Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Bayi, Satu Kuburan, dan Nama yang Tidak Pernah Disebut
📖 BAB 30: Dua Bayi, Satu Kuburan, dan Nama yang Tidak Pernah Disebut
Asap terakhir menghilang pelan di atas Jembatan Charles.
Lampu jalan yang pecah masih berkedip-kedip. Suara sirene polisi mulai terdengar dari kejauhan, bercampur langkah kaki orang-orang yang panik menjauh dari area baku tembak.
Qingyan berdiri diam di tengah batu basah jembatan, menatap liontin perak di telapak tangannya.
Di dalamnya, foto kecil Elena Qin tersenyum samar sambil menggendong dua bayi.
Dua bayi.
Bukan rumor.
Bukan manipulasi.
Bukan permainan Adrian.
Nyata.
Jari Qingyan gemetar saat menyentuh wajah ibunya di foto.
“Aku bahkan tidak pernah punya satu kenangan tentangmu,” bisiknya.
Beichen berdiri di sampingnya, pistol masih di tangan, mata mengawasi sekeliling.
“Kita pergi sekarang.”
“Dia sengaja meninggalkan ini.”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena dia ingin kau mengejarnya.”
Han muncul sambil memegangi pundak.
“Dan karena semua perempuan misterius suka properti dramatis.”
Xue berjalan sambil menyeka darah kecil di bibirnya.
“Itu darah siapa?”
“Tidak penting.”
“Jawaban orang yang menikmati kekacauan,” kata Mira.
---
Qingyan menutup liontin itu perlahan.
“Liora pergi dengan Vivienne?”
“Belum tentu sukarela,” kata Mira.
Han mengangkat ponsel.
“Saya cek kamera kota. Tiga mobil keluar dari sisi utara jembatan saat asap naik.”
“Lacak.”
“Sudah. Dua palsu, satu dicuri.”
Beichen menatap liontin.
“Ada sesuatu lagi.”
Ia mengambil benda itu, menekan sisi bawah dengan kuku.
Klik kecil terdengar.
Liontin terbuka lapis kedua.
Di dalamnya tersembunyi secarik kertas tergulung.
Han memekik.
“Saya cinta desain kriminal.”
Qingyan merebut kertas itu dan membuka hati-hati.
Tulisan tangan kecil, tergesa:
Kuburan kosong. Cari batu bernama E. Qin. Jangan percaya pria bermarga Gu.
Sunyi.
Angin sungai terasa menusuk.
Han perlahan menoleh ke Beichen.
“Wah.”
Xue mundur satu langkah.
“Ini mulai enak.”
Qingyan menatap Beichen.
Tatapannya datar.
Berbahaya.
---
“Jangan percaya pria bermarga Gu,” ulang Qingyan pelan.
Beichen tak berkedip.
“Ya. Aku juga bisa membaca.”
“Lucu.”
“Tidak dimaksudkan lucu.”
“Apakah aku sedang dikelilingi semua pembohong di planet ini?”
Han mengangkat tangan.
“Saya kadang jujur.”
“Diam.”
Ia masih menatap Beichen.
“Apa yang tidak kau katakan?”
“Banyak hal.”
“Pilih satu yang relevan.”
Beichen menarik napas pendek.
“Ayahku pernah mencari ibumu setelah kebakaran.”
“Kau tahu dia hidup?”
“Aku tahu kemungkinan dia selamat.”
“Kau tidak bilang.”
“Aku belum pasti.”
Qingyan tertawa tanpa humor.
“Semua orang di hidupku sangat suka kata belum pasti.”
---
⚰️ Pemakaman Tua Praha – Satu Jam Kemudian
Kabut turun lebih tebal.
Pemakaman tua Yahudi di sudut kota berdiri sunyi di bawah cahaya bulan. Batu-batu nisan miring, rapat, tua, seperti gigi masa lalu yang tak dicabut.
Han menggigil.
“Kalau hantu muncul, saya resign.”
“Kalau hantu muncul, kau tetap kerja,” kata Xue.
Mira memegang senter.
“Kita cari nama E. Qin.”
Qingyan berjalan cepat di antara nisan.
Nama-nama asing terukir di batu tua.
Lumut.
Salju tipis.
Sunyi yang terasa hidup.
Beichen mengikuti beberapa langkah di belakang tanpa bicara.
Ia tahu lebih baik diam sekarang.
Pintar juga sesekali.
---
“Di sini!” seru Han.
Sebuah nisan marmer baru berdiri di sudut belakang, kontras dengan batu-batu tua lain.
Tertulis:
ELENA QIN
1969 – 2003
Qingyan berhenti.
Napasnya tercekat.
Ia berlutut perlahan di depan batu itu.
Tak ada bunga.
Tak ada jejak kunjungan.
Hanya nama ibunya.
“Ini... benar?”
Mira mengamati tanah.
“Tidak.”
Semua menoleh.
Ia menunjuk dasar nisan.
“Tanah ini pernah dibuka ulang belum lama.”
Han bersiul.
“Jadi kuburan kosong?”
Beichen menatap sekitar.
“Jangan sentuh dulu.”
Qingyan sudah menyingsingkan lengan mantel.
“Aku menyentuh.”
---
Mereka menggali dengan sekop darurat dari mobil.
Han mengeluh tiap dua menit.
Xue mengeluh tiap satu menit tentang keluhan Han.
Setelah setengah meter, sekop mengenai kayu.
Peti mati.
Qingyan turun sendiri ke lubang dan membuka penutupnya.
Kosong.
Bukan sepenuhnya.
Di tengah peti ada satu kotak kayu kecil.
Ia mengangkatnya.
Tangannya bergetar.
Kotak itu tua, terkunci, dengan ukiran bunga camellia di atasnya.
“Buka,” kata Han pelan.
Beichen memberi pisau lipat.
Qingyan membuka pengunci karat.
Di dalamnya ada:
Satu kaset mini lama
Sebuah cincin emas retak
Surat terlipat bertuliskan Untuk anak perempuanku
Qingyan membeku.
“Yang mana?” bisik Xue.
Tak ada yang menjawab.
---
📼 Rumah Aman Praha – Dini Hari
Mereka kembali ke rumah aman sewaan.
Bangunan tua dengan jendela tinggi dan perapian modern.
Han sudah berhasil menemukan pemutar kaset kuno dari “internet gelap dan toko barang antik”.
“Jangan tanya caranya.”
Qingyan duduk di sofa dengan surat di tangan.
Ia belum berani membuka.
Beichen memasang kaset.
Suara berdesis.
Lalu suara wanita terdengar.
Serak. Lelah. Lembut.
Suara Elena Qin.
Qingyan menutup mulut dengan tangan.
---
> “Jika kau mendengar ini, berarti aku gagal.”
Sunyi memenuhi ruangan.
> “Aku tidak tahu anakku yang mana akan menemukan pesan ini. Mungkin Qingyan. Mungkin adiknya. Mungkin tidak satu pun.”
Air mata jatuh dari mata Qingyan tanpa izin.
> “Kalian lahir ke dunia yang lapar. Banyak orang ingin memakai darah kalian.”
Beichen menatap lantai.
Han menunduk.
Tak ada yang bercanda kali ini.
> “Aku memisahkan kalian agar setidaknya satu bisa hidup normal.”
Liora.
Qingyan.
Dua arah hidup yang saling tak tahu.
> “Kalau kau menemukan ini, jangan cari aku. Saat itu aku mungkin sudah lama mati... atau berharap mati.”
Suara Elena bergetar.
> “Dan jangan percaya keluarga Gu.”
Qingyan menoleh tajam ke Beichen lagi.
Ia tetap diam.
Kaset berlanjut.
> “Bukan karena semuanya jahat. Karena salah satu dari mereka sangat berbahaya.”
Ruangan membeku.
Beichen mengangkat kepala perlahan.
Han berbisik,
“...Saya benci kalimat itu.”
---
> “Namanya Gu Zhengyuan.”
Ayah Beichen.
Qingyan menatap pria di samping perapian.
Wajahnya tak berubah.
Terlalu tenang.
Terlalu sunyi.
> “Aku pernah mencintainya. Itu kesalahan terindah dan termahal dalam hidupku.”
Beichen memejamkan mata sesaat.
> “Dia menyelamatkanku dari Qin... lalu menyerahkanku pada orang lain demi melindungi keluarganya.”
Qingyan merasa marah, sedih, bingung dalam satu waktu.
> “Jika putranya menemukanmu suatu hari nanti... jangan hukum dia atas dosa ayahnya.”
Suara kaset berhenti sejenak.
Lalu satu kalimat terakhir:
> “Tapi jangan pernah jatuh cinta padanya.”
Klik.
Kaset habis.
---
Han memandang langit-langit.
“Wow.”
Xue menepuk bahunya.
“Untuk sekali ini, kau benar.”
Qingyan tak bergerak.
Ia menatap Beichen.
Lama.
Pria itu berdiri perlahan.
“Aku tidak tahu rekaman itu ada.”
“Ayahmu menyerahkan ibuku?”
“Aku tidak tahu detailnya.”
“Tapi kau curiga.”
“Ya.”
“Dan tetap diam.”
“Ya.”
Ruangan terasa sesak.
---
Qingyan bangkit.
“Keluar.”
Tak ada yang bergerak.
Ia menatap Beichen lurus.
“Aku bilang keluar.”
Han langsung menarik Xue.
“Mari kita hormati badai pribadi.”
Mira ikut pergi tanpa suara.
Kini tinggal mereka berdua.
Beichen berdiri beberapa meter darinya.
“Aku akan menjelaskan.”
“Jangan.”
“Qingyan—”
“Semua orang selalu punya alasan setelah aku tahu kebenaran.”
Ia membuka surat di tangannya dengan gerakan kasar.
Tulisan Elena muncul:
Jika kau membaca ini bersama seorang pria bermarga Gu, lihat matanya saat ia bohong. Keluarga itu selalu buruk dalam berbohong.
Qingyan mengangkat surat itu perlahan.
Lalu menatap Beichen.
Mata pria itu gelap.
Dan untuk pertama kali sejak mengenalnya—
Ia tampak benar-benar terluka.
Ponsel Han tiba-tiba berdering dari ruangan sebelah, lalu suara teriaknya memecah keheningan:
“SEMUA KE SINI SEKARANG! LIORA BARU MENGIRIM VIDEO!”
Qingyan dan Beichen menoleh bersamaan.
Di layar monitor ruang tengah, Liora tampak terikat di kursi.
Dan di belakangnya berdiri Vivienne sambil tersenyum.
BERSAMBUNG