Selama 15 tahun pernikahan dengan Angga, Nayra bahkan tidak pernah bahagia. Meskipun dia sudah memiliki dua orang putri. Sikap kasar Angga tidak pernah hilang, dia sering memarahi Nayra di depan kedua anaknya. Ternyata sikap Angga, bukan hanya membuat Nayra tersiksa, tapi juga anak pertamanya yang mulai beranjak remaja. Nayra sempat berpikir keras untuk pergi dari rumah itu, tapi yang dia pikirkan hanya kedua anaknya, bagaiman masa depannya. Nayra terus bertahan meskipun luka di hatinya semakin besar, rasa cinta untuk Angga kini telah hilang. Saat Nayra terjebak hutang, Angga masih saja menyalahkannya, kini Nayra sudah berada di titik pasrah. Tapi Tuhan maha baik hidup Nayra di tolong oleh Arsen Wiratama, pemilik perusahaan terbesar di kota itu. Arsen menolong Nayra, tapi semua tidak gratis, Nayra harus bersedia meninggalkan Angga dan juga menikah dengannya secara kontrak. Bagaimana kelanjutan pernikahan kontrak mereka.
IG : purpleflower3125
FB : Flower Arsyta
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 : Perasaan Haru
Raya langsung menatap ke arah ibunya. Tatapannya tajam, penuh pertanyaan yang tidak terucap.
“Mama mau ke mana?” tanyanya.
Nayra membuka mulut, ingin menjawab. Namun pelayan itu kembali berbicara lebih dulu.
“Kata Tuan Arsen…” ucapnya hati-hati, “Nona boleh membawa Nona kecil.”
Alea langsung menoleh cepat. “Aku?” matanya berbinar.
Raya mengernyit. “Kenapa Alea?”
Pelayan itu tersenyum kecil. “Tuan bilang… untuk memilih.”
Memilih? Nayra semakin bingung.
Alea langsung berdiri dengan semangat. “Aku ikut Mama!” Ia berlari kecil dan menggenggam tangan Nayra erat.
Namun kali ini...
“Nggak.” Suara Raya tiba-tiba terdengar tegas.
Semua menoleh padanya. Raya melangkah mendekat, berdiri di sisi Nayra. Tatapannya lurus, tidak goyah.
“Aku ikut,” ucapnya singkat.
Pelayan itu terlihat ragu. “Tapi Tuan hanya menyebut...”
“Aku nggak peduli,” potong Raya. “Aku tetap mau ikut.”
Nada suaranya tidak keras, tapi jelas tidak bisa dibantah. Nayra menatap Raya. Ada kekhawatiran di sana, tapi juga keteguhan. Anak itu tidak mau ditinggal. Dan kali ini… Nayra tidak punya hati untuk menolaknya.
Ia menghela napas pelan. “Baik,” ucapnya.
Raya sedikit mengendur, tapi tetap berdiri dekat ibunya.
Beberapa saat kemudian…
Ketiganya berjalan menuju halaman depan mansion. Mobil hitam mewah itu sudah terparkir. Mesin menyala halus. Arsen duduk di dalam.
Pintu dibukakan.
Nayra masuk lebih dulu, diikuti Alea. Raya masuk terakhir, duduk di sisi Nayra, posisinya sedikit condong ke depan.
Pintu tertutup.
Mobil mulai bergerak. Suasana di dalam langsung hening. Alea sibuk melihat ke luar jendela, matanya berbinar melihat jalanan kota yang ramai.
Namun Raya… tidak. Tatapannya justru tertuju pada Arsen di kursi depan.
Beberapa menit berlalu dalam diam. Lalu...
“Kita mau ke mana?” tanya Raya akhirnya.
Suasana langsung terasa sedikit lebih tegang. Arsen tidak menjawab, ia tetap menatap ke depan. Seolah tidak mendengar.
Raya mengernyit. “Om.”
Masih tidak ada jawaban. Nayra menoleh pelan. Ia juga menunggu. Namun Arsen tetap diam, hanya suara mesin mobil yang terdengar.
Raya menyipitkan mata. Ia tidak suka diabaikan. “Kita mau ke mana?” ulangnya, kali ini lebih tegas.
Beberapa detik berlalu…
Akhirnya, Arsen berbicara. "Nanti kalian juga tahu,” jawabnya singkat.
Jawaban itu sama sekali tidak membantu.
Raya mendengus pelan. "Om?”
Namun lagi-lagi, tidak ada jawaban.
Arsen kembali diam, seolah percakapan itu sudah selesai baginya. Raya mengepalkan tangannya kecil. Jelas kesal. Nayra menyentuh lengan Raya pelan, memberi isyarat agar tidak memaksa.
Raya menghela napas panjang, lalu bersandar. Tapi tatapannya masih penuh curiga.
Mobil terus melaju. Semakin lama, pemandangan di luar berubah. Dari jalan besar menjadi kawasan yang lebih eksklusif.
Hingga akhirnya, mobil melambat dan berhenti di depan sebuah bangunan besar dengan kaca tinggi dan desain elegan.
Tulisan di depannya terpampang jelas. Butik gaun pengantin mewah. Nayra menahan napas. Jantungnya berdegup lebih cepat.
“Turun.” Suara Arsen kembali terdengar singkat.
Pintu mobil terbuka.
Dan tanpa banyak pilihan… Nayra, Raya, dan Alea turun. Begitu melangkah masuk, udara di dalam terasa berbeda.
Wangi lembut parfum, cahaya lampu hangat, dan deretan gaun putih yang tergantung rapi… semuanya terlihat seperti dunia lain.
Dunia yang tidak pernah Nayra bayangkan akan ia masuki. Raya langsung menoleh ke sana kemari. Matanya membesar.
“Ini…” gumamnya pelan.
Alea justru langsung menunjuk salah satu gaun. “Mama! Itu cantik banget!”
Nayra terdiam di tempat. Sementara di belakangnya, Arsen berjalan masuk dengan tenang. Tatapannya menyapu ruangan itu sejenak.
Lalu berhenti pada Nayra. “Silahkan kamu pilih.”
Ucapan Arsen membuat Nayra kembali tersadar, bahwa ia benar-benar sedang dipaksa masuk ke dalam peran yang belum siap ia jalani.
Namun belum sempat Nayra bereaksi, Arsen kembali berbicara. “Raya dan Alea kalian juga boleh memilih,” ucapnya singkat. "Silahkan kalian pilih, yang kalian suka.”
Nayra sedikit terkejut. Raya menoleh cepat ke arah Arsen, sementara Alea justru langsung berbinar.
"Waaahh... benar om?” tanya Alea dengan mata berbinar.
Arsen hanya mengangguk kecil. Itu sudah cukup.
“Yeay!” Alea langsung berlari kecil ke arah deretan gaun anak-anak yang dipajang rapi.
Beberapa pelayan butik segera mendekat dengan ramah.
“Silahkan, Nona kecil,” ucap salah satu dari mereka lembut. “Kami bantu, ya.”
Alea tertawa kecil, matanya berbinar-binar melihat berbagai gaun cantik di sekelilingnya. Ia menyentuh satu per satu kain, memutar badan di depan cermin, benar-benar menikmati momen itu.
Berbanding terbalik dengan Raya. Ia tidak bergerak, tatapannya justru tertuju pada Nayra.
“Mama…”
Nayra menoleh.
Raya melangkah mendekat, wajahnya serius. “Ini buat apa?” tanyanya pelan, tapi tegas. “Kenapa Mama dibelikan gaun pernikahan?”
Pertanyaan itu… langsung menusuk. Nayra terdiam. Beberapa detik, ia tidak tahu harus menjawab apa. Namun tatapan Raya tidak goyah. Ia menunggu.
Akhirnya, Nayra menarik napas pelan. Tangannya terulur, menggenggam tangan Raya.
“Ayo, sini,” bisiknya.
Ia mengajak Raya sedikit menjauh, ke sudut ruangan yang lebih sepi dari pelayan dan Alea.
Begitu mereka berhenti, Nayra berlutut perlahan di depan Raya, menyamakan tinggi mereka. Tangannya masih menggenggam tangan kecil itu.
“Raya…” suaranya lembut, tapi ada getaran di dalamnya.
Raya menatapnya lurus.
Nayra menelan ludah. Ia tahu… ini bukan hal yang mudah untuk dijelaskan. Tapi ia juga tahu, ia tidak bisa berbohong pada anaknya.
“Mama… mau menikah lagi.”
Kalimat itu keluar pelan. Namun cukup untuk membuat Raya membeku. Dengan cepat, tatapan Raya berubah.
“Sama dia?” tanyanya tajam, mengarah ke Arsen di kejauhan.
Nayra tidak bisa menghindar. “Iya.”
Beberapa detik yang terasa sangat panjang.
“Mama,” suara Raya meninggi sedikit. “Kita baru aja keluar dari sana. Kenapa harus… kaya gini lagi."
Ada amarah di sana, ada ketakutan juga dan Nayra bisa merasakannya.
“Raya…” Nayra menggenggam tangannya lebih erat. “Mama melakukan ini untuk kita.”
“Untuk kita?” ulang Raya, tidak percaya.
“Untuk kamu dan untuk Alea,” lanjut Nayra pelan. “Supaya kita bisa hidup lebih baik. Supaya Mama bisa melindungi kalian.”
Raya menggeleng cepat. “Kita nggak butuh itu!”
Air matanya mulai menggenang.
“Kita bisa hidup bertiga aja, Ma! Aku bisa jagain Mama dan Alea!”
Kalimat itu, membuat hati Nayra seperti diremas.
Ia tersenyum tipis, tapi matanya mulai basah. “Kamu masih kecil, Raya…” bisiknya lembut. “Nggak seharusnya kamu yang melindungi Mama.”
Raya menggigit bibirnya, air matanya akhirnya jatuh. “Aku nggak mau Mama sedih lagi…” suaranya pecah.
Nayra langsung menarik Raya ke dalam pelukannya. Memeluknya erat, penuh rasa yang selama ini ditahan.
“Mama juga nggak mau…” bisik Nayra pelan di rambutnya. “Makanya Mama mencoba sekali lagi.”
Raya terdiam dalam pelukan itu. Tangannya perlahan mencengkeram baju Nayra.
“Apa dia nggak akan menyakiti Mama?” tanyanya lirih.
Nayra terdiam sejenak. Pertanyaan itu tidak punya jawaban pasti. Namun ia menggeleng pelan.
“Nggak akan Raya,” ucapnya, meski hatinya sendiri belum sepenuhnya yakin.
Beberapa detik berlalu. Lalu perlahan, Raya mengangkat wajahnya. Matanya masih basah, tapi tatapannya mulai berubah, lebih tenang.
“Kalau ini untuk kita…” suaranya pelan, “Mama harus bahagia.”
Nayra menatapnya. Raya menggenggam tangan Nayra. “Kali ini… Mama nggak boleh sedih lagi.”
Dan sebelum Nayra sempat menjawab, Raya langsung memeluknya lagi, lebih erat. Seolah ingin memastikan, ibunya benar-benar akan baik-baik saja.
Nayra memejamkan mata. Air matanya akhirnya jatuh juga. Namun kali ini… bukan hanya karena luka. Tapi juga karena, ia sekarang tidak sendirian.
semangat, lanjut thoor😄👍