Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Es Puter Kopyor dan Dupa Wangi Pembunuh Janin
[Siang Hari yang Terik - Teras Belakang]
Matahari sedang lucu-lucunya, bersinar terik seolah ingin melelehkan aspal (kalau ada aspal). Aku duduk di kursi malas, mengipasi leherku yang berkeringat dengan daun pisang. Hamil membuat suhu tubuhku naik drastis. Rasanya seperti ada oven di dalam perutku.
"Arga... Panas..." rengekku.
Arga yang sedang membaca laporan militer di sebelahku, meletakkan kertasnya. Dia mengambil kipas lipat (bekas rampasan dari Panji) dan mulai mengipasiku dengan telaten.
"Sudah kubilang pindah ke dalam, di sana lebih sejuk."
"Nggak mau. Di dalam sumpek. Aku mau yang dingin-dingin. Aku mau... Es Puter."
"Es Puter?" Arga mengerutkan kening. "Apa lagi itu? Kemarin minta Sate Rusa, sudah kudapatkan. Sekarang Es Puter? Es yang diputer-puter?"
"Iya! Es krim tradisional!" mataku berbinar membayangkannya. "Rasanya manis, gurih santan, dingin, lembut... Ah, membayangkannya saja air liurku menetes."
"Di mana belinya?" Arga sudah siap berdiri.
"Nggak ada yang jual, Jenderal. Kita harus bikin sendiri."
"Bikin es? Kau penyihir es sekarang?"
Aku tertawa. "Bukan sihir, tapi Sains. Sari! Panggil Mbok Darmi! Suruh prajurit ambil balok es dari gudang bawah tanah! Kita akan bereksperimen!"
[Operasi Es Puter Manual]
Setengah jam kemudian, teras belakang berubah menjadi laboratorium fisika sederhana.
Aku menyiapkan alat tempur:
Panci logam kecil berisi adonan: Santan kental, gula pasir, garam, daging kelapa kopyor, dan potongan nangka.
Ember kayu besar.
Banyak balok es yang sudah dihancurkan kasar.
Garam Kasar (Garam Krosok) sebanyak 2 kilo.
"Dengar baik-baik," jelasku pada Arga dan para pelayan yang bingung. "Rahasia membuat es membeku tanpa kulkas adalah Garam."
Aku menaruh panci logam berisi adonan santan di tengah ember kayu. Di sekeliling panci, aku memadatkan pecahan es batu. Lalu, aku menaburkan garam kasar banyak-banyak ke atas es itu.
"Garam akan menurunkan titik beku es, membuat suhu di sekitar panci logam turun drastis sampai di bawah nol derajat. Akibatnya, adonan di dalam panci akan membeku," jelasku sok profesor.
Arga menatapku takjub (atau mungkin menganggapku gila). "Kau tahu dari mana teori aneh ini?"
"Dari... mimpi. Sudah, jangan banyak tanya. Sekarang bagian terberatnya."
Aku menunjuk pegangan tutup panci.
"Panci ini harus diputar terus menerus selama 30 menit supaya adonannya membeku rata dan lembut. Kalau diam saja, nanti jadi es batu keras."
Aku menatap lengan kekar Arga yang terbalut kemeja tipis.
"Suamiku sayang... otot bisepmu itu sepertinya butuh latihan, kan?"
Arga mendengus, tapi dia tersenyum miring. Dia menggulung lengan bajunya, memamerkan otot lengan yang membuat para pelayan wanita (termasuk Sari) salah fokus.
"Cuma muter panci? Kecil."
Arga mulai memutar panci itu.
Awalnya pelan.
Krrerek... krrerek... suara gesekan es dan garam.
"Lebih cepat, Jenderal! Dengan perasaan!" sorakku menyemangati sambil makan rujak.
Sepuluh menit berlalu. Keringat mulai menetes di dahi Arga. Adonan di dalam mulai mengental.
Dua puluh menit berlalu. Putaran makin berat karena adonan makin beku.
"Lumayan juga..." gumam Arga, napasnya mulai teratur seperti sedang latihan beban.
"Ayo Yah! Semangat Yah! Demi dedek bayi!" seruku.
Tiga puluh menit.
"Stop!"
Aku membuka tutup panci.
Di dalamnya, adonan santan cair tadi sudah berubah wujud. Menjadi massa putih yang padat namun lembut.
Es Puter Kopyor Nangka.
Aku menyendoknya sedikit. Masuk mulut.
Dingin. Manis. Gurih santan meledak di lidah, disusul tekstur kopyor yang lembut dan nangka yang wangi.
Sensasi dinginnya langsung menjalar ke otak, menghilangkan gerah seketika.
"Berhasil!" teriakku girang.
Aku menyuapkan sendok pertama ke Arga yang masih ngos-ngosan.
"Upah buruh puter," kataku.
Arga menerima suapan itu. Matanya melebar kaget karena suhu dingin yang ekstrem, lalu menikmati rasa manis gurihnya.
"Enak," komentar Arga. "Sangat enak. Rasa lelah tanganku terbayar."
Kami makan es puter itu berdua dari panci yang sama, tertawa-tawa kecil saat otak kami beku (brain freeze). Momen sederhana yang terasa sangat mahal.
Hingga seorang prajurit datang merusak suasana.
"Lapor, Jenderal. Nyonya Besar. Ada kiriman hadiah dari Kediaman Perdana Menteri Sengkuni."
Senyum Arga langsung lenyap. Hawa dingin dari es puter tergantikan hawa dingin membunuh.
[Ruang Tamu Utama]
Di meja tamu, tergeletak sebuah kotak kayu cendana yang ukirannya sangat halus dan mewah.
Laras sudah ada di sana, tentu saja. Dia menatap kotak itu dengan mata berbinar.
"Wah, Perdana Menteri Sengkuni perhatian sekali," kata Laras, mencoba memprovokasi. "Meskipun musuh politik Jenderal, dia tetap mengirim hadiah untuk kehamilan Kak Tantri. Sungguh negarawan sejati."
Arga menatap kotak itu curiga. "Buka. Tapi hati-hati."
Wira membuka kotak itu perlahan dengan ujung pedangnya.
Isinya bukan senjata, bukan surat ancaman, dan bukan kepala hewan.
Isinya adalah Set Dupa Aromaterapi.
Ada tungku pembakaran dari emas murni berbentuk teratai, dan sekotak serbuk dupa berwarna merah marun.
"Dupa?" Arga bingung.
"Ada suratnya," Laras mengambil kartu ucapan di dalamnya.
"Untuk Nyonya Tantri. Dupa Kesturi Merah terbaik dari dataran tinggi. Wanginya dipercaya bisa menenangkan pikiran ibu hamil, menghilangkan mual, dan menjaga janin tetap tenang."
"Lihat kan? Niatnya baik," kata Laras. Dia mengambil sedikit serbuk dupa itu. "Baunya enak sekali. Mewah. Kak Tantri kan sering mual, ini pasti membantu. Ayo kita nyalakan sekarang."
Laras sudah bersiap memantik api.
Aku mendekat. Hidungku—yang sejak hamil menjadi sensitif luar biasa, bahkan bisa mencium bau kaos kaki Arga dari jarak 5 meter—langsung bereaksi.
Saat kotak dupa itu dibuka, aroma manis yang sangat kuat, tajam, dan menusuk langsung menyerbu rongga hidungku.
Baunya enak memang. Sangat wangi. Seperti parfum mahal.
Tapi... ada sesuatu yang salah.
Sebagai Chef, aku belajar tentang berbagai jenis rempah dan herbs. Termasuk yang berbahaya.
Dan aroma ini... Aroma Musk (Kesturi Kijang) yang terlalu pekat, dicampur dengan Saffron dosis tinggi.
Di zaman modern, musk sintetis aman. Tapi di zaman kuno, Musk Alami yang kuat dipercaya (dan sering digunakan dalam intrik istana Tiongkok Kuno) sebagai bahan peluntur kandungan. Sifatnya panas dan memicu kontraksi rahim.
"JANGAN NYALAKAN!" teriakku histeris.
Laras kaget sampai menjatuhkan pemantik api. "Kenapa sih Kak? Kaget tahu!"
Aku menutup hidungku dengan selendang. "Tutup kotak itu! Wira! Tutup kotaknya sekarang!"
Wira yang melihat kepanikanku langsung membanting tutup kotak itu. BLAM.
"Ada apa Tantri?" Arga memegang bahuku. "Kau mencium racun?"
"Itu Kesturi Merah, Arga!" jelasku dengan napas tertahan. "Baunya memang wangi, tapi sifatnya panas! Bagi orang biasa, ini cuma wangi-wangian. Tapi bagi wanita hamil muda... menghirup ini terus menerus bisa menyebabkan kontraksi rahim! Keguguran!"
Wajah Laras memucat (atau pura-pura pucat?). "Mana mungkin? Ini hadiah mahal..."
"Mahal bukan berarti aman, bodoh!" bentakku. "Sengkuni tahu aku mual-mual. Dia kasih ini supaya aku menghirupnya setiap hari di kamar tertutup. Pelan-pelan, janin ini akan luruh tanpa ada yang curiga kalau aku diracun! Orang cuma akan mengira kandunganku lemah!"
Arga menatap kotak kayu itu. Tatapannya berubah menjadi tatapan iblis yang sesungguhnya.
Dia mencabut pedangnya, lalu dengan satu tebasan kuat...
TRAANG!
Kotak kayu itu terbelah dua. Serbuk dupa berhamburan di lantai.
"Buang," perintah Arga dingin, suaranya bergetar menahan amarah yang meluap. "Buang ke sungai. Bakar kotaknya di luar. Dan jangan sampai Tantri mencium baunya lagi."
"Siap, Jenderal!" Wira dan para prajurit segera membereskan kekacauan itu.
Arga berbalik menatap Laras. Laras mundur ketakutan.
"Kau..." Arga menunjuk wajah Laras dengan ujung pedang yang masih terhunus. "Kau yang paling semangat menyuruh menyalakan ini. Apa kau tahu isinya?"
"Sumpah! Sumpah demi Dewa, Laras tidak tahu!" Laras menangis gemetar. "Laras cuma pikir itu wangi... Laras tidak tahu soal khasiat dupa..."
Aku memegang lengan Arga. "Sudahlah, Arga. Laras terlalu bodoh untuk mengerti racun serumit ini. Ini murni ulah Sengkuni." (Sebenarnya aku tahu Laras mungkin terlibat, tapi tanpa bukti kuat, menuduhnya sekarang cuma buang tenaga).
Arga menyarungkan pedangnya dengan kasar. Napasnya memburu.
Dia memelukku erat, menyembunyikan wajahku di dadanya agar aku tidak mencium sisa bau dupa.
"Sengkuni..." geram Arga pelan. "Dia sudah menyentuh garis batas. Dia menginginkan perang? Akan kuberikan perang."
Sore itu, di halaman belakang, Arga memerintahkan Wira mengumpulkan pasukan elit bayangan.
"Awasi setiap gerak-gerik Sengkuni. Cari kelemahannya. Dan... cari tahu siapa pemasok dupa itu. Aku akan mematahkan lehernya."
Sementara itu, aku kembali ke kamar, memakan sisa Es Puter yang mulai mencair.
Manisnya es tidak bisa menghilangkan rasa pahit kenyataan.
Nyawa anakku benar-benar diincar.
"Oke, Sengkuni," gumamku sambil mengelus perut. "Kau main racun halus? Tunggu tanggal mainnya. Aku akan membalasmu dengan sesuatu yang lebih menyakitkan daripada keguguran: Kebangkrutan."
Aku punya ide bisnis baru. Sesuatu yang akan mengganggu monopoli dagang keluarga Sengkuni.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia
Ahh ...kirana jangan kau kacaukan dulu perjalanan mereka, biar berdiri dulu sekolah tata boga tantri dan sukses mencetak lulusan terbaik baru kau kembali ke asalmu😄
musuh baru akan segera datang
🤣
besok masakin bebek bengil yaa kirana, dengan lawar sayuran pedas🤤
sampai segala cara di pake buat merebut arga
seperti apa kisah cinta mu jenderal