Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Adira sakit
"Keluar!" bentak Arlan tiba-tiba. Suaranya menggelegar hingga membuat Sean terperanjat.
"Ih, galak banget sih, ekke takut!" sahut Sean dengan gaya kemayu yang sengaja dibuat-buat untuk menggoda sahabatnya itu. Entah mengapa, ada saja tingkah Sean yang selalu berhasil membuat Arlan mengerang kesal.
Sejak dulu, Sean memang sosok yang paling menyebalkan di mata Arlan. Namun, Arlan tidak memiliki banyak teman di hidupnya yang kaku. Selain Sean, ia hanya memiliki sepupunya, Zo, yang cukup dekat. Dan tentu saja, ada asisten Wira yang kesetiaannya tidak perlu diragukan lagi. Hanya orang-orang inilah yang bisa bertahan menghadapi sifat dingin dan temperamental seorang Arlan.
Sebenarnya, Sean adalah tipe orang yang sangat ceria. Di depan Arlan, ia sering berperilaku menyebalkan dan kocak, bahkan tak segan bersikap kekanakan demi mencairkan suasana. Namun, sisi konyolnya itu seketika lenyap saat ia berhadapan dengan pasien.
"Baiklah, aku akan keluar Tuan Arlan Erlangga yang terhormat," ujar Sean langsung keluar dari kamar.
Setelah Sean keluar, Arlan kembali melirik Adira dengan tatapan yang memancarkan campuran antara kekesalan dan kebencian. "Merepotkan sekali," gerutunya pelan sembari mengatupkan gigi rapat-rapat.
Namun di satu sisi, ego dan rasa posesifnya meronta. Ia tidak rela jika ada orang lain yang melihat tubuh istrinya. Baginya, Adira adalah miliknya—hak mutlak yang tidak boleh disentuh atau dipandang oleh siapa pun. Ia tidak akan membiarkan siapa pun bersikap lancang terhadap wanita itu, meski ia sendiri yang sering menyakitinya.
Arlan kemudian bangkit berdiri dan menghampiri lemari pakaian Adira. Saat membuka pintu lemari tersebut, gerakkannya terhenti. Ia tertegun melihat pemandangan di depannya. Di dalam lemari yang luas itu, hanya ada beberapa lembar pakaian yang tergantung sepi.
Pria itu terdiam sejenak, pikirannya berkecamuk. Ia mengulurkan tangan untuk menghitungnya, dan betapa terkejutnya ia saat mendapati istrinya hanya memiliki lima lembar baju dan dua lembar kerudung. Arlan menatap tak percaya; bagaimana mungkin seorang wanita yang tinggal di mansion semewah ini memiliki pakaian yang bahkan lebih sedikit daripada pelayannya?
"Kalau Oma melihat ini, dia pasti bilang kalau aku suami tidak becus," gumam Arlan.
Bayangan wajah sang Oma yang bijak namun tegas terlintas di benaknya. Di mata keluarga besar, Arlan adalah pria yang bertanggung jawab dan mapan, namun pemandangan lemari pakaian Adira yang nyaris kosong itu menjadi bukti nyata kegagalannya sebagai kepala rumah tangga. Meskipun pernikahan ini hanyalah panggung sandiwara dan ajang balas dendam baginya, nuraninya terusik melihat betapa mengenaskannya hidup wanita yang menyandang status sebagai istrinya tersebut.
Arlan tiba-tiba teringat bahwa ia memang tidak pernah memberikan uang sepeser pun kepada gadis itu. Untuk sesaat, rasa bersalah menyelinap, namun dengan cepat ia menepisnya saat kembali mengingat tujuannya menikah Adira. Ia memaksakan rasa benci kembali menguasai hati, meyakinkan diri bahwa ia tidak peduli—meskipun jauh di lubuk sanubarinya, kenyataannya justru sebaliknya. Ego dan dendamnya sebagai kakak dari Anisa yang tewas membuatnya menutup rapat pintu kasihan bagi Adira.
Pria itu menarik laci kecil, sengaja mencari pakaian dalam milik Adira. Sontak ia menutupnya kembali dengan cepat; wajahnya memanas. "Wanita ini benar-benar membuatku murka!" gumamnya sembari mengepalkan tangan erat-erat. Ia menahan amarah yang membuncah karena harus melakukan hal yang menurutnya sangat memalukan.
Arlan menarik salah satu baju yang ukurannya lumayan panjang, lalu mendekati ranjang. Awalnya, ia berpikir tidak perlu memakaikan pakaian dalam; baginya, itu adalah pekerjaan yang terlalu rendah dan memalukan untuk dilakukan oleh pria sepertinya. "Cukup baju luarnya saja," pikirnya geram.
Namun, Arlan kembali teringat. Jika ia hanya memakaikan baju tanpa pakaian dalam, lantas, bagaimana nanti Sean kalau akan memeriksa fisik Adira. Arlan semakin mengatupkan giginya kuat-kuat. Ia merasa Adira benar-benar menjadi beban yang merepotkan.
Karena rasa tidak rela jika tubuh istrinya dilihat oleh Sean—meski dalam konteks medis—akhirnya ia tidak punya pilihan lain. Dengan napas yang memburu karena kesal, ia kembali mengambil pakaian dalam wanita itu. Ia menatap wajah Adira yang pucat dengan tatapan dingin nan menusuk, lalu perlahan mulai membuka selimut hingga sebatas dada.
"Sungguh, kau benar-benar membuatku muak," gumamnya dengan suara menahan geram, meski tangannya harus bergerak melakukan hal yang paling tidak pernah ia bayangkan.
Arlan mulai mengambil pakaian dalam Adira dan berusaha memakaikannya dengan gerakan yang sangat kaku. Meskipun ia sama sekali tidak menyibak selimut yang menutupi tubuh wanita itu, Arlan tetap memalingkan wajah seolah-olah sedang berhadapan dengan Adira yang polos tanpa penghalang apa pun.
Posisinya yang sangat dekat dan intim ini membuat dada Arlan berdebar kencang—campuran antara rasa canggung yang luar biasa dan amarah yang meluap. Debar jantungnya bukan karena nafsu, melainkan karena ia terus merutuki dirinya sendiri; untuk apa ia melakukan hal serendah ini? Namun, setiap kali bayangan Sean akan memeriksa tubuh istrinya melintas, Arlan langsung mengabaikan egonya dan lanjut membantu memakaikan pakaian tersebut di balik selimut.
Saat tangannya bergerak menyentuh kulit Adira, Arlan bisa merasakan panas yang sangat menyengat. Suhu tubuh gadis itu benar-benar tinggi, menandakan bahwa ia sedang terserang demam yang sangat parah. Rasa panas itu seolah menembus telapak tangan Arlan, membuatnya sadar bahwa kondisi Adira saat ini sedang berada di titik yang sangat mengkhawatirkan.
Setelah selang beberapa menit yang terasa begitu lama bagi Arlan, ia akhirnya selesai. Dengan napas yang masih sedikit tidak teratur karena menahan gugup dan emosi, ia memanggil Sean untuk segera masuk dan memeriksa Adira.
Begitu Sean melangkah mendekati ranjang dan melihat wajah pasiennya dengan jelas, ia langsung terperanjat. Matanya terbelalak menatap lekat-lekat wajah pucat itu. Ia ingin sekali berseru dan bertanya, 'Bukankah ini putri dari Sutra Santoso? Musuh besarmu?'
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang