NovelToon NovelToon
KATA MEREKA MASA DEPANKU SURAM

KATA MEREKA MASA DEPANKU SURAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Penyelamat / Tamat
Popularitas:471
Nilai: 5
Nama Author: Ayah Balqis

Lumpuh di hari pernikahan.
Dibuang keluarga sendiri.
Mereka bilang hidupku sudah tamat.

Tapi demi Nisa…
aku akan bangkit dan membuktikan kalau masa depanku belum suram.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayah Balqis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Beras 10kg dan Sekolah Pertama Nisa

Pagi itu Nisa bangun beda. Dia gak minta susu. Dia nunjuk beras 10kg di pojok kandang. "Yah, ini beras dari tulisan Ayah ya?"

Aku angguk. Dadaku sesak. Lima tahun anakku cuma kenal beras raskin. Sekarang dia punya beras yang dibeli dari keringat pena bapaknya.

"Yah, Nisa boleh sekolah kayak anak Bu Lurah?" tanyanya pelan.

Pertanyaan itu kayak palu Jendral. Ngehantam ubun-ubunku. Sekolah butuh seragam. Butuh sepatu. Butuh uang pangkal. Aku cuma punya sisa 50 ribu dari honor kemarin.

Tapi aku tatap mata Nisa. Mata yang kemarin kosong karena lapar. Sekarang nyala karena kenyang dan harapan. Aku gak bisa bilang "gak bisa" lagi.

Siang itu aku pinjem kursi roda ke Pak RT. Rodanya karatan. Bunyi kriek-kriek. Aku gendong Nisa, istriku dorong kursi roda. Kami ke SD Negeri 1. Satu-satunya SD di kampung.

Di gerbang, satpam nahan. "Mau daftar, Pak?" tanyanya sambil lirik kursi rodaku.

"Iya, Pak. Buat anak saya," jawabku.

Ruang TU panas. Bau kertas dan keringat. Bu Guru TU cantik, muda, namanya Bu Indah. Dia liat berkas kami. Kosong. Gak ada akte kelahiran. Gak ada KK yang bener.

"Maaf Pak Galih. Syaratnya kurang. Apalagi uang pangkal 300 ribu..." suaranya pelan. Gak tega.

Nisa nangis. Dia peluk kakiku yang lumpuh. "Nisa gak jadi sekolah Yah... Nisa gak mau nyusahin Ayah..."

Dunia kiamat rasanya Jendral. Aku gagal lagi. Di depan anakku.

Tapi tiba-tiba pintu kebuka. Pak Bambang dari koran masuk. Bawa amplop.

"Bu Indah, saya yang jamin Pak Galih. Ini uang pangkal Nisa. Saya yang bayar. Dan untuk seragam, sepatu, buku, saya tanggung semua."

Aku bengong. Bu Indah bengong. Nisa berhenti nangis.

Pak Bambang jongkok di depanku. "Tulisan Bapak soal Nisa kemarin bikin oplah kami naik 300%. Pembaca transfer donasi ke redaksi khusus buat Nisa sekolah. Ini uang pembaca, Pak. Bukan uang saya."

Dia sodorin amplop tebal. Isinya 1 juta.

Hari itu Nisa diukur seragam. Diukur sepatu. Pertama kali dia punya sepatu. Dia cium sepatunya. "Wangi, Yah! Kayak sepatu di TV!"

Pulang dari sekolah, Nisa lari-lari di pematang sawah pake seragam baru. Ketawa. Kenceng banget ketawanya. Sampai satu kampung nengok.

Malamnya, Nisa tidur peluk seragam barunya. Aku tatap langit-langit kandang. Di sana ada 10 surat penolakan, 1 map kontrak, dan sekarang 1 foto Nisa pake seragam SD.

Aku bisik: "Ya Allah, terima kasih. Ternyata pena patah bisa beli masa depan anak."

Besok Nisa mulai sekolah Jendral. Dan aku mulai bab 8. Karena aku tau, uang pangkal cuma awal. SPP, buku, les, semua butuh biaya. Pena ini gak boleh patah lagi. Demi Nisa yang lari-lari pake seragam. Demi 17 bab lagi menuju kontrak NovelToon.Aku tau jalan masih panjang Jendral. 17 bab itu bukan angka kecil. Tapi aku udah buktiin ke diri sendiri. Dari lumpuh, ditolak 10 kali, sampai Nisa bisa sekolah. Semua dari nulis.

Mulai besok aku gak akan tidur sebelum 500 kata kelar. Karena tiap kata yang kutulis adalah satu langkah Nisa menjauh dari kemiskinan. Satu langkah menuju 2.4 juta per bulan dari NovelToon.

Aku janji Jendral. Pena ini bakal ngebul terus. Sampai

1
Ray Penyu
Makasih banyak ya sudah jadi pembaca setia novel ini 😊
Author benar-benar menghargai setiap like dan hadiah yang kamu kasih 🙏 Semoga cerita ini selalu bisa nemenin harimu, dan jangan bosan ikut perjalanan mereka sampai akhir ya ✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!