangannya. "Aku benci mereka semua. Aku benci Los Angeles, aku benci Sander, aku benci..."

"Kau benci karena kau terlalu banyak berpikir," potong Vivian. Ia langsung menuju lemarinya dan mengeluarkan jaket kulit hitam. "Mau ke pesta? Ayo, kita minum sampai kau lupa siapa nama mantan kecilmu itu."

"Nggak, aku nggak mau ke pesta," jawab Audrey ketus.

"No, bukan pesta itu," Vivian menyeringai nakal. Ia menarik tangan Audrey paksa agar berdiri. "Kita akan ke arena boxing malam ini. Kensington ada di arena. Dia akan menghancurkan wajah seseorang, dan kau butuh melihat sesuatu yang hancur agar perasaanmu lebih baik. Ayo, girl!"

"Vivian, lihat pakaianku!" Audrey memprotes, menunjuk baju tidur Mickey Mouse-nya dan celana kain panjang yang kedodoran. "Aku tidak mungkin ke sana begini!"

"Persetan dengan baju tidur! Di sana gelap, bau keringat, dan penuh darah. Tidak akan ada yang peduli kau pakai Mickey Mouse atau Gucci," teriak Vivian sambil menyeret Audrey keluar pintu. "Lagipula, kau butuh udara yang tidak beraroma pengkhianatan!"

Arena boxing liar itu terletak di sebuah gudang tua di pinggiran kota yang kumuh. Cahaya lampu neon yang redup dan suara teriakan kasar menyambut mereka saat mereka masuk. Udara di sana terasa panas dan pengap, beraroma campuran antara tembakau, bir, dan keringat jantan.

Audrey merasa sangat tidak pada tempatnya dengan kaos Mickey Mouse-nya, namun Vivian terus menariknya menembus kerumunan pria-pria bertato hingga mereka sampai di barisan paling depan, tepat di sisi ring yang hanya dibatasi oleh tali tambang besar.

Di tengah ring, di bawah siraman lampu tunggal yang tajam, berdiri seorang pria tanpa baju. Otot-otot punggungnya yang kekar berkilau karena peluh. Di tangan pria itu terbalit handwrap putih yang sudah mulai ternoda bercak darah.

Itu Kensington.

Dia sedang menghadapi seorang pria yang jauh lebih besar darinya, namun gerakan Kensington jauh lebih cepat dan mematikan. Ia menghindar dengan kelincahan seekor predator, lalu mendaratkan pukulan telak di rahang lawannya.

BUKK! Suara hantaman itu membuat Audrey merinding.

Kensington tidak tersenyum. Wajahnya datar, matanya dingin dan fokus, seolah-olah ia sedang mengerjakan tugas matematika, bukan sedang berkelahi.

Di jeda ronde, Kensington berjalan ke sudut ring, tepat di depan posisi Audrey berdiri. Ia menyambar botol air dan mengguyurkannya ke kepala, membuat tetesan air mengalir di dada bidangnya yang naik-turun karena napas yang memburu.

Saat itulah, matanya bertemu dengan mata Audrey.

Kensington terpaku sejenak. Ia melihat mata Audrey yang sembab dan memerah. Ia melihat kaos Mickey Mouse yang sangat kontras dengan suasana brutal di sekitarnya.

Kensington mendekat ke tepi tali ring, mencondongkan tubuhnya ke arah Audrey hingga gadis itu bisa mencium aroma maskulin dan hawa panas dari tubuhnya.

"Mickey Mouse di arena tinju?" bisik Kensington, suaranya parau namun terdengar jelas di tengah kebisingan. "Kenapa, Audrey? Apa pangeran SMA-mu itu tidak membacakanmu dongeng sebelum tidur malam ini?"

Audrey menatap Kensington dengan tatapan yang tajam, penuh luka dan amarah yang belum tuntas. "Dia bukan pangeran. Dia sampah. Sama sepertimu."

Kensington menaikkan satu alisnya. Ia menyadari ada yang berbeda dari Audrey malam ini. "Sampah, ya? Jadi kau sudah menemukan ending dari novel cintamu lebih cepat dari dugaanku?"

Sebelum Audrey sempat membalas, wasit memberi isyarat ronde berikutnya dimulai. Kensington tidak mengalihkan pandangannya dari Audrey.

"Perhatikan baik-baik, Audrey," ucap Kensington sebelum berbalik. "Aku akan menunjukkan padamu bagaimana cara menghancurkan sesuatu dengan benar. Bukan dengan pengkhianatan murah, tapi dengan kekuatan yang nyata."

Kensington kembali ke tengah ring. Kali ini, serangannya jauh lebih brutal. Ia seolah-olah sedang melampiaskan sesuatu.

Setiap pukulan yang ia daratkan adalah representasi dari kemarahan Audrey yang terpendam. Saat lawannya akhirnya jatuh tersungkur dan tidak bisa bangkit lagi, Kensington tidak merayakannya.

Ia kembali ke arah Audrey, melompati tali ring dengan mudah, dan berdiri tepat di depan gadis itu. Ia mengabaikan sorak-sorai penonton. Dengan tangan yang masih terbungkus perban berdarah, ia menyentuh dagu Audrey, memaksa gadis itu menatapnya.

"Jangan menangis karena bocah itu," ucap Kensington dingin. "Dia tidak cukup berharga untuk air matamu. Jika kau ingin hancur, hancurlah bersamaku. Setidaknya aku tidak akan menjanjikan surga yang palsu padamu."

Audrey menatap tangan berdarah Kensington di dagunya, lalu menatap mata pria itu.

Di tengah kegilaan arena ini, di balik baju tidurnya yang konyol, Audrey merasa sebuah gerbang baru telah terbuka. Gerbang menuju dunia yang penuh rasa sakit, namun sangat jujur. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak ingin lari.

1
Thee-na Tooth
lagi dong kak
Zahra Alifia Hidayat
Yo bapakmu itu yg jadi nyamuk raksasanya max
Ros 🍂: wkwkwk🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
untung tersesatnya di toilet toko perhiasan coba klo tersesatnya di kedai kopi late alamat GK tau jalan pulang wkwkwk🤣🤣🤣
Ros 🍂: Hahhaa bahaya kalo nyasar kesana ya kak🤣🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Astagaaa,, kmna ken yg dingin dan angkuh itu dreyyy,,, knp skrng dia sengklek,,, 🤣
Ros 🍂: mabuk cinta kak🤣🤣🤣🤣😘
total 1 replies
Almeera
tinggalin jejak duluuuuuuuu yaaaa nyicil aku maraton kerja duluuu
Ros 🍂: Hehe siap Kak🫶🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
ingat Ken segera lenyapkan si kopi late lagian jadi cowok tuh harus bisa mengendalikan senjatanya ini malah tercelup ke kopi late🤭
Ros 🍂: Late Vera kak, Bukan Latte Coffee 🤣🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
akhirnya ,,,terharu aku thor😍😍😍
Ros 🍂: Huhuhu semoga Suka ya kak🫶🥰
happy reading 😍
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
pantesan Ken gendeng wong bapaknya klo ngasih saran diluar Nurul moga kegendengan mereka menurun ke max kelak🤭🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: hahhaa Daddy Felix asline kalem kak🤭🤣
total 1 replies
Murnia Nia
lagi seru ni ceritanya
Ros 🍂: ma'aciww komentar nya ya kak🫶
total 1 replies
Murnia Nia
lanjut thor
Ros 🍂: siap kak🫶
total 1 replies
Thee-na Tooth
puas bacanya kak,,,
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
Ros 🍂: Ma'aciww kak 🫶🫶😘
semoga kakak juga sehat selalu 🥰
total 1 replies
winpar
lgi kk 💪💪💪💪
Ros 🍂: sama-sama kak🫶
total 3 replies
Thee-na Tooth
ayoo up lagi🤭
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
Ros 🍂: Besok ya kak🫶 ditunggu 😍
total 1 replies
Thee-na Tooth
Alurnya bagus banget,,,
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
Ros 🍂: Ma'aciww banyak kak🫶🥰
sehat selalu ya kak😘
total 1 replies
Thee-na Tooth
semangat up kakak,,,
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭
Ros 🍂: uuuwwwwwhh 🫶🫶🫶
ma'aciww ya kak, sehat Selalu 🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
wes tambah gendeng ini Bang Ken,tak tunggu kegendenganmu selanjutnya Bang🤣🤣🤣
Ros 🍂: Nular Ya kak bucinnya 🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Gen valerio,, awal2 dingin, angkuh,, begitu bucin setrezzzz,,, bikin esmosi!! Mom kim&dad felix ceritanya judulnya apa thor??
Ros 🍂: hihihi Rekomendasi baca "The End Of Before" kak, Ndak kalah seru🥰
total 1 replies
nayla tsaqif
Gk knl cinta,, gk percaya cinta sekalinya cinta gueenndennng kowe ken,,, bisa2nya pengen jd simpanan,, emg mau di simpan dimna,, badanmu kn segedhe gaban,,, 😄
Ros 🍂: hahaha Dia senang jadi simpanan kak🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Q suka kalo para wanita2 itu sudah mengumpat,,, seperti briella kalo ngumpat fasih banget,,, "bringsiikkk" 🤣🤣
Ros 🍂: wkwkw iya kak🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gini ni klo jatuh cintanya datengnya terlambat jadi rada sinting kan?wes sak karepmu lah Ken Ken perutku kaku bacanya karena dirimu terlalu lawak.klo MBK Audrey ya GK mau mending jadi simpenanku Bang Ken🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: semoga suka cerita nya kak🫶
Happy reading 🥰
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!