NovelToon NovelToon
Arunika Di Kala Senja

Arunika Di Kala Senja

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Trauma masa lalu
Popularitas:508
Nilai: 5
Nama Author: minttea_

Arunika hidup dengan trauma masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi dingin dan tertutup. Setelah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil, ia diasuh oleh kakek dan neneknya di sebuah penginapan tua di desa wisata yang dipenuhi pohon damar. Aroma lilin dari getah damar selalu menjadi tempat ternyaman bagi Arunika, hingga kehadiran seseorang dari masa lalunya perlahan mengusik hidup yang selama ini terasa tenang. Di saat yang sama, seorang pemuda yang telah menemaninya sejak kecil masih setia berada di sisinya. Lalu, siapakah yang akhirnya akan dipilih Arunika?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon minttea_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Embun yang Menyimpan Rahasia

Matahari pagi baru saja menyembul di balik ufuk, menyebarkan pendar keemasan yang menembus sela-sela dahan pohon damar yang menjulang tinggi di halaman.

Embun masih bergelantungan di ujung daun, jatuh satu per satu ke atas tanah lembap dengan bunyi tik yang sunyi, seolah-olah alam sedang menghitung detik-detik menuju sebuah rahasia yang tersingkap.

Di dalam rumah kayu yang sunyi, Senja berdiri terpaku di depan jendela kamarnya.

Suara keriuhan kecil dari arah kebun sudah menjauh.

Kakek, Nenek, Arkala, dan Arunika sudah berangkat sejak fajar tadi untuk memulai ritual mingguan mereka menyadap getah. Namun, di dalam kepala Senja, suasana justru sangat bising.

Tiba-tiba, sebuah kilatan memori kembali menghantamnya—lebih tajam dan lebih menyakitkan dari sebelumnya.

Ia melihat sebuah ruang kelas yang pengap. Suara derit kursi kayu yang digeser terdengar nyaring. Ia melihat tangan seorang anak laki-laki—tangan yang terasa sangat familiar—sedang menggenggam daun yang diatasnya segumpal getah damar yang masih lengket, berwarna kuning bening namun mematikan bagi siapa pun yang menyentuhnya.

Dengan senyum tipis yang dingin, anak itu mengoleskan getah itu di dudukan kursi seorang anak perempuan. Tidak puas sampai di sana, anak laki-laki itu menunggu dengan sabar, lalu dengan gerakan cepat, ia menempelkan sisa getah yang ada di tangannya ke helai-helai rambut hitam panjang milik anak perempuan itu.

Senja terengah. Ia seolah bisa merasakan sisa lengket getah itu di ujung jemarinya sekarang. Ia ingat bagaimana anak perempuan itu menjerit kaget, bagaimana tangisnya pecah saat menyadari rambutnya tidak bisa dilepaskan, hingga akhirnya guru datang membawa gunting dan memotong rambut itu secara paksa.

Potongan rambut itu jatuh ke lantai semen yang dingin, dan anak laki-laki itu hanya menatapnya dengan tatapan kosong, seolah hatinya sudah membeku sejak lama.

"Siapa... siapa anak laki-laki itu?" bisik Senja parau.

Rasa penasaran yang bercampur dengan ketakutan luar biasa mendorong kakinya melangkah keluar kamar. Ingatannya tentang syal abu-abu dan tempat lilin penyok kemarin sore belum tuntas, dan kini ingatan tentang getah damar ini semakin menyiksanya.

Ia harus mencari bukti lain. Ia harus tahu apakah kepingan-kepingan mimpi ini adalah nyata atau sekadar kegilaan belaka.

Langkah kakinya membawanya kembali ke depan pintu gudang bawah tanah.

Ia teringat Kakek tadi pagi pergi dengan terburu-buru, dan benar saja, gembok besar itu hanya tergantung tanpa terkunci.

Pintu kayu yang berat itu berderit pelan saat Senja mendorongnya, seolah-olah gudang itu sedang mengembuskan napas panjang setelah tertutup sekian lama.

Senja masuk ke dalam keremangan.

Cahaya matahari yang masuk dari celah dinding papan menciptakan garis-garis debu yang menari di udara.

Ia berjalan melewati tumpukan papan ulin dan peti-peti tua yang kemarin ia pindahkan bersama Kakek. Ia mencari sesuatu yang lebih personal, sesuatu yang mungkin sengaja disembunyikan.

Di sebuah sudut yang paling gelap, tertutup oleh tumpukan karung goni yang sudah lapuk, Senja menemukan sebuah kotak kayu kecil. Kotak itu tidak besar, namun pengerjaannya tampak halus meskipun kini sudah diselimuti debu yang sangat tebal.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Senja membersihkan debu itu, lalu membuka penutupnya yang sudah mulai berkerak.

Di dalamnya, terdapat beberapa lembar kertas yang sudah menguning dan rapuh. Di atas tumpukan itu, terselip sebuah catatan yang bagian sudutnya terdapat nama yang membuat jantung Senja seakan berhenti berdetak.

Arunika.

Senja mengambil kertas itu dengan sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang memegang luka yang masih basah. Itu adalah tulisan tangan anak-anak, dengan bentuk huruf yang masih kaku namun penuh dengan muatan emosi yang meluap-luap.

"Hari ini aku membenci pohon damar. Padahal Kakek bilang pohon ini adalah pelindung kita. Tapi di sekolah, anak laki-laki itu menyebutku 'Ejekan Damar'. Dia bilang aku lengket dan bau seperti getah. Hari ini dia melakukan hal yang paling jahat. Dia menempelkan getah ke rambutku sampai aku harus merelakan rambut panjangku dipotong. Aku menangis sendirian di balik pohon damar besar di halaman, sementara dia hanya tertawa dari jauh. Ayah, Ibu... kenapa kalian meninggalkanku sendirian di dunia yang kejam ini? Kenapa orang-orang begitu jahat kepada anak yatim piatu sepertiku?"

Senja merasakan dunianya seolah runtuh seketika. Kata-kata "Anak Yatim Piatu" dan "Ejekan Damar" itu menghantamnya tepat di ulu hati, menyambungkan kabel-kabel memori yang tadi sempat berkelebat di kepalanya.

Ia tidak sanggup membaca lebih jauh. Setiap kata dalam surat itu terasa seperti belati yang menusuk jiwanya. Ia merasa mual, kepalanya kembali berdenyut hebat. Bayangan anak laki-laki yang tertawa dingin itu kini memiliki bayangan tubuh yang mirip dengannya.

Apa itu aku? batin Senja ketakutan.

Ia segera menutup kotak itu kembali, menyembunyikannya di balik karung goni seperti semula. Ia tidak ingin percaya. Ia ingin lari dari kenyataan yang mulai tersingkap ini.

Namun, saat ia baru saja hendak keluar dari gudang, ia mendengar langkah kaki di atas tangga kayu yang menuju ke teras.

Senja membeku. Ia buru-buru keluar dan menutup pintu gudang dengan pelan. Namun, saat ia berbalik, ia langsung berhadapan dengan Arkala.

Arkala tampak berdiri di sana dengan nafas yang sedikit memburu, bajunya kotor oleh tanah dan tangannya memegang sebuah arit kecil. Rupanya ia kembali ke rumah untuk mengambil sesuatu yang tertinggal di kebun.

"Lu ngapain di gudang kakek pagi-pagi begini, Dit?" tanya Arkala. Suaranya rendah, penuh dengan nada selidik yang tajam.

Senja berusaha menetralkan raut wajahnya yang pucat pasi. Ia memaksakan sebuah senyum kaku, meski keringat dingin mulai membasahi punggungnya. "Gue... gue cuma cari udara dingin di bawah. Di atas gerah."

Arkala menyipitkan mata. Ia berjalan mendekat, menatap pintu gudang yang tidak terkunci, lalu kembali menatap mata Senja. Arkala menyadari ada yang tidak beres.

Sejak penemuan barang-barang kemarin, Senja berubah menjadi sosok yang linglung. Tidak ada lagi Senja yang sombong dan selalu ingin menang sendiri.

Yang ada di depannya sekarang hanyalah seorang pemuda yang tampak seperti baru saja melihat hantu di siang bolong.

"Biasanya lu rajin banget ngekor ke kakek," ucap Arkala sembari menyilangkan tangan di dada. "Kenapa pagi ini lu malah sembunyi di gudang? Lu cari apa sebenarnya? Apa lu nemuin sesuatu yang nggak seharusnya lu tahu?"

"Gue nggak nemuin apa-apa, Kal. Jangan curigaan terus," jawab Senja parau. Ia berusaha melangkah melewati Arkala, namun langkahnya terhenti saat Arkala menahan bahunya.

"Lu aneh, Dit. Muka lu pucat, tangan lu gemetar. Biasanya lu bakal langsung marah kalau gue tanya-tanya begini. Kenapa lu diem aja?"

Arkala menatapnya dengan rasa khawatir yang samar, meski suaranya tetap terdengar tegas. "Kalau ada masalah, ngomong. Jangan lu simpen sendiri di rumah ini."

Senja hanya menggeleng pelan, lalu melepaskan tangan Arkala dari bahunya.

Ia berjalan cepat menuju kamarnya, mengabaikan tatapan Arkala yang terus menusuk punggungnya.

Arkala berdiri diam di sana, memperhatikan punggung Senja yang menghilang di balik pintu kamar. Ia merasa ada badai yang sedang bersiap menerjang kedamaian rumah ini.

Angin pagi berembus kencang, menggoyang dahan damar hingga daun-daunnya saling bergesekan, menciptakan suara yang melankolis.

Di dalam kamarnya, Senja menyandarkan tubuhnya di balik pintu yang terkunci. Bayangan surat Arunika dan ingatan tentang getah damar itu terus menari-nari di depannya.

Ia belum tahu siapa pelaku sebenarnya dalam ingatannya, namun di lubuk hatinya yang paling dalam, ia mulai merasa ketakutan—takut bahwa sosok jahat dalam cerita sedih Arunika adalah dirinya yang dulu.

Pagi itu, di bawah langit yang cerah, rahasia masa lalu mulai merangkak keluar dari kegelapan, menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan segala kedamaian yang ada.

Dan pohon damar itu tetap berdiri tegak, menjadi saksi bisu bagi luka yang mulai berdenyut kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!