Selama tiga tahun, Nayra mendedikasikan hidup untuk suaminya, Lettu Ardana Prajakelana. Seorang pria abdi negara yang merangkap profesi sebagai psikolog kesatuan. Semua terjadi karena perjodohan.
Namun, menjelang usia pernikahan yang ke ketiga, sebuah nama lain justru sering digaungkan Ardana. Mantan kekasihnya kembali, mengemis harap dan memohon Ardana menceraikan Nayra. Lalu apa yang akan terjadi dengan pernikahan Ardana dan Nayra setelah mantan kekasih Ardana kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Tiana Kembali Masuk RS
Nepa masih belum menyerah, telponnya masih berdering. Tapi, Nayra tetap tidak. Mau mengangkat panggilan itu.
Panggilan itu akhirnya berhenti. Namun, tidak lama dari itu, pesan WA dari Nepa datang.
Nayra tetap tidak mau membuka chat itu, hatinya terlanjur hancur.
"Nay, aku minta maaf. Aku tidak tahu kamu punya masalah apa dengan suami kamu. Tapi, perlu kamu tahu bahwa aku tidak tahu kalau Kakak aku punya hubungan dengan suami kamu. Aku juga nggak tahu kalau suami kamu adalah mantan kekasih Kakakku dulu. Aku benar-benar tidak tahu."
Pesan itu sudah terkirim dan Nepa masih menatap layar ponselnya. Menunggu balasan dari Nayra. Namun sayang, sampai pesan itu berlalu setengah jam, tidak ada tanda-tanda balasan dari Nayra. Bahkan pesan itu belum dibaca oleh Nayra, terlihat masih centang abu-abu dua.
"Nay, kamu harus percaya kalau aku tidak pernah mendukung Kakak aku. Aku tidak berpihak pada cara yang salah sekalipun dia adalah Kakakku." Nepa membatin.
"Keluarga pasien Nyonya Tiana!" panggil seorang Perawat dari ruang IGD.
Nepa bangkit lalu menghampiri. "Iya, Mas."
"Ini benar Kakak Anda?" Perawat itu mencoba meyakinkan.
"Betul."
"Kakak Anda akan dibawa ke poli obgyn, sebab ada masalah sedikit dari bagian kandungan," seru Perawat itu sambil mendorong brankar yang sudah ada tubuh Tiana di atasnya.
Tiana sudah tiba di ruang obgyn, di sana ia dibaringkan di atas bed pasien dan mendapat pemeriksaan. Tiana dalam keadaan sadar, akan tetapi ia sangat lemas karena merasakan sakit di perut bawahnya.
Nepa yang sedang menunggu di luar, merasa resah. Sebab kejadian ini berawal dari perdebatan dirinya dengan Tiana tadi.
"Ya ampun, kenapa harus seperti ini? Mbak Tiana selalu kambuh kalau mendapat tekanan. Sepertinya perdebatan tadi yang menyebabkan dia merasa tertekan. Lantas aku harus gimana? Membiarkannya merusak hubungan rumah tangga orang, padahal orang itu jelas-jelas bukan penyebab sakitnya Mbak Tiana, terlebih suami dari pria itu adalah suaminya Nayra."
Beberapa saat mendapat penanganan di ruang obgyn, dua orang Perawat kembali mendorong brangkar keluar.
Nepa bangkit dan penasaran mau dibawa kemana Tiana.
Sementara, Tiana yang berada di atas brankar sedang dalam keadaan sadar. Ia menyebut-nyebut nama Arda sejak tadi.
Dokter Tifany muncul dari ruangannya seraya berkata pada dua Perawat yang mendorong brankar itu. "Antarkan pasien ini ke ruang kejiwaan. Dia harus mendapat pembinaan dan pemulihan serta terapi psikis."
"Baik dokter."
Dua Perawat itu patuh, lalu mendorong kembali brankar menuju ruang perawatan kejiwaan.
"Suster, mau dibawa kemana Kakak saya?" Nepa bertanya keheranan.
"Kakak Anda akan kami bawa ke ruang kejiwaan. Sebab keadaannya kembali terguncang," jawab salah satu Perawat itu sambil mendorong.
Sepanjang perjalanan menuju ruang kejiwaan, Tiana terus memanggil Ardana.
Tiana kini sudah berada di ruang yang sama seperti sebelum-sebelumya. Dia segera dipasang selang infus di lengan kirinya. Setelah dipasang infus, keadaan Tiana mulai tenang, dia tidak menyebut nama Ardana lagi, sebab dalam labu infus sudah dimasukan cairan penenang untuk pasien.
Nepa sedikit lega, ia bisa bernapas lebih leluasa ketimbang tadi. Namun, ia kembali harus menghela napas dalam dan menelan ludah, sebab pesan WAnya sama sekali belum dibaca Nayra.
"Nay, baca dong Nay. Kamu harus tahu kalau aku sama sekali nggak dukung kakak aku. Gara-gara Mbak Tiana, persahabatan aku sama Nayra hancur," keluhnya sedih.
Beberapa saat kemudian, seseorang datang ke ruang rawat Tiana. Nepa menoleh ke arah pria itu. Dia terkejut kenapa lagi-lagi pria itu datang kesini, sementara dia di rumah memiliki seorang istri, yakni Nayra.
"Mas, tunggu sebentar. Mas pasti mau ke ruangan Kakak saya, kan? Sebaiknya jangan, biarkan saya yang menunggunya. Saya keluarganya."
Ardana mengerungkan keningnya dalam, ia merasa heran. Kedatangannya kesini adalah tugas yang sudah dilimpahkan padanya dari tim atas permintaan khusus Tiana.
"Tapi, saya kesini hanya tugas Mbak."
"Saya tahu, Mas. Tapi... Kakak saya hanya ingin ditungguin Mas saja kan dan tidak mau sama orang lain? Sebelum saya panjang lebar, saya mau bertanya, Mas di rumah punya istri bukan? Apakah Mas sudah mendapat izin darinya kalau Mas akan bertugas menunggu perempuan lain di RS ini?" cecar Nepa seraya menatap Ardana dalam.
"Iya, betul. Saya memang punya istri di rumah. Tapi, pekerjaan ini saya rasa tidak perlu mendapat persetujuan istri. Ini tugas kemanusiaan dan mulia," jawab Ardana heran.
"Saya tahu ini kemanusiaan dan tugas mulia. Tapi, apakah Mas tahu kalau istri Mas itu siapa?"
Ardana mendekat, ia jadi penasaran kenapa Nepa mempertanyakan istrinya siapa, seperti mengetahui siapa Nayra.
"Siapa istri saya?"
"Mas harus tahu, kalau istri Mas adalah sahabat saya, dia Nayra. Lalu, kenapa saya melarang Mas menunggui kakak saya, meskipun Mas bilang ini bagian tugas Mas dari tim, tapi Mas harus sadar bahwa Kakak saya bukan sekedar ingin ditungguin Mas semata, melainkan dia ingin Mas nikahi sebab dia merasa sakitnya ini adalah gara-gara Mas," terang Nepa membuat Ardana tercengang.
"Jadi, kamu adalah sahabat Nayra?"
Nepa langsung mengangguk. "Sebelum terlambat, lebih baik Mas mundur dari tim terapis Kakak saya. Bukankah terapis tidak Anda saja?"
"Saya tahu. Saya kesini hanya karena tugas. Dan dokter Arka sudah memberi mandat kalau tugas saya adalah untuk membuat psikis pasien tenang dan kembali normal."
"Kenapa Anda tidak coba menenangkan istri Anda saja supaya dia tidak salah paham dengan saya? Sebab sejak Nayra tahu bahwa saya adik dari Mbak Tiana, saya dianggap mendukung apa yang diinginkan Mbak saya. Persahabatan saya jadi hancur gara-gara kesalahpahaman ini. Saya bersumpah, bahwa saya tidak pernah mendukung Mbak saya untuk menikah dengan Anda, sekalipun itu siri. Gara-gara ini semua, hubungan saya dan Nayra hancur."
"Maka, sebelum Anda menyesal, lebih baik Anda mengundurkan diri dari tim terapis Mbak saya. Saya mohon," lanjut Nepa memohon.
"Baiklah. Kalau itu mau Mbak. Tapi, jika saya tidak melakukan tugas ini, maka saya akan kena sanksi. Apakah Mbak mau menanggung sanksi untuk saya?" Ardana membalikkan sebuah pertanyaan yang membuat Nepa dilanda bingung.
Di tengah kebingungan dan keheningan yang beberapa saat tercipta, tiba-tiba suara Tiana terdengar dan menjerit.
"Aku ingin dia mati. Biarkan dia matiii...." jeritnya diiringi isak tangis dan kedua tangan yang berontak.
Nepa dan Ardana terperanjat, dua Perawat di ruang jaga ikut bangkit dan segera menuju ruangan Tiana.
"Aku ingin dia mati. Mas Arda...aku ingin dia mati." Kini nama Arda disebut lagi oleh Tiana.
Ardana dan Nepa saling lempar tatap. Dengan terpaksa ia membiarkan Ardana kembali ke ruangan Tiana.
Masih menunggu Nayra pergi? Tungguin ya, bab selanjutnya masih ada hal yang akan mencengangkan....
Dan Ardana kamu tuh bodoh , mau aja dibohongin sama Tiana 😡😡😡
Udah deh ini mah fix kamu harus harus pergi Nayra daripada tersiksa batin kamu , kamu berhak bahagia Nayra 🫢🫢🫢
mantau dikit lagi nih...