Di sebuah wilayah terpencil di kaki Bukit Wengker, hidup seorang anak bernama Gandraka—anak dari Ki Bagaskara, penjaga ilmu lama yang nyaris dilupakan. Sejak kecil, Gandraka menunjukkan tanda-tanda yang tak biasa: ia memahami lambang-lambang kuno, mampu meredam sesuatu yang bersemayam di dasar sumur tua, dan menjalankan ritual yang bahkan orang dewasa tak berani sentuh.
Namun Wengker bukan tanah biasa.
Di balik perbukitan dan sunyinya desa, tersegel kekuatan gelap yang perlahan mulai bangkit. Sesuatu yang tak hanya membawa kegelapan… tetapi juga kehampaan yang menelan segala.
Saat segel mulai melemah, Gandraka dihadapkan pada takdir yang tak bisa ia hindari—menjadi penjaga… atau berubah menjadi algojo bagi dunia yang tak pernah benar-benar memahami dirinya.
Di tanah Majapahit yang tampak damai, bara itu diam-diam menyala.
Dan ketika waktunya tiba… tidak semua yang hidup akan tetap menjadi manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Di dalam rumah yang remang-remang, bau amis darah bercampur dengan aroma minyak kayu cendana yang tajam. Bagaskara duduk bersandar pada tiang kayu, napasnya mulai teratur meski wajahnya masih sepucat kapas. Nyai Lodra bergerak gesit, jemarinya yang terampil menaburkan serbuk hijau ke atas luka menganga di bahu suaminya.
“Kau terlalu berisiko, Kakang,” bisik Nyai Lodra sambil membalut luka itu dengan kain bersih. “Jika anak panah itu sedikit saja bergeser ke kanan, kau tidak akan duduk di sini sekarang.”
Gandraka kemudian masuk ke dalam menemui kedua orang tuanya. Di tanah, gambar yang tadi ia buat telah selesai: sebuah lambang Anggrek Hitam yang dikelilingi oleh rantai-rantai api.
Gandraka melangkah mendekat, matanya tertuju pada bahu ayahnya yang masih bersimbah darah. Tatapannya tidak menunjukkan ketakutan.
“Apakah Ayah akan baik-baik saja?” tanya Gandraka lirih.
“Ayah akan baik-baik saja, Gandraka. Ini hanya luka kecil,” jawab Bagaskara sambil mencoba melempar senyum, meski bibirnya nampak pucat menahan perih.
Gandraka menggeleng perlahan. Ia melangkah hingga tepat di depan ayahnya. “Tidak. beberapa urat di bahu Ayah telah putus. Jika dibiarkan, tangan kiri Ayah takkan bisa lagi memegang cangkul atau pedang. Bukalah baju Ayah. Aku akan coba mengobatinya.”
Bagaskara tertegun. Ia menatap Nyai Lodra sejenak, mencari jawaban di mata istrinya. Meski ada keraguan yang menyelinap, ia akhirnya luluh oleh sorot mata anaknya yang seolah mampu melihat menembus daging dan tulang.
Dengan gerakan perlahan yang menyakitkan, Ki Bagaskara menanggalkan kain lurik usangnya. Begitu baju itu terlepas, pemandangan di baliknya adalah sebuah peta penderitaan yang mengerikan. Di punggung dan dadanya, bertebaran bekas goresan luka lama—bekas tebasan pedang, tusukan tombak, dan sayatan melintang yang menceritakan betapa banyak maut yang telah ia lalui.
Namun, yang paling mencolok adalah sebuah gumpalan jaringan parut yang kasar di belikat kanannya. Itu adalah bekas rajah yang telah dihancurkan dengan besi panas hingga kulitnya melepuh dan menghitam, menyisakan cacat permanen demi menghapus identitas masa lalunya sebagai bagian dari Klan Anggrek Hitam.
Gandraka menyentuh tepian luka baru di bahu ayahnya dengan ujung jari yang dingin. Bagaskara memejamkan mata, merasakan hawa dingin yang mulai merayap dari sentuhan tangan mungil anaknya, perlahan-lahan meredam rasa panas yang membakar di luka bahunya.
Tak lama kemudian, asap tipis mulai mengepul dari luka itu. Secara ajaib, daging yang robek perlahan merapat dan mengering dalam hitungan detik.
"Sudah selesai, Yah," kata Gandraka sambil menarik tangannya.
Nyai Lodra terdiam melihat pemandangan itu. Ia tak menyangka Gandraka bisa menguasai mantra dari kitab pemberian ayahnya secepat itu.
"Kemampuanmu maju pesat, Nak," puji Ki Bagaskara sambil mencoba menggerakkan bahunya yang kini tak lagi terasa sakit.
"Bukan aku, Yah," jawab Gandraka datar. "Tapi kitab itu yang terus memaksaku. Bahkan waktu aku tidur, kitab itu muncul di mimpi, membuka halamannya sendiri, dan membacakan isinya padaku."
Mendengar itu, Ki Bagaskara dan Nyai Lodra saling pandang. Mereka menyadari bahwa kitab tersebut bukan sekadar buku biasa, melainkan benda yang seolah-olah punya nyawa dan telah memilih Gandraka sebagai tuannya.
"Ayah, lukamu sudah sembuh. Aku ingin keliling kampung sebentar. Sudah lama aku tidak bermain dengan teman-teman seumurku. Boleh?" tanya Gandraka.
Ki Bagaskara terdiam sejenak, lalu melirik istrinya. Nyai Lodra mengangguk pelan; ia merasa mereka semua butuh sedikit ruang untuk melepas ketegangan yang baru saja terjadi.
"Baiklah. Tapi ingat, jangan lakukan apa pun yang bisa menarik perhatian orang. Paham?" pesan Ki Bagaskara tegas.
"Aku mengerti, Ayah."
"Pergilah."
Gandraka tersenyum lalu melangkah keluar meninggalkan rumah. Setelah punggung bocah itu tidak lagi terlihat, Nyai Lodra menoleh ke arah suaminya dengan wajah cemas.
"Anak itu berkembang terlalu cepat, Kang. Terkadang aku berpikir, apakah kita sudah benar-benar bijak menyerahkan kitab itu padanya?"
Ki Bagaskara menghela napas panjang sambil mengenakan kembali bajunya. "Nyai, kita sudah memutuskannya bertahun-tahun yang lalu. Sekarang, kita hanya bisa menjalani apa yang sudah kita mulai."
Desa Mojorejo merupakan pemukiman yang terbentang luas di kaki Bukit Wengker. Desa ini dikenal sebagai daerah yang subur namun menyimpan suasana yang wingit, karena letaknya yang berbatasan langsung dengan hutan lebat.
Ciri khas utama desa ini adalah hamparan pohon maja yang tumbuh rimbun, terutama di area yang menanjak menuju perbukitan. Batang-batang pohonnya yang keras dan buahnya yang bulat hijau tampak memenuhi tepian jalan setapak dan halaman rumah warga.
Bagi orang luar, pohon-pohon ini mungkin hanya sekadar tanaman biasa, namun bagi warga Mojorejo, hutan maja di Bukit Wengker adalah pelindung sekaligus batas keramat. Konon, rimbunnya dedaunan maja di sana mampu menyamarkan suara dan jejak, sehingga siapa pun yang tak memiliki izin dari "penghuni" bukit akan mudah tersesat di dalamnya.
Di sore hari, suasana desa terasa tenang dengan kepulan asap dapur dari rumah-rumah panggung kayu, sementara di kejauhan, bayangan Bukit Wengker yang gelap selalu mengawasi, seolah-olah menjadi saksi bisu atas rahasia yang tersimpan di bawah akar-akar pohon maja tersebut.
Bagi Gandraka, bermain dengan anak-anak sebayanya adalah kemewahan yang jarang ia rasakan. Sifatnya yang pendiam dan hari-harinya yang lebih banyak dihabiskan di dalam rumah atau membantu orang tuanya membuat ia menjadi sosok yang asing bagi anak-anak desa lainnya.
Namun, segalanya berubah sejak peristiwa hama wereng tempo hari. Saat para petani nyaris putus asa karena padi mereka membusuk, Gandraka melakukan sesuatu yang sulit dinalar hingga hama itu hilang tak bersisa. Sejak saat itu, sebagian anak desa mulai menaruh hormat dan segan padanya.
Meski begitu, tak sedikit pula yang memandangnya dengan tatapan aneh atau justru menjauh karena takut. Bagi warga desa, urusan membasmi hama dengan cara tidak wajar adalah pekerjaan dukun sakti atau tetua yang sudah matang ilmunya, bukan tugas seorang bocah kecil yang bahkan belum genap akil balig.