NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cinta

Dua Wajah Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Poligami / Pelakor
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Lima tahun menikah, Stella merasa hidupnya sempurna bersama Abbas, suami yang penyayang. Kehadiran Annisa—yang diperkenalkan Abbas sebagai adik sepupu yatim piatu—bahkan disambut Stella dengan tangan terbuka layaknya adik kandung sendiri.
​Namun, fatamorgana itu hancur saat Stella menemukan slip reservasi hotel di saku jas Abbas. Bukan sekadar perjalanan bisnis, slip itu mencantumkan paket Honeymoon Suite untuk Mr. Abbas & Mrs. Annisa.
​Kebenaran pahit terungkap: adik sepupu yang datang ternyata adalah istri siri suaminya selama setahun terakhir. Terjebak dalam pengkhianatan di bawah atap yang sama, Stella harus memilih: bertahan demi janji suci yang telah ternoda, atau pergi demi harga diri saat Annisa mulai menuntut pengakuan sah sebagai istri kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

...Abbas turun dari lantai atas dengan setelan rapi, aroma parfum maskulinnya memenuhi ruangan. ...

...Tak lama kemudian, Annisa juga keluar dari kamar belakang, sudah berganti pakaian kasual yang praktis untuk perjalanan jauh. ...

...Keduanya tampak terburu-buru, seolah ada kejaran waktu yang tak kasatmata....

..."Kita sarapan dulu," ucap Stella sambil menata piring di meja. ...

...Suara Stela yang terdengar masih sedikit parau, sisa dari rasa kantuk yang tidak wajar semalam. ...

..."Aku sudah buatkan roti bakar dan telur setengah matang untukmu, Mas."...

...Abbas melirik jam tangannya dengan gelisah. Ia bahkan tidak duduk di kursi makannya. ...

..."Aku makan nanti saja, Sayang. Takut waktunya tidak cukup kalau harus sarapan sekarang. Jalanan ke luar kota bisa macet parah jam begini."...

...Stella terdiam. Ia mematung dengan piring di tangannya. ...

...Matanya menatap Abbas dengan tatapan kosong sekaligus heran. ...

...Tidak biasanya Abbas menolak sarapan buatannya, apalagi jika ia akan menempuh perjalanan jauh. ...

...Abbas selalu bilang bahwa masakan Stella adalah bahan bakar utamanya....

..."Tapi ini masih pagi sekali, Mas..." gumam Stella, namun kalimatnya terputus....

..."Aku berangkat dulu ya, Sayang," potong Abbas cepat. ...

...Ia meraih koper besarnya yang sudah disiapkan Stella semalam—koper yang menjadi saksi bisu kejadian yang tak disadari Stella. ...

...Abbas mendekat, mengecup dahi Stella dengan kilat, seolah hanya ingin menggugurkan kewajiban....

...Annisa yang berdiri di dekat pintu masuk segera mendekat. Ia mengangguk kecil dengan wajah yang dibuat sesopan mungkin. ...

..."Mbak Stella, saya pamit juga ya. Saya mau pulang ke kampung sebentar untuk mengambil ijazah saya. Mungkin dua atau tiga hari saya baru kembali."...

...Stella menatap Annisa, lalu beralih pada suaminya. Ada rasa sesak yang tiba-tiba muncul di dadanya, namun ia berusaha menepisnya. ...

...Ia tidak ingin dianggap sebagai istri yang terlalu mengekang atau penuh curiga....

..."Hati-hati di jalan," ucap Stella lirih....

...Abbas dan Annisa pun melangkah keluar. Stella berdiri di ambang pintu, memerhatikan mobil mewah suaminya perlahan meninggalkan halaman rumah. ...

...Begitu gerbang tertutup rapat, suasana rumah seketika menjadi sangat sunyi. Stella kembali ke meja makan, menatap kursi kosong di depannya....

...Rasa pusing itu kembali datang, namun kali ini bukan karena obat, melainkan karena firasat yang mulai berteriak di dalam kepalanya bahwa perjalanan suaminya dan kepergian Annisa bukanlah sebuah kebetulan belaka....

...Mobil mewah itu melaju membelah jalan raya, semakin jauh meninggalkan kawasan perumahan elit tempat Stella kini termenung sendirian. Begitu merasa sudah cukup jauh dan aman dari pantauan siapa pun, suasana di dalam kabin berubah drastis. ...

...Ketegangan yang tadi mereka tunjukkan di depan Stella menguap, digantikan oleh tawa penuh kemenangan....

...Annisa mendekat ke arah kursi kemudi, lalu dengan manja mencium pipi suaminya yang sedang fokus menyetir. ...

...Aroma parfum Abbas yang maskulin membuatnya merasa telah memenangkan segalanya....

..."Akhirnya kita bisa bebas, Mas. Aku sudah tidak sabar sampai ke hotel yang jauh dari kota ini. Hanya ada aku dan kamu, tanpa harus berakting jadi adik sepupu lagi," bisik Annisa dengan nada menggoda....

...Abbas terkekeh, tangan kirinya meraih jemari Annisa dan menggenggamnya erat. ...

..."Iya, Sayang. Sabar sedikit lagi ya. Kita akan bersenang-senang selama beberapa hari ke depan tanpa ada yang mengganggu."...

...Annisa tertawa kecil, tawa yang terdengar sangat sinis. ...

...Ia teringat kembali wajah bingung Stella di ruang makan tadi....

..."Mas, istrimu tadi benar-benar seperti orang bodoh ya?" ejek Annisa. ...

...Kemudian ia mengubah nada suaranya, menirukan gaya bicara Stella yang sedang kebingungan. ...

..."'Semalam aku pingsan? Tapi aku baik-baik saja, Mas...'"...

...Annisa terpingkal-pingkal sendiri dengan tiruannya yang mengejek itu. ...

..."Bodoh sekali dia! Dia percaya saja saat kita bilang dia pingsan karena kelelahan. Padahal dia tidak tahu kalau suaminya sendiri yang memberikannya obat tidur dosis tinggi sampai dia tidak sadar sama sekali saat kita 'bermain' di sampingnya."...

...Abbas ikut tersenyum tipis, meski ada kilat kepuasan yang dingin di matanya. ...

..."Dia terlalu percaya padaku, Nisa. Itu kelemahannya. Dia pikir pernikahan lima tahun ini jaminan kalau aku tidak akan berkhianat. Dia tidak tahu kalau bagiku, dia hanyalah kunci untuk mendapatkan semua aset ayahnya."...

..."Dan setelah semua saham itu pindah tangan, dia benar-benar akan jadi orang bodoh yang tidak punya apa-apa lagi, kan Mas?" tambah Annisa sambil menyandarkan kepalanya di bahu Abbas....

..."Tentu saja. Sabar ya, permainannya baru saja dimulai," jawab Abbas sambil menginjak pedal gas lebih dalam, memacu mobilnya menuju tempat persinggahan rahasia mereka, meninggalkan Stella yang masih terjerat dalam jaring kebohongan yang mereka tenun bersama....

...Di dalam rumah yang sunyi itu, Stella masih merasakan sensasi ganjil di kepalanya. ...

...Rasa lemas yang menderanya bukan sekadar kelelahan biasa....

...Melainkan ada sesuatu yang terasa salah, seolah ada kabut tebal yang menutupi pikirannya sejak ia terbangun tadi pagi....

..."Aku harus ke rumah sakit," gumamnya pelan. ...

...Firasatnya mengatakan bahwa ada yang tidak beres dengan tubuhnya, mungkin sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh sekadar 'kelelahan'....

...Dengan sisa tenaga yang ada, Stella segera mengganti pakaian tidurnya dengan setelan santai namun rapi. ...

...Saat ia melangkah terburu-buru menuju pintu utama, sang pelayan rumah tangga menghampirinya dengan tatapan cemas....

..."Nyonya mau ke mana?" tanya pelayan itu hati-hati....

...Langkah Stella terhenti seketika. Ia berbalik, menatap pelayan itu dengan sorot mata yang tajam dan dingin—sorot mata yang jarang sekali ia tunjukkan. ...

..."Kenapa? Apa saya harus lapor ke kamu setiap kali saya ingin keluar rumah?"...

...Pelayan itu tersentak, wajahnya pucat pasi. Ia segera menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyadari bahwa ia telah melewati batas dan membuat majikannya tersinggung. ...

..."M-maaf, Nyonya. Saya hanya khawatir..."...

..."Jangan bertanya lagi," potong Stella tegas tanpa menoleh lagi....

...Ia segera masuk ke dalam mobil pribadinya yang terparkir di garasi. ...

...Dengan tangan yang sedikit gemetar namun tekad yang kuat, ia menghidupkan mesin dan melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. ...

...Selama perjalanan, pikirannya terus berputar. Ia tidak percaya begitu saja pada penjelasan Abbas semalam. ...

...Ia harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya, apakah ini murni masalah kesehatan, atau ada sesuatu yang disengaja agar ia tidak sadarkan diri....

...Di sepanjang jalan, Stella mencengkeram setir mobil dengan kuat. ...

...Ia merasa seperti sedang berada di dalam labirin kebohongan, dan ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan keluar dari labirin itu, tidak peduli apa kebenaran menyakitkan yang akan ia temukan di rumah sakit nanti....

...Mobil Stella menderu membelah jalanan kota, membawa kegelisahan yang kian memuncak di dadanya. ...

...Pikirannya kalut, namun tujuannya hanya satu: Rumah Sakit Husada, tempat di mana Askhan, sahabat karibnya sejak masa SMA, bertugas sebagai dokter spesialis penyakit dalam....

...Hanya Askhan yang Stella percayai untuk memeriksa kondisinya tanpa banyak tanya....

...Sesampainya di rumah sakit, Stella memarkirkan mobilnya dengan terburu-buru. ...

...Napasnya mulai memendek, dan keringat dingin membasahi pelipisnya. ...

...Pandangannya mulai mengabur, namun ia memaksakan langkahnya menyusuri koridor rumah sakit yang beraroma antiseptik tajam....

...Ia berjalan tertatih menuju ke ruang pemeriksaan Askhan. ...

...Jarak yang biasanya terasa dekat, kini seolah ribuan mil jauhnya. Tubuhnya terasa seringan kapas, namun kakinya seberat timah....

..."Tahan, Stella. Tinggal sedikit lagi," bisiknya pada diri sendiri, mencoba menguatkan kesadaran yang kian menipis....

...Beberapa meter sebelum mencapai pintu kayu jati bertuliskan nama sahabatnya, pandangan Stella mendadak gelap. ...

...Suara bising di sekitarnya perlahan senyap, digantikan oleh denging panjang di telinga. Tubuhnya yang semula tegap perlahan merosot....

...Belum sampai di ruangannya, Stella yang dari tadi menahan lemas langsung jatuh pingsan di tengah koridor....

..."Nyonya! Suster, tolong! Ada pasien pingsan!" teriak salah seorang pengunjung rumah sakit yang melihat tubuh Stella ambruk ke lantai marmer yang dingin....

...Kegaduhan itu seketika memicu kepanikan. Beberapa perawat berlarian membawa brankar darurat. ...

...Pintu ruang kerja Askhan terbuka lebar karena suara keributan di depan ruangannya. ...

...Dokter muda itu terpaku sejenak saat melihat sosok wanita yang sangat dikenalnya terbaring tak berdaya, wajahnya pucat pasi seputih kertas....

..."Stella?!" seru Askhan dengan nada suara yang bergetar karena cemas. ...

...Ia segera berlari menghampiri, memerintahkan para perawat untuk membawa Stella ke ruang tindakan segera....

...Di balik masker medisnya, Askhan merasakan firasat buruk. ...

1
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo aku mampir kak👋
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
cinta semu
beruntung Stella punya teman yg cerdas ...😎
cinta semu
smg aja Stella instingnya tajam ...
tiara
wah wah ternyata sudah setahun toh mereka menikah siri,tunggu saja kalau stella tau rasain kalian
tiara
wah ga beres Si Abbas nih, sepertinya, ga tau diri tuh orang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!