Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.
Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Meninggalkan Kuil
Luvya mulai memasuki perbatasan desa saat matahari sudah naik setinggi tombak. Untungnya, angin musim gugur yang kering membantu pakaian tidurnya mengering lebih cepat selama perjalanan, meski kain itu kini tampak kaku dan sedikit kusam. Setidaknya, ia tidak lagi terlihat seperti seseorang yang baru saja merangkak keluar dari sungai.
Ia berjalan dengan langkah hati-hati, mencoba mengabaikan rasa perih di telapak kakinya yang tanpa alas kaki.
Suasana desa ini sangat berbeda dengan apa yang Luvya ingat di dunianya dulu. Tidak ada beton, tidak ada polusi, dan tidak ada orang-orang yang terburu-buru dengan ponsel di tangan. Di sini, jalannya terbuat dari tanah padat yang berdebu. Orang-orang mengenakan pakaian berbahan goni atau wol kasar yang tampak lusuh dan penuh tambalan, namun tawa mereka terdengar lepas saat menyapa tetangga.
Luvya tertegun sejenak melihat sekelompok wanita yang sedang mencuci di pinggir sumur sambil bergosip riang. Meskipun mereka hidup dalam keterbatasan, ada binar kebahagiaan yang tidak pernah Luvya temukan di dalam Kuil Penitensi yang dingin atau di rumah Duke Vounwad yang kaku.
Di sini terasa lebih... hidup, batin Luvya.
Namun, udara musim gugur akhir mulai menusuk kulitnya. Suhu turun drastis, dan embusan angin dingin membuat bulu kuduknya meremang. Baju tidur tipisnya jelas tidak akan sanggup melindunginya dari dinginnya malam nanti.
Ia mempercepat langkahnya menuju deretan bangunan kayu di tengah desa, mencari toko pakaian. Akhirnya, ia menemukan sebuah kedai kecil dengan tumpukan kain wol dan mantel-mantel tebal yang digantung di depannya. Aroma wol domba dan kayu bakar tercium dari sana, memberikan rasa hangat yang ia rindukan.
Luvya berhenti tepat di depan toko itu, mengatur napasnya agar tidak terlihat seperti buronan yang panik.
Aku butuh pakaian yang paling biasa. Sesuatu yang bisa membuatku menghilang di tengah kerumunan rakyat jelata, pikirnya.
Luvya menarik napas dalam-dalam sebelum melangkah masuk ke dalam toko kecil yang remang-remang itu. Lonceng kecil di atas pintu berdenting, menarik perhatian seorang pria paruh baya yang sedang merapikan gulungan kain.
Tanpa banyak bicara, Luvya menunjuk satu setel pakaian wol tebal berwarna cokelat kusam dan sebuah mantel abu-abu yang memiliki penutup kepala lebar. Pakaian itu kasar, namun fungsional untuk menahan dinginnya musim gugur yang mulai menusuk tulang.
"Saya ambil ini," ucap Luvya dengan nada suara yang diusahakan setenang mungkin.
Ia merogoh tasnya dan mengeluarkan satu keping koin emas murni hasil pemberian Marquess Rigel. Saat koin itu diletakkan di atas meja kayu yang sudah tua, mata pemilik toko itu membelalak lebar, hampir keluar dari kelopak matanya. Ia menyambar koin itu dan menggigitnya pelan, lalu menatap Luvya dengan ekspresi terkejut sekaligus ngeri.
"Nona... ini emas murni!" seru pria itu dengan suara gemetar. "Satu keping koin ini bisa membeli sepuluh setel pakaian seperti ini, bahkan lebih! Saya tidak punya kembalian untuk uang sebesar ini."
Pemilik toko itu menatap Luvya dari ujung kepala hingga ujung kaki, memperhatikan baju tidur putihnya yang kotor dan kakinya yang telanjang. "Anda bisa menukarkan koin ini menjadi koin perak atau tembaga biasa di bank atau tempat penukaran uang. Tapi... dari mana anak seperti Anda bisa memiliki kepingan emas sebesar ini?"
Jantung Luvya berdegup kencang. Ia menyadari kesalahannya, emas murni di desa kecil adalah tanda bahaya. Ia harus segera memberikan alasan yang masuk akal sebelum pria ini memanggil penjaga desa karena mengira dia adalah pencuri.
"Saya adalah seorang bangsawan yang kabur dari perjodohan paksa," jawab Luvya dengan cepat, suaranya tetap rendah namun penuh penekanan. "Keluarga saya ingin menjual saya kepada pria tua yang kejam. Emas ini adalah satu-satunya harta yang sempat saya bawa sebagai modal untuk hidup bebas. Tolong, ambil saja koin itu dan berikan saya pakaiannya. Sisanya... anggap saja sebagai bayaran atas tutup mulut Anda."
Mendengar kata 'bangsawan kabur', ekspresi pemilik toko itu berubah menjadi campuran antara kasihan dan maklum. Di dunia ini, pelarian bangsawan karena urusan politik atau keluarga bukanlah hal yang aneh. Ia menelan ludah, melihat koin emas di tangannya, lalu segera membungkus pakaian yang dipilih Luvya.
"Baik, Nona... saya mengerti," bisiknya sambil menyerahkan pakaian itu dengan tangan yang masih gemetar. "Cepatlah ganti pakaian Anda dan pergilah sebelum ada yang bertanya lagi. Saya tidak ingin terlibat masalah dengan keluarga bangsawan mana pun."
Luvya mengangguk singkat, menyambar pakaian itu, dan segera menuju sudut ruangan untuk berganti. Ia tahu ia baru saja mengambil risiko besar, tapi setidaknya sekarang ia punya cara untuk menyamar di tengah keramaian tanpa dicurigai sebagai pelayan kuil.
Luvya segera mengganti baju tidurnya yang tipis di balik sekat kain yang disediakan. Saat kulitnya bersentuhan dengan wol kasar namun tebal itu, rasa hangat perlahan menjalar, mengusir gigil yang sempat menyiksanya sepanjang fajar. Pakaian itu pas di tubuhnya, dan mantel abu-abu dengan penutup kepala lebar itu benar-benar sempurna untuk menyembunyikan identitasnya.
Melihat Luvya yang tampak begitu terdesak namun tetap memiliki martabat seorang bangsawan, pemilik toko itu sepertinya merasa iba. Atau mungkin merasa koin emas yang ia terima terlalu berlebihan jika hanya ditukar satu setel baju.
Pria itu bergegas mengambil dua setel pakaian tambahan yang sederhana namun kokoh, serta sebuah tas kulit sandang yang cukup besar.
"Ini, Nona. Bawalah ini juga," ucap pria itu sambil memasukkan pakaian tambahan ke dalam tas. "Anda tidak bisa bepergian hanya dengan baju yang melekat di badan. Tas ini cukup kuat untuk membawa barang-barang Anda."
Luvya tertegun sejenak. Ia menerima tas itu dengan tangan yang kini tak lagi gemetar. Dengan gerakan cepat namun hati-hati, ia memindahkan dokumen penting milik Marquess Rigel dan kantong emas murni ke dalam tas baru tersebut. Semuanya tersimpan rapi dan tersembunyi di balik tumpukan kain wol.
"Terima kasih," ucap Luvya tulus. Suaranya terdengar lebih mantap sekarang.
"Berhati-hatilah, Nona. Jalanan menuju ibu kota atau perbatasan sangat tidak aman bagi gadis sendirian," pesan si pemilik toko sambil membukakan pintu untuknya.
Luvya melangkah keluar dari toko dengan penampilan yang benar-benar baru. Kini, ia terlihat seperti anak gadis desa yang hendak bepergian jauh, bukan lagi pelarian dari Kuil Penitensi. Rambut pirang pucatnya tertutup rapat oleh tudung mantel abu-abunya.
Sambil berjalan menyusuri jalanan desa yang mulai ramai oleh petani dan pedagang pasar, Luvya merapatkan mantelnya. Rasa mulas haid di perutnya masih ada, namun berat tas di bahunya memberikan rasa aman yang berbeda.
Sekarang aku punya modal, pakaian, dan identitas baru, batin Luvya. Kuil mungkin akan mencariku sebagai berkat yang hilang, tapi di sini, aku hanyalah orang asing yang tak punya nama.
Luvya menyadari bahwa berjalan kaki bukanlah pilihan yang bijak jika ia ingin segera menghilang. Berdasarkan ingatannya dari novel, kereta kuda barang yang melintasi desa ini sering kali menerima penumpang tambahan dengan imbalan koin. Itu adalah cara paling aman untuk bepergian tanpa menarik perhatian penjaga resmi kekaisaran.
Namun, ia tidak bisa terus-menerus mengeluarkan kepingan emas murni di tempat umum. Itu sama saja dengan memasang target di punggungnya.
"Aku harus mencari tempat penukaran uang," gumam Luvya pelan di balik tudung mantelnya.
Ia berjalan menyusuri pusat desa sampai menemukan sebuah bangunan batu yang tampak lebih kokoh dan dijaga lebih ketat daripada bangunan kayu lainnya, itu adalah bank desa. Dengan langkah yang diatur agar tidak terlihat terburu-buru, Luvya masuk ke dalam. Suasananya dingin dan tenang, hanya terdengar suara denting logam dan goresan pena di atas kertas.
Luvya mendekati meja pelayanan. Ia mengeluarkan dua keping emas dan menyerahkannya kepada petugas bank. Kali ini, ia sudah menyiapkan mental untuk tatapan penuh selidik. Petugas itu menatap koin emas tersebut, lalu menatap Luvya yang wajahnya tersembunyi di balik tudung.
"Hanya penukaran ke koin perak dan perunggu, Tuan," ucap Luvya dengan nada datar, mencoba meniru gaya bicara bangsawan yang sedang tidak ingin diganggu.
Untungnya, petugas bank itu tidak banyak bertanya. Di wilayah yang sering dilewati pedagang besar, emas bukanlah hal yang mustahil terlihat, meski jarang dibawa oleh seorang gadis muda. Setelah proses yang terasa sangat lama bagi Luvya, ia akhirnya menerima beberapa kantong kain kecil berisi koin perak dan tembaga yang beratnya jauh lebih masuk akal.
Dengan koin-koin "rakyat jelata" di sakunya, Luvya segera keluar dan menuju pangkalan kereta barang di pinggir desa.
Sesampainya di sana, ia melihat sebuah kereta kuda besar yang memuat tumpukan karung gandum dan wol. Seorang pria tua dengan wajah yang terbakar matahari sedang mengencangkan tali pengikat barang.
"Tuan," panggil Luvya pelan. "Apakah Anda menerima penumpang menuju kota pelabuhan atau persinggahan berikutnya? Saya bisa membayar dengan perak."
Pria itu menoleh, menatap sosok kecil Luvya sejenak sebelum mengangguk. "Tentu, Nona kecil. Naiklah ke belakang, di atas karung wol. Itu cukup empuk jika Anda tidak keberatan dengan debunya. Kita berangkat lima menit lagi."
Luvya menyerahkan beberapa keping perak, lalu memanjat naik ke atas kereta. Ia menyandarkan tubuhnya yang letih pada tumpukan karung wol yang hangat. Saat kereta mulai bergerak meninggalkan desa, suara roda kayu yang berderit di atas tanah terasa seperti nina bobo bagi Luvya.
Selamat tinggal, Kuil Penitensi, batin Luvya sambil menatap puncak menara kuil yang mulai menjauh di cakrawala. Selamat tinggal, Lily. Mulai hari ini, aku benar-benar akan menulis takdirku sendiri.