NovelToon NovelToon
Become Mafia Family

Become Mafia Family

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mafia / Teen
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: nanastar

Tiba-tiba jadi keluarga mafia?!!!

Itulah yang dirasakan oleh seorang gadis cantik bernama Lily. Takdirnya secara mendadak membawanya pada dunia gelap yang tak pernah ia tahu sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nanastar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ternyata bukan

Happy Reading

"GAK! JANGAN!" Teriak Lily lalu membuka matanya dengan cepat. Ia menoleh kearah sampingnya dan mendapati Zevan yang tengah menatapnya dengan aneh.

"Mimpi buruk?"

Nafas Lily terdengar memburu dan wajahnya pucat. Jadi itu tadi hanya mimpi, batin Lily terasa sedikit melega. Tak terasa air matanya jatuh tanpa ia minta. Ada rasa sakit saat Zevan hendak menembaknya begitu saja. Lalu Zevan menepuk-nepuk pundaknya dari samping. Mencoba memberikan sandaran untuknya.

"Kak, maafin aku!" Isaknya yang malah semakin tersedu-sedu. Zevan hanya diam sembari mengusap kepalanya dengan lembut.

"Kak Zevan gak lagi marah kan sama aku?"

"Kak?" Panggil Lily lalu mendongkak menatap wajah sang empu dengan takut.

"Lain kali, kalo ada maling telpon gue, ya!"

Lily mengangguk cepat. Walaupun Lily tau Zevan tak sebodoh itu, tapi biarlah semua tertutupi oleh kebohongan lebih dulu.

"Maaf kak, aku gak sadar bisa ketiduran dimobil"

"It's okay" Jawabnya santai.

"Tapi, sejak kapan aku tidur, ya?" Pikirnya masih tidak ingat.

"Yah, satu jam yang lalu..." Jawabnya santai dan melepaskan tali pengaman mobil dari Lily.

"HAH?! SATU JAM?! Kok kak Zevan gak bangunin aku sih?!"

"Udah izin kok tadi, jadi gak usah hawatir"

"Ya, tapi..."

"Udah sana masuk kelas!"

Tanpa berkata apapun lagi Lily pun mengangguk pasrah dan keluar dari mobilnya. Dari dalam sana Zevan terus saja memperhatikannya dengan dalam. Lalu ingatannya kembali memutar pada satu jam yang lalu.

Flashback on_

"Gak gitu maksud aku kak, kak Zevan kan kuliah"

Mendengar itu Zevan hanya diam. Ia sebenarnya sedang merasa kesal dan marah pada gadis kecil itu. Tapi apa boleh buat, ia tidak bisa memarahi dan melihat gadis itu tersakiti lebih jauh lagi, terlebih itu ulahnya.

Hening. Keduanya saling tak memulai untuk bersuara ketika sedang berada didalam mobil. Hingga suara dengkuran kecil seseorang membuat Zevan menoleh kesamping. Lily tertidur pulas rupanya. Mungkin waktu malam tidurnya terganggu oleh laki-laki sialan itu. Siapa bilang Zevan tidak tahu, ia tahu banyak tentang semua gerak-gerik gadis itu. Apa dia tidak sadar bahwa bodyguardnya itu sebenarnya masih mengikutinya dalam diam? Ah Zevan rasanya ingin tertawa mengingat bahwa Lily ternyata adalah gadis yang sangat mudah dibohongi.

Tak terasa, Zevan malah menepikan mobilnya ditepi jalan dekat gerbang sekolah. Ia tidak ingin mengganggu waktu istirahat sang gadis. Ia terus saja memperhatikannya. Kenapa rasa bencinya seperti menghilang? Kenapa gadis yang sekarang berada disampingnya begitu berbeda? Apa yang sebenarnya telah terjadi?

Zefan terperangah ketika melihat Lily meneteskan air matanya. Bukankah ia sedang tidur? Apa dia bermimpi buruk? Ingin sekali Zevan membangunkannya, tapi rasanya ia tidak tega. Ia ingin tau apa yang sebenarnya gadis itu mimpikan.

Lily terlihat tertekan. Mungkin sudah saatnya mimpi buruk itu berakhir. Zevan pun perlahan mengusap air mata yang berada di pipinya pelan.

"GAK! JANGAN!" Lily pun terbangun dengan wajah terkejut dan takut. Kenapa Lily seperti orang yang punya trauma?

Flashback off_

Apa lily menyembunyikan sesuatu darinya? Pikir Zevan lalu menghidupkan mobilnya dan pergi dari tempat itu.

• • • • •

Entah kenapa, saat Lily memasuki sekolah, semua orang menatapnya dengan tatapan jijik. Padahal penampilan Lily saat itu tidak berantakan. Apa ada yang salah? Dia menciumi tubuhnya sendiri, tapi tidak ada yang bau. Ingin sekali Lily bertanya kenapa, namun rasanya ia malas berinteraksi dengan orang yang apalagi mereka juga terlihat tidak menyukainya.

"Apa wajahku ada kotorannya yah?" Ia pun bergegas menuju toilet. Lalu menghadap cermin panjang.

"Gak ada yang salah? Kenapa ya?"

"Eh lo tau si Lily gak?! Anak haram terhormat itu lho kelas 11! Dia katanya jadi lonte!"

"Wih serius?! Masa sih?!"

"Lo gak tau apa satu sekolah udah pada tau kasus dia? Itu lho dia bikin akun Twitter buat open BO!"

"Dia kan anak orang kaya, masa sih gitu?"

"Ya gue juga gak tau, tapi potonya yang seksi-seksi udah kesebar di internet! Nih liat sendiri! BBL! Banyak banget lho!"

"Kayaknya dia jadi sugar baby nihhh! Hahahahaa buat caper sama abangnya itu mahh paling!"

Tak sengaja Lily menguping pembicaraan mereka dari balik pintu toilet. Lily terdiam sejenak mencerna apa yang barusan terjadi. Potonya yang seksi-seksi? Tapi ia tak pernah membuat akun Twitter? Yang ada cuman tik tok, itu juga sudah tidak bisa ia buka karena terkena hack. Ia pun segera mengecek ponselnya, tapi tak ada apapun disana.

• • •

Selang beberapa lama, bel pulang sekolah pun berbunyi. Dengan malas, Lily membalas tatapan sinis dari semua orang, ia mencoba untuk tidak terlalu peduli pada alasannya.

Kak Zef

Aku segera datang, tunggu beberapa menit.

Tertulis pesan singkat dari kakaknya itu. Lily pun menarik nafasnya kasar dan melihat sekeliling. Satu persatu mereka pulang dengan jemputanya. Kadang Lily iri, kenapa seorang figuran seperti dirinya sangat terlupakan sekali?

'Udah mah ditakdirin mati ditangan kakak sendiri, eh kagak punya teman lagi. Miris kali hidup kau ni Lily Lily' Batinya dengan tersenyum getir. Ia menatap kebawah, melihat tali sepatunya yang terlepas. Tapi Lily malah mendiamkannya. Sudah cukup lama Lily merasa lupa bagaimana rasanya mempunyai teman mengobrol. Pasti menyenangkan bukan?

"Huh! Mendingan aku nungguin kak Zefan di gerbang belakang sekolah aja!" Ia pun segera pergi meninggalkan tempat menunggu jemputan tersebut. Ia kesal karena jauh dari lubuk hatinya merasa iri. Iri kan tanda tak mampu? Ya, memang benar. Lily iri karena ia tak mampu mempunyai banyak teman. Hidupnya seolah terbatas, hanya dengan siapa dan kepada siapa ia akan bicara.

Dengan bosan Lily menunggu jemputan kakaknya. Ia harus banyak bersabar didunia novel ini. Perasaan Lily tiba-tiba kalut. Ada rasa janggal dihatinya.

"Weh! Ada cewek sendiri!"

"Hai, cantik!"

Dua orang pemuda yang berseragam sama seperti Lily terlihat menghampirinya dengan sempoyongan. Mereka sesekali meminum minuman botol yang berada ditangannya. Sudah dipastikan mereka sedang mabuk.

"Zombie?!" Panik Lily ketika melihat mereka berdua. Tapi ia ragu, ada apa dengan mereka? Kenapa mereka nampak tidak seperti manusia normal? Apa mereka sakit?

"Hai, Lo Lily, kan?" Tanyanya sambil tersenyum lebar dan mata yang merah. Lily heran kenapa tubuh orang ini terus-menerus bergoyang kesana-kemari tidak seimbang.

"Kalian minum apa?" Tanya Lily.

"Mau lu? Kasihin lah bro!" Ujar pemuda yang satunya lagi sembari menepuk-nepuk pundaknya.

"Nih!" Pemuda itu hendak memberikannya pada Lily. Lily sempat mendekat, dan mencium aroma minuman itu. Sangat menyengat.

"Ih bau! Gak mau!" Tolaknya mentah-mentah dan sedikit menjauh dari mereka berdua dengan waspada.

"Kalian mabok ya! Kan gak boleh tau ini di sekolah! Mana kalian masih dibawah umur" Ucap Lily memarahi mereka.

"Apa sih berisik! Kalo seneng-seneng sama kita, mau ya!" Pemuda berambut acak-acakan itu mendekati Lily dengan kedipan mata mautnya. Jujur, kedua pemuda ini tidak terlihat good looking dimatanya. Jadinya Lily merasa ilfil saat melihatnya seperti itu. So' cakep banget si anjir. Ibaratnya cover gollum (kayak tuyul botak diflm the lord of the rings) sikap fir'aun.

"Lo udah dipake berapa cowok, hm?"

Dengan kurang ajarnya mereka berdua menyentuh tangan Lily.

"Ih apaan sih pegang-pegang! Sanaa pergii!" Lily mencoba menjauh.

"Ssstthhh! Kita semua satu sekolah pun tau kalo lo itu.."

"Lonte!" Kompak kedua pemuda tersebut lalu tertawa.

"Gue bukan lonte! Pergi!"

"Gak usah so' polos Lo! Bawa dia ketempat biasa!"

"Ayok!"

"Iih lepas! Tolong! Tolong!" Lily mencoba berteriak keras. Mungkin salah dia juga karena tadi tidak segera lari dari kedua pemuda bejat ini.

"Diem! Cepat ikut!"

Dor!

Tiba-tiba terdengar suara tembakan.

"Aaaaarghhh!!" Teriak seorang pemuda yang disamping kiri Lily. Tanganya mengucurkan banyak darah segar.

"Ya ampun?! Siapa yang nembak?!" Panik Lily kemudian membungkukkan badannya. Ia menatap sekelilingnya dengan takut.

"Woy ini tolongin temennya! Kok malah lari sih!" Teriak Lily pada pemuda yang berlari. Ia terlihat ketakutan.

"Duh gimana ya? Aku takut darah lagi" Paniknya saat tak melihat satu pun orang disana.

"Dani?! Apa yang terjadi?!" Tiba-tiba datanglah guru-guru dan beberapa murid yang belum pulang. Mereka semua menatap Lily benci seolah itu semua ulahnya.

"Aku gak tau bu, mereka berdua mabuk terus gangguin aku, terus tiba-tiba ada yang nembak!" Jelasnya.

"Sudah-sudah, kita bereskan dulu Dani. Lily, saya tunggu besok anda diruang saya. Jangan lupa untuk membawa kedua orang tua anda sekalian!" Ucapnya dengan dingin. Lily berpikir sejenak, kenapa tiba-tiba guru BK nya seperti ini?

BERSAMBUNG

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!