NovelToon NovelToon
Undefined: The Guardian Dog

Undefined: The Guardian Dog

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance / Mafia / Romansa
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: hrarou

🌶️ WARNING!!🌶️

Mengandungi ***** ****** yang mungkin tidak sesuai untuk semua pembaca.
.
.
.
Dalam dunia gelap yang dipenuhi darah, senjata, dan pengkhianatan, Seravina dikenal sebagai wanita sempurna yang tidak pernah gagal.

Cantik. Elegan. Mematikan.

Tidak ada yang tahu bahwa di balik wajah anggunnya, tersembunyi monster dingin yang tidak ragu membunuh siapa pun yang membuatnya jijik.

Hingga suatu malam, pencarian anjing baru membawanya ke arena pertarungan underground.

Dan di sanalah dia bertemu Viktor—pria yang bertarung bukan demi uang atau kemenangan, tetapi demi merasakan sesuatu yang bahkan tidak dia pahami.

Satu kehilangan diri karena trauma.

Satu lagi hidup tanpa pernah benar-benar memilikinya.

Ketika dua manusia yang sama-sama rusak dipertemukan, siapa yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hrarou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ketakutan di Balik Kemarahan

Suasana di lorong kediaman itu mendadak mencekam. Langkah kaki Mikhail yang berat dan cepat bergema di lantai marmer. Di ujung lorong, dua orang anjing pengawal yang ditugaskan menjaga Seravina berdiri kaku, namun wajah mereka pucat pasi saat melihat Mikhail datang dengan tatapan mata yang berkilat penuh amarah.

Mikhail berhenti tepat di depan mereka. Napasnya memburu. "Di mana dia?" suaranya rendah, namun mengandung ancaman yang nyata.

Kedua pengawal itu saling lirik, keringat dingin mulai bercucuran. "Maaf, Tuan... Nona Seravina meminta waktu sendiri di taman belakang dan kami—"

PLAK!

Satu tamparan keras mendarat di pipi pengawal yang bicara, membuat kepalanya tersentak ke samping. Suara hantaman tangan Mikhail begitu nyaring di lorong yang sepi itu.

"Bodoh!" desis Mikhail. Ia mencengkeram kerah baju anjing penjaga baru itu hingga wajah mereka berdekatan. "Tugas kalian adalah mengawasinya setiap detik!"

Ia melepaskan cengkeramannya dengan kasar hingga pengawal itu terhuyung. Mikhail menunjuk wajah mereka satu per satu dengan jari gemetar karena amarah yang meluap.

"Kalau sampai terjadi sesuatu pada Seravina karena kelalaian kalian, bukan hanya pekerjaan yang akan hilang, tapi nyawa kalian juga tidak akan ada harganya di mataku. Cari dia sekarang!"

Kedua pengawal itu tidak berani membantah. Dengan kepala tertunduk dan rasa takut yang menjalar, mereka segera berlari meninggalkan Mikhail yang masih berdiri dengan tangan mengepal, berusaha meredam gejolak posesif yang membakar dadanya.

......................

Keesokan harinya, suasana di mansion pribadi Seravina terasa sangat berbeda dengan dapur sempit milik Viktor yang berantakan. Di kamar luas dengan interior mewah yang didominasi warna gelap dan emas, Seravina masih terlelap di balik selimut sutra mahalnya.

Cahaya matahari pagi yang berusaha menembus gorden beludru tidak cukup kuat untuk mengusik tidurnya yang tenang—setidaknya sampai sebuah getaran keras dan nada dering yang berisik memecah keheningan di atas nakas.

Seravina mengerang kecil, tangannya meraba-raba dengan malas di bawah bantal sebelum akhirnya meraih ponselnya. Tanpa membuka mata, ia menggeser tombol hijau.

"Jika ini bukan soal dunia yang akan kiamat, kupastikan kau yang akan kiamat duluan," gumam Seravina dengan suara serak khas orang baru bangun tidur, namun tetap mengandung nada ancaman yang tajam.

"Sapaan yang manis seperti biasa, Seravina," suara berat di seberang sana menjawab dengan nada datar namun penuh otoritas.

Mata Seravina langsung terbuka lebar saat mengenali suara itu. Ia terduduk seketika, rambut panjangnya yang berantakan jatuh menutupi bahunya.

"Mikhail?"

"Bangun. Ada hal yang harus kau urus, dan ini melibatkan 'teman baru' yang sedang kau sembunyikan itu," ucap Mikhail tanpa basa-basi, membuat kantuk Seravina hilang sepenuhnya dalam sekejap.

......................

Di ruang kerja pribadi Mikhail yang luas dan dingin, suasana terasa mencekam. Mikhail duduk di balik meja mahoni besarnya, sementara Seravina duduk bersandar dengan santai di sofa kulit di depannya. Gadis itu memainkan kuku-kukunya, memasang wajah polos seolah tidak tahu mengapa ia dipanggil ke sana pagi-pagi sekali.

Mikhail tidak membuang waktu. Ia menatap adiknya dengan pandangan tajam yang bisa mengintimidasi siapa saja, kecuali Seravina.

"Aku sudah memperingatimu tempo hari," suara Mikhail berat dan dingin. "Pria bernama Viktor itu bukan tipe yang bisa kau jadikan anjing peliharaan. Dia liar, berbahaya, dan tidak akan pernah tunduk padamu."

Seravina berhenti memainkan kukunya. Ia mendongak, menatap kakaknya dengan binar mata yang keras kepala.

"Dan aku juga sudah bilang padamu dari hari itu," potong Seravina, suaranya tenang namun tajam. "Aku menginginkan dia. Sejak awal, dialah yang aku bidik."

Ia bangkit berdiri, menatap Mikhail tanpa rasa takut sedikit pun.

"Aku tidak peduli dia liar atau berbahaya. Aku menginginkannya, dan siapa pun termasuk kau... tidak punya hak untuk mencampuri urusanku dengannya. Viktor adalah urusanku, dan aku akan mendapatkannya dengan caraku sendiri."

"SERAVINA!"

Bentakan Mikhail menggelegar, menghantam dinding-dinding ruang kerja yang kedap suara itu hingga atmosfer di dalamnya terasa membeku seketika. Pria itu menggebrak meja mahoninya dengan satu tangan, berdiri dengan kemarahan yang tidak lagi tertahan. Matanya yang tajam kini berkilat, menatap adiknya seolah ingin menembus isi kepala Seravina yang penuh dengan kegilaan itu.

"Kau pikir ini permainan anak-anak?!" suara Mikhail merendah, namun setiap katanya penuh dengan ancaman yang pekat. "Dia itu bukan sekadar 'pria liar'. Dia adalah ancaman yang bisa menghancurkan apa pun yang disentuhnya. Dan kau, dengan segala keras kepalamu, mencoba membawanya ke dalam lingkaran kita?"

Mikhail melangkah keluar dari balik mejanya, mendekati Seravina yang masih berdiri tegak meski baru saja dibentak dengan keras.

"Jangan biarkan obsesimu membutakanmu. Sekali dia berbalik menyerang, aku tidak akan turun tangan untuk menyelamatkanmu dari lubang yang kau gali sendiri!"

Seravina tidak bergeming. Alih-alih gemetar karena bentakan kakaknya, ia justru menyipitkan mata, menatap Mikhail dengan rasa ingin tahu yang semakin memuncak. Ia melipat tangan di depan dada, mencoba mencari celah di balik kemarahan kakaknya yang tidak biasa ini.

"Kenapa?" tanya Seravina, suaranya kini lebih rendah dan menuntut. "Kenapa kau setakut ini padanya?"

Ia melangkah maju, memperpendek jarak dengan Mikhail.

"Sebelum ini, kita sudah sering menjinakkan orang-orang yang jauh lebih gila dan berbahaya. Kita menjadikan mereka anjing yang patuh di bawah kaki Zharvok. Tapi kenapa kali ini berbeda? Kenapa untuk pria satu ini, kau seolah sedang melihat hantu?"

Seravina menatap tajam ke dalam mata Mikhail, mencoba mencari kejujuran di sana.

"Apa sebenarnya rahasia di balik nama Viktor itu? Siapa dia sebenarnya sampai seorang Mikhail Zharvok harus berteriak seperti orang ketakutan hanya karena aku ingin memilikinya?"

Keheningan kembali menyelimuti ruangan.

Mikhail tidak menjawab. Ia justru melangkah maju dengan gerakan yang sangat tenang namun terasa mencekik. Ia mengulurkan tangannya, lalu mencengkeram lembut tapi kuat kedua pipi Seravina, memaksa adiknya itu untuk menatap langsung ke dalam matanya yang sedingin es.

Tidak ada kehangatan seorang kakak di sana, hanya otoritas yang mutlak.

"Dengarkan aku baik-baik, Seravina," bisik Mikhail, suaranya kini kembali tenang, tapi jauh lebih mengerikan daripada bentakannya tadi. "Aku tidak akan menjelaskan apa pun padamu. Tidak hari ini, tidak juga besok."

Jari-jarinya menekan sedikit lebih keras, memastikan Seravina merasakan setiap kata yang ia ucapkan.

"Berhenti menggali tentangnya. Berhenti menemuinya. Jika kau tetap keras kepala dan terus bermain api dengan pria itu, aku sendiri yang akan memastikan orang itu menghilang secara permanen dari dunia ini—bahkan sebelum kau sempat menyebut namanya lagi."

Mikhail melepaskan cengkeramannya dengan kasar. Ia berbalik memunggungi adiknya, kembali ke balik meja besarnya tanpa niat untuk melanjutkan diskusi.

"Keluar dari sini. Dan jangan biarkan aku mendengar kau berada di dekatnya lagi."

Mendengar ancaman mematikan dari kakaknya, bukannya merasa takut atau terintimidasi, bahu Seravina justru mulai berguncang pelan. Keheningan ruangan itu pecah bukan oleh permintaan maaf, melainkan oleh suara tawa yang keluar dari bibir Seravina.

Awalnya hanya kekehan kecil, lama-kelamaan berubah menjadi tawa renyah yang terdengar sangat tulus—sekaligus mengerikan bagi siapa pun yang mendengarnya.

"Hahahahaha..." Seravina menyeka sudut matanya yang sedikit berair karena tertawa, mengabaikan rasa perih di pipinya bekas cengkeraman Mikhail tadi.

Ia menatap punggung kakaknya dengan binar mata yang kini berkilat penuh kegilaan. "Kau sungguh luar biasa. Kau baru saja memberikan alasan paling sempurna bagiku untuk tidak pernah melepaskannya."

Seravina melangkah mundur perlahan menuju pintu, namun pandangannya tetap tertuju pada Mikhail.

"Semakin kau ingin dia menghilang, semakin aku ingin melihatnya bertekuk lutut di depanku. Kalau kau bilang dia api, maka aku tidak keberatan jika harus terbakar bersamanya. Bukankah itu terdengar sangat menyenangkan?"

Seravina menolak gagang pintu, memberikan senyuman manis yang paling manipulatif sebelum menghilang dari balik pintu. "Jangan khawatir. Aku akan menjaga mainan baruku dengan baik... sampai dia sendiri yang memohon padaku untuk tidak membuangnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!