NovelToon NovelToon
Buronan Cinta 'Pak Komisaris'

Buronan Cinta 'Pak Komisaris'

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Cinta Terlarang / Enemy to Lovers
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.

Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.

Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perburuan mangsa baru

Istana megah itu bermandikan cahaya, menyisakan dengung televisi yang menemani Willy bersantai di kursi empuknya. Namun, dalam sekejap mata, semua berubah.

LAP!

Willy tersentak. Kegelapan pekat menelan ruangan, menyisakan keheningan yang mencekam. Jantungnya mulai berdegup kencang. Ia meraba-raba sisi sofa, mencari ponsel yang diyakini berada tepat di samping pahanya.

"Kenapa tiba-tiba mati lampu?" Willy bergumam panik. Tangannya menepuk permukaan sofa dengan kalap, tapi benda tipis itu lenyap.

Padahal, rumah semewah ini belum pernah mengalami gangguan listrik.

"Parjo!" pekiknya.

Hening. Tidak ada sahutan.

"Parjo!" Willy mengeraskan suara. "Ck, kemana bocah itu? Dasar pembantu sialan!"

Merasa tak punya pilihan, Willy beranjak. Berjalan tertatih, meraba udara dengan kedua tangan demi menghindari perabotan yang bisa saja menjerat kakinya.

Sial. Sehrusnya ia tidak menyuruh pelayan menutup semua gorden, jika tidak, setidaknya cahaya bulan bisa menjadi pemandu.

"Sepertinya ada senter di atas laci," batin Willy mencoba mengingat letak meja di tengah kegelapan.

DUK!

"Aw!" Willy mengaduh, pinggulnya menghantam sudut meja. Rasa nyeri menjalar hingga ke pangkal paha, membuatnya mendesis kesakitan.

"Parjo!" serunya lagi, berharap ada langkah kaki yang mendekat.

TAP.

Suara langkah pelan terdengar di belakang. Willy mematung, pupil matanya membesar berusaha menembus kegelapan.

"Parjo? Apa itu kamu?"

Sunyi.

"Surti?"

Belum ada sahutan.

"Siapa pun di sana, cepat cari senter!" perintah Willy, nada kesalnya menutupi rasa takut.

Langkah kaki itu terdengar menjauh. Willy bernapas lega, mengira pelayannya sudah mengerti. Beberapa saat kemudian, langkah itu kembali dan berhenti tepat di depan.

"Gimana? Sudah ketemu?" Willy mengulurkan tangan, meraba sembarang arah guna meraih senter.

CRAT!

"AAAGH!" Willy memekik. Sesuatu yang dingin dan tajam baru saja menyayat pergelangan tangannya.

Bau logam darah seketika menyeruak. Tangannya berdenyut hebat. "Bodoh! Apa yang kamu lakukan?!"

LAP.

Cahaya terang tiba-tiba menyala, menyilaukan mata. Di depan, berdiri seorang wanita asing yang menatapnya sambil tersenyum puas.

Sebuah senter duduk menggantung di sela jarinya, sementara tangan lain menggenggam pisau dapur yang bersimbah darah segar.

Tubuh Willy bergetar hebat. "Si-siapa kamu?"

"Aku malaikat mautmu," jawab wanita itu dengan nada riang yang mengerikan.

"Dasar wanita gila!" Willy melangkah mundur dengan gemetar. "Parjo! Surti! Yoga!"

BRAK!

Wanita itu menghentakkan senter ke atas meja tanpa melepas tatapan. "Percuma berteriak. Orang-orang yang kau panggil sedang terlelap di alam mimpi."

"TOLONG!!"

"Hust!" Ia berdesis, menempelkan telunjuk di depan bibir. "Jangan berisik, nanti tidur mereka terganggu. Hehe."

"Mau apa kamu?!" kata Willy panik,

Hanya mendapat tawa yang membuat bulu kuduknya berdiri. Willy sadar ia harus keluar sekarang sebelum dirinya berakhir menjadi mayat.

Ia berbalik, mencoba berlari secepat yang kaki rentanya mampu.

"Tuan, ada yang bisa saya bantu?"

Willy tersentak, berhenti melangkah. Itu suara Parjo! "Parjo? Kamu dimana?"

"Di sini," sahut wanita tadi, mengangkat ponsel yang memutar rekaman suara pelayan. "Oh, Willy...berhentilah berlari. Itu tidak baik untuk kesehatanmu."

Willy tak mendengar, kembali berlari menjauh.

Sedangkan wanita itu mulai berjalan santai, seolah melewati taman. "Ya sudah, kalau kamu memaksa...bagaimana kalau kita mulai perburuannya?"

Ia tersenyum licik, jari lentiknya merogoh tiga buah anak panah berukuran sepuluh senti dari balik saku.

"Willy, awas!"

SET!

"AAAKH!" Willy tersungkur saat benda tajam merobek betis kirinya.

"Aduh, apa kamu tuli? Sudah kubilang awas, kenapa tidak menghindar?" Ia berseru kegirangan,

Willy merangkak, menyeret kaki yang mulai lumpuh.Nyeri dan amis darah memenuhi indranya.

"Ck! Padahal aku ingin mengenai pinggangnya," gumam si wanita sambil mengernyit. "Akan kucoba sekali lagi! Tapi, langsung pakai tiga anak panah sekaligus!"

Dengan lihai dia membidik dalam cahaya remang.

SET! SET! SET!

Tiga mata panah menancap telak di paha kanan, punggung, dan lengan.

"ARGHHH!"

Teriakan pilu Willy memenuhi ruangan. Cairan merah mengalir deras, membasahi lantai marmer. Pria itu kehilangan tenaga, tersungkur dengan napas tercekik. Sarafnya terasa mati, lidahnya mulai membara, tanda bahwa mata panah itu tidak sekadar tajam, tapi juga beracun.

"Ayo bangun. Apa kamu tidak bisa bertahan sebentar lagi?"

Sepatu bot wanita itu mendarat keras di betis Willy yang terluka.

"AAA!"

"Ups, maaf! Aku tidak sengaja. Di sini terlalu gelap," Ia berjongkok di samping, menatap Willy dengan tatapan dingin.

"Siapa...sebenarnya kamu? Kenapa...apa salahku?" Willy terbata, kesadarannya meredup.

"Tanyakan saja pada yang lain." jawabnya lirih,

"Jadi kamu... yang membunuh Dendi Hasno?"

Wanita itu tersenyum tipis. "Entahlah. Terlalu banyak pendosa yang kulenyapkan, jadi aku tidak ingat lagi nama mereka satu per satu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!