Serena Roe tahu satu hal tentang cinta:
semua orang yang mendekatinya selalu membawa kehancuran.
Julian datang menawarkan ketulusan.
Damien membuatnya kecanduan.
Dan Axel, perlahan menghancurkan hidupnya tanpa ia sadari.
Tapi di antara mereka, siapa yang benar-benar mencintainya dan siapa yang betulan ingin memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clarice Diane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
White Lies
Musim dingin perlahan meninggalkan Los Angeles. Udara pagi masih dingin, tetapi matahari mulai terasa lebih hangat dibanding minggu minggu sebelumnya. Cahaya keemasan jatuh lembut di permukaan infinity pool mansion, membuat air biru itu berkilau tenang di tengah hawa musim semi yang belum sepenuhnya datang. Seluruh mansion terasa sunyi.
Damien sudah pergi ke Seoul hampir satu jam lalu, meninggalkan Serena sendirian di rumah besar yang terasa semakin asing setiap kali ia berjalan melewati lorong lorongnya. Dan sejak tadi, satu pikiran terus menghantui kepalanya.
Bagaimana kalau Julian bangun hari ini?
Apa yang harus ia katakan?
Bahwa dunia menganggapnya mati?
Bahwa Claire sedang berduka sekarang?
Bahwa Damien membawa mereka ke Los Angeles seperti seseorang yang sedang memindahkan bidak catur?
Serena mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya berjalan turun menuju ruang medis di lantai bawah mansion. Setiap langkah terasa semakin berat. Lorong menuju ruangan itu dingin dan redup, dipenuhi aroma antiseptik samar dan suara mesin pendingin udara yang monoton. Pintu putih besar di ujung lorong terlihat hampir mengintimidasi sekarang.
Karena begitu Serena membukanya, tidak akan ada lagi cara untuk berpura pura semuanya masih normal.
Pintu terbuka perlahan. Dan Julian masih tertidur di sana. Tubuh laki laki itu terbaring diam di atas ranjang putih dengan berbagai kabel medis terpasang di sekelilingnya. Perban masih melingkari kepalanya, sementara beberapa luka lebam samar terlihat jelas di rahang dan lehernya.
Namun bahkan dalam kondisi seperti itu, Julian tetap terlihat hangat. Rapuh. Manusiawi. Tidak seperti Damien.
Dan entah mengapa, pikiran itu justru membuat Serena semakin merasa bersalah.
Perempuan itu berjalan perlahan mendekat sebelum duduk di kursi dekat ranjang. Tatapannya tidak lepas dari wajah Julian. Dulu laki laki ini pernah menjadi rumahnya.
Jemari Serena bergerak pelan menyentuh tangan Julian di atas selimut. Dingin. Air mata mulai memenuhi matanya tanpa sadar.
“Aku minta maaf...” bisiknya lirih. “Aku benar-benar minta maaf.”
Sunyi.
Lalu, jemari Julian bergerak kecil di bawah tangannya. Napas Serena langsung terhenti. Kening Julian berkerut samar sebelum kepalanya bergerak sedikit di atas bantal putih.
“Julian?”
Kelopak mata pria itu perlahan terbuka.
Dan jantung Serena langsung berdegup begitu keras sampai dadanya terasa sakit.
Tatapan Julian tampak kosong. Benar benar kosong. Matanya bergerak lambat mengelilingi ruangan asing itu sebelum akhirnya berhenti tepat pada Serena. Lama. Seolah ada sesuatu dalam dirinya yang sedang mencoba mengenali perempuan di hadapannya tetapi gagal.
“Di mana ini?” Suaranya serak. Lemah. Nyaris pecah.
“Kau aman,” jawab Serena cepat, hampir terdengar panik. “Kau mengalami kecelakaan.”
Julian mengernyit kecil sambil mencoba mengangkat tubuhnya sedikit sebelum rasa sakit membuatnya kembali terjatuh lemah ke bantal. Napasnya berubah lebih berat sekarang. Tatapannya kembali jatuh ke Serena.
Dan kali ini, Serena benar benar bisa melihat kebingungan di mata laki laki itu.
“Siapa...” suara Julian melemah pelan, “siapa kau?”
Pertanyaan sederhana itu terasa seperti pisau yang ditusukkan perlahan ke dada Serena. Karena laki laki yang dulu pernah mengenal setiap bagian kecil dirinya sekarang bahkan tidak tahu namanya.
Serena membuka bibirnya perlahan. “Aku Serena.”
Tidak ada reaksi. Tidak ada pengenalan.
Julian hanya terus menatap wajah Serena seperti seseorang yang sedang mencoba mengingat mimpi lama yang hampir hilang.
Lalu tiba tiba keningnya berkerut sedikit. “Aneh...”
Jantung Serena langsung menegang. “Apa?”
Julian memejamkan mata sebentar sambil menarik napas pelan. “Melihatmu...” suaranya terdengar jauh lebih lirih sekarang, “dadaku terasa sakit.”
Dan kalimat itu langsung menghancurkan Serena. Karena bahkan setelah kehilangan seluruh ingatannya, tubuh Julian masih mengenali rasa sakit yang pernah diberikan Serena.
Pria itu kembali membuka mata perlahan. Tatapannya jauh lebih lembut sekarang. Rapuh sekali.
“Apakah...” Julian berhenti sejenak seperti kesulitan menyusun pikirannya sendiri, “kau seseorang yang sangat penting bagiku?”
Napas Serena mulai tidak stabil.
Ia seharusnya mengatakan tidak. Seharusnya menjelaskan semuanya. Namun bagaimana mungkin Serena sanggup menghancurkan laki-laki ini sekali lagi tepat setelah ia membuka mata?
“Aku tidak ingat apa apa,” lanjut Julian pelan dengan suara hampir putus asa. “Namun saat melihatmu, rasanya seperti aku pernah kehilangan sesuatu.”
Air mata Serena akhirnya jatuh.
Dan Julian langsung terlihat semakin bingung melihat itu. “Kau menangis,” gumamnya lemah.
Tatapannya turun perlahan ke jemari Serena yang masih menggenggam tangannya. Lalu kembali ke mata perempuan itu.
“Apakah kau...” Julian menelan ludah kecil sebelum bertanya lirih, “kekasihku?”
Dunia Serena langsung terasa sunyi. Suara monitor jantung berubah terlalu keras di telinganya sendiri. Karena pertanyaan itu adalah masa lalu mereka.
Adalah hidup yang pernah mereka miliki sebelum Damien masuk dan menghancurkan semuanya.
Dan untuk sepersekian detik, Serena ingin mengatakan iya sambil menangis. Ingin kembali menjadi perempuan belia yang dicintai Julian Hayes dengan tulus. Namun yang tersisa sekarang hanyalah kebohongan.
Serena tetap mengangguk kecil. “Iya, aku kekasihmu.”
Jawaban itu langsung membuat ekspresi Julian berubah samar. Bukan ingatan. Bukan pengenalan. Namun sesuatu yang jauh lebih menyakitkan.
Kelegaan.
Seolah di tengah dunia asing yang tidak diingatnya lagi. Julian akhirnya menemukan satu orang yang terasa aman. Dan Serena langsung sadar satu hal mengerikan.
Ia baru saja memulai kebohongan baru.
...----------------...
...To be continue...