Kekasih Lyra tiba-tiba menghilang seminggu sebelum pernikahan, membuat Lyra frustrasi apalagi kedua keluarga sepakat mengganti pengantin pria demi mempertahankan keuntungan masing-masing.
Lyra ingin menolak apalagi pengantin prianya adalah Ares-Kakak kekasihnya yang terkenal arogan, licik, penuh tipu muslihat, orang-orang menyebutnya Pangeran kegelapan. Selain itu, Ares juga memiliki kekasih seorang model papan atas. Akan tetapi, baik perasaan Lyra ataupun Ares tidak penting di depan keuntungan kedua keluarga sehingga keduanya terpaksa menikah meski menjadi pernikahan rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SkySal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memang Milikku
“Kamu yakin nggak apa-apa, Ra? Mau menginap di rumahku aja nggak?”
Lyra terkekeh mendengar rengekan Sena dari seberang telepon, padahal ia sudah memberitahu berkali-kali bahwa dirinya baik-baik saja, tetapi hal tersebut tampaknya masih membuat sang sahabat tidak tenang.
“Aku baik-baik aja, Na. Ini baru selesai berendam air hangat, segar banget rasanya.” Lyra membungkus rambut panjangnya dengan handuk sebelum menyambar ponsel yang ada di sisi meja wastafel.
“Dari tadi aku telpon kamu nggak jawab, aku ‘kan takut kamu diam-diam nangis sendirian gara-gara Ryan brengsek itu. Ternyata lagi berendam.”
“Makanya, lain kali jangan remehkan mental sahabatmu ini. Jangankan Ryan yang hanya pacar, hatiku bahkan sudah kebal meski nggak dicintai orang tua sendiri.” Lyra berkata dengan nada tenang tapi mata wanita itu menyiratkan emosi yang bergejolak. “Sampai ketemu besok, ya. Malam ini aku_”
Lyra tercengang ketika keluar dari kamar mandi, untuk beberapa saat jantungnya berhenti berdetak.
Di ujung tempat tidur, sosok pria duduk dalam diam dengan kemeja hitam yang lengannya tergulung berantakan. Sorot mata pria itu begitu tajam, seperti menyimpan bara api yang siap menghasukan.
“Ares?” Ia berbisik tak percaya, mungkin karena terlalu lama pria itu menghilang dari hadapannya.
“Ares? Kenapa Ares?” tanya Sena dari Seberang telepon. “Apa dia nyakiti kamu juga? Sepertinya kita perlu ke dukun untuk menghabisi dua bersaudara itu, Ra. Kalau dihabisi terang-terangan, kalah duit kita.”
“Sampai ketemu besok, Na.” Sena segera menutup telepon lalu melangkah ke meja rias, melewati Ares seakan pria itu makhluk tak kasat mata.
Ares tak bereaksi, tetapi tatapannya mengikuti langkah Lyra seperti seseorang yang sedang mengunci targetnya, bahkan pria itu tak berkedip saat memandangi Lyra yang kini melakukan perawatan wajahnya dengan tenang.
Lyra dapat merasakan tatapan suaminya itu, tetapi ia mengabaikan sebagaimana Ares mengabaikannya. Akan tetapi, pertahanan Lyra hampir runtuh ketika Ares mendekatinya dengan langkah tenang namun tegas hingga akhirnya pria itu berdiri menjulang di belakangnya.
“Apa?” ketus Lyra seraya menuangkan toner ke telapak tangannya.
Alih-alih menjawab pertanyaan sang istri, Ares menangkup rahang Lyra dengan tegas dan memaksa wajahnya terdongak. Tanpa peringatan, Ares membungkuk, membungkam bibir Lyra dengan ciuman dalam dan menuntut, membuat Lyra terkejut hingga menjatuhkan botol toner dari tangannya, ia terbelalak tak percaya. Untuk kedua kalinya, Ares telah mencium bibirnya tanpa permisi.
Sekuat tenaga Lyra mencoba mendorong pria itu menjauh, bahkan memukulnya sekuat tenaga, tetapi hasilnya sang suami justru semakin memperdalam ciuman seakan itu adalah kesempatan terakhirnya, seakan tak ada lagi hari esok untuk mereka.
Lyra lemas, paru-parunya mulai memprotes, terasa panas dan menyempit seiring dengan ciuman Ares yang semakin dalam, bahkan ia merasa Ares tak hanya menciumnya tapi ingin memakannya.
Ketika Lyra menyerah meronta dan hampir kehabisan napas, Ares melepaskannya. Pria itu menyatukan keningnya dengan Lyra, satu tangannya membelai pipi Lyra yang terasa panas dan merona, sementara tangan yang lain menarik handuk yang membungkus rambut panjang Lyra, membiarkan rambut panjang istri terurai.
“Sialan kamu, Ares!” maki Lyra di sela napasnya yang terengah, bahkan ia merasa akan pingsan di makan pria itu. Merasa terancam, Lyra segera menjauh dari pria itu yang masih menyiratkan ketidakpuasan di matanya.
Ares hanya berseringai kecil sambil mengusap bibirnya sendiri. “Bibirmu bengkak,” bisik Ares dengan suara yang parau.
Sejak melihat Lyra di pesta tadi, ia benar-benar ingin memakan wanita itu sampai tak bersisa.
Ares bangga dengan pesona sang istri yang mampu menarik perhatian setiap mata, tetapi ia juga marah karena kecantikan sang istri tidak bisa menjadi miliknya seorang.
Lyra langsung berkaca. “Kamu keturunan kepiting apa?” ringis Lyra sambil mengusap bibirnya yang benar-benar bengkak, ia merasa seperti baru digigit hewan.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Ares melingkarkan lengan kokohnya di pinggang ramping Lyra, membuat wanita itu tersentak.
“Ares, lepas!” Tiba-tiba suara Lyra menjadi serak, ia mencoba melepaskan tangan Ares yang semakin erat mendekapnya, tubuhnya bergerak gelisah, dadanya berdesir.
“Jangan bergerak!” Ares berbisik dengan suara rendah di telinga Lyra sementara matanya menatap lurus mata sang istri yang sayu dari cermin.
Lyra tidak ingin patuh pada siapa pun, jadi ia semakin meronta, mencoba melepaskan diri dari kendali Ares.
“Sebentar, hanya sebentar, Lily.” Ares menggeram, sekuat tenaga ia mencoba menahan hasratnya agar tidak memakan Lyra dengan kasar. Bagaimana pun juga, ia memperlakukan wanita itu dengan lembut dan penuh cinta … jika bisa.
Ares membenamkan wajahnya di ceruk leher Lyra, menghirup dalam-dalam aroma sabun dan aroma alami tubuh istrinya yang memabukkan.
Mata yang biasanya sedingin es kini tampak gelap dan sarat akan emosi yang tak terbaca. Menyadari itu, Lyra terdiam dengan patuh meski muncul begitu banyak pertanyaan dalam benaknya.
Saat merasakan tak lagi ada perlawanan, Ares menyingkap jubah mandi Lyra lalu mendaratkan kecupan-kecupan kecil di pundak wanita itu. Lyra membiarkannya, seakan memberi izin pada sang suami untuk menjelajahi tubuhnya.
“Kamu sangat mencintainya?” Ares bertanya sembari membelai rambut Lyra yang masih basah, sedangkan mulutnya kini beralih pada leher sang istri, meninggalkan jejak basah yang membuat tubuh Lyra meremang hingga kakinya terasa lemas seperti tak bertulang.
“Lalu bagaimana denganmu? Kamu sangat mencintai Liana?” Lyra meremas jubah mandinya guna menyalurkan sesuatu yang menjalar dalam jiwanya.
“Aku nggak suka, nggak cinta, nggak ada hubungan.” Ares menjawab dengan tegas dan penuh penekanan.
Lyra berbalik badan hingga bersitatap dengan Ares, ia memicingkan mata, mencoba mencari kebohongan di mata pria itu tapi yang dilihatnya hanya kabut pekat tak kasat mata.
“Aku benci orang yang mengkhianati perasaan.” Lyra menyentuh dada bidang Ares, jari lentiknya membuat gerakan abstrak di sana membuat Ares hanya bisa mengerang tertahan, napasnya memberat, dadanya naik turun. “Tapi karena kamu bilang nggak ada perasaan dan nggak ada hubungan sama dia, aku percaya.”
Ares tidak tahu apa maksud dari ucapan Lyra, apakah wanita itu mau membuka hati untuknya? Apakah akan memberinya kesempatan?
Sementara Lyra berseringai, jari lentiknya kini menyentuh bibir Ares yang sedikit terbuka, sentuhan menggoda yang akan membuat pria mana pun terbuai.
Entah setan dari neraka mana yang merasukinya hingga Lyra tiba-tiba berkata, “Mau kupenuhi syarat ketigamu?”
Ares terbelalak, darahnya berdesir, bahkan tangannya sampai gemetar mendengar apa yang Lyra bisikkan tepat di depan bibirnya.
“Yakin?” Ia menggeram tertahan seraya menempelkan keningnya di kening Lyra. Baru ditawarkan, napasnya sudah memburu. Ares sadar, benteng pertahanannya sudah tak terselamatkan.
Sementara Lyra terdiam sejenak. Ia juga tidak tahu apakah benar-benar siap menyerahkan diri pada kakak angkat mantan kekasihnya itu.
Seperti ada yang berbisik di telinganya. “Balas saja. Balas dengan meniduri kakaknya.” Lyra sangat yakin dirinya bukan sosok pendendam, tetapi mengingat bagaimana Ryan melupakannya membuat Lyra ingin melampiaskan sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
“Aku_Ares!” Lyra memekik saat tiba-tiba Ares mengangkat tubuhnya.
“Sejak awal kamu memang milikku,” desis pria itu lalu kembali membungkam mulut Lyra, kali ini dengan ciuman yang lebih menggebu dan intens, membuat Lyra kewalahan menghadapinya.
Saat jemarinya bertaut dengan jemari Lyra, Ares menekannya kuat seakan ingin menyatukan nadi mereka. Ketika Lyra memalingkan wajah, Ares langsung mencengkram rahangnya dengan lembut tapi penuh kendali.
Kali ini, ia tidak akan membiarkan Lyra berpaling darinya. Ares ingin Lyra melihat bagaimana dinding es dalam hatinya mencair dan menjadi aliran api yang hanya ditujukan untuk wanita itu seorang.
Lyra pasrah, ia tahu tak lagi ada jalan mundur setelah semua ini, bahkan tahu mungkin besok dirinya akan bangun dengan penyesalan yang sebesar gunung. Tapi malam ini … hanya malam ini, ia ingin melakukan sesuatu yang membuatnya melupakan segalanya.
“Kamu milikku, Lily. Malam ini kamu milikku.”
“Kamu memang milikku sejak 15 tahun yang lalu.”
duh giliran ada gratisan langsung ok hehwhe
Kudukung kamu..
apa iya . hilangnya Ryan hari itu ulah ortunya lira