Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.
Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.
Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.
Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.
Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Tidak Terima
Setelah membaca beberapa batu nisan, akhirnya Zivanna menemukan batu nisan dengan tulisan "Rahayu Eka Dewi".
Jantung Zivanna berdebar. Tanpa dia sadari air matanya menetes membasahi pipi. Entah ini air matanya sendiri atau air mata Ayu, Zivanna tidak tahu.
Zivanna berjongkok. Menatap batu nisan yang terlihat masih baru. Setelah terdiam selama beberapa saat, akhirnya Zivanna mulai bicara.
"Hai, Ayu... Aku Zivanna," ucapnya memperkenalkan diri seolah dirinya dan Ayu sedang bicara bertatap muka. "Aku tahu yang aku katakan ini mungkin tidak ada gunanya, tapi aku ingin berterima kasih atas penglihatan yang kamu berikan untukku. Berkat kamu, aku jadi bisa melihat lagi. Andai ada sesuatu yang bisa aku lakukan sebagai bentuk terima kasihku, pasti akan aku lakukan."
"Soal mimpi-mimpi itu, aku tidak tahu maksudnya. Aku harus bagaimana? Aku khawatir kamu muncul di mimpiku karena kamu membenciku, tetapi semoga saja tidak. Aku akan menjaga dan menggunakan pemberianmu ini dengan baik," lanjutnya.
Rani yang hanya melihat Zivanna dari kejauhan mulai khawatir karena Zivanna sejak tadi terlihat bicara sendirian. "Duh, benar kan kesurupan," gumamnya sambil meremas-remas ujung bajunya. "Ibu pasti kumat lagi hipertensinya kalau tahu ini."
Rani yang dasarnya penakut tidak berani mendekat untuk memastikan dan hanya pasrah menunggu sampai gadis itu keluar dari sana.
Cukup lama Zivanna berada di depan makam Ayu hingga akhirnya gadis itu berdiri lalu keluar dari area kuburan dan menghampiri Rani yang terlihat was-was. "Kita pulang, Mak," ucap Zivanna.
"Non Ziva masih mengenali mamak?! Syukurlah... " Rani menghembuskan nafas lega.
"Mamak kenapa?" Zivanna menoleh, heran melihat tingkah Rani.
"Non Ziva dari tadi bicara sendirian. Mamak khawatir Non Ziva kesurupan."
Zivanna memutar bola matanya. "Nggaklah, Mak. Setannya juga malas mau merasuki aku yang banyak maunya ini," jawabnya asal. "Kalau sampai aku kesurupan, nanti sesajennya bukan kembang sama menyan lagi, tapi tas dan sepatu baru yang setan jelas nggak doyan."
Rani hanya geleng kepala melihat tingkah Zivanna. Kalau "waras" begini dia benar-benar menguji kesabaran, lain cerita kalau gadis itu habis bermimpi atau lagi demam.
"Sudah selesai?" tanya Rani. Zivanna mengangguk. "Habis ini mau kemana?"
"Pulang saja, Mak. Ada yang mau aku bicarakan sama nenek." Rani tidak membantah atau bertanya lebih lanjut. Dia mengikuti Zivanna berjalan menuju rumah.
Sesampainya di rumah, Zivanna langsung menemui neneknya yang tengah menyirami tanaman hiasnya di teras. "Nek, itu pekerja nenek yang namanya Ida ida itu dipecat saja. Mulai besok sudah tidak boleh bekerja di sawah maupun di ladang jagung lagi. Dan jangan dikasih apa-apa," kata Zivanna tiba-tiba.
Minah segera meletakkan sprayer yang dia gunakan untuk menyemprot tanaman lalu menatap Rani seolah bertanya "ada apa ini?". Rani hanya mengangkat bahunya sebagai respon karena dia juga tidak tahu.
"Kenapa tiba-tiba minta dia dipecat? Dia tidak berbuat kesalahan," tanya Minah heran.
"Pokoknya pecat saja, Nek." Zivanna sudah memantapkan hatinya untuk membalas orang-orang yang telah menyakiti Ayu semasa hidupnya. Mungkin itu adalah cara yang tepat untuk berterima kasih kepada Ayu. Dimulai dari ibu tiri yang kejam dan tidak berperikemanusiaan itu.
"Nggak bisa gitu, Zi. Nenek nggak bisa memberhentikan seseorang tanpa alasan yang jelas. Apalagi dia tidak membuat kesalahan. Apa kamu tidak kasihan?"
"Kalau begitu bilang saja alasannya karena dia dulu jahat sama anak tirinya. Dia kejam dan suka menyiksa. Dia orang yang tidak punya rasa kasihan jadi kita juga tidak perlu merasa kasihan kepadanya!" kata Zivanna dengan tegas, sedikit marah.
Minah tidak bisa menjawab. Dia bingung memikirkan bagaimana cara memberi tahu Ida jika tiba-tiba diberhentikan secara sepihak dan tanpa alasan yang jelas.
"Nenek tinggal bilang, 'mulai besok kamu tidak perlu bekerja kepadaku lagi' gitu aja. Kalau dia tanya apa salahnya nenek jawab saja, 'kamu pikirkan sendiri apa kesalahanmu'. Gitu aja sudah cukup. Dia punya otak, seharusnya dia introspeksi diri dan menyadari kesalahannya."
Minah dan Rani saling pandang, sama-sama tidak mengerti kenapa Zivanna tiba-tiba begini.
Sore harinya...
Alvaro datang seperti yang telah dia janjikan, masih dengan kemeja dan celana chinos yang sudah sejak pagi dia kenakan. Tetapi itu sama sekali tidak mengurangi ketampanan dokter itu.
"Kita jadi ke makam?" tanya Alvaro sekarang duduk di teras bersama Zivanna.
Gadis itu hanya menggeleng. "Aku sudah kesana bersama Mamak tadi pagi," jawabnya.
"Kenapa nggak nunggu aku?"
"Kelamaan," jawab Zivanna singkat. "Mmm... terimakasih ya, Al."
Sejak dari makam tadi Zivanna merasa ringan. Rasanya seperti separuh beban dalam hidupnya sudah hilang dan itu berkat Alvaro. Laki-laki yang baru dia kenal tetapi gigih membantunya. Sangat berbeda dengan mantan kekasih yang meninggalkannya ketika mengetahui dirinya buta.
Eh... Kenapa jadi ingat si pengecut itu?!
Alvaro tersenyum dan mengangguk. Tadi Alvaro sempat berbicara dengan Rani, ketika gadis yang ingin ditemuinya itu belum selesai mandi. Kata Rani, sejak pulang dari makam Zivanna terlihat berbeda. Dia tampak lebih ceria dari biasanya. Alvaro ikut senang mendengarnya.
Tadinya Alvaro memang hanya menganggapnya sebagai pasien biasa. Tidak tahunya setelah semakin saling mengenal ternyata gadis itu tidak serapuh kelihatannya. Ternyata dia adalah gadis keras kepala yang menguji kesabaran semua orang, tetapi justru itu yang membuat Alvaro jatuh cinta dan membuatnya rela bolak-balik antara kecamatan Suka Jaya dan desa Suka Makmur
"Ayu sudah meninggal dan orang-orang yang dulu menyakitinya belum mendapatkan balasan. Aku tidak bisa hidup tenang mengetahui pemilik mataku ini dulunya sangat menderita. Aku ingin membalaskan dendamnya. Bagaimana menurutmu?"
"Itu terserah kamu, Zi. Kalau itu bisa membuatmu merasa lega, lakukan saja. Selama kamu tidak melakukan perbuatan kriminal dan tidak membahayakan diri sih menurutku boleh-boleh saja. Memangnya, apa rencanamu?"
* * *
"Tumben ibu sudah pulang?" tanya Suci ketika dia pulang dan mendapat ibunya sudah di rumah. Lalu Ida menceritakan kejadian tadi ketika dia datang ke ladang. Budi tiba-tiba memberitahunya kalau Bu Minah sudah tidak membutuhkan tenaganya lagi. Intinya, Ida dipecat. Dengan menahan rasa malu, Ida pun pulang.
"Memangnya salah ibu apa?!"
"Aku juga tidak tahu apa salah ibu. Minah memecatku begitu saja tanpa ada penjelasan. Mentang-mentang orang kaya bisa berbuat seenaknya! Ibu tidak terima!"
Suci yang sudah menyimpan rasa tidak suka kepada keluarga Minah, terutama Zivanna semakin membenci mereka setelah mendengar berita ini. "Kita tidak boleh diam saja. Kita harus memberi mereka pelajaran!"
"Memangnya kita bisa apa melawan orang berada seperti Minah?"
"Ibu tidak usah khawatir. Serahkan saja padaku!"