NovelToon NovelToon
Satu Atap Dua Rahasia

Satu Atap Dua Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.

​Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."

​Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 Sekali Lagi Untuk Selena

Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui celah gorden vila di Uluwatu terasa begitu menyakitkan di mata Selena.

Ia mengerang pelan, tangannya secara refleks meraba sisi ranjang di sebelahnya, berharap menemukan kehangatan tubuh Biru atau setidaknya bekas rebahan suaminya.

Namun, yang ia temukan hanyalah seprai yang sudah mendingin.

Hati Selena langsung mencelos. Rasa kosong itu menghantamnya lebih keras daripada deburan ombak di bawah tebing. Ia bangkit dengan perlahan, tubuhnya masih terasa pegal dan sensitif—sisa dari intensitas tiga ronde yang mereka lalui semalam—namun jiwanya terasa hampa.

"Benar-benar belum kembali?" bisiknya pada keheningan kamar.

Ia melihat ke arah nakas. Ponsel Biru masih di sana, diam tak bernyawa. Hal itu justru membuat kecemasan Selena berubah menjadi kecurigaan yang gelap. Tidak mungkin seorang CEO seperti Biru Hermawan pergi tanpa ponselnya kecuali dalam keadaan yang sangat mendesak atau... jika ia memang berniat menghilang.

Selena menyeret langkahnya ke ruang tengah, berharap menemukan Cakra yang sedang menyiapkan kopi atau setidaknya meninggalkan sepucuk surat. Namun, vila itu masih sesunyi makam. Semua staf vila tampak menjalankan tugas mereka dengan wajah datar, seolah-olah tidak terjadi drama apa pun semalam.

"Maaf, apa Anda melihat Mas Biru atau Cakra?" tanya Selena pada salah satu pelayan yang sedang merapikan meja makan.

Pelayan itu membungkuk sopan. "Maaf, Nyonya. Tuan Cakra sudah memberikan instruksi bahwa Tuan Biru harus berangkat lebih awal untuk urusan yang sangat rahasia. Kami diminta untuk menyiapkan sarapan terbaik untuk Anda."

Mendengar jawaban formal itu, Selena justru merasa ingin tertawa miris. Urusan rahasia? Setelah penyatuan yang begitu intim, Biru bahkan tidak menganggapnya cukup penting untuk dibangunkan atau diberi salam perpisahan?

Selena kembali ke kamar, menatap pantulan dirinya di cermin. Bekas-bekas kemerahan di leher dan bahunya masih terlihat jelas—tanda kepemilikan Biru yang sangat posesif. Ia menyentuh bekas itu dengan ujung jari yang bergetar.

"Kamu bilang aku nikmat, kamu bilang aku milikmu..." Selena berbicara pada bayangannya sendiri dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Tapi nyatanya, aku tetap hanya istri kontrak yang bisa kamu tinggalkan kapan saja setelah kamu puas."

Rasa dikhianati itu kini mengkristal menjadi amarah yang dingin. Di saat Selena mulai membuka hatinya dan memberikan segalanya, Biru justru membuktikan bahwa kontrak dua miliar itu memang hanya bisnis.

Selena tidak tahu, bahwa di sebuah rumah sakit swasta di Denpasar, Biru sedang terbaring di ruang ICU dengan kabel-kabel yang menempel di dadanya, berjuang melewati masa kritis akibat jantung yang dipaksa bekerja melampaui batas kemampuannya.

Selena bergerak dengan gerakan mekanis yang kaku, seolah jiwanya sudah mati rasa. Ia menarik koper besar milik Biru dan mulai memasukkan kemeja-kemeja mahal pria itu satu per satu. Wangi parfum woody khas Biru yang masih tertinggal di kain kemejanya sempat membuat tangan Selena gemetar, namun ia segera menguatkan hati. Ia tidak boleh lemah.

Setiap helai pakaian yang ia lipat terasa seperti serpihan ingatan tentang gairah semalam—gairah yang kini terasa seperti penghinaan.

"Cukup, Selena. Jangan jadi penulis drama di kehidupan nyatamu sendiri," bisiknya tajam pada diri sendiri sambil menyeka air mata yang jatuh tanpa izin.

Ia mengepak barang-barangnya sendiri dengan cepat, tidak membiarkan ada satu pun barang yang tertinggal di vila terkutuk ini.

Ia mengumpulkan ponsel Biru dan jam tangan mewah yang tergeletak di nakas, memasukkannya ke dalam tas kecil. Ia akan mengembalikan semua ini di Jakarta—melalui Cakra, atau mungkin lewat pengacara.

Sambil menyeret koper keluar menuju lobi vila, Selena memesan penerbangan paling awal ke Jakarta melalui ponselnya. Ia tidak butuh izin Biru, dan ia tidak butuh dikawal oleh Cakra.

"Tolong panggilkan taksi sekarang," perintah Selena pada staf lobi dengan suara yang dingin dan tegas, tanpa ekspresi.

Sepanjang perjalanan menuju Bandara Ngurah Rai, Selena menatap ke luar jendela mobil, menyaksikan pemandangan Bali yang indah namun kini terasa menyesakkan. Ia menelan pahit-pahit rasa sakit di dadanya, mengubur dalam-dalam kenangan tentang sebutan "sayang" yang sempat ia percayai semalam.

Baginya, bab di Uluwatu ini sudah selesai. Ia akan kembali ke Jakarta sebagai Selena yang lama—si penulis yang sinis terhadap cinta.

Selena akan menyembunyikan memar di hatinya di balik tembok apartemennya, membiarkan Biru tetap dengan dunianya yang penuh rahasia, tanpa tahu bahwa pria itu saat ini sedang bertaruh nyawa dalam keheningan ruang operasi.

Sepekan telah berlalu, dan setiap detiknya terasa seperti siksaan yang lambat bagi Selena. Jakarta yang bising tidak mampu meredam keributan di dalam kepalanya.

Biasanya, ia akan sangat bersyukur jika "si kaku" itu pergi berhari-hari tanpa memberi kabar; artinya ia bebas dari tatapan mengintimidasi dan perintah otoriter Biru.

Namun kali ini berbeda. Kamarnya yang mewah itu terasa terlalu luas dan dingin.

Setiap kali Selena mencoba fokus pada naskah novel terbarunya, jemarinya justru terhenti di atas keyboard. Pikirannya selalu terlempar kembali ke malam di Uluwatu.

Ia bisa merasakan kembali sensasi panas saat Biru mencengkeram pinggulnya, suara geraman rendah Biru yang memanggil namanya dengan penuh damba, dan bagaimana tubuh pria itu bergetar hebat saat mereka mencapai puncak bersama.

"Sial," umpat Selena, menutup laptopnya dengan kasar.

Ada denyutan aneh yang muncul di ulu hatinya—campuran antara rindu, amarah, dan keinginan fisik yang tak tertahankan.

Bagian bawah tubuhnya seolah mengkhianati logikanya sendiri; setiap kali ia mengingat bagaimana Biru menghujamnya tanpa ampun di ronde ketiga, ada desir panas yang kembali menjalar, membuatnya merasa frustrasi karena pria yang memberinya kenikmatan luar biasa itu kini menghilang seperti ditelan bumi.

Ia mencoba menghubungi nomor Biru, namun hanya suara operator yang menjawab, lupa kalau handphone Biru sedang ada padanya dan sudah mati karena kehabisan baterai. Ia mengirim pesan singkat pada Cakra, namun hanya centang satu yang terlihat.

"Kamu benar-benar brengsek, Biru Hermawan," gumam Selena sambil menatap pantulan dirinya di jendela kamarnya yang memantulkan kerlip lampu kota. "Setelah membuatku merasa seperti wanita paling diinginkan, kamu membuangku seolah aku hanya sampah kontrak."

Selena tidak pernah tahu bahwa di balik kebungkaman itu, sebuah drama medis yang mengerikan sedang terjadi.

Ia tidak tahu bahwa sudah tujuh hari Biru berada dalam kondisi koma pasca-operasi besar di sebuah rumah sakit rahasia di luar negeri, dengan Cakra yang setia berjaga di depan pintu ICU, menahan tangis setiap kali melihat monitor jantung tuannya yang berdenyut sangat lemah.

Bagi Selena, Biru adalah pria yang lari dari tanggung jawab perasaan. Padahal kenyataannya, Biru sedang berjuang sekuat tenaga hanya untuk bisa membuka matanya sekali lagi dan menyebut nama Selena.

***

1
Rahmah Salam
hummmm....💪💪
Rahmah Salam
egoisss....emang anda tau kebahagian seseorang...😎
Rahmah Salam
tdk enak di posisi selena yg mengalami kebingungan dan ketidak pastian...
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh.... lemah sekali ea
Rahmah Salam
semangat semangat,,😄
Rahmah Salam
thor lnjut lg dong...
Rahmah Salam
ikut terharu..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
kasihan biru..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
akankah dia tau..???/Sweat/
Rahmah Salam
waduhhh....jangan died dl thor....😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
kalau jin gimna....???
jin ouch jin sentuh itu selena...
Rahmah Salam
kontrak batal😎...misi sang mertua sukses...😄😄
Bhebz: wkwkwk
total 1 replies
Rahmah Salam
asin dong klau msh ada sisa air laut yg nempel😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ikuti alur nya seperti air yang menuju muara lalu bertemu lautan
Rahmah Salam
setidakx merasskan rasa happy di akhir hidupx.....😆
Rahmah Salam
dehhh....deg degan😆
Rahmah Salam
kira2 senakal apa sih biru dulu????😎
Rahmah Salam
jenis penyakit langka😎
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
penuh lika liku naik turun jurang dan tebing... hihihi....
Titin Riani
nunggu update lagi dong 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!