NovelToon NovelToon
Hanya Bisnis, Sayang

Hanya Bisnis, Sayang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Action
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Vanessa_Write

"Ingat posisi kita, Elena. Di luar kita adalah pasangan sempurna, tapi di dalam rumah ini, kita adalah dua orang asing yang kebetulan berbagi satu atap. Jangan pernah lupakan itu."

Elena adalah CEO Luminous Beauty yang ambisius. Baginya, hidup adalah tentang citra dan kesempurnaan visual. Namun, sebuah pengkhianatan di dewan direksi memaksanya bersekutu dengan pria yang paling ia benci, Adrian ,
sang penguasa Arsa Food Group yang dingin dan praktis.

Namun, di balik kemewahan hidup mereka, ada rahasia gelap yang terkubur. Saat dinding kebencian mulai runtuh oleh sesuatu yang tak terduga, Elena menyadari bahwa Adrian mungkin bukan hanya rekan bisnis/suaminya, melainkan dalang di balik tragedi masa lalu keluarganya.

Di dunia mereka, cinta adalah kelemahan, dan pengkhianatan adalah strategi. Saat kontrak mulai melanggar logika hati, siapakah yang akan hancur lebih dulu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanessa_Write, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Api Balasan dari Arsa

Matahari baru saja terbit, namun di dalam ruang kerja utama mansion Adrian, suasananya jauh lebih panas daripada terik siang hari. Adrian berdiri di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman luas, masih mengenakan kemeja hitam semalam yang kancing atasnya sudah terbuka. Di atas meja kerjanya, sebuah laptop menampilkan grafik pergerakan saham yang berkedip cepat, berdampingan dengan beberapa berkas rahasia mengenai jaringan bisnis Tuan Hendrawan.

Di sofa tidak jauh dari sana, Elena duduk dengan segelas kopi hangat di tangannya. Ia sudah mengganti gaun malamnya dengan setelan blazer formal berwarna putih gading dengan pakaian perang barunya untuk rapat merger siang ini. Meskipun lingkaran hitam tipis menghiasi bawah matanya karena kurang tidur, sorot matanya memancarkan ketegasan yang sama sekali berbeda dari Elena yang dulu.

"Aku sudah meminta tim IT forensikku untuk melacak asal-usul sabotase rem semalam," kata Elena, memecah keheningan. "Mereka menemukan bahwa salah satu montir di hotel Tuan Wijaya menerima transferan dana besar dari rekening cangkang yang berbasis di Cayman Islands. Rekening yang sama dengan yang membiayai beberapa aksi Paman Bram dulu."

Adrian berbalik, matanya yang dingin menatap Elena. Senyum miring yang menakutkan terukir di bibirnya. "Cayman Islands... itu adalah rekening pribadi milik Hendrawan yang digunakan untuk pekerjaan kotor. Dia pikir dia bisa bersembunyi di balik regulasi hukum internasional."

Adrian berjalan mendekati mejanya, menekan sebuah tombol pada interkom. "Hendra, bawa dia masuk."

Pintu ruang kerja terbuka, dan Hendra—kepala tim keamanan pribadi Adrian—melangkah masuk bersama dua anak buahnya yang menyeret seorang pria bertubuh kurus dengan pakaian montir yang sudah koyak. Pria itu gemetar hebat, wajahnya pucat pasi karena ketakutan. Elena mengenali logo di bajunya; itu adalah montir valet di hotel tempat mereka pesta semalam.

"T-Tuan Arsa... saya mohon ampun, Tuan! Saya terpaksa... mereka mengancam keluarga saya!" ratap montir itu sambil berlutut di atas lantai marmer.

Adrian tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia berjalan pelan mengitari pria itu, langkah kakinya terdengar seperti ketukan lonceng kematian bagi sang montir. Sisi kejam dari seorang Adrian Arsa yang selama ini hanya menjadi rumor di dunia bisnis kini terpampang nyata di depan mata Elena.

"Aku tidak peduli dengan alasanmu," ucap Adrian, suaranya begitu rendah hingga membuat bulu kuduk siapa pun meremang. "Kamu menyentuh mobilku. Kamu membahayakan nyawa istriku. Di duniaku, tindakan itu hanya memiliki satu konsekuensi."

Adrian menunduk, menatap pria itu dari atas. "Sebutkan nama orang yang menemuimu di hotel, atau aku akan memastikan tidak ada satu pun perusahaan di negara ini yang mau mempekerjakanmu, dan keluargamu akan merasakan bagaimana rasanya kehilangan tempat tinggal dalam waktu dua puluh empat jam."

"Orang kepercayaan Tuan Hendrawan! Namanya Robert! Dia yang memberikan minyak rem palsu dan menyuruh saya melonggarkan selangnya!" seru pria itu tanpa berpikir dua kali, air matanya menetes karena tekanan yang luar biasa.

Adrian memberikan isyarat tangan, dan Hendra langsung menyeret pria itu keluar dari ruangan. Adrian membuang napas pendek, lalu beralih menatap Elena. Kemarahan di matanya perlahan memudar, digantikan oleh fokus yang tajam.

"Kita sudah punya nama, dan kita punya bukti transfer," kata Adrian sambil merapikan lengan kemejanya. "Ini saatnya menyalakan api pembalasan. Hendrawan pikir dia bisa menjatuhkan kita di jalan tol. Sekarang, kita akan menjatuhkannya di tempat yang paling dia agungkan: lantai bursa."

Sore harinya, ruang rapat utama Arsa Food Group dipenuhi oleh puluhan direktur, komisaris, dan pengacara dari kedua belah perusahaan. Di ujung meja panjang, Adrian dan Elena duduk berdampingan. Kehadiran mereka memancarkan aura power couple yang tak tertandingi. Berita tentang kecelakaan semalam sengaja ditutup rapat dari media, sehingga semua orang di ruangan itu hanya fokus pada satu agenda besar: merger.

Di sudut ruangan, Bramantyo duduk dengan wajah kaku. Ia mencoba mempertahankan ekspresi sombongnya, namun keringat dingin di pelipisnya tidak bisa berbohong. Ia tahu posisinya sudah di ujung tanduk.

"Sebelum kita memulai pemungutan suara resmi untuk merger ini," Adrian berdiri, suaranya menggema penuh otoritas di seluruh ruang rapat yang kedap suara itu. "Ada satu pengumuman tambahan yang ingin aku sampaikan. Efektif mulai menit ini, Arsa Group telah mengakuisisi tiga puluh persen saham dari Mega Investama — bank investasi milik Tuan Hendrawan."

Bisikan kaget langsung riuh rendah di antara para anggota dewan. Bahkan Elena pun sempat terkejut, meskipun ia berhasil menyembunyikannya dengan senyuman tenang. Adrian benar-benar bergerak secepat kilat di balik layar.

"Bagaimana mungkin? Mega Investama adalah raksasa!" seru salah satu komisaris senior.

"Tidak ada yang mustahil jika kalian tahu di mana letak kelemahan mereka," sahut Elena, ikut berdiri di samping Adrian. Ia membuka sebuah map cokelat dan melemparkannya ke tengah meja. "Ini adalah bukti aliran dana ilegal dan pencucian uang yang dilakukan oleh manajemen inti Mega Investama selama lima tahun terakhir, termasuk dana yang digunakan untuk mensabotase aset Arsa Group semalam. Kami sudah menyerahkan bukti ini ke Otoritas Keamanan Finansial (FSA) dan Komisi Tindak Integritas (KTI). Saat bursa ditutup satu jam lagi, saham mereka akan runtuh ke titik terendah."

Bramantyo langsung berdiri dari kursinya, wajahnya pucat seperti mayat. "Kalian... kalian gila! Ini akan menghancurkan stabilitas pasar!"

Adrian menatap Bramantyo dengan pandangan menghina. "Pasar akan tetap stabil, Tuan Bramantyo. Hanya saja, orang-orang seperti Anda dan Hendrawan tidak akan lagi memiliki tempat di dalamnya. Merger antara Arsa dan Luminous akan menjadi satu-satunya kekuatan baru yang memegang kendali."

Adrian menekan tombol pada remote di tangannya, menampilkan layar televisi yang menyiarkan berita kilat pembekuan aset Mega Investama oleh pihak berwenang karena dugaan konspirasi kriminal. Di layar itu, terlihat Hendrawan yang digiring keluar dari kantornya dengan wajah yang hancur berantakan oleh kilatan kamera wartawan.

Api balasan dari Arsa telah membakar habis salah satu pilar utama Syndicate dalam hitungan jam.

Rapat dewan komisaris segera berakhir dengan persetujuan mutlak seratus persen untuk merger. Begitu ruang rapat kosong dan hanya menyisakan mereka berdua, Elena bersandar pada meja, menatap Adrian dengan perasaan yang campur aduk.

"Kamu menghancurkan bank investasi terbesar hanya dalam satu hari, Adrian," bisik Elena, masih tidak percaya dengan skala pembalasan pria itu.

Adrian berjalan mendekat, mempersempit jarak di antara mereka hingga Elena bisa merasakan kehangatan tubuhnya. Ia mengangkat dagu Elena dengan telunjuknya, memaksa mata indah wanita itu menatapnya.

"Aku sudah bilang, Elena. Aku adalah pemain yang lebih kejam," ucap Adrian, suaranya melembut namun terdengar sangat posesif. "Hendrawan melakukan kesalahan karena mengira aku hanya peduli pada bisnis. Dia tidak tahu... bahwa jika ada seseorang yang berani menyentuh milikku, terutama kamu, aku akan membakar seluruh dunia mereka tanpa sisa."

Elena menahan napasnya. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa api yang dinyalakan Adrian bukan lagi sekadar untuk memenuhi janji pada ayahnya, melainkan karena ada perasaan lain yang jauh lebih membara di dalam hati pria itu. Perasaan yang kini mulai merayap masuk dan membakar hatinya sendiri.

......BERSAMBUNG......

1
Bu Dewi
seru kak alur ceritanya😍😍😍👍
VanessaJournal: terima kasih atas support nya kak! 😊🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!