NovelToon NovelToon
The Predator’S Possession

The Predator’S Possession

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Callalily

Benedict Franklin, pemilik Equinox Ventures dan pemimpin organisasi Veto, adalah pria yang hanya percaya pada angka dan kekuasaan. Baginya, emosi adalah kelemahan, dan tatapan matanya mampu meruntuhkan siapapun dalam hitungan detik. Namun, hidupnya yang penuh kendali berubah saat ia bertemu dengan Zara Clarance Harrison. Bagi Zara, hidupnya sudah cukup indah hanya dengan aroma tepung dan manisnya gula di toko kue kecil miliknya. Namun, dunianya yang tenang, hancur dalam semalam ketika ayahnya, David Harrison, menggunakan dirinya sebagai jaminan hutang kepada Benedict Franklin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callalily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 8

Saat kulit mereka bersentuhan, telapak tangannya yang hangat oleh darah meninggalkan bekas merah yang kontras di kulit bersih gadis itu.

Air mata jatuh tanpa bisa ia cegah. Satu tetes mendarat tepat di punggung tangan Benedict. Zara terisak pelan, bahunya bergetar hebat.

Ia tidak tahu apakah ia menangis karena benci melihat pria ini terus menerus menariknya dalam lingkaran kematian, atau karena ia tiba-tiba merasa begitu pedih mengasihani nasib buruk Benedict.

Zara ingin menarik tangannya, namun jemari Benedict menguncinya.

“Kau gila….” bisik Zara di tengah tangisnya yang mulai pecah. “Kau benar-benar gila.”

Tepat saat isak tangis Zara memenuhi ruangan, pintu kamar terbuka lebar dengan bantingan keras.

Luca masuk dengan seorang pria yang membawa tas medis.

“Tekan luka di bahunya sekarang!” perintah dokter Victor kepada perawat yang menyusul di belakangnya.

Ia tidak membuang waktu, segera menggunting kemeja Benedict.

Luca mendekati Zara. “Keluar sekarang, Nona. Biarkan dokter bekerja.”

Namun, Zara justru bergeming. Dengan wajah yang masih basah oleh air mata, ia menatap Luca.

“Tidak! Biarkan aku tetap disini” pinta Zara.

Luca akhirnya mengalah dan membiarkannya berdiri di sudut ruangan. Menyaksikan dokter menangani Benedict. Isak tangisnya perlahan mereda, berganti dengan napas yang tertahan setiap kali ia melihat peralatan tajam menyentuh kulit Benedict.

Satu jam berlalu. Setelah jahitan terakhir selesai dan perban putih mulai melilit lengan Benedict, dokter Victor menghela napas panjang dan melepaskan sarung tangan karetnya.

“Dia sudah melewati masa kritisnya,” Victor menoleh pada Luca, lalu melirik Zara.

“Tapi dia kehilangan banyak darah. Dia akan demam tinggi malam ini, seseorang harus terus memantau kondisinya dan mengganti kompresnya secara teratur”

“Saya akan kembali besok pagi untuk memeriksa jahitannya. Hubungi saya segera jika ada pendarahan baru” pungkas dokter Victor.

Setelah mengantar keluar dokter Victor, Luca kembali.

“Nona, sebaiknya kau pindah ke kamar lain,” ujar Luca. “Aku akan memanggil pelayan atau perawat untuk menjaganya malam ini.”

“Tidak perlu panggil siapa pun, Luca” jawab Zara. “Aku akan menjaganya.”

Luca diam sejenak, menimbang-nimbang permintaan Zara.

“Baiklah,” ucap Luca akhirnya. “Tapi jika suhunya naik atau jahitannya terbuka, kau harus segera memanggil penjaga di depan”

Zara mengangguk pelan. Luca keluar, meninggalkan dirinya kembali dengan Benedict. Ia melangkah mendekat ke sisi tempat tidur, menarik kursi kecil hingga tepat berada di samping kepala Benedict.

“Sudah ku bilang untuk jangan terluka lagi…..” ucap Zara sangat pelan, hampir tak terdengar.

Malam semakin larut, sesuai prediksi dokter, suhu tubuh Benedict perlahan naik. Zara tetap terjaga, ia terus mengganti kompres di dahi Benedict setiap kali kain itu mulai mengering karena panas.

Sekitar pukul empat pagi, keheningan pecah oleh suara rintihan Benedict. Pria itu mulai gelisah. Kepalanya bergerak ke kiri dan kanan, butiran keringat dingin sebesar biji jagung membasahi pelipisnya.

“Jangan……jangan pergi….” rintih Benedict, matanya masih tertutup rapat.

Zara terdiam. Ia mendekatkan telinganya, mencoba mencerna apa yang dikatakan pria itu dalam rintihannya.

“Papa…. Mama….” Benedict merintih lagi.

Zara tertegun. Jantungnya berdenyut nyeri mendengar nama itu keluar dari mulut Benedict. Tangan Zara bergetar, ia memikirkan kemungkinan terburuk dari apa yang telah ayahnya rampas dari Benedict.

Rintihan Benedict semakin menjadi-jadi. Rahangnya mengatup rapat, dan napasnya memburu, menunjukkan rasa sakit yang teramat pada jiwanya.

Dengan ragu, Zara mengulurkan tangannya. Ia sempat bimbang sejenak, namun akhirnya ia memberanikan diri menyentuh tangan pria itu.

Begitu kulit mereka bersentuhan, Benedict langsung mencengkeram jemari Zara dengan kuat. Namun, anehnya setelah merasakan genggaman itu, napas Benedict perlahan-lahan mulai teratur.

“Aku di sini,” bisik Zara tanpa sadar, suaranya sangat lembut, hampir seperti nyanyian tidur.

Ia membiarkan jemarinya dalam genggaman Benedict. Zara duduk merapat ke sisi ranjang, menjaga pria itu sepanjang sisa malam dengan tangan saling bertaut.

Cahaya matahari pagi mulai merayap masuk melalui celah-celah gorden. Benedict perlahan membuka matanya. Pandangannya masih sedikit kabur dan kepalanya sangat berat. Hal pertama yang ia rasakan adalah sebuah kehangatan dan berat di tangan kirinya.

Ia menolehkan kepalanya, matanya melebar sekilas. Di samping tempat tidurnya, Zara tertidur dalam posisi terduduk di kursi kecil dengan kepala terkulai di dipinggir ranjang, tepat di samping lengan Benedict. Dan tangan mereka masih saling bertaut.

Benedict terdiam sejenak. Ia menatap tautan tangan itu. Ia ingat samar-samar tentang mimpi buruknya semalam, dan sebuah suara yang berbisik di tengah mimpinya.

Benedict tidak melepas genggamannya, ia justru mengamati bagaimana napas Zara yang teratur membuat bahu gadis itu naik turun perlahan. Namun, saat Benedict sedikit menggerakkan jemarinya membuat Zara terusik kemudian terbangun.

Zara membuka matanya perlahan. Alih-alih terlonjak kaget, ia balas menatap Benedict. Ia tetap dalam posisinya, membiarkan wajah mereka terpaku dalam jarak yang sangat dekat.

“Apakah…..” suara Zara pecah. “Apakah yang ayahku ambil darimu….. adalah orang tua mu?”

Benedict tidak menjawab. Rahangnya mengeras seketika, sorot matanya meredup. Ia hanya menatap Zara dengan tatapan kosong. Diamnya Benedict adalah jawaban yang paling memilukan bagi Zara.

Air mata mulai mengalir perlahan dari sudut mata Zara. Ia merasa dadanya terhimpit bebatuan.

“Maaf…..” ucap Zara di sela isak tangisnya. “Maafkan aku.”

Benedict tetap diam, namun cengkeraman pada jemari Zara mengencang secara tidak sadar.

“Pergilah,” suara Benedict akhirnya keluar, sangat rendah dan parau.

“Tuan—“

“Bersihkan dirimu,” potong nya tanpa membuka mata, suaranya terdengar letih.

Zara mengangguk pelan. Ia melepaskan tautan jemari mereka dengan hati-hati, merasakan sensasi dingin yang tiba-tiba menjalar saat kulit mereka tak Legi bersentuhan. Zara berdiri dengan kaki yang terasa kaku karena duduk terlalu lama.

Begitu pintu terbuka, Luca sudah berdiri tegak disana. Ia memperhatikan kondisi Zara dari kepala hingga ujung kaki, lalu beralih menatap ke dalam kamar sejenak sebelum pintu ke tertutup kembali.

“Dua sudah bangun?” tanya Luca.

“Sudah,” jawab Zara rendah. “Demamnya mulai turun, tapi dia sangat lemah. Dia menyuruhku keluar”

Luca mengangguk, lalu memberi isyarat kepada dua pelayan wanita yang sudah menunggu di ujung lorong dengan mam bawa perlengkapan kebersihan dan pakaian baru.

“Aku sudah siapkan kamar baru untukmu. Mandilah. Pelayan akan mengantarkan sarapan untukmu disana.”

Satu orang pelayan wanita mengantar Zara. Zara berjalan gontai menyusuri lorong mansion. Saat ia sampai di kamarnya, ia segera mengunci pintu dan bersandar di baliknya.

Ia masuk ke kamar mandi, menyalakan pancuran air hangat, dan berdiri dibawahnya. Di bawah guyuran air, ia menutup matanya rapat-rapat. Suara rintihan Benedict, genggaman tangannya, dan fakta yang baru ia ketahui tentang ayahnya, memenuhi isi kepalanya.

1
rurry Irianty
novel dark romance favorit kuuu
Bude Yanti
aku suka lajut kan
Nanda
novel ini bagus, cocok dibaca sama orang yang suka genre dark romance
Nanda
KAK SEMANGAT UP NYAAA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!