Sheza diculik ketika usianya 7 tahun, dan bibinya meninggal diduga karena telah menyelamatkannya saat itu. Karena dianggap berhutang nyawa, dia benar-benar harus merelakan tempat dan posisinya digantikan sang sepupu Karen. Kedua orang tuanya mengabaikannya, memprioritaskan Karen.
Bahkan tunangannya Alex, juga melakukan hal yang sama. Hingga malam itu, satu minggu sebelum bertunangan, Sheza melihat Alex dan Karen berciuman di villa mereka, villa yang katanya dibeli Alex untuk Sheza.
Sejak saat itu, Sheza sudah tak berharap lagi pada keluarga dan tunangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Tawaran Mengejutkan
Sheza memang sudah kesal pada Alex, karena pada akhirnya orang terakhir yang dia paling percaya itu juga terpedaya oleh Karen.
Namun dia tidak percaya, kalau Alex yang sudah dia kenal belasan tahun, bisa bicara seperti itu padanya. Berpikir dia menjual dirinya? rasanya dada Sheza benar-benar terbakar mendengar pertanyaan Alex.
"Sheza, jangan lakukan hal seperti itu! aku sudah katakan pada paman dan bibi, aku sudah membujuk mereka, supaya mengembalikan semua yang bulananmu. Kamu juga baru di pecat dari tempat kerja kan? kamu pasti sangat kesulitan masalah uang. Tapi, kamu juga harus perhatikan nama baik keluarga Hadiwinata. Jangan sampai ada yang tahu, kalau putri tunggal keluarga Hadiwinata menjual diri..."
Plakkk
Brukk
Rahang Sheza mengeras. Dia menampar Karen sekuat tenaganya. Sampai wanita itu jatuh tersungkur ke lantai.
"Alex... sakit!"
Karen sampai menangis. Tamparann Sheza itu memang sangat keras. Sheza sendiri merasa tangannya sangat panas.
Alex yang melihat Karen tersungkur, segera mendekati Karen.
"Karen, bangunlah..."
Wajahnya merah dan sedikit bengkak. Dan Karen benar-benar menangis.
"Aku hanya berusaha mengingatkan mu, Sheza. Kenapa kamu malah memukulku?" lirih Karen.
Dan kali ini tangisnya bukan pura-pura. Karena wajahnya memang terasa panas dan nyeri.
"Sheza, kenapa kamu memukul Karen. Dia hanya perduli padamu, dia tidak ingin kamu salah langkah!"
"Perduli? salah langkah katamu? siapa yang salah langkah? sejak tadi kalian berdua terus bilang aku jual diri. Siapa kalian berhak menuduhku seperti itu? Wanita ini bilang aku yang harus memikirkan nama baik keluarga Hadiwinata? lantas jika aku sebarkan apa yang kalian lakukan di villa waktu itu, apa nama baik keluarga Hadiwinata masih bisa menjadi baik?" tanya Sheza dengan suara meninggi.
"Sheza, tidak ada yang terjadi!" sela Alex.
"Katakan hal itu pada anak usia 5 tahun. Mungkin dia akan percaya!"
"Sheza, jangan cemburu. Aku dan Alex..."
"Aku tidak bicara padamu!" pekik Sheza menyela, "dan aku sama sekali tidak cemburu. Aku sudah bilang, aku tidak suka barang bekas!"
"Sheza!" bentak Alex.
"Tuan, nona, tolong jangan buat keributan!" seorang manager toko datang untuk melerai pertengkaran itu.
"Aku memang tidak mau ribut. Mereka saja yang cari gara-gara!" Kata Sheza yang segera pergi dari tempat itu.
"Sheza!" panggil Alex.
"Alex, wajahku sakit sekali!" lirih Karen yang menarik lengan Alex yang hampir mengejar Sheza.
Alex pun menghela nafas panjang. Pada akhirnya, dia malah membawa Karen ke rumah sakit. Bukannya mengejar Sheza.
Sheza kembali ke rumah, melihat wajah Sheza yang muram. Jendra merasa mungkin ada yang tidak beres.
Pria itu duduk di sebelah Sheza. Melihat, hanya ada satu paper bag saja di samping Sheza.
"Sepertinya ada yang membuatmu kesal?" tanya Jendra yang meletakkan segelas jus di atas meja tepat di depan Sheza.
Sheza menatap gelas itu, lalu beralih menatap Jendra.
'Pria ini, dia cukup pengertian!' batinnya.
"Siapa yang mengganggu nyonya Jendra?" tanya Jendra lagi, kali ini dengan membelai sedikit helaian rambut di pinggir wajah Sheza.
"Siapa nyonya Jendra?" gumam Sheza.
"Siapa lagi? wanita paling cantik dan berani di seluruh dunia tentunya!" jawab Jendra sedikit berlebihan, tapi cukup membuat Sheza merasa agak melambung.
"Hentikan!" kata Sheza yang tidak mau mendengarkan sesuatu yang tidak masuk akal.
"Ada apa?" tanya Jendra.
"Tidak apa-apa, hanya saja dua orang menyebalkan itu. Merusak mood belanjaku. Harusnya kan aku habiskan semua isi dalam kartu mu itu. Tapi mereka datang, dan membuatku kesal!"
"Kamu bisa cerita padaku! katanya bercerita pada seseorang yang tidak mengenal keluargamu itu akan membuatnya punya pandangan lebih objektif!" ujar Jendra.
Sheza kembali menoleh. Dia tidak menyangka, Jendra bisa bicara seperti itu.
"Saat usiaku 7 tahun, katanya aku diculik. Aku sendiri tidak ingat apapun. Saat itu kami semua merayakan ulang tahun Karen. Bibi mengajakku keluar, katanya mau ambil kue. Tapi setelah keluar pintu. Aku tidak tahu apapun lagi. Saat aku bangun, aku sudah ada di rumah sakit. Dan semua orang menyalahkan aku, katanya bibi meninggal karena menyelamatkan aku yang pergi dari hotel itu sendirian, dan akhirnya diculik. Aku mencoba mengatakan pada ayah, aku tidak keluar sendiri, bibi yang mengajakku untuk ambil kue, tapi semua orang bilang itu hanya alasan. Kue itu sudah ada di dalam, mau di ambil dimana lagi? mereka semua menyalahkan aku..."
Jendra meraih Sheza ke pelukannya. Sheza menangis. Entah kenapa, setelah lama dia tidak menangis untuk masalah itu. Ketika Jendra memeluknya, dia merasa ada tempat yang bisa dia jadikan sandaran untuk menangis sepuasnya.
"Aku merelakan banyak hal, orang tuaku memaksaku melepaskan banyak hal. Saat di sekolah, aku tidak boleh jadi yang pertama. Aku bahkan selalu menjawab pertanyaan dengan jawaban yang salah, supaya Karen tidak menangis karena tidak juara. Aku bahkan tidak pernah merayakan ulang tahun, karena Karen juga tidak merayakannya. Karena hari itu juga adalah peringatan kematian ibunya. Tapi ketika dia membuatku tak bisa menari lagi, aku tidak terima. Tapi ayah dan ibu malah membelanya...!"
Jendra mengusap punggung Sheza berkali-kali. Suara Sheza makin lirih, dan idak tangisnya makin cepat. Jendra sungguh merasa tidak tega. Hatinya ikut sedih, dia benar-benar merasa Sheza sudah terlalu lama mendapatkan ketidakadilan.
"Menangis lah Sheza, setelah ini kamu tidak akan menangis lagi karena sedih. Aku janji padamu!"
Sheza mengeluarkan semua luka dan lara di hatinya dengan tangis. Dia memeluk Jendra. Dia merasa Jendra sekarang adalah satu-satunya orang yang tidak menyalahkannya untuk peristiwa yang dia sendiri tidak begitu jelas itu.
"Semua akan baik-baik saja setelah ini!" kata Jendra lagi.
Setengah jam berlalu, Jendra membantu Sheza menyeka air matanya.
"Sudah lebih baik?" tanya Jendra.
Sheza mengangguk.
"Kalau begitu tunggu sebentar. Aku akan menghubungi seseorang!"
Sheza kembali mengangguk. Dia meraih gelas jus di atas meja dan meminumnya.
Tak lama Jendra kembali, dan kembali duduk di samping Sheza.
"Aku seharusnya minta maaf padamu, karena aku baru kembali setelah sekian lama!"
"Memangnya kita benar-benar pernah bertemu sebelumnya?" tanya Sheza.
"Kamu lupa? kita bertemu di bukit dekat sekolah. Kamu menyelamatkan aku dan memanggil taksi!"
Mata Sheza terbuka.
"Oh... Kamu pria yang terluka parah itu. Aku tidak menyangka kamu masih bisa hidup dengan luka separah itu?"
Wajah Jendra terlihat datar, tapi dia mendengus cukup keras.
Sheza tersenyum canggung.
"Aku bercanda" kata Sheza sambil tertawa hambar.
Jendra meraih tangan Sheza.
"Tapi aku tidak bercanda, usiamu sudah cukup untuk menikah kan? bagaimana kalau kita menikah? dengan begitu, kamu bisa menggunakan namaku untuk berbuat semau mu!"
***
Bersambung...